My Boss Samuel

My Boss Samuel
66. Dan Lagi


__ADS_3

Selamat siang.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


“PAK SAM!!”


Aku dan yang lainnya langsung berdiri untuk menyambut kehadiran Bos yang tak di undang ini. Jangan tuduh aku yang mengundangnya, karena bahkan aku sama sekali tak memberi tahu Sam kalau aku tengah mentraktir teman-temanku di sini.


Apa jangan-jangan Sam meminta bantuan salah satu teman jin nya?


Hm, jadi merinding.


“Apa kalian akan tetap membiarkan saya berdiri di sini?” Sam melipat kedua tangannya.


“T-tidak, Pak. Silahkan duduk di sini.” Rizal yang kebetulan kursinya berada di depan Sam langsung menepuk-nepuk kursi di sebelahnya agar Sam bisa duduk di sana. Di luar dugaan, Sam justru mengabaikan kebaikan Rizal dan memilih duduk di kursi sebelahku yang kebetulan juga kosong.


Sad Rizal.


“Pelayan, tolong tambah menunya satu porsi lagi.” Teriak Mas Angga, terlihat sekali ketegangan dari wajahnya.


“Jadi ini acara apa?” tanya Sam lagi.


Aku segera menuang air ke dalam gelas lalu meneguknya hingga tandas. Terlihat teman-temanku saling pandang menunggu seorang pemberani yang akan menjawab Bos yang sejak tadi menjadi bahan pergunjingan malam ini.


“Em, ini saya sedang mentraktir mereka, Pak.” Mau tak mau harus aku yang menjawab.


Mbak Sari yang berada di sampingku langsung membuang nafas lega sembari menggaruk lehernya.


Beberapa menit berlalu, bukannya melanjutkan acara makan malam kami tetapi justru suasana langsung berubah awkward. Bagaimana suasana tak berubah, kalau ada atasan seperti ini kita sebagai kacung berani bicara apa? Mau mengajak bicara takut salah, mau mengajak bercanda takut berbeda selera humor. Semua serba salah!


Kacung memang selalu salah.


“Loh memang seperti ini acara makan kalian, sepertinya saya tadi dengar kalian cerewet sekali kenapa sekarang diam?” lagi-lagi Sam membuka suaranya.


Aku lihat Rizal, Mbak Sari dan Mas Angga langsung berdehem keras lalu menggaruk-garuk belakang telinganya. Pasti mereka takut jika Sam mendengar gosipan mereka, secara tiga orang tersebut yang sejak tadi gencar membahas Sam. Apalagi Rizal tuh yang paling gencar membicarakan Sam.


Mampuus kau!


Kalau suasananya seperti ini rasanya seperti kembali ke Sam yang dulu. Sam yang kampret seperti setan.


Rizal berdehem lagi lalu tersenyum, “mau saya tuangkan minumnya, Pak?” Sam hanya tersenyum lalu mengangguk.


Tapi bagaimana jika Sam benar-benar mendengar apa yang di katakan mereka tadi. Gawat sudah nasib kami.


Acara makan malam ini terus berjalan walau sedikit terasa panas karena kehadiran Bos yang maha kampret bernama Samuel Devano Gavin di tengah-tengah acara makan malam ini.


“Akhirnya kenyang juga!” seru Mbak Sari yang berhasil mendapat tatapan langsung dari Sam. Mbak Sari langsung diam dan membalasnya dengan tersenyum.


“Jadi hanya acara makan saja atau setalah ini kalian mau kemana?” Tanya Sam yang membuatku langsung menoleh ke arahnya.


“Iya, Pak. Kami tak merencanakan hal yang lainnya.” Jawabku cepat.


“Yah, jangan langsung pulang deh. Saran gue gimana kalau kita karaokean dulu. Mantap kan?” siapapun tolong bungkam mulut dedek gemas bernama Tiwi ini. Ucapannya berhasil mendapat lirikan dan gelengan pelan dari Mas Angga, Mbak Sari maupun Rizal.


“Ok, saya akan ikut.” Jantungku hampir saja meloncat keluar ketika mendengar ucapan dari Sam.


Ada apa dengan Sam hari ini? Kenapa dia aneh sekali. Semoga ini bukan pertanda buruk untuk hari esok.


Mbak Sari segera membuka suaranya. “Ah, kayaknya gue nggak bisa ikut deh. Gue udah janji sama anak gue buat pulang cepet.”

__ADS_1


“Iya, iya gue juga sama udah janji sama anak istri.” Imbuh Mas Angga.


Jelas itu hanya alasan saja dan aku mengerti itu. Ini tanggal tua bagaimana bisa kita mau menghabiskan uang untuk berhura-hura di tempat karaoke. Kalau hanya ingin menyanyi di kamar sendiri atau kamar mandi juga bisa, gratis sepuasnya!


“Loh enggak jadi?” Tanya Sam.


“Kayaknya lain kali saja Sam, hehe. Maklum urusan rumah tangga.” Jawab Mbak Sari.


Dan kami akhirnya berpisah di restoran ini juga.


***


Berhubung teman-temanku menolak ajakan Tiwi, hasilnya sekarang aku harus menginjakkan kakiku ke apartemen Sam, LAGI!


Sejujurnya, aku ingin menghindari masuk ke apartemen Sam untuk beberapa waktu. Karena setiap masuk ke apartemen ini pikiranku langsung memproyeksikan adegan panas yang aku lakukan dengan Sam saat itu.


Stop.


Demi orang gila yang setiap pagi duduk di depan kantor! Sam malah mengajakku masuk ke kamarnya. Astagfirullah.


“K-kalau kamu mau mandi, aku bisa tunggu di bawah aja, Sam.” Ucapku begitu sampai di dalam kamar Sam.


Sam menaikkan satu alisnya, “nanti aja aku mau bersantai sejenak. Kamu mau ikut?” ajaknya. Tak menunggu jawaban dariku terlebih dahulu Sam langsung berjalan dan membuka sebuah pintu dan ternyata itu pintu menuju balkon apartemennya.


Aku baru sadar kalau di apartemen Sam ada balkonnya.


Aku masih diam di tempat lalu beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk menyusul Sam. Sampai di ujung pintu aku sudah bisa melihat Sam yang tengah menyandarkan satu tangannya ke pagar besi balkonnya, dan satu tangannya lagi memegang rokok yang sudah di nyalakan.


Sam merokok?


Seburuk inikah aku sebagai pacar hingga tak mengetahui kebiasaan kecil pacarnya.


Aku mendekati Sam lalu berhenti tepat di sebelahnya. “Sam, kamu perokok?”


Sam membuang asap nikotin itu ke udara. “Ya, sesekali hanya untuk menenangkan pikiran.”


“Kenapa? Kamu tidak suka ya?” tanyanya panik dan langsung mengejutkanku.


“Ah, enggak kok. Hanya baru tau aja, aku kira kamu seorang yang ya ... kamu tahu kan maksudku, hidup sehat.” Aku mengakhiri ucapanku dengan meringis. Angin di sini terasa dingin sekali menerpa tubuhku. Tapi pemandangannya cukup indah dari atas sini.


Sam terkekeh lalu mematikan rokoknya. Dia segera meraih pinggangku dan membawaku ke pelukannya.


“Dingin, hm?” tanyanya lembut.


Aku hanya mendengus kecil lalu mengangguk pelan. Kenapa Sam selalu tahu dengan apa yang sedang aku rasakan. Ah, kan aku jadi malu. Aku segera melingkarkan lenganku ke pinggangnya lalu merebahkan kepalaku di dadanya. Hal yang langsung aku dengar adalah degup jantung Sam yang selalu membuatku merasa tenang.


“Kamu ingin tahu apa yang aku pikirkan saat ini.” Mendengar kalimat Sam tersebut entah kenapa langsung membuatku tubuhku merinding.


Tidak. Aku tidak boleh berpikir yang iya-iya.


“Apa?” Tanyaku sedikit gugup.


“Aku ingin berada di luar sini lebih lama lagi supaya aku bisa mendapat pelukan darimu lebih lama juga.” Satu cubitan berhasil aku daratkan ke pinggang Sam hingga membuatnya mengaduh.


Aku segera mengangkat kepalaku lalu menatap Sam. “Aku udah pernah bilang belum sih kalau kamu itu nggak pantes bersikap manis.”


“Hm, lupa.” Jawabnya singkat.


Aku terkekeh pelan. “Kamu nggak perlu berubah manis kalau hanya untuk merayuku.”


“Siapa yang merayu?” tanya Sam bingung.


“Terus tadi kamu ngapain tiba-tiba datang ke acaraku bersama teman-teman tadi. Kamu mau sok baik biar di kira jadi Bos yang care sama anak buah begitu.” Sindirku.


Aku tadi memang sempat berpikir seperti itu karena memang aneh saja. Seorang Bos Sam mau menyusul acara anak buahnya, dan yang lebih membuatku bertanya-tanya dari mana coba dia bisa tahu aku tengah berada di restoran tadi.

__ADS_1


Sam memang selalu berhasil membuat merinding.


“Siapa juga yang mau jadi Bos baik, aku kan hanya ...” Sam menggigit bibir bawahnya pelan. “Aku kangen sama kamu.”


Angin langsung menerpa rambutku. Rambut yang memang belum sempat aku ikat ini langsung tergerai berantakkan dan menutupi wajahku. Sam merapikan kembali rambutku, menyelipkannya ke belakang telinga dengan lembut. Seketika muncul gejolak dari dalam dadaku, jantungku terasa bergetar keras mendapat perlakuan dari Sam seperti ini.


Begitu selesai Sam langsung tersenyum lalu mengangkat daguku. “I love you.”


Ucapannya berhasil membuatku merasa tersipu, ck! Kok lebay ya. “I love you too, Sam.”


Tanpa menunggu lama lagi Sam langsung menempelkan bibirnya pada bibirku, mencecapnya dengan lembut dan perlahan. Aku segera membalas ciumannya dengan membuka mulutku agar Sam bisa memperdalam ciumannya.


Nafasku mulai tersengal ketika Sam membelai tengkukku naik turun lalu mengusap punggungku. Sam memang sangat ahli dalam hal ini.


Jantungku semakin berdebar ketika Sam semakin mendorongku ke belakang hingga tak sadar kalau aku dan Sam sudah kembali masuk lagi ke kamarnya. Sam tak melepas ciumannya bahkan kini semakin menuntut. Ia menyelipkan lidahnya masuk untuk menyusur rongga mulutku dan ketika lidah kami bertemu Sam langsung membelitkan lidahnya ke lidahku.


Aku sedikit mengerang ketika Sam sedikit meremas pinggangku. Dan aku merutukki apa yang sudah di keluarkan oleh mulutku baru saja.


Gila.


Sam dengan cepat merebahkan diriku ke atas kasurnya lagi tanpa melepas ciumannya sedikitpun. Tangannya bahkan sudah berhasil melepaskan lagi satu persatu kancing kemejaku. Sam menurunkan ciumannya ke leherku meninggalkan gigitan-gigitan kecil yang membuatku semakin blingsatan.


Ciumannya semakin turun, bahkan kali ini entah bagaimana caranya Sam sudah berhasil melepas pengait bra yang aku kenakan. Aku hanya bisa memejamkan mata, menggigit bibir serta meremas rambut belakang Sam.


Ciuman Sam sudah sampai ke tulang selangka ku. Namun tiba-tiba Sam menghentikan aksinya dan membuatku meringis karena menahan sedikit sakit di bagian tersebut. Sam langsung menatapku dengan nafas yang memburu lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat.


“Maaf.” Ujarnya kemudian.


Untuk beberapa saat kami membiarkan hening mengambil alih hingga akal sehat ini kembali lagi.



•••


Mobil berhenti tepat di depan rumahku. Ini sudah sekitar jam sembilan malam mungkin masih ada beberapa orang yang lewat dengan sepeda motor tetapi untuk sekitar rumahku terbilang cukup sepi.


“Makasih, Sam.” Ujar Ku pelan. Aku hendak membuka pintu mobilnya namun tiba-tiba Sam menahan lenganku.


Dia mau apalagi?


Aku menatap Sam dengan alis terangkat.


“Menikahlah denganku, Adelia.” Alisku langsung berkerut dengan mulut terbuka lebar.


Ya Tuhan, jantungku oh ... Rasanya berdetak keras sekali aku tak bisa menggerakkan bibirku. Dia benar-benar gila!


Aku masuk ke dalam kamar mandi lalu segera melepas kemejaku. Mataku langsung membulat begitu melihat ada sebuah tanda merah tepat di bawah tulang selangka ku. Bahkan sangat merah.


Aku memejamkan mataku, lalu ingatanku kembali ke kejadian beberapa saat yang lalu. Mungkin ini efek sakit yang aku rasakan tadi.


Aku mendengus pelan lalu menatap pantulan diriku di depan cermin.


“Lo punya apa sih, Del. Sampai manusia bernama Samuel itu selalu berusaha membuat seluruh tubuh, jantung dan bahkan ... Hati lo hilang kendali.” Gumam ku pelan.


Aku mulai menyalakan shower hingga air dingin itu langsung membasahi kepala hingga seluruh tubuhku. Memejamkan mata sembari menikmati guyuran air tersebut meluruhkan segala penat serta segala hal negatif yang aku rasakan seharian ini.


Aku hanya takut jika aku harus kehilangan cintaku ketika aku sudah hampir menjatuhkan seluruh hatiku padanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TO BE CONTINUED....


__ADS_2