
Hallooo guys!!
Selamat siang dan selamat beraktivitas di hari Senin.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!
Di Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
“Ternyata kemarin lo pingsan ya, Del?” Mbak Sari menyodorkan segelas teh padaku.
Sebenarnya aku sedikit terkejut di tanya begitu. Berarti kejadian kemarin benar-benar menyita perhatian dan jangan-jangan teriakan Sam juga berhasil membuat heboh.
Please, aku belum siap untuk menghadapi semua bacotaan teman-teman dan penghuni kantor ini.
Aku menampilkan wajah lemas yang paling ngenes yang aku punya. “Iya, Mbak. Tensi darah gue tuh lagi rendah banget.”
“Kurang istirahat kali, Del.” Sahut Mas Angga yang baru saja selesai meeting dengan Rizal.
Semenjak kehadiran Rio di divisi ini, Rizal jadi jarang mendapat pekerjaan keluar lapangan. Dia mulai mendapat tugas baru dan lebih sulit pastinya. Dan urusan survey lapangan kini menjadi tugas Tiwi dan Rio.
“Atau lo mau gue peluk biar tensi darah lo naik.” Imbuh Rizal.
Aku mencibir. “Udah kemarin kali pingsannya.”
“Denger-denger lo sampai di gendong Sam ya gara-gara pingsan?” Mbak Sari mulai menatapku penuh selidik.
Ayo otakku bekerjalah. “Ah, mana gue tahu, Mbak. Gue kan pingsan ... Ya, gue Cuma ingat pas bangun udah ada Bos di klinik. Secara gue kan meeting sama dia kemarin.”
Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal menatapku dengan tatapan datar.
“Jangan-jangan lo Cuma modus pingsan lagi biar bisa di gendong sama Bos.” Cibir Rizal tak terima.
Mas Angga tertawa. “Tapi Sam akhir-akhir ini beda lho, apa gara-gara mau nikah ya.”
“Gue setuju, Ngga. Lebih manusiawi gitu.” Imbuh Mbak Sari sambil terkikik.
“Manusiawi dari Hongkong?” aku tertawa kencang dalam hati. Sudah lama sekali aku tidak membicarakan hal yang jelek-jelek tentang Sam. Kali ini Rasakan!
“Tapi bener sih, Bos lebih sering senyum, sering nyapa kita. Terus nggak terlalu sering marah-marah lagi, dan kalian ingat kan kemarin Bos nepuk pundak gue berasa kayak temen banget sikapnya.” Rizal memasang cengirannya.
“Hati-hati jangan-jangan itu Cuma kamuflase. Siapa tahu tanduknya tiba-tiba nongol.” Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal tertawa.
Untunglah, drama pingsanku kemarin benar-benar berhasil menyamarkan fakta yang sesungguhnya.
••
Akhirnya aku menginjakkan kaki di rumah keluarga Sam lagi. Hari ini adalah perayaan pernikahan Natalie dan Destian yang ketiga. Dan Natalie mengadakan pesta yang cukup besar, katanya sekalian merayakan kebahagiaan karena dirinya telah hamil.
Karena pestanya di adakan di rumah jadi rumah ini sudah di sulap seindah dan semewah mungkin. Bahkan tamu yang hadir lebih banyak daripada waktu perayaan pesta Bunda Eliza waktu itu. Menurut perhitunganku ada sekitar dua puluhan sepupu dan sanak saudara Sam yang baru aku lihat hari ini.
“Makan yuk, Del.” Ajak Sam. Bukan, ini bukan ajakkan tetapi pemaksaan. Bagaimana tidak aku bahkan belum menjawab tetapi Sam sudah menarik lenganku begitu saja menuju dapur.
Karena semua masih sibuk dengan persiapan pesta jadi kondisi dapur terbilang cukup sepi, tapi sudah ada banyak makanan di sana. Aku melihat Sam mengambil tiga centong nasi sekaligus ke dalam piringnya. Dan hal tersebut mampu membuatku kenyang sebelum makan.
“Lapar ya?” sindirku.
Sam hanya meringis. “Iya.” Ujarnya singkat.
“Makan nggak ada yang ngajak gue?”
Sebuah suara memecah keheningan ruang makan dan seorang pria yang berwajah tampan masuk. Aku mengamati wajahnya yang terasa familiar bagiku. Sama dengan pria itu juga mengamatiku.
“Adelia, kan?” tebaknya duduk di depanku.
Aku tersenyum. “Mas Tristan, apa kabar?”
Mas Tristan dulu pernah beberapa kali di undang menjadi salah satu pembicara untuk kelas kuliah yang aku ambil. Dia termasuk pengusaha muda yang sukses mengelola perusahaan keluarga dan sering menjadi motivator untuk anak-anak muda.
“Masih ingat gue ya.” Mas Tristan tersenyum. “Adelia apa kabar?”
“ Iya baik, Mas.”
Sebuah suara batuk yang di sengaja terdengar. Aku dan Mas Tristan menoleh ke sumber suara. Wajah Sam terlihat kaku tanpa ekspresi.
“Oh jadi ini Adelia yang di bilang Mama tadi. Calon istri lo?”
__ADS_1
Sam berdecih. “Nggak usah sok akrab.”
“Loh kita memang akrab kok dulu. Ya kan, Del.” Mas Tristan tersenyum ke arahku. Dan aku hanya bisa mengangguk.
“Masih sering di undang ke kampus, Mas.” Aku meraih gelas lalu menuang air putih ke dalamnya.
“Udah enggak, Del. Gue satu tahun ini di Inggris dan baru pulang kemarin makannya gue nggak tahu kalo calon istri Sam itu elo.” Aku dan Mas Tristan mulai asyik mengobrol dan tanpa aku sadari aku sudah mengabaikan keberadaan Sam.
••
Aku dan Sam duduk berdua menikmati acara demi acara yang berlangsung. Natalie dan Destian benar-benar terlihat bahagia sekali malam ini dan mereka membuat acaranya juga tidak tanggung-tanggung.
“Besok kita nikah mau acara yang seperti apa?” aku yang baru menyesap minuman hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Sam yang tiba-tiba itu.
“Mau yang sederhana aja.”
“Yakin? Nggak mau yang mewah? Anniversary mereka aja mewah begini.” Ujar Sam sambil melirik Natalie dan Destian yang tengah asyik berdansa.
Aku mengangguk yakin. “Memangnya kamu mau buat acara yang mewah?”
Sam mengulum senyum. “Kalau aku ... Yang penting nikahnya sama kamu. Acaranya terserah.”
Uhuk! Rasanya aku ingin batuk mendengarnya. Sejak kapan si kampret ini bisa bersikap manis.
Tapi siaalnya kenapa aku malah senyum-senyum tidak jelas ya?
Aish! This Devil!
“Sam kok kamu ikut naik sih, aku mau tidur capek.” Ujar ku ketika berada di depan kamar Sam.
“Aku juga mau tidur, aku juga capek.”
“Bukannya biasanya kamu tidur di bawah. Sana pergi aku mau tidur.” Aku berusaha mendorong Sam dan masuk ke kamar tetapi Sam langsung mencekal kedua tanganku dan mengajakku masuk. “Sam!”
“Ssttt ...” Sam membekap mulutku. “Kamu mau orang-orang bangun karena dengar teriakan kamu.”
Aku langsung menepis tangannya yang membekap mulutku.
“Tapi gara-gara ka ...” Belum selesai aku bicara Sam langsung menariku menuju tempat tidur.
“Kok kamu bisa sih panggil Tristan dengan sebutan Mas.”
“Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.
“Kenapa?” Cibirnya dan itu berhasil membuatku kesal.
Sumpah ya, wajah Sam itu sangatlah amat menyebalkan sekarang. Dia terlihat tak percaya dengan apa yang aku katakan.
“Ya karena Mas Tristan bilang, dia masih muda dan enggak mau di panggil Bapak.” Tukas ku setengah teriak.
“Tapi kamu dulu juga panggil aku Pak waktu di kantor, padahal umurku sama dengan Tristan.” Mana aku tahu kampret. Apa Sam itu tidak bisa membedakan situasi apa ya.
“Memangnya kenapa sih? Kamu nggak suka.” Ucapku nyolot.
“Kalo enggak suka itu pasti!” lihatlah dia semakin menyebalkan. “Jangan panggil dia Mas lagi.”
Astaga, ada apa sih di kepala manusia ini?
“Nggak bisa gitu dong. Aku udah panggil dia Mas itu jauh sebelum aku kenal kamu, masa sekarang tiba-tiba panggil Tristan.” Kataku ngeyel. Biar saja biar Sam kesal juga.
Aku segera naik ke tempat tidur, duduk bersila sambil melipat kedua tanganku. Dan tak lupa aku memasang wajah sinis pada Sam.
Sam terlihat diam tanpa ekspresi, dan itu hal yang paling aku benci. Kenapa? Karena aku tidak bisa membaca apa yang di pikirkan Sam saat ini.
Sam berdecak lalu segera berjalan menuju pintu. Awalnya aku kira dia akan keluar jadi aku bisa bernafas lega. Tapi yang dia lakukan adalah mengunci pintu kamar.
“S-Sam kamu mau apa?” aku langsung memeluk bantal erat di dadaku.
“Menurut kamu?” Sam tersenyum miring lalu mematikan lampu utama dan membiarkan lampu di nakas menyala resup. Sumpah saat ini wajahnya benar-benar sebelas dua belas dengan setan.
Dia merangkak ke atas ranjang lalu menarik kakiku hingga aku terbaring. Aku baru hendak bangkit tapi Sam menahan lenganku.
Siaal! Dia mau apa?
“Kamu kenapa?” Sam berujar sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku.
“Sam kamu minggir deh, ngapain begini?” aku berusaha mendorong dadanya, tapi tangan Sam menahan tubuhku agar terus berbaring.
Tolong ya, semua setan, iblis dan jin kampret yang ada di kamar ini! Kalian minggir jangan goda kami!
__ADS_1
“Semua orang sudah tidur.” Ujarnya datar masih dalam posisi yang sama.
“T-terus apa hubungannya sama kita?”
Sam menatapku lekat lalu menunduk. Yang bisa aku lakukan adalah mengatupkan mulut rapat-rapat walau jantung sudah berdetak keras. “Kamu mau apa?” aku berbisik saat bibirnya tepat di depan bibirku.
“Menurut kamu?” dia balik bertanya. Aku berpaling saat Sam hendak mengecup bibirku, dan bibirnya berakhir di pipiku.
Sam terkekeh pelan dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengecupi leherku. “Aku suka aromamu, Adelia.” Bisiknya sedangkan aku masih menatap jendela dan berharap Sam segera menyingkir.
“Sam jangan, please.” Ujarku sambil memejamkan mata.
“Tatap aku.”
Aku segera menatapnya dan berharap dengan itu Sam segera menyingkir. Tapi pria itu malah tersenyum dan mengecup ujung hidungku.
“Tegang banget, sih.” Sam terkekeh. “Iya aku akan tidur di ruang TV.” Dia tersenyum lalu melangkah menuju pintu sedangkan aku masih terbaring dengan detak jantung yang masih terasa keras. “Selamat malam.” Dia membuka pintu lalu terkesiap saat melihat Kakek Robert berdiri di sana.
“K-kakek!” aku bangkit duduk karena panik.
“Ups, ketahuan.” Sam terkekeh saat Kakek Robert bersidekap di depannya. “Tidak ada yang terjadi, kek ... Belum.” Ujarnya lalu keluar kamar begitu saja.
Aku hanya meringis saat Kakek Robert menghela nafas, lalu tersenyum lembut padaku. “Jangan biarkan anak tengil itu macam-macam dengan kamu.” Ujarnya padaku sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku tertawa karena malu lalu mengangguk. Kakek Robert menutup pintu dari luar setelah mengucap selamat malam.
Arrggh!! Sam benar-benar menyebalkan!
Tengil! Kampret! Setaan!
••
“Kita mau kemana?” saat ini aku tengah berada di dalam mobil bersama Sam. Dia bilang ingin mengenalkan aku ke seseorang.
Aku dan Sam sudah lengkap mengenakan pakaian serba hitam. Sejak tadi dia memaksaku untuk memakai dress hitam yang ia belikan. Aku juga tidak tahu kenapa kita harus memakai pakaian serba hitam begini. Aku sudah berusaha bertanya kemana tujuan kami, tapi Sam tetap diam tak ingin memberitahuku. Dan yang lebih aneh, Sam juga membawa bunga Lili yang sangat banyak, yang di rangkai dalam sebuah buket. Ini bukan teman Sam lagi kan, teman yang buat aku cemburu seperti waktu itu.
Mobil Sam berhenti di kawasan yang bertuliskan San Diego Hills Memorial Park, daerah Karawang. Bukanya ini adalah area pemakaman. Dan menurutku ini begitu indah untuk kawasan pemakaman. Jadi seperti inilah rupanya area pemakaman termewah di kota ini.
Sam terus berjalan menggandeng tanganku tanpa bicara sepatah kata apapun. Langkah kami terhenti, dia melepaskan gandengan tanganku lalu berjalan lebih dulu. Sam duduk lalu mengusap nisan bertuliskan Lily Kinan Wijaya.
“Apa kabar, Mama?” aku langsung terkesiap ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sam. “Sam di sini selalu baik, bahkan jauh lebih baik.” Sam meletakkan buket bunga Lili yang ia bawa di atas pusara tersebut.
Aku segera mendekat, duduk di samping Sam dan mengelus lengannya.
“Sam mau kenalin seseorang ke Mama, sesuai dengan janji Sam dulu. Hari ini dia ke sini dengan Sam, namanya Adelia calon istri Sam.” Sam tersenyum ke arahku. “Adelia sangat cantik, Ma. Lebih cantik dari pada Mama.” Aku melihat Sam terkekeh dengan ucapannya sendiri.
“Hallo , Mama. Aku Adelia, senang akhirnya Sam mengenalkan Adel ke Mama.” Ujar ku sembari menatap nisan bertuliskan Lily Kinan Wijaya.
Sam banyak sekali bercerita di depan nisan Mamanya. Bahkan tak jarang ia sampai terkekeh ketika menceritakan semuanya ke makam Mamanya ini. Aku sesekali juga ikut tersenyum dan menambahi ceritanya saat dia mulai menceritakan tentang aku.
Apa Sam juga secerewet ini ketika mendiang Mamanya masih hidup?
Langit mulai berubah warna, semburat oranye sore ini menjadi tanda perpisahan antara Sam dan Mamanya. Tak lupa Aku dan Sam juga memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum pergi. Sekali lagi Sam mengusap nisan Mamanya dan bunga Lili yang ia bawa, setelah itu melangkah pergi bersamaku.
“Setiap kali aku ke sini, aku selalu janji ke Mama kalau suatu saat nanti pasti aku akan datang dengan calon istriku. Dan hari ini aku menepatinya.” Sam meremas jemariku yang saat ini ada dalam genggamannya.
“Kamu anak yang baik ya ternyata.”
Dia terkekeh. “Kamu juga baik, aku yakin Mama pasti senang sekali saat aku mengenalkan kamu tadi.” Aku hanya tersenyum ke arahnya. “Setelah mengenalkan kamu aku jadi nggak sabar untuk bergantian mengenalkan anak kita nanti, pasti Mama akan tambah senang.”
“Apaan sih kamu.” Aku hanya bisa mencubit pinggang Sam saat mendengar dia terus tertawa.
Hari ini aku benar-benar melihat aura Sam yang berbeda dari biasanya. Dia terlihat begitu bahagia dan damai.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1