My Boss Samuel

My Boss Samuel
7. Gajian Dan Bonus


__ADS_3

Happy reading !!


 


##


 


“Wadaw ... bening banget itu muka, Mbak. Persis air galon pantry.” Celetuk Rizal saat Mbak Sari datang sambil tersenyum.


 


“Jelas lah kan ini hari gajian. Besok juga sudah berubah lagi mukanya, buket kayak kali Ciliwung.” Sahut Mas Angga sambil tertawa.


 


Oh, pantas saja sejak bangun tidur tadi entah kenapa tubuhku terasa semangat sekali. Ternyata, ini, hari gajian toh.


 


“Mumpung gajian nih, atur jadwal nongkrong yuk!” Ajakku semangat.


 


“Wah, lo mau traktir kita ya, Del? mentang-mentang bonus lo gede.” Mbak Sari menatapku dengan tatapan seolah ingin merampokku habis-habisan.


 


Ya ... bulan ini aku memang berhasil mendapat bonus gaji yang lumayan besar. Secara, pembuatan acara kemarin memang sangat menguras otakku. Jadi, sebanding lah dengan bonus yang mengalir ke rekeningku ini.


 


“Gue juga mau dong lo traktir,” sahut Mas Angga tak ingin ketinggalan.


 


“Gue juga!”


 


 Tambah satu lagi manusia tak bermodal yang ingin memorotiku.


 


“Lo kapan bisa absen sih, Zal? Perasaan kalau ada yang gratisan lo ikutan terus,” cibir Mas Angga.


 


Bukan hanya Rizal sebenarnya, tetapi semua. Memang dasarnya saja mereka yang tidak tahu diri. Dan berhubung yang dapat bonus hanya aku, jadinya aku tidak bisa ikutan memeras gaji teman-temanku.


 


“Mas Angga, hari ini kelihatan lebih cerah lho. Baru cukur brewok, ya? Kok kelihatan lebih muda,” Ucap Rizal ke arah Mas Angga.


 


“Jilat terus, Zal. Siapa tahu habis ini dompetnya melayang ke muka lo,” sahutku sambil terkekeh.


 


Aku tertawa geli melihat ekspresi wajah Rizal yang tengah menggoda Mas Angga. Persis seperti banci yang ada di terminal.


 


“Jijik banget gue lihat muka lo, Mas!” Teriak Tiwi ke arah Rizal.


 


“Gue jadi nggak yakin sama cerita lo, Del. Lo bilang, kalau kunyuk satu ini dulunya idola karena jadi kapten basket.” Mas Angga melirik Rizal. “Tapi kok kelakuannya gini banget, ya?”


 


Aku dan yang lainnya langsung tertawa. Lebih tepatnya menertawakan Rizal. Tapi, aku benar-benar tidak bohong soal cerita tersebut. Rizal memang dulunya kapten tim basket di sekolah. Bahkan banyak sekali cewek yang tergila-gila padanya.


 


“Morning all.” Sapa Pak Sam yang seketika membuat kami semua kaget. Apalagi di tambah senyumnya yang membuat kita melting parah.


 


Tunggu sebentar ... Ini beneran Pak Sam kan? Bos ku yang mengantar aku semalam. BTW, semalam Pak Sam benar-benar mengantarku pulang. Apa yang aku rasakan semalam benar-benar tak bisa aku jelaskan menggunakan kata-kata. Coba deh bayangin, aku satu mobil dengan Bosku. Naik mobil sport-nya yang notabene hanya ada 2 tempat duduk untuk kita berdua. Jelas hampir membuatku ingin pingsan di tengah jalan.


 


“Kayaknya Sam sama kayak lo deh, Sar. Kalau terima gaji mukanya jadi cerah gitu,” Celetuk Mas Angga yang tentu saja membuat kami tak bisa menahan tawa.


 


"Sepertinya yang ngomong belum sadar diri ya. Kemarin mukanya lesu terus sampai saya kira kena anemia. Sekarang sudah segaran aja.” Balas Pak Sam santai.


 


Mbak Sari langsung terbahak. “Bener banget, Sam. Kayaknya selain gaji turun semalem juga dapat jatah tuh dari bininya.”


 


Astaga, sumpah mulut Mbak Sari tidak tahu tempat dan kondisi. Dia berani sekali berbicara masalah seperti itu dengan Pak Sam.


Tapi, sumpah aku juga tidak bisa menahan tawaku. Bahkan Pak Sam juga sempat terlihat tertawa kecil sebelum kemudian masuk ke dalam ruangannya.


 


“Mulut lo, Sar! Ngomongin begituan ke Sam. Mana paham dia? kawin aja belum,” Ujar Mas Angga begitu pintu ruangan Pak Sam tertutup.


 


“Jangan salah, Mas. Kalau di lihat-lihat model wajah kayak Pak Sam begitu mah ibarat kata, dingin-dingin es batu,” sahut Rizal.


 


Maksudnya apa coba? Memang ada ya istilah dingin-dingin es batu. Perasaan aku belum pernah mendengarnya. Yang ada kan, diam-diam menghanyutkan.


 


“Kalau ngomong yang benar saja, Zal. Mana ada istilah dingin-dingin es batu?” Kataku sambil menatapnya.


 


Rizal menyengir. “Maksud gue, di depan kita dia sok cuek, dingin sama cewek. Siapa tahu di luaran sana dia ganas, kan?”


 


“Lo kira Pak Sam cowok kayak lo, Mas!” Sungut Tiwi tak terima.

__ADS_1


 


“Setuju nggak setuju sih gue, Zal. Tapi, kalau di lihat-lihat dia kan keturunan bule. Batangnya pasti gede kali ya,” sahut Mbak Sari yang menurutku sangat melenceng jauh dari pembahasan.


 


Gila memang tapi jangan kaget ya. Mbak Sari itu kalau berbicara hal berbau mesum sinyalnya memang langsung melejit.


 


“Kalau ngomong di rem dikit dong, Mbak. Blong banget sih mulutnya. Orangnya dengar baru tahu rasa lo,” ujarku mengingatkan.


 


Sejujurnya aku hanya teringat soal pembicaraanku dan Pak Sam kemarin. Soal pergosipan kami yang kadang suka membawa-bawa nama dirinya.


 


“Kok lo kayak ngebela Sam sih, Del? Jangan-jangan ... Tunas-tunas biji jagungnya mulai tumbuh nih?” Mbak Sari menatapky dengan teliti, seolah tengah mencari kebenaran dari apa yang baru saja dia ucapkan.


 


“Tunas biji jagung apaan sih, hah?” Aku mengernyit ke arah Mbak Sari.


 


“Wah, gawat ini. Kalau saingan gue Mbak Adelia. Gue nyerah aja lah. Kalah body gue.” Tiwi mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.


 


Rizal tertawa. “Makanya waktu puber dulu makan yang banyak, biar gak datar begitu,” ujarnya yang seketika berhasil mendapat lemparan bolpoin dari Tiwi.


 


“Kayaknya bener nih. Sebentar lagi pasti ada apa-apanya.” Mbak Sari tetap saja membuat kesimpulannya sendiri. Aku hanya bisa melirik Mbak Sari dengan wajah pasrah.


 


“Bukanya begitu, Mbak. Masalahnya, kemarin Pak Sam sempat tanya ke gue soal kita yang sering gosipin dia.” Aku memberi jeda sesaat. “Kayaknya Bos memang kadang suka dengerin deh kurusuhan mulut kita,” imbuhku serius. “Dan satu lagi, kalau kalian ngotot gosipin gue sama Pak Sam. Gue hanya berharap semoga di dengar dan di catat sama malaikat. Toh, jadinya gue bakal nggak jomblo lagi. Apalagi gue di kasih pacar kayak Pak Sam. Seratus persen nggak nolak gue. Mau banget malah.”


 


Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana kejadiannya. Yang aku tahu tiba-tiba pintu ruangan Pak Sam sudah terbuka dan Pak Sam pun juga sudah berdiri di sana dengan sebelah alis terangkat.


Ya salam! Rasanya ingin pingsan saja lah. Malu sekali, mau taruh mana mukaku ini kalau Pak Sam tadi mendengar ucapanku?


 


“Jam 9 nanti ada meeting di lantai atas ya,” Ujar Pak Sam. Dia lalu berjalan santai melewati ruangan kami. Kemudian masuk ke dalam lift.


 


Sedangkan aku, sumpah rasanya aku hampir mati terduduk saking malunya. Ini mulut kenapa ikutan Blong begini sih?


Saat pintu lift tertutup semua kompak tertawa, kecuali aku tentunya. Jelaslah, mana mungkin aku menertawakan diriku sendiri.


 


“Ciyeee ... Yang barusan mengutarakan isi hatinya sama Pak Bos.” ledek Mas Angga dengan wajah jenaka.


 


“Diam lo, mas! Belum pernah ngerasain mulut di sumpal pakai kertas?” Aku melotot ke arahnya.


 


 


Sialan Mbak Sari, mulutnya lebih pedes dari samyang hot ekstra pedas.


 


***


 


Aku terpaksa duduk di kursi depan sebelah kanan Pak Sam selama acara meeting berlangsung. Awalnya, aku sudah menolak untuk menempati kursi tersebut. Namun Mas Angga dengan jurus mautnya berhasil menjebakku agar aku bisa duduk di kursi tersebut.


 


 Coba bayangkan betapa malunya diriku? Belum lama tadi ketahuan bicara ngawur. Eh, sekarang harus duduk di dekat Pak Sam. Aku jadi tidak berani menatap wajah Pak Sam. Sumpah malu banget!


 


“Ada yang kurang jelas?” Pak Sam memperhatikan kami satu persatu. Berharap di antara kami ada yang mengajukan pertanyaan padanya.


 


“Adelia ... sudah paham bagiannya?”


 


Gila! Jantungku rasanya mau copot. Tiba-tiba saja wajah Pak Sam sudah menunduk dan menghadap tepat di depan wajahku. Sial, kenapa wajah kami bisa sedekat ini?


 Aku refleks melirik Tiwi dan Mbak Sari yang berada di depanku, dan terlihat mereka tengah berusaha menyembunyikan tawanya.


 


“S-sudah, Pak,” Jawabku gugup.


 


Bagaimana tidak? Orang di lihat sedekat itu oleh Pak Sam. Beruntung aku masih bicara kan.


 


“Sejak tadi kamu tidak memperhatikan apa yang saya katakan ya?”


 


Aku segera mengangkat kepala yang tanpa aku sadari hal tersebut justru membuat pandanganku langsung tertuju tepat ke wajah Pak Sam. Ya Tuhan ... Sungguh sempurna ciptaan-Mu. Tapi sayang ... Dia begitu menyebalkan.


Aku berkedip beberapa kali lalu dengan cepat menggeleng. Rasanya salah tingkah banget sumpah!


 


Oke, Adelia. Setelah ini siapkan mental untuk menerima hujatan.


 


***


 

__ADS_1


Hari ini aku pulang lebih awal. Lebih tepatnya bukan hanya aku, melainkan semuanya. Berhubung pulang awal aku dan teman-temanku memutuskan untuk menongkrong terlebih dahulu. Sesuai dengan rencana yang sudah kita sepakati tadi pagi.


 


“Sumpah ya, kalau gue inget wajah Adelia tadi. Bawaannya pengen ketawa terus,” ujar Mbak Sari sambil terkekeh.


 


“Betul banget, Mbak. Andai tadi bisa kita foto lumayan, kan? Bisa buat kenang-kenangan.” Tiwi ikut berkomentar.


 


Aku mengeram dalam hati. Kenapa harus aku sih? Sejujurnya, aku paling malas untuk di jadikan bahan omongan. Tapi yang namanya nasi sudah menjadi bubur. Aku bisa apa?


 


Rizal mendengus. “Yah, tapi gue jealous lho. Kenapa muka kalian tadi harus deket begitu? Andai tadi itu gue, pasti gue langsung maju dan ciumin lo, Del.”


 


Aku langsung melotot ke arah Rizal. “Sembarangan mulut lo! Udah dong. Gue capek loh kalau kalian omongin gue terus. Kuping gue udah panas. Lagian, kalian tega nih kalau dosa gue makin banyak karena harus misuh ke kalian satu persatu,” cetusku sebal.


 


Ya, semoga saja aku masih bisa menahan diri untuk tidak misuh-misuh ke mereka.


 


***


 


Kami sudah duduk di sebuah Restoran. Dan tengah menunggu pesanan datang.


 


“Hm ... delicious. Coba aja kita bisa makan begini setiap hari,” ucap Rizal yang langsung mencomot makanannya tanpa permisi.


 


“Bisa kok, Zal. Asal lo yang traktir kita setiap hari,” Sahut Mbak Sari. Dia tak mau kalah dan langsung ikut menyantap makanannya.


 


Mereka kalap atau gimana ya? Memangnya tidak ingin membaca doa terlebih dahulu. Tidak takut apa kalau setannya ikut makan? Yang ada mereka nanti malah tidak jadi kenyang. Duileh, berasa jadi guru agama ya gue.


 


“Halah, kalian ini. Muka kalian itu muka boros. Boro-boro mau setiap hari makan beginian. Habis gajian seminggu juga paling kalian sudah cari utangan.” Ketus Mas Angga.


 


Aku terkekeh mendengar ucapan mas Angga. Asli bikin ngakak sekali ucapan Mas Angga. Realita alur gaji yang sesungguhnya.


 


Saat aku tengah asyik menyantap makanan dan mengobrol bersama teman-teman. Tiba-tiba seseorang yang sejak pagi tadi berhasil membuat dosaku semakin bertambah banyak terlihat tengah berjalan mendekat ke arah meja yang aku tempati.


 


“Eh, kalian mau dengar berita yang bikin jantungan nggak?’ Tanya Tiwi dengan wajah serius.


 


Aku sudah bisa menebak apa yang ada di dalam kepala Tiwi.


 


“Apaan? jantungan beneran apa nggak nih?” Mbak Sari tampak penasaran.


 


“Kita coba bersama, oke.” Tiwi meletakkan sendoknya dan melipat kedua tangannya ke atas meja.


 


“Lo mau ngapain sih? Kalau mau baca doa lo udah telat, makanan kita udah hampir habis,” kata Rizal.


 


“Loh, kalian disini juga rupanya?”


 


Seketika Rizal langsung menutup mulutnya. Matanya tampak melotot saat mendengar suara yang memang sudah tak asing di telinganya tersebut.


 


“E-eh, Pak Sam.” Aku dan yang lainnya kompak menoleh ke arah Bos kami yang ngeselin itu. Kami hanya bisa mengangguk dan tersenyum canggung ke arah Pak Sam.


 


Kenapa harus ketemu Pak Sam lagi, sih? Dia sengaja ingin membuatku semakin kelihatan bodoh kali ya. Memang benar ya dia itu setan yang suka muncul secara tiba-tiba.


 


Duh Gusti, tolong selamatkan hamba-Mu ini.


.


.


.


.


 


##


 


Adelia mah sama Bos nya jahat ngatain mulu..


belum ngerasain kemakan omongan sendiri kayak nya 😂😂


 


Jangan lupa follow IG ku ya guys


@nan_dria


 

__ADS_1


salam dari penulis amatir guys ❤️


__ADS_2