
Hai hai.. apa kabar??
Semoga puasanya lancar dan berkah selalu ya..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share juga boleehh ..
Happy reading !!
##
Ada beberapa gambaran mengenai arti makan malam bersama. Sebagai manusia normal, tentu saja bayanganku sama dengan manusia pada umumnya. Tetapi, entah kenapa malam ini Pak Sam memilih hal berbeda. Aku kira Pak Sam bakalan mengajakku makan di cafe atau manalah. Manusia itu justru mengajakku naik ke puncak gedung Perusahaan.
P-u-n-c-a-k. Tolong beri tanda khusus ya pada kata tersebut.
“Pak ...” panggilku dengan raut masam. Pak Sam menatapku tanpa rasa bersalah. Kami berdua merasa sedikit ngos-ngosan setelah tiba di puncak teratas tangga yang kami daki.
Karena lift memang tidak sampai di puncak gedung. Jadi kami harus meneruskan perjalanan dengan menapaki anak tangga.
“Kenapa?” Pak Sam bertanya datar.
Aku mengangkat mangkuk yang ku bawa dengan hati-hati, menyuruh Pak Sam untuk melihat isinya.
“Kita kurang kerjaan banget makan bakso di atap gedung, Pak.” Tukas ku kesal.
Jelas semua ini atas ide Bos kampret sialan itu. Makan bakso di atap gedung dengan bonus angin kencang yang menerbangkan rambutku ke sana kemari. Di tambah aku harus membawa dua mangkuk bakso, sementara Bos kampret itu menenteng plastik yang berisi minuman, camilan dan sebuah tikar.
Kunciran rambutku bahkan terasa kaku karena terkena angin terus menerus. Pak Sam hanya mengangkat satu alisnya, bertanya tanpa suara.
“Mau bagaimana lagi Adelia, pekerjaan saya dan kamu masih banyak. Sangat tidak memungkinkan untuk pergi keluar apalagi makan di dalam, nanti bisa buat kotor.” Pak Sam melanjutkan kegiatan menggelar tikar lipat yang di bawanya sejak tadi dari ruang kantor. Menepuknya beberapa kali dengan serbet, lalu Pak Sam duduk di atasnya. “Sudah jangan banyak menggerutu, sini duduk.”
Aku menurut, aku mendahulukan mangkuk bakso ku agar mendapat tempat. Barulah setelah itu aku menyusul duduk. Aku dan Pak Sam duduk tepat di tepi gedung yang di naungi oleh pembatas kaca. Pembatas kaca yang mengelilingi kami membuat pemandangan kota Jakarta di malam hari dapat terlihat jelas. Angin kencang yang sempat aku rasakan tidak lagi menyerangku habis-habisan. Mungkin karena posisiku yang terlindung oleh kaca-kaca tersebut.
“Saya baru tau kalo ada banyak kaktus di atas gedung. Jangan bilang, kalo Pak Sam yang nanam?” Tanyaku dengan niat mengejek.
Sembari menyeruput kuah bakso yang ku sendok. Aku mengamati tempat lesehan kami. Tidak ada tanaman lain selain kaktus yang beragam ukuran. Tapi, setelah ku lihat-lihat ada juga beberapa tanaman Euphorbia yang berukuran lumayan besar. Ada yang di tanam di pot berukuran kecil, sedang dan besar. Orang yang menanamnya pasti termasuk golongan orang yang sangat telaten dan kurang kerjaan.
Pak Sam terkekeh pelan.
“Kaktus tanaman yang tidak butuh penyiraman teratur, Adelia.” Matanya mengikuti arah pandanganku, “berhubung saya paling malas kalo di suruh menyiram tanaman, ya kaktus adalah pilihan yang paling tepat. Lagi pula duri kaktus dan euphorbia bermanfaat sebagai perangkap maling.”
“Mana ada maling di atap gedung, Pak?”
Aku tak bisa menahan tawaku. Maling jenis apa yang bisa merayap ke lantai empat puluh? Aku jamin sebelum si maling sampai di atap gedung, malingnya sudah tewas lebih dulu akibat gemetar dengan ketinggian tidak manusiawi. Dan ternyata benar semua yang menanam kaktus ini adalah Pak Sam.
“Ada. Kamu tidak pernah nonton film aksi ya? Maling kelas kakap biasanya memakai helikopter kalo mereka niat mencuri sesuatu.” Pak Sam berujar serius.
“Ini Indonesia, Pak. Adanya maling kelas teri yang biasanya nyolong perhiasan, uang sama jemuran. Paling top juga bobol bank.” Kataku ngeyel.
__ADS_1
Pak Sam menyipitkan matanya. Mungkin dia heran kenapa aku hobi sekali mendebat ucapannya. Ya mau bagaimana lagi? Habisnya pernyataannya itu bikin aku pengen ngakak so hard.
“Ini namanya antisipasi, Del. Siapa tau mereka beneran ada. Kan lumayan waktu mereka mendarat, duri-duri kaktus ini bisa menghajar mereka lebih dulu sebelum saya turun tangan.” Wah setan mode gahar nih.
Aku tergelak. Alasan yang kreatif sekali, saking kreatifnya bahkan aku sampai kehilangan kata-kata. Untuk meredam tawaku yang sejak tadi sudah meronta-ronta minta di loloskan. Aku segera menyuap bakso ke dalam mulutku.
“Ekspresi kamu seperti mengejek saya, Del.” Pak Sam mulai menatapku.
Aku berusaha menelan potongan bakso yang sudah ku kunyah di dalam mulutku. Kemudian menyambar botol air mineral di dekat mangkuk.
“Saya nggak niat ngejek, Pak.” Aku terkikik. Bos kampret ini tau saja kalo sedang aku ketawain dalam hati. “Saya pikir Bapak bakalan menjawab, karena kaktus bisa bertahan hidup di segala situasi. Itulah filosofi hidup yang seharusnya. Tapi, malah bukan.”
Aku malah jadi membayangkan kalo rumah Pak Sam di desain tanpa pagar besi dan tembok yang tinggi. Cukup deretan kaktus saja yang siap bertahan menghajar para maling yang berani mencuri di rumah Pak Sam dalam segala kondisi.
“Pikiran kamu klise sekali.” Pak Sam memotong bakso dalam mangkuknya menjadi beberapa bagian. Menurut perhitungan pengamatanku satu bakso di potong menjadi empat bagian. “Saya tidak sepuitis itu. Laki-laki tidak suka berpuitis-puitis ria. Jujur saja, itu ... Merepotkan.”
Hoo ... merepotkan katanya. Tunggu dulu Pak Sam yang tidak suka puitis saja kadang berhasil membuat jantungku mau copot. Apalagi kalo romantis.
“Tapi ada banyak tuh Pak Motivator Indonesia yang jenis kelaminnya sama kayak Bapak. Itu kan butuh jiwa puitis.” Aku menyanggah ucapan Pak Sam. Bakso di mangkukku tinggal dua. Dan aku harus memakannya pelan-pelan kalau tidak mau ngiler melihat Pak Sam makan.
Pak Sam menatapku sekilas. “Tapi, apa di keseharian mereka puitis?”
“Ya mana saya tau, Pak. Saya nggak berteman sama mereka.”
Lagi pula, aku juga tidak pernah bertemu mereka dalam kehidupan sehari-hari ya jadinya nggak tau mereka aslinya bagaimana. Coba aja jadi tetanggaku.
Pak Sam berdehem, kemudian mengambil botol air mineralnya lalu menegak isinya.
Pak Sam menyendok potongan bakso keduanya. Bukan untuk di makan, melainkan di pindahkan ke mangkukku. Tau saja kalo baksoku tinggal satu potong. Dan tingkahnya tersebut berhasil mencuri perhatianku beberapa saat, sebelum Pak Sam melanjutkan lagi ucapannya.
“Dengan kata lain, puitis hanya sebatas di media bukan di kehidupan nyata, Adelia.” Sambung nya.
Aku mengetuk bibir bawahku menggunakan sendok. Menimbang-nimbang perkataan yang di lontarkan Pak Sam barusan. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan tingkah Pak Sam sehari-hari? Yang memang kental sekali dengan mode sangar, dingin dan ngeselin.
“Jadi, nanti kalo Bapak melamar calon istri. Bapak nggak baca puisi ekstra romantis sembari bermain gitar, begitu?” Aku menatap Pak Sam dengan penuh selidik.
Parah sekali kalau tidak. Secara lamaran itu kan sekali seumur hidup. Bahkan aku saja mengharapkan aku nanti bakalan di lamar dengan hal romantis yang bisa membuat iri semua kaum BuCin.
“Saya tidak suka romantis.” Pak Sam menggeleng kuat, “saya lebih suka yang berkesan. Apalah arti lamaran romantis, tapi itu klise dan sudah banyak orang yang mempraktikkannya? Contohnya di lamar sewaktu candle light dinner, atau tiba-tiba satu bioskop kosong dan hanya di sewa untuk acara melamar kekasihnya. Ketika lima orang wanita bercerita bahwa mereka di lamar dengan cara yang sama, bukankah itu berarti ... ide si pria mainstream?”
Aku tertawa pelan. Benar juga yang di katakan Pak Sam. Bahkan aku sendiri juga tidak suka memiliki momen penting yang sama dengan orang lain. Jangankan momen, ketemu dengan orang yang memakai baju sama saja kesalnya minta ampun. Aku menggeleng pelan.
Aku menyendok kembali baksoku, dan aku baru menyadari kembali kalo tadi Pak Sam memberiku satu potongan baksonya. Masa bodoh, kalo sudah di mangkuk ku berarti kan sudah menjadi milikku.
“Jadi, Bapak generasi anti mainstream ya?”
Kalo melihat pernyataan Pak Sam, aku menyimpulkan kalo Pak Sam tidak suka mengikuti arus atau tren yang ada. Pak Bos lebih suka menciptakan alurnya sendiri tanpa peduli kanan kiri. Aku mengangguk-angguk.
Tapi sejak kapan Pak Sam berubah menjadi manusia normal? Dia kan Bos setan bin kampret yang selalu ngeselin. Kenapa mendadak malam ini ucapannya benar semua.
__ADS_1
Pak Sam membuang nafasnya, “bukan anti mainstream juga, Adelia.” Tubuh sempurna Pak Sam tercetak jelas dari balik kemeja putih yang ia gunakan. Maklum Pak Bos memang selalu melepas jas nya kalau sudah mulai bekerja. “Saya hanya benci kalo ada orang yang menyamai momen penting yang saya buat.”
“Kayak lamaran?” Tanyaku untuk memastikan.
Pak Sam mengangguk. “iya seperti lamaran, Adelia.”
Aku mendengus mengejek. Ada apa dengan malam ini? Kami berbicara soal lamaran. Sedangkan yang ku tahu calon saja Pak Sam tidak punya.
“Sepertinya Bapak sudah punya rencana banyak soal lamaran. Tapi, mana calon Bapak?” Aku sedikit tersenyum mengejek di akhir ucapanku.
Heran juga aku, punya wajah sempurna begitu kok nggak punya pacar. Sebenarnya seperti apa sih calon istri idaman Pak Sam?
Pak Sam terdiam. Pandangannya berpusat pada mangkuk baksonya. Yang hanya tinggal kuahnya saja. Tiba-tiba senyum cerah menaungi bibir Pak Sam dalam hitungan seperkian detik.
“Kamu.”
Dalam sekejap, teriakanku terdengar mendominasi setiap sudut atap gedung yang kami pijak. Lelucon Pak Sam sangat tidak lucu! Bisa-bisanya Bos kampret ini membuat jantungku syok dan hampir keluar dari tempatnya hanya dengan satu kata?
“Bapak jangan bercanda waktu begini, ah!” Ingin rasanya aku melempar mangkuk bakso beserta isinya ke wajah Pak Bos.
Pak Sam tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya sedikit membungkuk.
“Adelia, kamu harus melihat ekspresi kamu sendiri.” Pak Sam tertawa kembali. “Itu sangat lucu!”
“Lucu apanya?!” sewotku kesal. Aku lebih memilih mengambil plastik hitam yang berisi camilan. Sepertinya camilan lebih menarik dari pada harus menanggapi ucapan Pak Bos yang super duper sialan.
“Serius, itu lucu sekali. Adelia.” Pak Sam tertawa.
Sumpah ya, mode setannya benar-benar nggak bisa hilang.
“Saya juga serius, Pak.” Ucapku penuh penekanan. “bisa-bisanya Bapak bercanda dalam keadaan seperti ini.” Aku mengunyah camilanku dengan kesal.
Pak Sam masih terkekeh. Kemudian dia menarik nafasnya dan menghembuskannya tepat saat menatap ke arahku. Senyum cerahnya kembali lagi.
“Memangnya kalo saya nggak bercanda, kamu bakalan mau?”
Apalagi ini? Lelucon apalagi yang akan di buatnya??
“Maksud Bapak?” Sungguh aku semakin tak mengerti.
Wajah Pak Sam terlihat sedikit lebih serius walau masih di hiasi dengan senyumnya.
“Kamu mau jadi calon istri saya?”
##
Ahh.. pegel tangan dan pikiranku gegara satu bab ini..
Gini nih susahnya, kalau mau buat scene romantis. Penulis harus seolah-olah ikut terjun dalam cerita tersebut. Agar berasa ngefeel.. hahaha
__ADS_1
anggap saja aku berperan sebagai setan di antara mereka berdua.. wkwkwkwk
Kira-kira Adelia harus jawab apa hayoo?? Hahaha..