My Boss Samuel

My Boss Samuel
119. Siomay Bandung


__ADS_3

Selamat siang semua...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Aku tengah duduk bersila di ruang TV, memegang mangkuk ice cream sambil menonton serial kartun Spongebob. Entahlah di umurku yang sekarang aku masih sangat menyukai kartun tersebut, walaupun episodenya hanya di ulang-ulang.


“Jangan banyak-banyak makan es.” Mama menepuk puncak kepalaku lalu ikut duduk di sofa. Mama memegang sepiring strawberry segar yang baru saja di bersihkan lalu menyodorkannya ke aku. “Ngemil ini aja.”


Aku hanya bisa menurut, meletakkan mangkuk ice creamku lalu menerima piring buah tersebut.


Aku dan Sam baru saja mengumumkan kehamilanku yang langsung di sambut begitu heboh oleh keluarga Sam, maupun keluargaku. Mama, Papa dan Vino pun langsung datang ke rumahku. Begitu juga dengan keluarga Sam, Kakek Robert, Bunda Eliza minus Ayah Reino karena sedang berada di luar negeri, begitu juga Papa Carlisle. Tasya, Natalie beserta bayi perempuannya yang kini berusia satu tahun yang begitu menggemaskan dan suaminya, Destian.


Bahkan Bunda Eliza membawakan beberapa mangga muda untukku. Meski aku tidak memintanya, tapi aku menghargainya. Dan yang menghabiskannya adalah Sam tentunya dan dia tidak menyisakan nya sedikitpun untukku.


“Sam masak apa sih, Del?” tanya Bunda Eliza sambil menyodorkan segelas susu hangat untukku.


“Nggak tahu, Bun. Dari pagi tadi nggak keluar dari dapur sampai makanan di kulkas habis gara-gara dia.” Jawabku sedikit jengkel. Bagaimana tidak? Nafsu makan Sam benar-benar bertambah gila. Dia tidak bisa berhenti makan barang semenit saja.


“Tapi lucu juga ya , Adel yang hamil tapi malah Sam yang ngidam. Mama enggak nyangka lho.” Ujar Mama sambil terkekeh.


Bunda Eliza ikut terkekeh. “Dia persis Papanya, Mbak. Dulu pas Mamanya hamil dia, yang ngidam juga Papanya. Bahkan Papanya dulu mintanya aneh-aneh.” Aku dan Mama menatap tak percaya. Masa sih?


“Pernah dulu Papanya pengen makan ketan hitam, sampai satu keluarga di buat bingung buat nyari ketan hitam. Lagian Papanya Sam tahu yang namanya ketan hitam itu dari mana coba, dan pengen makan lagi.” Aku langsung tertawa, begitupun Mama dan juga Bunda Eliza.


Aneh juga ya, aku malah jadi ikut membayangkan Papa Carlisle kan bule kok bisa-bisanya ngidam minta ketan hitam. Kenapa ngidamnya bukan makanan yang kebarat-baratan begitu.


“Bun, sisa cake yang Bunda bawa tadi udah nggak ada?” Sam datang dengan sepiring puding yang sepertinya hasil buatannya sendiri. Kemudian duduk di sebelahku.


“Yang mana? Di makan sama yang lainnya paling, tuh pada ngumpul di depan.”


Sam hanya mendengus pelan sambil memakan pudingnya.


“Gila, capek banget.” Aroon datang sambil meletakkan sebuah bungkusan di depanku. “Mesti dari Bandung banget ya, Del?” dia bertanya sambil menghempaskan dirinya di sofa.


“Ha?” aku menatap Aroon tidak mengerti.


“Baru nyampe lo.” Tiba-tiba Raffael datang dari depan. Dan Aroon hanya mengangguk.


“Wah, siomay nya udah datang?” Sam meletakkan piring yang telah kosong ke atas meja dan meraih bungkusan yang Aroon letakkan di depanku.


“Aku sampai bela-belain lho nyetir sendiri ngelawan macet, biar bisa ngebut sampai Bandung, Cuma karena siomay pesanan Adel.” Aroon terlihat lelah. “Tahu capek gini mending tadi aku ajak kamu, Raff, biar bisa gantian pulang perginya.”


Raffael hanya mendengus.


Tunggu dulu, sejak kapan aku memesan siomay padanya?


“Aku nggak pesan siomay loh, Ar.” Ujar ku menatap Sam yang berdiri dan melangkah menuju dapur dengan wajah ceria.


“Loh, tadi Sam telepon katanya kamu mau siomay mesti dari Bandung asli enggak mau yang lain.”


Aku menggeleng polos. Dan terlihat Raffael mulai tak bisa menahan senyum dari wajahnya.


“Kamu nggak pesan siomay?” Aroon memicing padaku.


“Enggak.”


“Wah, berengseek!” Aroon berdiri kesal di ikuti tawa dari Raffael.


“Bad word, son.” Ujar Kakek ketika melewati kami.


“Kamu ngerjain aku, Sam?” Aroon mengacuhkan kalimat Kakek dan mengikuti Sam menuju dapur.

__ADS_1


“Siapa yang ngerjain kamu?” Sam memasang wajah polos tak berdosa.


“Kamu bilang Adel pesan siomay yang mesti dari Bandung kalau nggak anak kalian ngences.” Aroon berujar gemas.


Sam menatap Aroon datar. “Kapan aku bilang begitu?” tanyanya santai.


“Sialaan kamu, Sam!” Aroon mengumpat kesal. Dan hal tersebut langsung membuat Raffael tertawa terpingkal-pingkal di kursinya.


“Ar.” Kini Bunda ikut menegur.


“Kesel, Bun, kek. Sam bohongin aku.” Aroon melirik Sam sebal.


“Yang bohong siapa?” Sam bersidekap.


“Kamu bilang Adel mau siomay.”


“Aku nggak bilang Adel yang mau siomay.” Ujar Sam santai.


“Maksud kamu apa?!” Aroon terlihat emosi.


“Aku bilang gini tadi 'Ar, beliin siomay Bandung tapi yang dari Bandung asli ya, jangan di tempat lain, kalau nggak anak aku nanti ngences, tanggung jawab kamu'. Aku bilang begitu.” Sam berujar datar.


Aroon terdiam, tampak mencerna kalimat Sam. sedangkan Raffael sudah kembali tertawa sampai mengeluarkan air mata. Lalu saat tersadar jika yang menginginkan siomay itu adalah Sam dan bukannya aku, Aroon merebut bungkusan itu dari tangan Sam.


“Mau apa kamu?” Sam mengejar Aroon yang melangkah menuju dapur.


“Mau aku buang!” ujar Aroon kesal karena merasa di kerjai Sam. “Kalau aku tahu kamu yang mau siomay, nggak sudi aku capek-capek nyetir bolak-balik Cuma karena ini!”


“Kamu mau ponakan kamu ngences, Ar?” Sam merebut kembali siomay itu dari tangan Aroon.


Mendengar itu, Aroon hanya diam. “Curang kamu, Sam.” Ujarnya mengalah menuju dapur dengan wajah kesal.


“Ya mana aku tahu kalau yang bakal ngidam itu aku, bukan Adel.” Sam mengikuti langkah Aroon.


Tentu saja hal itu langsung membuat semua yang ada di ruang TV ini tersedak tawa.


“Big No!” Sam memindahkan siomay itu ke dalam piring. “Emangnya kamu ngidam juga? Bun, Aroon hamilin anak orang nih.”


Aroon lagi-lagi mengumpat sambil meninju lengan Sam. “Itu banyak, Sam. Gue tadi nggak tanggung-tanggung lho jatuhin harga buat beli siomay ini.”


“Whatever!” sahut Sam datar.


Aku, Mama, Bunda Eliza, Kakek Robert dan juga Raffael hanya menghela nafas melihat kelakuan mereka. Bahkan Raffael benar-benar sudah sampai lemas tertawa dari tadi.


“Ck, bocah!” gerutu Raffael di sela-sela tawanya.


“Diem lo!” sahut Aroon kesal.


“Sabar, Brother. Gue juga pernah kok berada di posisi lo. Jadi mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati ya.” Raffael tertawa lagi.


Benar sekali, sejak Aroon dan Raffael memutuskan menginap di rumahku ketika hari libur, saat itu juga Sam seperti mempunyai asisten baru yang mau di suruh kemana saja.


••


Karena satu-satunya yang hamil saat ini di keluarga besar Sam hanya aku, maka aku merasa sangat di manjakan oleh mereka. Sama seperti Natalie dulu, dia juga selalu di manjakan ketika hamil bayi gembil yang di beri nama Nayra.


“Masih sakit nggak, Del?” Raffael tengah duduk di ujung sofa, memijit telapak kakiku.


“Cerewet mulu, ih.” Ujarku meliriknya yang merengut masam. Sedangkan Sam tengah pergi mencari mangga muda, dia rajin sekali membuat rujak dan mangga akhir-akhir ini.


Aku hanya tersenyum manis, merasa senang mengerjainya dengan akal-akalan ini adalah keinginan keponakannya. Raffael adalah orang yang tidak pernah tunduk pada ucapan orang lain, kecuali perintah Papanya. Dan kini dia begitu tunduk pada apapun yang aku perintahkan padanya.


Menyenangkan bukan.


“Raff.” Aku memanggil sambil terus berbaring di sofa.


“Hm.” Raffael menatapku sebal.

__ADS_1


“Buatin gue jus dong.”


“Aish!” dia berdecak kesal tapi tak urung berdiri ogah-ogahan. “Mau jus apa?”


Aku tersenyum. “Strawberry ya.”


“Kalau bukan karena lo hamil, Del. Nggak bakal sudi aku!” dia melangkah menuju dapur dengan langkah kesal.


Aku terkikik geli, bangkit duduk dan bersila di atas sofa, memainkan ponsel sambil menunggu Raffael membuatkan jus untukku. Sebenarnya yang memanfaatkan tenaga Aroon dan Raffael bukan Cuma Sam saja sih, aku juga. Aku terkadang juga senang sekali kalau bisa mengerjai mereka berdua hanya dengan ancaman 'ini keinginan keponakan kalian'.


“Kamu udah makan?” Sam tiba-tiba datang dan mengecup keningku, lalu menghempaskan dirinya di sofa.


“Dapat mangga nya?”


Dia menggeleng lelah. “Nggak ada, matang semua. Aku nggak suka.” Ujarnya merebahkan diri ke pangkuanku, wajahnya menghadap perutku yang masih rata. Menciumi perutku di atas kaus yang ku kenakan.


Dia mengusap-usap perutku dengan gerakan lembut dan aku mengusap rambutnya sambil tersenyum.


“Sam!” teriakan dari depan membuat Sam menoleh dan tak lama kemudian Destian datang dengan membawa mangga muda yang tampak segar di matanya. “Nih mangga yang kamu cari.”


“Kamu dapat dari mana?” Sam bangkit duduk dan menatap mangga itu dengan mata berbinar seperti bocah yang mendapatkan mainan.


“Maling di rumah Pak RT, yang rumahnya paling ujung itu. Ternyata lagi panen mangga.”


Aku tersedak tawa sedangkan Sam terbatuk. “Ini hasil curian?!” matanya melotot.


“Nggak juga sih, tadi aku selipin uang di bawah pintu rumahnya Pak RT, sambil berbisik Pak saya minta mangganya ya.” Destian menjawab polos. Dan hal tersebut mampu membuatku terbahak.


“Tetap aja maling.” Protes Sam tapi tangannya meraih mangga itu mendekat.


“Ya dari pada kamu keliling ke sana kesini nggak dapat, aku kan Cuma cari jalan singkat, Sam. Harusnya kamu menghargai usahaku lah.” Ujar Destian membela diri.


“Kalau aku makan, dosanya kamu yang tanggung ya.” Sam membawa mangga itu ke dapur.


“Iya, ah elaaah. Tuhan tahu kok ini demi buat orang yang lagi ngidam. Biar aku deh yang nanggung, sekalian dosaku biar tambah banyak. Nanti tinggal sogok aja malaikatnya biar enggak di catat, kan ini buat orang ngidam.” Kelakarnya lalu tertawa.


Geblek emang!! Tapi aku ikut tertawa bersamanya.


Destian lalu berganti tempat duduk di sampingku. “Kamu nggak mau makan apa gitu, Del?” aku menggeleng. “Masa iya Sam yang ngidam sih?”


Aku mengangkat bahu. “Mana aku tahu.”


Saat itu bertepatan Raffael yang keluar dari dapur membawakan aku segelas jus segar. Dia memberikan jus itu padaku.


Destian berdecak. “Kenapa dulu bukan aku aja ya yang ngidam waktu Natalie hamil Nayra.” Destian bergumam pelan.


“Kalau elo yang ngidam emangnya lo mau ngapain? Mau ngerjain satu keluarga lo?” ujar Raffael sambil melirikku dan aku hanya bisa tertawa.


Destian menyengir. “Mau minta jatah tiap malam, kan bisa di jadikan alasan kalau itu maunya anak. Sayangnya malah Natalie yang ngidam, mana ngidamnya dia sebel kalo dekat aku. Terpaksa deh selama istriku hamil, aku jadi banyak olah raga tangan sendiri.” Ujarnya sambil mempraktikkan gerakan mengocok lalu tertawa terpingkal-pingkal.


“Berengseek lo, Brother!” umpat Raffael namun juga sambil tertawa terbahak-bahak.


Aku menatapnya horor. Benar-benar tidak ada yang beres di keluarga Sam. Dosa apa Natalie punya suami seperti dia??


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1


__ADS_2