
Hai aku balik lagi.
Ini bab terpanjang kedua yang pernah aku buat. haha
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya!!
Beri dukungan untuk saya.
Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku masih berdiri kaku di hadapan Sam, yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah meremas-remas jariku sendiri yang aku sembunyikan di balik punggung. Kenapa Sam selalu bisa membuatku malu seperti ini sih?
Aku memberanikan diri untuk meliriknya.
Aku lihat Sam mulai menegakkan posisi duduknya lalu pandangannya secara penuh tertuju padaku.
Bahkan sorot matanya terlihat tak lepas menatap tubuhku dari ujung kaki ke ujung kepala. Apa ada yang salah denganku?
Sam langsung menarik ku hingga aku terjatuh ke dalam pangkuannya.
Astaga, apa-apaan ini? Tolong aku tidak mau berada di dalam posisi seperti ini.
“Sam.” Aku berusaha memberontak.
“Kamu sengaja menggodaku, hm?” Sam semakin mengeratkan pelukannya pada pinggangku.
Menggoda? Tidak mungkin.
Sama saja aku cari mati kalau berani menggoda Sam saat ini. Aku menggeleng kaku, mungkin Sam menyadari perubahan sikap aneh ku. Sekarang aku lihat dari sudut bibirnya perlahan mulai muncul sebuah seringai yang langsung membuatku bergidik merinding ketika tatapan mata kami bertemu.
“A-apa? Siapa yang menggoda.” Elak ku. Aku harus mencoba bersikap setenang mungkin.
Sam semakin memelukku lalu membenamkan wajahnya ke ceruk leherku. “Apa kamu tak tahu kalau baju yang kamu pakai saat ini sangatlah berbahaya?”
“B-be-berbahaya apa maksudnya?” aku langsung merinding geli ketika Sam mulai menciumi leherku.
Memangnya apa yang salah dengan baju yang aku pakai. Aku hanya memakai kemeja putih yang ada di lemari Sam dan aku yakin ini punya dia. Lalu apanya yang berbahaya? Apa gara-gara aku sudah lancang memakai bajunya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Ah ... Aku benar-benar tak bisa berpikir untuk saat ini. Apalagi Sam terus saja menciumi leherku.
“Apa kamu tidak tahu, kalau baju ini bisa menggoyahkan iman dan kendali diriku.” Jantungku langsung berdegup begitu kencang.
Apa yang sudah aku lakukan?
Bukanya ini hanya sebuah kemeja biasa. Di mana letak menggoyahkan imannya. Padahal menurutku kemeja ini cenderung persis dengan sebuah dress yang kedodoran ketika aku memakainya. Makanya aku memilih untuk memakai kemeja putih ini. Bayangkan saja tubuh Sam yang memang besar dan tinggi itu pasti bajunya juga akan sangat kebesaran kalau aku yang memakainya. Bahkan ini saja aku harus menggulung lengannya supaya tanganku bisa terlihat.
“Sam!” aku langsung mendorong tubuh Sam hingga terlepas dari tubuhku. “Lebih baik kamu mandi, aku akan siapkan makan malam.”
Tanpa menunggu lama aku langsung berdiri dari pangkuannya lalu berlari ke dapur. Sampainya di dapur aku berusaha menenangkan diriku. Tanganku berhenti tepat di pintu lemari pendingin. Sam masih waras kan? Kenapa dia bisa membuat jantungku begitu menggila seperti ini? Kalau aku menaruh kepalaku di dalam lemari pendingin ini apa bisa mengurangi panas yang mulai menjalar di sekujur tubuhku ini. Bahkan laju detak jantungku terasa sudah tak normal saat ini.
Aku menggeleng kuat lalu berniat membuka lemari pendingin, namun aku begitu terkejut ketika secara tiba-tiba Sam menahan pintunya. Dan dengan begitu mudahnya dia membalikkan dan mengunci tubuhku ke dalam kungkungan nya.
Siaal!
“Sam, tadi kan aku menyuruh kamu untuk mandi.” Aku masih berusaha tenang.
“Aku mau makan dulu.” Ujar Sam datar.
“Ya udah aku masakin, kamu minggir dulu.” Aku berusaha mendorong tubuh Sam tetapi sama sekali tak membuahkan hasil.
“Aku mau makan kamu.” Sam menyeringai. Oke, secara harfiah ucapan Sam tersebut mengandung makna yang luas.
Cara bercanda Sam benar-benar tidak lucu, yang ada malah menakutkan.
Entah kenapa tiba-tiba kedua kakiku terasa begitu lemas seperti jelly, rasanya aku sudah tak kuat berdiri lagi aku ingin jatuh sekarang. Perkataan Sam benar-benar membuat seluruh tubuhku merinding.
Mama tolong!
“Kenapa? Kamu kok kelihatan takut banget sih, Del.” Apa katanya, jelas saja aku takut. Siapa sih yang tidak takut kalau tiba-tiba pacarnya berubah menjadi seperti orang gila begini.
Dan betapa menjengkelkannya ucapan Sam barusan. Bisa-bisanya dia berkata tanpa ada beban sedikitpun yang keluar dari mulutnya. Padahal aku sudah hampir mati berdiri seperti ini.
__ADS_1
“Siapa? Aku nggak takut tuh.” Aku tahu aku salah mengambil jawaban. Tapi aku memberanikan diri mengangkat wajahku lalu menatap Sam dengan sebal.
Sam tersenyum, sialaan bisa-bisanya dia masih tersenyum. Ck!
“I want to eat you.” Dan kalimat itu lagi-lagi berhasil membuat kakiku kembali terasa lemas.
Aku menatap Sam secara was-was, jantungku mulai berdegup kencang sekali. Apalagi ketika Sam mengangkat kedua tanganku ke atas. Apa yang ingin dia lakukan sekarang? Sam tidak benar-benar ingin memakan ku hidup-hidup kan.
“Adelia.” Suara Sam terdengar begitu berat.
Aku merasa langsung terhipnotis. Aku tak pernah mendengar Sam memanggil namaku dengan begitu sexy. Sam mulai menatap wajahku secara keseluruhan apalagi saat ini aku malah mengingat rambutku, benar-benar seperti aku sengaja mempermudah Sam untuk menelisik keseluruhan wajahku. Siaal lagi!
Lalu pandangan Sam jatuh tepat di manik mataku.
Aku yang tak bisa di tatap se-intens begitu oleh Sam, sontak langsung mengalihkan pandangan. “Sam ...”
“Apa?” Sam semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Lepas.” Ucapku dengan suara terendah, sejujurnya aku benar-benar mulai takut sekarang. Apalagi wajah Sam semakin mendekat ke wajahku.
Sam memiringkan wajahnya, hidung mancungnya pun sudah menyentuh hidungku. Mungkin se-inchi lagi bibir kami akan bertemu.
“Aku nggak akan pernah melepaskan mu, Adelia. Walau sebentar saja.” Ucapan Sam seakan menikam diriku.
Dan Sam tidak membuang kesempatan lagi. Ia langsung meraup bibirku ke dalam ciumannya. Matanya terpejam menikmati ciumannya yang sama sekali belum aku balas. Sam semakin menekan bibirnya lalu menggigit bibir bawahku hingga aku membuka mulut dan Sam langsung menelusup kan lidahnya masuk.
Sam memang pandai menggoda.
Perlahan aku mulai membalas dan mengikuti ciuman yang Sam berikan. Sungguh tubuhku benar-benar tak bisa menolak setiap sentuhan yang Sam berikan. Sam lalu melepaskan ciumannya dan dengan nafas memburu ia langsung mengangkat tubuhku hingga aku duduk di atas meja kitchen set. Ia kembali mencium ku lagi, semakin dalam dan intens.
Tanganku mulai bergerak menyusuri bahu Sam lalu berhenti di rambut bagian belakangnya. Aku meremas rambut Sam ketika dia mulai menggigit bibirku lagi. Ciumannya semakin turun ke rahang lalu ke leherku lalu kembali lagi ke bibirku. Kini aku merasakan Sam mulai mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya tanpa melepas ciuman kami sedikitpun.
Yang aku tahu saat ini adalah Sam sudah berhasil membawaku masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan diriku ke atas ranjangnya secara perlahan tanpa melepas ciumannya.
“Sam.” Aku rasa suaraku justru malah semakin membuat Sam di selimuti kabut gairah.
Sam dengan cepat membuka kemejanya lalu melemparnya ke samping. Setelah itu Dia kembali menindih tubuhku. Jantungku berdebar dengan begitu kerasnya ketika perlahan tanganku mulai berani menyentuh dada bidang Sam, ada perasaan malu yang menyerang diriku saat aku benar-benar bisa menyentuh dan meraba tubuh Sam secara langsung. Sam dan aku saling terdiam dengan nafas yang memburu sebelum dia memutuskan untuk mencium bibirku lagi.
“Ah ...” sumpah serapah aku mengutuk apa yang baru saja keluar dari mulutku.
Aku merasakan Sam menghentikan tangannya tepat di kancing ke tiga. Aku yakin Sam sudah tak sabar, dia kembali mencium bibirku lalu menelusup kan tangannya ke balik punggungku dan aku tahu apa yang akan Sam lakukan selanjutnya. Ya, dia melepaskan pengait bra hitam yang aku pakai saat ini. Lalu perlahan tangannya meraba tubuhku lagi semakin maju hingga ke dadaku.
Sam melepas ciumannya dan mengarahkan wajahnya ke dadaku yang sudah sedikit terbuka. Aku benar-benar tak bisa menolak Sam, aku hanya terbaring pasrah dengan memejamkan kedua mata sambil menggigit punggung tanganku ketika aku merasakan nafas Sam mulai menerpa bagian dadaku.
Aku merasakan sebuah kecupan mendarat di sana, cukup lama.
Tapi tiba-tiba Sam berhenti dan segera menarik tubuhnya. Aku ikut tersadar lalu membuka mata, aku cukup terkejut dengan apa yang Sam lakukan. Lalu aku melihat Sam sudah duduk di tepi ranjang. Dia menunduk dengan kedua tangan menyangga kepalanya.
Apakah aku sudah boleh bernafas lega?
Nafasku masih memburu, lalu aku segera sadar untuk membenarkan bra dan bajuku yang terlihat berantakan. Ini benar-benar memalukan.
“Maaf, Adelia.” Aku lihat Sam masih menunduk. “Maaf.” Imbuhnya lagi.
Lidahku masih terasa begitu kelu. Lalu aku memutuskan untuk menyusul duduk di sebelah Sam dan memberanikan diri untuk mengusap bahunya. Walau aku sendiri juga masih takut dan malu tapi aku juga tidak ingin Sam merasa bersalah karena kejadian yang sama terulang lagi.
Sam mengangkat wajahnya lalu menatapku. “Aku nggak bisa menahan diri lebih lama lagi, Adelia. Aku sudah mencobanya tapi aku nggak bisa, maaf.”
Sebenarnya aku sedikit takut mendengar ucapan Sam barusan. Karena ucapan itu seolah mengandung dua makna yang berbeda antara baik dan buruk.
“Jadilah milikku, Adelia. Jadilah milikku seutuhnya.” Aku mengerutkan alis, rasanya leherku begitu tercekat bahkan aku hampir tidak bisa mengeluarkan kata-kata. “Jadilah milikku dan ... jadilah istriku.”
Mataku langsung membulat dengan sempurna ke arah Sam setelah kata terakhir itu terlontar dari mulutnya. Benarkah yang aku dengarkan tadi? Dia memintaku untuk menjadi istrinya. Tolong beri aku sedikit waktu untuk mencerna kalimat yang di utarakan oleh Sam. Ini terdengar sangat gila dan sangat di luar dugaan.
Sam langsung berdiri dan mengambil kemejanya untuk di pakai lagi setelah itu dia berjalan menuju lemarinya. Aku melihat dia mengambil sebuah kotak kecil dan membawanya berjalan mendekatiku lagi.
Kali ini bukan untuk duduk di sampingku melainkan duduk berlutut di hadapanku. Sam berjongkok dengan lutut kiri menempel ke lantai, setelah itu dia membuka kotak kecil yang ada di tangannya. Aku begitu terkejut karena ternyata kotak tersebut berisi sebuah cincin dengan mata berlian yang begitu indah.
Ada jeda sesaat sebelum Sam kembali berbicara.
“Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang cukup lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu guna mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.” Sam menghela nafasnya. “Berkali-kali ku tanya pada diriku sendiri, sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabannya tetap sama, yaitu ... Kamu. Banyak yang sudah kita lalui bersama, memang belum begitu lama. Tapi aku selalu heran, kamu selalu berhasil mengubah arah pandanganku. Sehingga aku begitu menginginkan dirimu.” Sam tersenyum tipis. “Jangan membuatku hancur dengan menolak ku malam ini. Adelia Rinjani ... Maukah kamu memberiku kesempatan yang luar biasa dengan menjadi istriku?”
Aku hanya bisa membuka mulutku. Apa yang aku dengar tidaklah salah kan? Sam menatapku dengan penuh harap lalu mengambil cincin tersebut dari dalam kotak.
__ADS_1
“Will you marry me?”
Tidak ada kata yang seindah ketika Sam mengatakan hal tersebut. Aku seperti sedang bermimpi, mimpi yang begitu indah. Aku tidak percaya kalau Sam benar-benar mengatakan hal tersebut. Mataku mulai berkaca-kaca lalu dengan ragu-ragu aku mulai mengangguk dan tersenyum.
“Yes, I do.” Jawabku mantap.
Semoga ini benar-benar jawaban tepat yang aku ambil malam ini.
Sam langsung mendesah lega dengan memejamkan kedua matanya, bahkan dia sampai menggigit bibir bawahnya. Sam mulai mendekat dan menatapku dengan senyum yang mengembang di bibirnya, ia meraih tangan kiri ku lalu memasangkan cincin cantik tersebut di jari manis ku.
It's beautiful.
Sam mendaratkan kecupan di punggung tanganku yang membuat hatiku semakin berdebar.
Ini bukanlah sebuah moments romantis yang Sam berikan padaku, bukan juga moments lamaran seperti yang aku impi-impikan. Tetapi aku merasa sangat terharu dan bahagia yang begitu bercampur aduk. Aku langsung menghambur memeluk tubuh Sam yang saat ini masih berlutut di hadapanku.
Aku sangat bahagia.
Ijinkan aku merasakan kebahagiaan ini sejenak. Merasakan kebahagiaan kami yang saling mengalir satu sama lain. Aku ingin menikmati setiap detik yang begitu berharga ini dengan memeluk tubuh Sam.
Cukup lama kami berpelukan hingga akhirnya Sam mengeluarkan suara sebagai pemecah keheningan.
“Kamu suka cincinnya?” aku mengangguk sembari memberi jarak pada pelukan kami. “Ini adalah cincin peninggalan Mama. Mungkin sedikit terlalu besar di jarimu. Besok aku akan mencari ukuran yang lebih pas lagi untuk aku pasangkan di jari manis mu.”
Sam mengajakku berdiri lalu tangannya mengusap kedua pipiku yang entah sejak kapan banjir dengan air mata.
“Terima kasih.” Ujar ku pelan.
Sam menggeleng. “Aku yang terima kasih.” Lalu dia memelukku lagi. “Sekarang kamu nggak akan pernah bisa pergi jauh dariku, Adelia.” Ada dengusan kecil di akhir kalimatnya.
Aku terkekeh lalu memukul dada Sam. “Never.” Lalu kami tertawa bersama.
Kapan sih Sam aku bisa pergi dari kamu? Bahkan membayangkan saja aku tidak mampu.
Hingga akhirnya tidak ada hal yang ingin aku dan Sam lalukan lagi. Lalu Sam memutuskan untuk mengajakku tidur bersama, hanya benar-benar tidur biasa bukan tidur yang aneh-aneh. Bahkan kami tidak jadi menikmati makan malam, mungkin perasaan bahagia ini sudah cukup membuatku dan juga Sam merasa begitu kenyang hingga menyesakkan dada. Ck!
Akhirnya malam ini aku benar-benar tidur di atas ranjang yang sama dengan Sam. Aku memilih untuk memunggungi tubuh Sam untuk menghindari hal yang tidak di inginkan terjadi ya walaupun dia sudah berjanji untuk tidak akan berbuat apapun.
Dia memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya di tengkuk leherku. Aku rasa malam ini Sam akan mendapatkan mimpi yang indah.
Tetapi tidak denganku. Alih-alih mendapatkan mimpi indah justru aku malah sama sekali tak kunjung bisa tertidur.
Bagaimana tidak? Tangan nakal yang melingkar di tubuhku ini dengan sengaja memposisikan telapak tangannya untuk menggenggam salah satu dadaku.
Tentu ini akan menjadi malam terkampret bagiku. Aku hanya berharap bisa segera tertidur dengan nyenyak. Tolonglah!
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Ya begitu deh kelakuan Sam. Maklumin aja yah, suka-suka dia yang lagi senang hatinya.
Semoga kalau Mama Adelia tahu dia tidur di apartemen Sam tidak marah ye. Kan berkat tidur di sana Adelia jadi dapat hadiah plus hadiah juga buat Mamanya yang kepingin calon mantu.. hahaha
Kasih selamat buat mereka. yey!
__ADS_1