
Selamat Siang semua...
Selamat menjalankan aktivitas dan sehat selalu.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku cukup terkejut dengan apa yang aku lihat. Sopir pribadi suruhan Sam sudah menungguku di depan Lobi hotel dengan menenteng tas besar berwarna coklat milikku. Dia mengatakan sudah mengurus keperluan check out ku dan menyuruhku untuk segera pulang bersamanya.
Sebenarnya hari ini memang hari terakhir aku berada di sini. Tapi seperti yang aku tahu, di akhir kegiatan ini nanti akan ada acara perpisahan. Namun, dengan terpaksa aku harus memilih pulang terlebih dahulu karena aku memang tidak punya pilihan lain.
Aku sampai di Jakarta saat hari sudah gelap. Jalanan cukup macet hari ini. Aku hanya diam sepanjang perjalanan, membiarkan sopir suruhan Sam tersebut menyetir mobil hingga sampai di rumah.
Yang membuatku cukup heran adalah mobil Sam sudah terparkir di carport. Tumben sekali dia tidak pulang tengah malam. Aku segera masuk dan membiarkan sopir membawa tasku. Melangkah menuju kamar dengan tidak sabar karena bagaimanapun aku merindukan pria pemarah yang berstatus sebagai suamiku tersebut.
“Hai.” Aku menyapa dan menemukan Sam baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
“Hm.” Dia hanya bergumam.
Aku menghampirinya dan memeluknya. “Aku kangen banget sama kamu. Kamu nggak kangen aku?”
Dia tidak menanggapi, hanya diam sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil.
“Sam ...” bujuk ku sambil membelai dadanya dengan ujung jariku, lalu naik untuk menyentuh lehernya.
Sam segera menangkap tanganku sebelum aku mencapai lehernya, dia lalu mendorongku hingga aku tersudut di dinding. Kedua tangannya mencengkeram lenganku kuat.
“Kamu tahu kalau aku bermasalah dengan emosi, tapi kamu sengaja pancing amarahku hari ini. Kalau kamu nggak mau aku marah, jangan mencoba dengan sengaja.”
Aku terdiam mendengar nada dingin dan tatapan tajamnya yang sangat menakutkan. Membuatku benar-benar terdiam.
“Kamu paham itu?” Tanya Sam dengan dingin.
Aku mengangguk takut.
“Good.” Sam melepaskan tanganku yang di cengkeramnya kuat, lalu dia menjauh masuk ke dalam walk in closet tanpa menoleh lagi.
Aku terdiam lama di posisiku. Menatap ujung sepatu yang masih kukenakan. Aku lalu masuk ke dalam kamar mandi, berdiam diri di bawah shower sambil terus memikirkan raut wajah Sam yang dingin. Air mataku turun begitu saja tanpa bisa kuhentikan. Aku menggigit bibir bawahku agar tidak terisak, tapi tetap saja, aku menangis di bawah air dingin yang membasahi kepalaku.
__ADS_1
Merasakan seperti ada sebuah jarum besar yang menusuk relung hatiku.
Aku tidak pernah setakut ini sebelumnya dalam menghadapi Sam. Setelah mandi, aku langsung menyusup masuk ke dalam selimut dan memeluk guling. Sam tidak terlihat berada di dalam kamar dan aku memilih untuk memejamkan mata. Walaupun aku yakin aku tidak bisa tertidur.
Sam terasa asing bagiku.
Pertengkaran pertama dengan Sam sungguh sangat aku benci. Kalau boleh meminta aku tidak ingin pertengkaran ini terjadi. Aku takut melihat Sam yang marah seperti tadi, aku masih bisa merasakan cengkeraman tangannya yang begitu kuat di kedua lenganku, serta tatapan tajam yang ia berikan padaku. Tatapan menakutkan yang baru aku lihat pertama kalinya. Berbeda dengan ketika aku bekerja menjadi anak buahnya dulu.
Aku kira Sam akan selalu memperlakukanku dengan baik, mau memahami setiap apapun yang aku lakukan. Tapi sepertinya aku sedikit terlalu banyak berharap.
Aku terus menangis tanpa henti di bawah selimut. Sebisa mungkin aku tak mengeluarkan suara selama aku menangis. Aku merasakan Sam mulai naik ke atas ranjang tanpa bersuara sama sekali. Dan hal tersebut semakin membuatku merasa sakit.
Aku merasakan dia mulai menarik selimut dan berbaring di sampingku, tanpa berusaha berbicara lagi padaku. Dia hanya diam bahkan sampai aku mulai tertidur dan tidak mengingat lagi apa yang terjadi semalaman itu.
•••
Aku bangun pagi-pagi sekali bahkan sebelum Sam bangun. Mandi dan berpakaian dengan cepat, meraih map-map yang berisi kertas hasil Quis mahasiswa yang baru separuh aku koreksi. Aku segera keluar dari kamar sambil menggenggam kunci mobil.
Aku masih takut dan belum siap bertemu dengan Sam pagi ini. Meski hari ini aku tidak ada jadwal mengajar, aku memilih pergi ke rumah Mama. Selain aku merindukan Mama, rumah Mama adalah tempat yang selalu berhasil membuatku nyaman.
“Kok tumben pagi-pagi udah kesini?” Mama memelukku erat sambil mengecup keningku.
“Kangen sarapan sama Mama.” Ujar ku beralasan sambil mengikuti Mama ke dapur.
Lalu aku menggeleng. “Sam udah berangkat tadi, dia ada kerjaan penting.” Aku memilih berbohong karena tidak ingin menceritakan masalah rumah tanggaku pada Mama. Selain ini rahasiaku, aku juga tidak ingin membuat Mama khawatir.
Mama membuatkan aku nasi goreng seperti yang selalu di buatkannya untukku selama ini, dengan telur dadar karena aku tidak suka telur ceplok.
Setelah makan dan bercanda dengan Mama, perasaanku memang jauh lebih baik. Aku duduk bersila di depan TV sambil mengoreksi kertas-kertas Quis mahasiswa. Mama menonton di sampingku dan fokus menatap TV.
“Nggak ngajar hari ini?”
Aku hanya bisa menggeleng.
“Terus kok disini?” tanya Mama lagi.
Aku menggigit bibir bagian dalam ku. “Mama ngusir?”
Mama tertawa. “Siapa yang ngusir, Mama Cuma nanya. Kamu itu punya suami di rumah yang harus di urus. Ngapain malah kabur ke sini?”
Kalimat Mama membuatku menelan ludah dengan susah payah. Aku menunduk, menatap kertas-kertas yang berserakan di meja. Apa Mama menyadari itu? Bahwa aku memang memiliki masalah dengan Sam? Apa seorang Ibu memang sepeka itu dengan anaknya? Dan entah kenapa tiba-tiba aku teringat Sam, walau dia sudah membuatku seperti ini namun aku masih tetap peduli dan memikirkannya saat ini.
Apa dia sudah bangun? Apa dia mencari ku? Dan apakah dia sudah makan?
__ADS_1
“Del.” Sebuah usapan lembut di kepala membuatku menoleh dan tersadar dari pikiranku. “Kalau ada masalah, jangan kabur. Tapi di selesaikan.” Ujar Mama sambil tersenyum lembut.
Aku menggeleng. Mencoba memberikan senyuman manis. “Aku dan Sam baik-baik aja kok, Ma.”
“Kalau kamu dan Sam baik-baik aja, dia nggak akan panik telepon Mama tadi dan nanyain kamu ada disini atau enggak.”
“Kapan dia telepon?” aku menatap Mama kaget.
“Waktu kamu pergi ke kamar tadi. Dia panik banget, Del. Mama bisa dengar suaranya kayak orang mau nangis gitu.”
Aku hanya mencibir, tidak terlalu mempercayai ucapan Mama yang menurutku berlebihan. Toh, Mama kan kadang memang suka lebay, sama kayak Vino.
Lagi pula sejak kapan Sam menangis hanya karena aku tidak berada di sisinya? Selama ini dia terlihat biasa saja, menjalani harinya dengan baik dan sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan saat di Bogor kemarin dia bisa mengabaikanku selama dua hari.
“Del.” Mama meraih kepalaku dan meletakkannya di dadanya, tangannya bergerak membelai rambut panjangku. “Mama sayang kamu. Kamu tahu itu?”
Aku mengangguk, memeluk Mama lebih erat dan tiba-tiba saja desakan untuk menangis menerjang ku dengan kuat. Aku menggigit bibir dan terisak dalam diam.
“Aku Cuma mau nenangin diri, Ma.” Ujar ku mengusap pipi di mana air mataku mengalir deras. “Aku Cuma bingung dan takut.” Bisik ku, pada akhirnya aku memberanikan diri menceritakan ketakutan yang diam-diam aku pendam selama ini seorang diri. Aku mengusap perutku yang masih rata. “Aku belum bisa hamil sampai sekarang, Ma. Dan aku takut.” Aku menangis dalam pelukan Mama.
Mama memelukku erat. “Kamu Cuma belum di kasih aja, jangan suudzon sama Allah.” Ujar Mama serak, ikut menangis terharu.
“Aku yakin Sam pasti pengen anak dari pernikahan kami, Ma. Dan aku takut kalau aku nggak bisa kasih dia anak.” Ujar ku semakin menangis.
“Ini baru satu tahun, Del.” Mama mengusap pipiku lembut. “Banyak yang sudah bertahun-tahun belum mendapatkan anak tapi mereka masih tetap mau berusaha dan berdoa.” Mama menatapku. “Jangan sedih ya, kamu pasti bakal di kasih anak. Cuma sekarang belum waktu yang tepat menurut Tuhan.”
Terus kapan??
Aku hanya diam dan menyimpan pertanyaan itu untukku sendiri. Karena tidak ada yang akan bisa menjawab itu bahkan Mama sekalipun. Jadi aku tidak perlu bertanya. Sampai pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1