My Boss Samuel

My Boss Samuel
92. Drama Pingsan


__ADS_3

Aku kasih bonus deh,


Biar tambah berkah, amin.


Jangan Lupa Like, Vote dan Komen !!


Happy reading lagi !!


##


Aku melongo, mulutku terbuka. Lalu segera menutupnya cepat-cepat sambil berusaha menelan ludah yang terasa kering. Jantungku rasanya jatuh ke pinggang.


Aku berusaha keras menggerakkan tubuh tapi kakiku tak mampu bergerak seperti menancapkan akar yang tak mudah dicabut. Lutut ku mulai goyah ketika mendengar beberapa orang yang berbisik-bisik di sekelilingku. Dan seolah ada lampu sorot yang menyala di atas kepalaku saat ini. Seperti berdiri di atas panggung dengan semua perhatian tertuju padaku.


Aku tidak mampu lagi berpikir, dan pada akhirnya aku melakukan satu-satunya cara yang terpikirkan oleh otakku.


Aku menjatuhkan diri tepat saat Sam berada di dekatku. Dengan sigap dia menangkap tubuhku agar tidak jatuh ke lantai.


“Adelia!” Sam mendekap ku erat di dadanya. “Del!” Dia lalu membopongku yang hanya diam, terus berakting.


Semoga saja dengan drama pingsan ini, orang-orang akan melupakan panggilan yang Sam ucapkan padaku beberapa saat lalu.


“Lantai dua puluh.” Ujar Sam dan aku yakin seseorang tengah menekan tombol lift untuk kami.


Lama sekali rasanya kami keluar dari lift ini, aku tidak terlalu yakin, tapi aku rasa Sam membawaku ke klinik kesehatan.


“Kenapa, Pak? Pingsan?” tanya Dokter yang mengikuti langkah Sam masuk ke dalam klinik.


“Ya, tapi dia tidak apa-apa, hanya butuh istirahat. Bisa tinggalkan kami berdua?” mendengar kalimat Sam membuatku menelan ludahku dengan susah payah.


“Bapak yakin?”


“Ya, tinggalkan kami!” suara Sam terdengar tegas.


Begitu pintu di tutup dari luar, aku mendengar pintu di kunci. “Sampai kapan kamu pura-pura pingsan?”


Aku diam sejenak, lalu membuka sebelah mata. Sam kini berdiri di sampingku, bersidekap.


“Salah siapa?!” aku menggeram marah dan bangkit duduk di atas ranjang.


“Kenapa aku yang salah?”


Aku mendelik. “Kamu sadar nggak sih kita dimana? Dan panggilan itu? Kamu berhasil bikin aku nyaris mati berdiri.”


“Tapi kamu belum mati.” Ujarnya dengan cara menyebalkan.


“Bodo amat! Terserah!” aku turun dari ranjang dan berniat kembali ke lantai tempat kerjaku.


“Kalau mau berakting, kenapa tidak sekalian saja?” Sam membopongku kembali ke atas ranjang.


“Hah? Maksudnya?”


Sam tersenyum, membaringkan aku kembali ke atas ranjang. “Kita kencan saja hari ini, gimana?”


Aku memutar bola mata jengah. “Nggak profesional banget, sih. Gimana mau jadi CEO kalu jadi manager saja suka bolos.”


Sam menatapku lalu perlahan menunduk. Sekarang dia mau apa coba?


“Sam.” Panggilku tetapi tidak ia pedulikan sama sekali.

__ADS_1


Kini wajahnya semakin dekat ke wajahku, bahkan bibirnya hanya tinggal satu senti saja di depan bibirku. Tidak dia mau menciumku di sini.


“CCTV!” Aku reflek mendorong Sam sekuat tenaga hingga tubuhnya hampir terjungkal ke belakang. Sebenarnya aku ingin tertawa melihat ekspresi terkejut Sam tapi aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk tertawa.


Wajah Sam mulai mengeras, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Duh, gawat nih kalau dia marah. Bisa jadi berubah setan lagi dia.


“Sam.” Aku mencoba memanggilnya.


“Jangan bicara!” ujarnya dengan nafas memburu. Lalu ia mengeluarkan sebuah remote kecil lalu mengarahkannya ke arah CCTV.


Apa dia mematikan CCTV nya?


“Nggak sengaja.” Ujarku sambil meringis.


“Nggak sengaja kok pakai tenaga kuda.” Ujarnya sambil memperbaiki dasinya yang miring.


Aku hanya meringis walau dalam hati sudah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Sam saat ini.


“Kamu nggak mau minta maaf.” Imbuhnya sambil memandangku.


“Loh, kan aku udah bilang nggak sengaja. Lagian salah kamu juga sih.” Ujar ku tak terima.


“Aku kasih kesempatan untuk minta maaf sekarang juga.” Sam masih menatapku dengan raut datar.


Dih, maksa banget sih jadi orang. “Nggak mau.”


Dalam sekejap Sam mendorongku hingga terbaring di atas ranjang lalu meraih kedua tanganku membawa dan menahannya ke atas kepalaku. “Minta maaf, Del.”


“Enggak.” Aku berbisik takut. Apalagi ketika wajah Sam semakin menunduk.


“Aku udah beri kamu kesempatan.” Bisik nya serak tepat di telingaku. Aku mendongak geli, melirik takut pada senyum Sam yang terlihat ... Sensual dan juga kejam.


Sam menggeleng. “Sudah terlambat. Kesempatan kamu sudah habis.” Sam menahan pergelangan tanganku dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mulai membelai wajah lalu mendongakkan daguku. Bahkan kepalaku sampai tak bisa bergerak karenanya. Dan jantungku pun sudah berdebar amat kencang di dalam sana. “Harusnya kamu minta maaf di kesempatan pertama.” Bisiknya tepat di depan wajahku.


Hah, Sam tak tidak benar-benar serius ingin menciumku di sini kan? Please, seseorang tolong aku. Suasana ini pasti akan semakin buruk sekali jika seseorang mengetuk pintu klinik ini.


Lalu Sam menunduk semakin dekat, mataku melotot kian lebar seiring bibirnya yang semakin dekat dengan bibirku. Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat.


“Buka.” Perintahnya dengan suara serak.


Aku menggeleng, saat tangannya berusaha membuka mulutku.


“Buka, Adelia.” Perintahnya tegas.


Aku malah semakin merapatkan bibirku membentuk satu garis kaku. Ayolah seseorang cepat ketuk pintunya!


“Ck, terserah kamu.” Ujarnya lalu menekan bibirnya pada bibirku.


“Tunggu, tunggu!” aku menggeleng cepat agar ciuman Sam terlepas. “Please.”


Dia melepas cekalannya pada tanganku lalu menggunakan tangannya untuk menopang tubuh di atasku. “So?”


Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong dada Sam, tapi sepertinya usahaku sia-sia. “Sam, please. Jangan di sini.”


Sam mengerutkan alisnya. “Jadi kamu mau di mana? Apartemen ku?”


Aku hampir saja tersedak, kok bisa sih dia berpikiran seperti itu. Aku tidak terlihat mesum di depannya kan saat ini?


“Sam ...” aku mulai merengek pelan.

__ADS_1


“Hm-mm.” Gumamnya yang malah semakin membuatku sebal.


“Aku malu, Sam. Gimana kalo orang-orang tadi mendengar dan masih menggosipkan tentang teriakkan kamu tadi.” Ujar ku memelas.


Sam berdecih, “biarin aja.”


Lihat! Betapa menjengkelkannya pikiran itu. Tunggu dulu sudah berapa lama kita di dalam klinik ini. Dokter dan susternya tidak akan curiga kan?


“Fine!” teriakku kencang. “Terserah dengan jalan pikiran kamu. Pokoknya aku tetap nggak mau gantiin kamu.” Aku kembali mendorong tubuh Sam tapi usahaku tetap sia-sia.


“God, kenapa wajah kamu semakin imut sekali sih, Del.” Bisiknya di depan wajahku.


Lagi-lagi sebuah tindakan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku. Sam benar-benar susah di tebak.


“Seharusnya kamu tahu, Del. HRD meminta agar aku bisa menahanmu, pihak HRD juga sebenarnya tak rela dengan keputusan resign kamu.” Tangan Sam menyelipkan rambut ke belakang telingaku.


“Tetap nggak mau, Sam. Lagian kalo kita sama-sama terus di kantor jadinya akan ...” aku memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan kalimatku. “Akan seperti ini terus.”


Sam masih diam dengan tatapan lekat menatap wajahku. “Kamu benar.” Ujarnya yang langsung membuatku terperangah. “Selama ini aku juga berusaha untuk mengendalikan diri. Saat kita sudah memiliki hubungan seperti ini, sulit bagiku untuk menganggap kamu sebagai karyawan. Dan hal tersebut membuatku kesal pada diriku sendiri.” Sam terdiam sejenak. “Pikiranku sudah keluar jalur, aku nggak bisa menatap kamu sesuai tempatnya. Aku ingin semua tahu kali kamu milikku, Adelia.” Kening Sam kini menempel di keningku.


Aku hanya diam tidak tahu harus merespon seperti apa. Dengan aku yang berbaring dan Sam berada di atasku, keningnya menempel di keningku dan di klinik. Otakku menolak untuk bekerja karena dia terlalu syok.


“Aku akan mengizinkan kamu resign.” Ujar nya kemudian.


Lega.


“Ok, kalau begitu ayo kita keluar dari sini.”


Sam mengangkat sedikit wajahnya lalu tersenyum miring. “Tapi aku masih ingin mencium mu.”


Aku tak mampu menjawab, karena tiba-tiba Sam menatapku tepat di manik mata dan aku tak bisa berpaling. Aku juga menatapnya dan melihat banyak hal di balik mata indahnya.


Wajahnya mendekat dan bibirnya menempel di bibirku. Awalnya hanya kecupan, lalu bibirnya mulai bergerak seirama dengan tangannya yang membelai leherku. Ciuman itu dengan perlahan menjadi lumataan yang semakin dalam saat aku membuka bibirku untuknya.


Tangannya bergerak untuk membawa tanganku mengalungi lehernya. Bibirnya mulai menghisap, menggigit bibir bawahku dengan gigitan sensual yang membuat dadaku berdetak cepat karena gairah. Aku hanya mengikuti irama yang Sam mainkan, saat dia melumaat bibirku. Dan aku membiarkan dia bermain sesuka hatinya.


“Say my name.” Bisiknya melepaskan tautan bibir kami untuk sejenak karena aku sudah kehabisan nafas.


Dadaku bergerak naik turun, aku terengah begitupun juga dia.


“Please.” Suara seraknya benar-benar menghilangkan akal sehatku.


“Sam.” Bisikku pelan.


Sam tersenyum tipis, lalu kembali meraup bibirku dengan ciuman dalam yang membuat detak jantung memekakkan pendengaran.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1



__ADS_2