
Yeeyy update lagi.. Wkwk
Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!
Biar akunya rajin up setiap hari, biar aku kasih bonus juga..
Happy reading !!
##
Pagi ini aku sarapan seperti biasa. Namun kali ini formasinya lengkap berempat, karena Papa sedang tak bekerja ke luar kota. Entah hanya perasaanku atau apa, aku merasa pagi ini aku sarapan sedikit lebih pagi. Jadi, aku masih masih punya banyak waktu untuk mengobrol dengan keluargaku.
Mama menyendok nasinya ke dalam mulut. “Gimana kerja kamu, Del?”
Aku mengerutkan alisku kemudian mengambil segelas air putih di samping piringku, lalu meneguknya.
“Nggak banyak berubah, sama seperti biasanya.” Jawabku singkat
“Kalo kamu capek, sudah ... nggak usah kerja muluk-muluk. Lagian, sekarang Papa usahanya juga sudah stabil.” Aku spontan melirik ke arah Papa yang tengah menyesap kopi paginya.
“Tapi Adel masih nyaman kok ,Ma, sama pekerjaan Adel. Lagian Adel juga nggak muluk-muluk kok, emang tuntutan kerjaan aja yang kadang suka menyita waktu.”
Memang hanya itu yang ku rasakan. Kalau ku pikir-pikir sih pekerjaanku tidaklah sangat sulit. Tetapi, tuntutan waktunya lah yang sangat menyulitkanku. Entah pulang malamlah, lembur dadakkan lah, lembur di hari libur lah, apalah, pokoknya semua itu yang menyulitkanku.
“Mama hanya nggak mau kamu fokus sama pekerjaan terus, kamu juga perlu kan mikirin masa depan kamu sendiri.” Tutur Mama.
“Iya,Del. Papa terima kasih sekali karena sudah punya anak seperti kamu. Kamu sudah banyak sekali membantu Papa selama ini. Dan, untuk ucapan Mama kamu itu ada benarnya. Mungkin kamu sekarang udah nggak perlu bekerja sampai menyita waktu, kamu bisa kok mengurangi jam kerja kamu. Atau kalo kamu mau keluar dari pekerjaan kamu sekarang, Papa juga nggak masalah. Toh, keadaan hidup kita sudah jauh lebih baik dari yang dulu.” Imbuh Papa dengan panjang lebar.
Aku terdiam mendengarkan ucapan Papa dan Mama. Mereka berdua memang saksi saat aku berjuang dari nol sampai saat ini. Hmm ... siapa yang naruh bawang di sini? Tiba-tiba kok jadi terharu ya mengingat kembali masa perjuanganku.
Memang sih, aku mempunyai rencana untuk berhenti bekerja agar aku bisa menikmati hasil jerih payahku selama bekerja beberapa tahun kemarin. Tapi, entah kenapa rasa nyaman masih membuatku enggan untuk meninggalkan pekerjaanku.
“Iya Del. Kamu kan sudah dewasa, sudah saatnya memikirkan masa depan kamu. Kalo kamu terlalu fokus dengan pekerjaan, Mama hanya khawatir kamu nggak bisa menikmati masa-masa muda kamu.” Aku tersenyum ke arah Mama, mengingat memang waktu masa mudaku selama ini hanya habis untuk bekerja. “Dan satu lagi pesan Mama ...”
Kini pembicaraan semakin terdengar serius. Bahkan, Vino yang suka merusak suasana pun sejak tadi hanya diam sembari memperhatikan percakapan kami, tanpa berniat menyela.
Padahal, aku mengira kalau bocah itu akan mengejekku.
“Kamu sudah cukup umur lho, Del, buat punya pendamping hidup. Kamu juga harus pikirin hal itu. Ini bukan masalah sepele jodoh memang di tangan Tuhan. Tapi kalo kita nggak usaha buat nyari, ya ... sama saja bohong.” Ucapan Mama terdengar bijak sekali. “Kalau memang sudah ketemu yang bibit, bebet, bobotnya pas mending nggak usah di tunda-tunda lagi. Takutnya nanti keburu di ambil orang.”
“Masalahnya, Adel memang belum nemu sama yang bibit, bebet, bobotnya pas, Ma.” Aku berujar jujur.
Mama tersenyum ke arahku, namun ekspresi senyumnya sangat tak bisa ku baca sama sekali.
“Kalau nak Sam gimana?”
Uhuukk... Uhuukkk...
Dan momen serius itu seketika berubah ketika aku tersedak dan menyemburkan minumanku ke arah Vino. Ya, bocah semprul yang sejak tadi diam kini sudah tak bisa diam lagi.
“Mbak Adel! Vino udah mandi, kan jadi kotor lagi, ah!” teriaknya histeris.
__ADS_1
Aku masih menepuk-nepuk dadaku sembari melihat ke arah Vino. Aku ingin ketawa tapi masih tersedak, dan kegiatan tertawa yang di iringi dengan tersedak itu sangatlah menyiksa. Bahkan aku sampai mengeluarkan cairan bening di pelupuk mataku.
“Maaf ya, Vin, nggak sengaja.” Kataku.
“Nggak sengaja! Enak aja!” ucap Vino kesal. “ Kuota satu bulan kalo mau Vino maafin.” Ucap Vino masih dengan ekspresi manyun.
##
Aku turun dari boncengan motor KLX milik Vino lalu menyerahkan helmku. Ya, pagi tadi aku memang berencana bareng Vino. Padahal Papa sudah menawarkan agar aku membawa mobil, tapi rasanya malas sekali menyetir. Apalagi kalo naik mobil nggak bisa nyelip-nyelip. Ya kan?
“Jangan lupa kuota.” Ucap Vino saat aku mengulurkan helmku.
“Ya elah, lo pikir gue pelupa gitu. Iya gue masih inget.”
“Ya siapa tau ngelupa ... kan?” Vino nyengir ke arahku lalu segera menancap gasnya. Meninggalkan aku yang masih berdiri di luar gerbang kantorku.
Mengingat kejadian pagi tadi tiba-tiba membuatku kembali tersenyum sendiri. Ucapan Mama seketika mengingatkan atas kejadian yang ku alami dengan Pak Sam malam itu. Kalo Pak Sam memang benar bibit, bebet, sama bobotnya sudah tidak perlu di ragukan lagi.
Tapi haruskah Pak Sam??
Dan soal kejadian malam itu, aku memang sengaja tak membalas ucapannya dan langsung mengalihkan pembicaraan begitu saja. Mengingat aku dan Pak Sam sudah melewati batas jam istirahat kami berdua. Padahal siapa yang peduli dengan jam istirahatku? sedangkan aku sendiri tengah bersama Bosku.
Pokoknya nggak tau lah, perasaanku benar-benar campur aduk malam itu.
Aku keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah mejaku. Aku lihat semua sudah datang lebih dulu, jelaslah aku memang sedikit terlambat karena harus drama dulu sebelum berangkat tadi.
“Seger banget, Del, hari ini.” Celetuk Rizal begitu aku datang.
“Hahaha ... benar banget, Mbak. Gue lihat cewek Mas Rizal auranya langsung berubah pas jadi pacarnya. Jangan-jangan kebanyakan di sedot kali.” Imbuh Tiwi
“Iihh! bocah tau banget sih sama sedot-sedot gitu.” Sahut Mbak Sari dengan raut jenaka ke arah Tiwi.
Belum sempat Tiwi menjawab Pak Sam sudah keluar dari balik pintu lift lebih dulu.
Kenapa aku jadi canggung mendadak begini ya kalau lihat Pak Sam? Sumpah ya, ingin sekali beberapa hari ke depan kalau bisa tidak bertemu dengan Pak Sam dulu. Setidaknya agar aku bisa lupa dengan kejadian malam itu. Tapi, sepertinya percuma juga. Mana mungkin aku bisa lupa, yang ada ingat terus!
“Kalian ngapain masih pada ngobrol sama berdiri?!” sengak Pak Sam, “nggak lihat ini sudah waktunya jam kerja!”
Kami semua langsung duduk ke tempat masing-masing. Membersihkan meja, menghidupkan komputer dan merapikan berkas yang berantakan. Aku sekilas melirik ke arah Pak Sam yang masih setia mengawasi gerak kami dengan tatapan tajamnya. Namun, tanpa sengaja pandangan kami bertemu begitu saja. Dan percayalah, saat itu juga rasanya jantungku seperti sudah copot dan jatuh ke lambung.
Satu jam berlalu, Pak Sam keluar dari ruangannya dan hal yang tak ku inginkan terjadi. Dia memanggil namaku masuk ke ruangannya. Rasanya aku ingin pulang saja saat ini.
Aku mengetuk pintunya perlahan lalu masuk begitu saja setelah mendengar sahutan dari dalam.
Momen awkward macam apa yang akan terjadi??
“Duduk.” Perintah Pak Sam.
Aku berusaha mengontrol detak jantungku dengan menghirup lalu membuang nafas, sebelum akhirnya duduk di depan meja Pak Sam.
“Saya minta laporan kamu sekarang.” Imbuhnya.
__ADS_1
Aku seketika melotot. “Sekarang?” Pak Sam mengangguk. “Nggak bisa dong, Pak, beri saya waktu satu jam. Saya janji bakalan selesai.”
“Saya Bos kamu, saya yang berhak menentukan.” Aku masih menunduk. “Saya nggak nyuruh kamu buat nawar perintah saya. Dan saya minta laporan itu sekarang juga.” Katanya sedikit ngotot.
“Tapi kan saya bilang belum selesai, Pak.” Ya ampun susah sekali sih berbicara dengan manusia ini.
“Kenapa belum selesai, itu kan sudah tugas kemarin?” Tanyanya tak mau kalah.
Aku mendengus kesal.
“Bapak nggak ingat? Ini kan gara-gara Bapak kemarin yang langsung ngajak saya pulang sebelum tugasnya selesai.” Aku langsung membelalakkan mataku dan menutup mulut dengan kedua tanganku. Bisa-bisanya aku mengungkit kejadian malam itu.
“Jadi, kamu menyalahkan saya?” tanyanya dengan menaikkan satu alisnya.
Aku menurunkan tanganku perlahan. “Enggak, Pak. Bukan salah siapa-siapa.”
Mampuus! Aku merutuki diriku sendiri yang dengan gamblangnya berbicara seperti itu. Takutnya kalo Pak Sam ikut teringat dan berniat melanjutkan kegiatan yang sebenarnya memang belum selesai itu.
Pak Sam lebih memajukan tubuhnya lagi supaya lebih dekat dengan posisi dudukku. Dan wangi maskulinnya makin tajam saja menusuk hidungku.
“Jadi nggak ada yang salah?”
“Enggak, Pak.” Ucapku pelan. Aku merasa seperti di uji nyali dalam gedung angker. Detak jantungku berasa seperti orang habis lari di kejar hantu. Aku hanya berharap Pak Sam tak mendengarkannya dari posisinya tersebut.
“Jadi nggak salah juga, dengan ...” Pak Sam menundukkan kepalanya untuk mensejajarkan wajah kami. Tentu saja pandangan kami seketika langsung bertemu, iris mataku tepat berhadapan dengan iris indah berwarna biru milik Pak Sam. “Perasaan saya sama kamu.”
Aku ingin pingsan!
Aku berniat berdiri untuk meninggalkan ruangan Pak Sam sebelum aku benar-benar pingsan karena sesak nafas yang tiba-tiba menyerangku. Namun, tanpa ku duga Pak Sam menahan lenganku. Aku reflek menatap lenganku, kemudian beralih menatap Pak Sam.
“Pak ...”
“Please, give me a chance.” Sela Pak Sam memotong ucapanku.
Aku menarik nafas panjang. “Saya juga butuh waktu, Pak.”
“Malam ini.”
Apa katanya?? Bisa tidak sih memahami makna butuh waktu itu seperti apa? Untuk memproses laporan ke polisi saja ada waktunya satu kali dua puluh empat jam. Lah, ini boro-boro dua puluh empat jam. Setengahnya aja nggak sampai.
“Saya tunggu kamu di parkiran.” Imbuhnya.
Hah? Bahkan aku belum sempat mengutarakan pendapatku manusia ini sudah menentukan keputusan sepihak. Dan yang lebih menjengkelkan Pak Sam berjalan keluar begitu saja meninggalkan aku yang masih syok di dalam ruangannya.
##
Pepet terus Pak jangan sampai kendor.. hahaha..
Sebenarnya pemikiran Adelia itu nggak salah lho, dia memang butuh waktu. Untuk benar-benar memahami dan menerima kenyataan kalau Pak Sam suka dengannya..
bayangin deh, siapa yang nggak syok Bos kita yang tampan, kaya dan sempurna tiba-tiba bilang suka.. duh kalo gue sih otomatis langsung salto.. hahaha..
__ADS_1