
Hollaa selamat siang...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Hari ini aku tidak ada kelas mengajar jadi aku berniat datang ke kantor Sam, sekaligus membawakan makan siang untuknya. Begitu aku melangkah masuk, aku langsung di sambut oleh security dan Rara resepsionis yang ada di kantor ini.
“Pagi, Bu.” Sapa Rara dan aku hanya tersenyum tipis sebagai balasan.
Tidak ingat apa dia dulu termasuk ke dalam daftar orang yang menghujatku ketika aku dan Sam ketahuan menjalin hubungan. Kini dia mulai bersikap sok ramah sekali ketika bertemu denganku. Ck!
Dia pikir aku peduli. Natalie pernah mengajariku untuk jangan bersikap terlalu ramah dengan orang-orang seperti itu. Sombong itu juga di perlukan. Toh, kita kan tidak tahu sifat orang-orang seperti apa yang sedang mendekati kita. Belum lagi kalau mereka penjilat dan ada niat terselubung yang bisa saja menghancurkan kita.
Aku langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai yang akan aku tuju. Tidak langsung ke lantai Sam, melainkan aku ingin mampir sejenak ke lantai tempatku bekerja dulu. Entah kenapa ketika datang ke kantor ini aku selalu kangen dengan Mbak Sari, Mas Angga, Rizal, Tiwi dan Rio.
Begitu pintu lift terbuka, aku langsung berjalan dengan wajah sumpringah dan langsung menyapa penghuni lantai ini dengan ramah.
“Siang semua.” Sapa ku dengan nada khas yang selalu aku ucapkan ketika menyapa mereka. Awalnya mereka belum menyadari kedatanganku, namun tiba-tiba mereka melotot dan kompak menjerit kegiringan.
“Adel!!” Rizal yang paling berteriak keras, langsung menghampiriku begitu saja. “Gue pengen peluk lo.” Rengek nya yang hanya aku balas dengan cibiran.
“Ya Allah, lo tambah cantik banget sih, Del. Istri konglomerat mah emang beda ya.” Ucap Mbak Sari ketika melepas pelukannya padaku.
“Haha, ini baru bener istri konglomerat.” Imbuh Tiwi.
“Please, adopsi gue jadi keluarga lo dong, Mbak.” Ujar Rio memohon. Dan hal itu malah membuatku terbahak.
“Elaaah ciripa! Yang ada nanti lo nyusahin doang. Mending adopsi gue, Del. Gue jamin gue bakal berguna, bukan Cuma raga gue aja melainkan sampai jiwa gue pasti juga berguna buat lo.” Rizal berhasil membuatku semakin terbahak.
“Dih, ngaca lo berguna apanya? Ingat Mas jangan macem-macem lo sama Mbak Adel. Sekarang dia istri Pak Sam lho ... Istri konglomerat. Di tandai mampuus lo.” Sahut Tiwi.
Ruangan ini menjadi semakin ramai dengan tawa kami.
“Ngeri oy! Istrinya Sam kok di ganggu.” Celetuk Mas Angga. “BTW, udah ngabisin duit Sam seberapa banyak lo, Del? Pasti nol nya banyak dong ya, nggak mungkin kalo Cuma tujuh.” Imbuh Mas Angga yang malah membuat aku dan yang lainnya tertawa sampai terbahak-bahak.
Aish! Ada-ada saja.
Aku tahu dia hanya bercanda, dan aku juga tidak mungkin termakan hati oleh omongan-omongan mereka. Berbeda jika mungkin yang mengatakan itu orang lain.
“Ssttt ...” tiba-tiba Rizal melirik ke pintu ruangan yang kini sudah di tempati Raffael. “Jangan berisik, woy. Si iblis Raffael kan ada di dalam.” Semua terkikik mendengar ucapan Rizal.
Aku menatap pintu ruangan tersebut, dan tiba-tiba saja bayangan ketika aku bekerja di sini dan Sam masih menjabat sebagai Bos ku terputar begitu saja. Membuatku rindu akan masa-masa itu, dimana Sam keluar dari ruangannya dan memasang sorot mata tajamnya atau ketika dia marah dan membanting pintu tersebut sampai bergetar. Sungguh, aku sangat rindu.
“Kalian ini ya, udah tiap akhir bulan di traktir juga sama Raffael masih aja panggil dia iblis.” Ujar ku setengah tersenyum.
“Ya, Raffael mah jadi malaikat Cuma pas lagi traktir kita aja ya. Selain itu juga iblis semua isinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.” Tukas Mas Angga.
“Sampai ke upil-upilnya juga, Mas!” Sahut Tiwi sarkas.
“Setuju gue. Mana bulan ini dia belum traktir kita ya.” Rizal, Rio dan Tiwi kompak mengacungkan jempol ke arah Mbak Sari.
“Buseeet, jadi kalian ngambek nih ceritanya gara-gara traktiran tertunda.” Ujar ku sambil geleng-geleng.
__ADS_1
“Bagaimana pun Pak Raffael udah janji, Mbak. Kalo dia ingkar ya kita boleh dong marah.” Sahut Rio.
Tiba-tiba pintu ruangan Raffael terbuka, dia langsung mengangkat kedua alisnya ketika melihat ada aku di sini. Raffael segera mengantongi ponselnya dan berjalan mendekatiku.
“Sejak kapan di sini, Del?” tanya Raffael ramah.
“Ck, sama Adel aja lo ramah dan lembut banget, Raff, lumeeer. Giliran sama kita aja pedes lo kayak gado-gado karet dua.” Tukas Mbak Sari yang tampaknya tak membuat Raffael tersinggung sama sekali.
“Siapa yang nyuruh lo bicara, Mbak. Kerja! Bicara terus kapan selesainya pekerjaan lo.” Celetuk Raffael dengan nada menyindir dan hal tersebut berhasil membuat semua anak buahnya kembali bekerja.
Raffael berbeda dengan Sam, dia tetap memanggil Mbak Sari dan Mas Angga dengan sebutan Mbak dan Mas. Karena umur mereka jauh di atas Raffael. Dan enaknya, dia juga tidak mengharuskan anak buahnya menggunakan bahasa formal ketika bicara dengannya. Dia menyadari kalau dia masih muda.
“Mau kemana lo?” tanyaku menatap Raffael.
“Mau makan.” Lalu Raffael menatap bekal yang aku bawa. “Gue nggak ada istri sih yang bisa masakin dan bawain bekal buat gue.”
“Preeet!” celetuk Mbak Sari lagi. Sepertinya Mbak Sari dan Raffael benar-benar musuh di divisi ini.
“Sam ada kan?”
“Ada kok, ini rencananya mau gue ajak makan siang. Eh, malah udah di bawain makanan sama istri.” Raffael mencibir ke arahku.
“Ehem, BTW soal makan kayaknya ada yang lupa nih belum ngajak makan. Tapi siapa ya gue lupa nih?” Raffael langsung melotot ke arah Rizal. “Eh, lo tahu Raff siapa yang lupa sama janji makan-makannya. Siapa dong kasih tahu gue lah.” Ujar Rizal sambil tersenyum ke arah Raffael.
Raffael hanya memajukan bibirnya lalu merangkul pundak ku, pergi dari ruangan ini. “Besok.” Ujarnya sambil berjalan dan langsung membuat anak buahnya bersorak menang.
Astaga, Kelakuan mereka benar-benar belum berubah sampai sekarang ya.
••
“Hai.” Sapa ku. “Aku bawain makan siang nih?” sambung ku sambil mengangkat bekal yang aku bawa.
Sam tersenyum lalu berjalan mendekatiku. Setelah itu menarik ku duduk di sofa yang ada di ruangannya. “Tapi aku belum lapar.” Ujarnya.
“Masa sih?” ujar ku menggoda. Aku menaruh bekal yang aku bawa ke atas meja lalu bergerak duduk di pangkuan Sam.
Sam menatapku dengan satu alis terangkat. “Ya, memang belum.”
“Kalo aku udah, gimana?” bisik ku menggoda.
Aku hanya tersenyum kemudian memeluk lehernya dan mengecupnya beberapa kali.
“Del.” Sam berujar serak saat aku terus mengecupi lehernya, aku tersenyum geli menjulurkan lidah untuk menjilat nya. “Adelia ...” dia mengerang sambil tangannya membelai pahaku, menarik ke atas ujung dress yang aku kenakan siang ini.
“I love your smell.” Bisik ku sambil menjilat jakunnya yang mulai naik turun karena menelan ludah. “I want to eat you.” Imbuh ku sambil menggigit kecil lehernya.
“Hm.” Sam hanya bergumam sambil memejamkan mata. Mendongak dan membiarkan aku menggigiti lehernya gemas. “I like your lips.” Ujarnya saat aku menciumi bibirnya dengan kecupan-kecupan singkat.
Aku terkekeh, menarik dasi yang melingkari lehernya lalu membuangnya ke lantai. Aku mulai melepaskan satu persatu kancing kemejanya sambil terus menciumi lehernya. Aku sungguh menyukai aroma tubuhnya, wangi khas maskulin yang hanya di miliki oleh Sam.
Tangan Sam pun ikut bermain di pahaku, meremasnya pelan. Sebelum jari tangannya mengusap dan menyusup masuk ke celana dalam ku.
“Ini di kantor loh.” Ujar ku terkikik saat dia mulai menarik lepas celana dalamku.
“Kamu yang mulai.” Ujarnya sambil menggigit dadaku yang masih di balut dengan dress.
Mataku terpejam ketika salah satu jari Sam menyusup masuk ke dalamku dan bergerak pelan di sana. Sedangkan tangannya yang lain menarik resleting dress ku yang ada di belakang lalu menariknya turun hingga dress ku melorot dan kedua payudaraa ku yang masih terbungkus bra tersebut terpampang di hadapan Sam.
__ADS_1
“Ah.” Aku mulai mendesah ketika Sam menggigit payudaraa ku dari luar sedangkan jarinya masih bergerak teratur di dalam inti diriku.
Aku meremas rambut belakangnya ketika gerakan jarinya bertambah cepat, mulutnya menghisap ujung payudaraa ku. Aku mengerang nikmat dengan kepala mendongak ke atas, dan tubuhku langsung mengejang ketika mendapatkan pelepasan ku yang pertama.
Sam benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku basah.
“Pintunya udah di kunci?” aku berbisik sambil melepas kemeja yang ia pakai.
“Hm.” Dia hanya bergumam, menarik turun dress ku ke bawah hingga terlepas dari tubuhku, lalu menarik resleting celananya dan melepasnya sendiri.
Sam langsung membawaku berbaring di atas tubuhnya, dan kedua kakiku mengangkangi pinggangnya. Dia mencium leherku dan menggigitnya gemas hingga membuatku bergelinjang geli.
Tanganku tak mau tinggal diam, aku berhasil menggenggam miliknya yang sudah berdenyut dalam genggamanku. Sam menarik tengkukku, mencium bibirku dan melumaat nya kasar penuh tuntutan. Tanganku membelainya naik turun di bawah sana, sedangkan tangan Sam sudah membuatku basah sejak tadi.
Aku membalas ciumannya lebih dalam. Menggigit dan menghisap lidahnya. Aku melepaskan ciuman kami, tersenyum menggoda sambil bergerak mundur dan mengecup ujung miliknya yang aku genggam. Sam mengerang, mencengkeram rambutku dengan mata terpejam. Dadanya bergerak naik turun, sementara wajahnya memerah.
Baru saja aku mulai menjilatnya, Sam langsung menarik ku agar aku kembali mendudukinya. Mengangkat pinggulku sedikit lalu memasuki ku dengan mudahnya. Kami berdua mengerang karena aku sudah sangat basah sejak tadi.
Dia membantuku bergerak dan membiarkan aku yang memimpin. Entah kenapa akhir-akhir ini aku mulai menyukai posisi seperti ini, aku bisa bergerak bebas sesuka hatiku dalam posisi ini. Mulutnya tak tinggal diam menghisap dan menjilat kedua payudaraa ku, aku semakin bergerak cepat merasakan kenikmatan yang aku rasakan.
Sam mulai tak bisa mengendalikan diri, dia segera menarik ku dan menghujam ku dari belakang dengan gerakan cepat hingga membuatku menjerit nikmat, tentunya.
Dia menggigit bahuku ketika pelepasan itu hampir datang. Gerakannya semakin bertambah cepat dan liar, menghujam tanpa jeda dan dalam. Sam merangkul pinggangku sedangkan Aku menggigit tanganku sendiri ketika kami berdua mencapai puncak pelepasan itu secara bersamaan.
Untung saja ruangan Sam ini juga kedap suara. Jadi tak akan ada yang mendengar kalau di dalam ruangan ini ada sepasang manusia yang tengah menjerit dan mendesah sesuka hati mereka. Aku tak pernah membayangkan akan melakukannya bersama Sam di kantor, di dalam ruangannya. Dan ternyata ini sungguh nikmat. Ada sensasi tersendiri yang membuat gairahku dan Sam bertambah.
Tak cukup sekali, tentu saja. Kapan sih Sam bisa puas hanya dengan satu kali permainan? Bahkan aku sendiri yang harus memohon karena merasakan tenagaku yang sudah benar-benar habis.
••
“Katanya tadi enggak lapar.” Godaku sambil tersenyum ketika Sam sudah berhasil menghabiskan bekal makan siang yang aku bawa dari rumah tersebut tanpa sisa.
Sam sudah kembali berpakaian lengkap kecuali kemejanya yang sengaja belum ia kancingkan, sehingga masih terbuka dan memamerkan perut six pack nya.
“Gara-gara kamu, aku jadi lapar.” Sam meneguk sebotol air mineral dingin hingga habis setengah.
“Iya aku, tapi kan yang nafsu kamu.” Ledekku.
Sam hanya tersenyum, menampilkan deretan gigi rapinya itu ke arahku.
Aish! Senyumnya.
Padahal aku sudah lama mengenal dan menjadi istrinya tapi entah kenapa setiap melihat dia tersenyum seperti itu masih saja membuat jantungku mau copot.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1