
Yuhuu balik lagi loh aku..
Semoga kita sehat selalu ya..
Sekedar info kalo bab ini sedikit drama ehehehe..
Jangan lupa Like, Vote dan komen nya!
Di share juga boleh bwangeett.
Happy reading !!
##
Gara-gara Event besar bulan depan mode setan bin kampret Pak Bos keluar lagi. Padahal kan beberapa hari kemarin kita semua sudah adem ayem, karena sungut setan Pak Bos nggak keluar. Nggak tau nya, apes lagi.
“Kalian ini gimana, sih? Waktunya sudah mepet lho ini. Kerjaan belum ada yang beres! Kalian mau lembur sampai jam berapa?” Pak Sam memberi jeda sesaat. “Apa kalian mau pulang pagi? Terus siangnya kerja lagi, begitu!?” Sebuah gebrakan meja menjadi pertanda kalo amarahnya benar-benar memuncak.
“Ya nggak mau, Pak. Kita juga capek kalo harus kerja terus.” Jawabku
“Kalo kalian tahu capek, kenapa nggak ada yang beres kerjaan kalian?! Kalian pikir saya nggak capek. Saya lebih capek dari kalian!” kami semua benar-benar hanya menunduk takut. “Kalian sudah pulangpun, saya masih harus tetap di sini bahkan sampai lebih dari jam 12. Dan kerjaan kalian masih nggak ada yang beres semua!”
Memang benar sih, terkadang kalau kami lembur sampai malam saat kami semua pulang lampu ruangan Pak Sam masih terlihat menyala. Bahkan yang biasanya Pak Sam menyuruh kami pulang secara langsung, akhir-akhir ini Pak Bos hanya menyuruh lewat pesan chat. Mungkin segitu sibuknya sampai nggak bisa keluar ruangan.
“Adelia.” Aku langsung menatap ke arah Pak Sam. “Laporan yang saya minta sudah kamu print?”
“Um... maaf Pak belum.” Jawabku pelan, dan takut pastinya.
Mana Pak Sam sedang marah malah aku berbuat ulah. Fix tamat riwayatku!
Pak Sam menyorotku tajam. “Saya kan sudah minta kamu print dari kemarin! Kenapa sekarang masih belum kamu kerjain, Adelia?”. Aku hanya menunduk.
Pak Sam memijat pangkal hidungnya sesaat. “Sekarang juga saya minta laporan itu.”
“Ng... Anu, Pak, masalahnya mesin print dan fotocopy nya masih di perbaiki.”
Braaakkk!!
Suara gebrakan meja itu mengagetkan kami semua.
__ADS_1
“Kamu nggak dengar saya bilang apa? Saya mau laporan itu sekarang!”
Aku segera beranjak berdiri membawa file yang di minta Pak Sam. Terpaksa aku harus menge-print di tempat fotocopy yang ada di luar kantor.
Ketika aku masuk ke dalam lift tanpa ku duga Pak Sam langsung ikut masuk ke dalam.
“Pak Sam tenang aja, saya bakalan cepat kembali kok. Beri saya waktu 15 menit.” Ucapku memohon.
Pak Sam berdiri di sampingku saat pintu lift tertutup. “Saya nggak punya waktu buat nunggu kamu, saya akan temani kamu supaya lebih cepat.”
Eh? Kenapa jantungku berdebar ya mendengar ucapan Pak Sam barusan?
Aku dan Pak Sam sampai di luar kantor tepatnya di seberang jalan tempat fotocopy. Untungnya tempatnya sepi nggak ada antrian, jadi aku bisa bernafas sedikit lebih lega. Saat aku hendak menyeberang Pak Sam mencekal tanganku.
“Sebentar, saya mau beli minum dulu. Kamu mau apa?”
“Samain kayak Bapak aja.” Jawabku singkat, lalu Pak Sam berjalan menuju minimarket.
Kalo aku harus menunggu Pak Sam keburu tempat fotocopy tersebut ramai. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke tempat fotocopy dulu. Lagian tadi Pak Sam nggak menyuruhku untuk menunggu kan?
“Bang, tolong print ini dong, Buruan ya.” Aku menyerahkan file ke abang-abang yang memang sudah akrab denganku. Bukan denganku saja tetapi dengan semua temanku. Maklum lah kalo mesin fotocopy dan print di kantor rusak pilihan kita ya larinya ke sini.
Aku pun akhirnya menunggu sembari duduk di kursi yang di sediakan di tempat tersebut. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan tepat di belakangku, karena posisi dudukku saat ini membelakangi jalan.
“Wah kecelakaan tuh, bang.” Ucapku sedikit panik.
“Iya Mbak, cewek kayaknya yang ketabrak.”
“Tolongin dong bang.”
“Nggak ah, takut saya. Lagian udah banyak orang tuh.”
Aku mendengus ke arah abang fotocopy. “Dasar penakut.”
Sebenarnya aku juga takut sih, apalagi kalau lihat darahnya.
“Mbak Adel jangan gitu dong, jatuh nih harga diri saya sebagai cowok.” Ucap abang tersebut sembari menyerahkan file print punyaku.
Selesai membayar aku berniat segera kembali ke kantor takutnya Pak Sam sudah nungguin, mumpung ada polisi jadi bisa minta tolong buat nyebrang jalan.
__ADS_1
Kondisi depan Perusahaanku mendadak ramai sekali. Aku jadi makin ingin segera kembali ke kantor. Tetapi saat aku hendak masuk ke gerbang kantorku, aku melihat Pak Sam berada di antara kerumunan tersebut.
Lah.. kirain lagi nungguin diriku sambil minum minuman yang ia beli. Nggak tau nya malah nimbrung di situ. Aku pun akhirnya memutuskan menghampiri Pak Sam dan berniat mengajaknya kembali ke kantor.
“Pak tolong saya mau lihat korbannya sebentar.”
Nggak salah dengar nih aku? Aku berhenti di belakang Pak Sam. Ternyata Pak Sam itu jiwa kepeduliannya tinggi sekali ya, dengan korban tabrakan di jalan saja sampai segitunya.
“Nggak bisa Pak, korban sudah kami evakuasi.” Aku bisa mendengar jawaban dari seorang polisi tersebut.
Aku seketika terkejut saat Pak Sam dengan beraninya memegang kerah baju polisi tersebut. Memang sih tinggi polisi tersebut kalah dengan tinggi Pak Sam, makanya Pak Sam nekat sekali.
“Saya hanya mau memastikan korban tersebut! Jadi tolong kerjasamanya!” teriak Pak Sam kepada polisi tersebut.
Gawat, aku nggak bisa membiarkan ini semua. Bar-bar sekali Pak Sam rupanya, sebagai anak buah yang baik aku segera menepuk punggung Pak Sam.
“Pak...” Pak Sam langsung menoleh ke belakang.
“Adelia.” Jawab Pak Sam sembari melepas cekalannya pada kerah baju polisi yang masih ada di depannya.
“Bapak ngapain? Biarin aja, Pak, nanti juga di urus polisi sama keluarga korban.”
Pak Sam tersenyum dan mendekat ke arahku. “Adelia.”
Dan tiba-tiba saja Pak Sam mendekap tubuhku. “Adelia, saya pikir orang tersebut kamu. Saya khawatir sekali, saya hanya ninggalin kamu buat beli minuman. Saya takut itu kamu.”
Aku hanya membelalakkan mataku saat Pak Sam semakin mengeratkan dekapannya. Mendadak tubuhku kaku sekali, dan rasa nyaman ada di dalam pelukan Pak Sam membuatku tak bisa berpikir untuk melepaskan pelukan darinya.
Hingga akhirnya Pak Sam yang melepaskan pelukannya sendiri.
“Kamu jangan buat saya khawatir seperti ini lagi ya, Del.” Kedua tangan Pak Sam mencengkeram bahuku di tambah dengan sorot matanya yang terlihat serius itu.
Aku hanya bisa mengangguk kaku sembari mencerna dengan kejadian yang baru saja ku alami. Ini bukan mimpi di siang bolong kan? Aku benar-benar sadar saat ini. Dan pelukan itu, terasa sangat nyata dan nyaman.
Bisakah dunia berhenti berputar sesaat?
“Bapak nggak mau minta maaf sama Pak Polisinya?”.
Entahlah, dari sekian banyak ucapan yang bisa ku ucapkan aku malah lebih memilih mengeluarkan pertanyaan tersebut.
__ADS_1