My Boss Samuel

My Boss Samuel
100. Titik Rapuh


__ADS_3

Apa kabar semua??


Ketemu lagi, sehat-sehat ya...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!


Di share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Mungkin saat ini hal yang paling menyebalkan dalam hidupku adalah ketika aku kembali menginjakkan kaki di halaman kantor. Setiap kali aku mulai memasuki gedung perkantoran yang sudah selama empat tahun aku tempati ini ada rasa yang berubah. Rasanya ada sebuah lampu yang menyala di atas ku dan lampu tersebut terus menyorot di setiap langkahku berjalan.


Aku benar-benar ingin segera keluar dari kantor ini.


Aku sudah malas mendengar dan berhadapan dengan orang-orang nyinyiers ini.


Pagi ini Sam ada meeting di luar kantor jadi aku terpaksa harus berangkat ke kantor sendirian. Mungkin kemarin-kemarin ketika aku terlihat datang dan berjalan dengan Sam, orang-orang tak ada yang berani menatap atau berbisik-bisik di belakangku. Tapi ketika aku sendirian seperti ini rasanya semua orang seakan langsung mendapat aba-aba untuk memulai lomba pernyinyieran.


Bisa tidak ya, tiba-tiba aku kesurupan biar bisa sesuka hati berteriak dan mengamuk tak terkendali ke mereka semua.


Aku berdiri di depan lift. Siaalnya, kali ini ada dua orang perempuan yang juga ikut berdiri di sebelahku. Aku berusaha bersikap sebiasa mungkin dan berniat untuk tak memperdulikan mereka yang sepertinya sudah mulai nyinyiers.


“Jaman sekarang banyak banget ya yang kelihatan kalem dan baik, tapi nggak tahunya di belakang sikapnya ganjen. Mana yang di ganjenin Bosnya lagi calon pemimpin perusahaan ini. Pinter banget ya yang nyari target.” Ucap salah satu perempuan yang menggunakan rok ketat dengan atasan blouse berwarna biru.


Satu.


“Iya, ih nggak nyangka banget ya. Gue malah kasihan lho sama targetnya jangan-jangan dia Cuma ketipu sama topeng aja.” perempuan yang satunya tertawa sinis.


Dua.


“Haha, nanti kalau topengnya udah ke buka juga nasibnya bakal di buang. Sok kecantikan banget sih jadi orang.”


Tiga.


Kali ini mereka tertawa bersama. Dan aku benar-benar sudah tidak tahan. Sepertinya aku sudah tak bisa melanjutkan berhitung sampai lima. Karena ubun-ubun ku rasanya sudah hampir meledak.


Pintu lift terbuka dan aku segera masuk. Ketika dua perempuan tersebut hendak ikut masuk tapi aku langsung menghalangi pintu dan menatap sinis ke arah mereka.


“Sorry ya, gue nggak level satu lift sama orang kayak kalian berdua. Takut aja nanti udara yang gue hirup jadi tercemar busuk gara-gara bareng kalian.” berhubung aku sudah menyelam jadi sekalian saja aku minum airnya.


Aku hendak melangkah masuk tapi tanganku kembali di tarik keluar. “Heh, sombong banget lo! Nggak ada Pak Sam di sini jadi nggak usah sok yes dong lo.” Perempuan berbaju biru tersebut berkata keras sekali hingga beberapa orang yang melewati Lobi sampai berhenti dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.


Siaal, kenapa aku harus berhadapan dengan orang gila begini sih? Tolong dong, ada pasien gila yang nyasar ke kantor.


“Loh kenapa emang gue yes kok? Ada nggak adanya Sam juga nggak bakal merubah status gue. Lo sirik ya? Lo jelek sih mulut lo juga busuk banget makanya nggak ada Bos yang suka sama lo.” Ujar ku sinis.


“Iya lo busuk banget!” Aku langsung tersenyum lebar begitu melihat Mbak Sari datang dan berjalan mendekat ke arahku.

__ADS_1


“Siapa lo? Beraninya bilang begitu. Lo temenan sama dia gara-gara Cuma mau jadi penjilat doang kan. Munafik!” Sepertinya perempuan berbaju biru tersebut benar-benar gila.


Dimana-mana orang waras itu selalu mengalah. Lah dia nyambar aja dari tadi kayak petir.


Aku dan Mbak Sari saling pandang lalu tertawa sinis. “Sirik bilang dong! Mending gue jilat temen gue kemana-mana dari pada jilat lo. Udah jelek, nggak tahu malu, dan satu lagi ... Mulut lo busuk.” Aku dan Mbak Sari kembali tertawa.


Aku tak memperdulikan keadaan yang kian heboh di Lobi ini. Sekalian saja mumpung aku belum keluar, hitung-hitung buat kenang-kenangan lah ya. Supaya mereka semakin mengingat nama dan wajahku yang sebentar lagi akan menjadi istri dari Bos mereka.


“KALIAN!!” pekiknya.


Aku tahu perempuan tersebut sudah mulai emosi, tapi sebelum dia melayangkan tangannya Security sudah lebih dulu melerai aksi adu mulut kami. Aku dan Mbak Sari memilih langsung masuk ke lift begitu pintunya terbuka, tapi perempuan tersebut sepertinya masih tak terima.


Dia terus berteriak ke arahku dan Mbak Sari walau tubuhnya sudah di tahan oleh seorang Security. Nah kan sekarang udah kelihatan gilanya, duh aku jadi menyesal karena sudah khilaf menanggapi ocehan orang gila.


“Gue belum selesai dasar Bitchy lo!” aku hanya melotot ke arahnya sambil mengacungkan dua jari tengahku padanya sebelum pintu lift tertutup.


“Ingat, Del. Calon istrinya seorang Bos besar itu tidak boleh bar-bar ya, harus anggun dan berwibawa.” Seketika aku langsung terbahak ketika mendengar ucapan Mbak Sari.


“Makasih ya, Mbak.”


••


Aku dan Sam sampai di sebuah rumah, rumah mewah yang berhasil membuatku melongo takjub. Ini sih sudah seperti istana, anying!


Sam mengatakan kalau ini adalah rumah yang akan kami tempati berdua setelah menikah nanti. Padahal aku kemarin sudah bilang kalau aku tidak mau melihat rumahnya dulu. Biar nanti jadi kejutan begitu.


Tapi Sam terus memaksaku untuk ke sini, dengan alasan supaya aku bisa memberi saran untuk design interior maupun perlengkapan rumahnya sebelum rumah ini benar-benar siap untuk di tempati. Di bandingkan apartemen Sam jarak rumah ini jauh lebih dekat dengan kantor.


Capek!


Rumahnya besar banget. Bisa kali ya aku pakai motor buat keliling rumah ini, Ck!


“Kata Papa, lingkungan apartemen tidak bagus untuk perkembangan anak. Anak butuh tempat yang luas untuk bermain dan berinteraksi dengan sekitar.”


Rahang ku hampir jatuh ke tanah. Dia sudah memikirkan anak? Sungguh? Astaga! Aku butuh minum air dingin untuk mendinginkan kepalaku yang mendadak panas.


“Iya, Sam, luas ... Luas banget.” Ujar ku sambil tersenyum kecut.


Gila! Luasnya juga kira-kira dong. Ini rumah besar banget kalau hanya untuk tempat tinggal kami berdua nantinya.


“Kamu nggak suka?” Sam menatapku.


Gimana ya aku takut kalau dia tersinggung. Lagi pula dia sendiri yang sudah menyiapkan ini semua masa iya aku mau menolak. Kata Mama rejeki kan tidak boleh di tolak.


“Suka kok, hanya sedikit berlebihan saja. Terlalu besar.” Aku meringis ke arah Sam.


Hening sesaat.


Sam tersenyum tipis lalu menatap ke depan. “Tadi di kantor ada masalah ya?”

__ADS_1


Tunggu dulu masalah apa nih? Jangan bilang kalau Sam tahu soal kejadian pagi tadi.


“M-masalah apa? Enggak kok, nggak ada.” Jawabku singkat.


Tapi entah kenapa setelah menjawab pertanyaan Sam tersebut aku merasakan mataku mulai panas dan berair. Aku mendengar nada khawatir dari kalimat yang keluar dari mulut Sam. Dan hal tersebut berhasil membuat cairan bening meleleh dari mataku. Mau bagaimanapun aku hanyalah seorang perempuan biasa, aku tak punya kekuatan super otot kawat tulang besi. Hatiku juga lumer, selumer mentega yang di panaskan di atas wajan.


Ada saatnya aku merasa lelah dan ingin menyerah.


Sam langsung mendekapku ke dalam pelukannya. Dan di sanalah akhirnya tangis ku pecah. Aku menangis sekencang-kencangnya di dada Sam. Aku hanya ingin bilang kalau aku sudah tidak sanggup.


“Maaf.” Sam mengecup pundak kepalaku dan hal tersebut malah semakin membuat aku menangis.


Aku memang sakit hati dengan perkataan orang-orang yang selalu mencela dan mengatakan hal yang tidak benar tentangku. Tapi aku masih bisa bertahan, masih bisa melawan, tapi jika ada orang yang merasa kasihan denganku justru aku malah tak bisa menahannya.


Di situlah aku merasa rapuh. Aku kasihan dengan diriku sendiri.


Aku semakin membenamkan wajahku ke dada Sam, aku tak ingin dia melihatku menangis. “Jangan biarkan orang lain melihat kalau aku sedang menangis, Sam. Aku nggak mau orang-orang tahu kalau aku lemah. Aku nggak mau melihat mereka senang karena aku menangis. Tolong, Sam.” Aku semakin sesenggukan.


“Aku juga nggak tahu kenapa mereka jahat banget sama aku. Aku salah apa sama mereka? Tolong, Sam, jangan biarin mereka melihat kalau aku sedang menangis. Tolong ... ”


Sam tak menjawab ku, dia semakin mendekap ku dan menutupi wajahku menggunakan jas yang kini ia pakai. “Nggak akan ada yang melihat kamu. I promise.”


Malam ini aku benar-benar meluapkan segala sesuatu yang sudah aku pendam selama ini. Hanya di depan Sam aku berani menunjukkan kelemahan ku, segala sisi rapuhku, dan kekuranganku. Karena aku yakin hanya Sam juga yang bisa menjaga, melindungi dan bersedia menerima segala kekurangan yang aku miliki.


'Hati seorang wanita adalah Lautan rahasia yang paling dalam...'


(Rose deWitt bukater)


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....



##


Kalau jadi Adelia pasti juga sedih banget kan ya, tapi aku suka dia selalu kuat dan masih bisa membalas. Dia nggak salah apa-apa tapi di hakimin sendiri. Setiap manusia kan nggak bisa menentukan cintanya untuk siapa, semua sudah di gariskan sesuai dengan takdirnya masing-masing.

__ADS_1


Buat yang masih suka ngurusin hidup orang, mampuus wae lo! hahahaha.


__ADS_2