My Boss Samuel

My Boss Samuel
40. Teman macam apa kita?


__ADS_3

Haii...


Ada yang kangen Pak Sam dan Adelia??


Mereka balik lagi nih.. maklum habis lebaran..


Seperti biasa ya Like, Vote dan Komen!!


Share juga boleh..


Happy reading !!


##


Sam menangkup kedua pipiku dengan lembut lalu menunduk untuk menempelkan bibirnya pada bibirku. Aku memejamkan kelopak mataku perlahan saat Sam mulai menggerakkan bibirnya. Ciumannya begitu pelan dan lembut, hingga membuatku tak kuasa untuk membalasnya.


Dengan hati-hati Sam mulai menggigit bibir bawahku untuk memberi rangsangan ketika diriku tak kunjung membuka mulutku. Aku kemudian membuka bibirku untuk membiarkan lidah Sam masuk ke dalam mulutku.


Kulit tubuhku meremang bercampur dengan panasnya terik matahari, otak ku terasa kosong. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sampai diriku tak mempunyai daya untuk menolak ciuman yang Sam berikan. Sampai akhirnya Sam meraih tanganku lalu meletakkannya ke lehernya.


Aku lalu mengalungkan lenganku ke leher Sam. Meremas lembut tengkuk bagian belakangnya ketika Sam menekan punggungku sehingga kami makin berdekatan dan jarak di antara kami makin terhapus. Sam memiringkan kepalanya ke arah lain, membuat ciuman kami semakin dalam.


Ah ... benar-benar best kisser. Perlahan namun pasti kesadaranku mulai kembali lalu dengan cepat aku mendorong dada bidang milik Sam untuk menjauh.


“Sam, gimana kalo ada yang lihat?” tanyaku panik.


Sam menaikkan satu alisnya.


“Kenapa kamu cium aku di sini sih, Sam?” aku masih terus menggerutu. Namun dengan langkah santai Sam mulai mendekat ke arahku lagi. Tangan kanannya mengusap pipiku lalu jarinya mulai mengusap bibirku yang masih terlihat basah oleh aktivitas panas kami berdua.


“Karena hanya di sini, satu-satunya tempat di Perusahaan ini yang nggak ada CCTV nya.” Ujarnya sambil terus menatapku.


Deg!!


Perasaan aneh itu mulai memenuhi rongga dadaku membuat gejolak aneh yang langsung menjalar ke wajahku. Membuat wajahku terasa panas dengan detak jantung tak seirama. Aku menggigit pelan bibir bawahku lalu menghentakkan langkah ke lantai.


“Aku duluan.” Ucapku cepat, secepat langkahku yang mulai meninggalkan Sam dari tempat tersebut.


##


Jam sudah menunjuk di angka lima. Dan melihat kondisinya yang sejak tadi Sam sama sekali tidak memberi informasi masalah lembur. Itu berarti hari ini aku bisa pulang pukul enam tepat. Aku sedikit bernafas lega setelahnya, lalu memutar kursi ke arah Mbak Sari.


“Gimana tuh bocah, udah nggak sedih lagi kan?” tanyaku dengan nada berbisik.


Mbak Sari terlihat melirik sekilas ke arah Tiwi yang tengah fokus dengan layar komputernya sebelum menjawab pertanyaanku. “Kayaknya sih udah. Kita ajak shoping aja gimana?”


“Ah elo, Mbak. Tanggal tua tumben sekali ngajakin shoping?” Sedetik kemudian aku baru tersadar kalau aku berucap tanpa berbisik ke arah Mbak Sari, sehingga kini membuatku menjadi pusat perhatian.


Aku hanya meringis seraya memutar kursiku untuk kembali ke posisi semula. Lalu pandanganku jatuh ke Rizal yang sejak tadi terlihat menatapku.

__ADS_1


“Del, kok gue lihat-lihat aura lo makin cerah aja ya sejak tadi?” Entah itu hanya bicara ngelantur atau apa, yang penting pertanyaan itu seketika mampu membuat ku waspada.


“Itu tandanya diri gue di selimuti dengan hawa positif. Makanya aura gue bisa cerah, emang lo yang tiap hari malah di selimuti cewek terus. Butek, kan?” Ujarku mengejek.


“Bukan Rizal yang di selimutin, Del. Tapi, Rizalnya yang nyelimutin.” Celetuk Mas Angga yang membawa arah pembicaraan ke zona plus-plus. Dan anehnya kita malah tertawa.


“Ya kalo sempet nyelimutin, Ngga. Takutnya malah lupa nggak selimutan sampai pagi.” Sahut Mbak Sari tak mau kalah.


Ya begitulah pembicaraan dua orang yang sudah berumah tangga. Dan pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga tak terasa jam sudah menunjukkan waktu pulang.


Aku berjalan ke arah lift sembari saling mengejek dengan yang lainnya. Sampai akhirnya aku mendengar suara panggilan dari belakang yang membuat seluruh tubuhku langsung merinding.


“Eh, Pak Sam pulang juga toh? Mau traktir kita lagi, kah?” Pertanyaan Rizal berhasil mendapat satu pukulan dari Mas Angga yang mendarat tepat di kepalanya. “Ya Allah, Mas, sakit ini.”


“Lo jadi anak muda maruk banget sih, Nyuk?”


“Bener tuh, Ngga, gue jadi mikir selama dia pacaran yang suka morotin duit jangan-jangan Rizal lagi. Bukan ceweknya.” Imbuh Mbak Sari.


Aku hanya diam tak berniat ikut membalas sedikitpun. Karena sumpah demi apapun aku masih merasa canggung sekali berhadapan langsung dengan Sam, setelah kejadian siang tadi. Aku masih belum bisa percaya kalau siang tadi kami berdua ciuman. Hah ... Mana hot banget ciuman Sam.


Sam tersenyum. “Memangnya Rizal seperti itu, ya?”


Rizal mengibas-ngibaskan tangannya ke depan dengan cepat bersamaan dengan ucapannya. “Nggak, Pak! Bohong mereka! Biasa orang iri sukanya fitnah terus.”


“Nggak salah ngomong tuh mulut?” Mas Angga melirik Rizal sembari menekan tombol lift. “Emang apa kelebihan lo sampai gue harus iri?” Aku langsung tertawa mendengar ucapan Mas Angga.


Rizal tersenyum. “Kelebihan gue ...” dia memberi jeda sesaat sembari menatap kami satu persatu. “Gue lebih ganteng dari pada elo, Mas ” Dan ucapannya itu di akhiri dengan gelak tawannya.


“Ya Allah ... Emaknya dulu nyidam apa ya, punya anak gini amat.” Sahut Mbak Sari bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Aku segera menyusul masuk ke dalam lift begitupun juga dengan Sam. Dan dia berdiri tepat di sebelahku. Di dalam lift perdebatan antara Mas Angga, Rizal dan Mbak Sari masih terus berlanjut. Sementara aku dan Sam masih setia menjadi pendengar mereka. Kini aku sudah berjalan sampai di depan kantor. Aku merasakan Sam sejak tadi ingin memberi isyarat padaku. Namun, selalu terhalang oleh tiga makhluk kampret yang sampai sekarang masih saja mengoceh tak jelas ini.


“Kalian tuh ya, nggak ada capeknya apa? Dari tadi cerewet terus.” Ucapku dengan nada sedikit kesal.


“Habisnya si kunyuk ini bikin darah tinggi.” sahut Mbak Sari dengan menjitak kepala Rizal.


Aku hanya bisa geleng-geleng hingga perjalanan kami sampai di halaman parkir kantor.


“Tunggu dulu!” Tiba-tiba Mbak Sari berteriak keras.


Tentu saja teriakan Mbak Sari langsung membuat kami semua menoleh ke arahnya dengan sorotan tajam.


Jangan bilang kalau sekarang Mbak Sari malah kesurupan terus teriak-teriak nggak jelas. Kenapa hari ini penuh dengan drama sekali sih?


Aku memutar mataku malas ketika menatap Mbak Sari.


“Apa lagi?” Tanyaku sedikit mulai jengah.


Wajah Mbak Sari mendadak berubah panik dengan mata melotot. “Tiwi ketinggalan!! Tiwi masih di klinik!!” teriaknya histeris.

__ADS_1


“Hah? Lo gimana sih, Sar?” Mas Angga menepuk jidatnya.


“Ini semua gara-gara kalian yang dari tadi cerewet melulu!” Ucapku sengak sembari melipat kedua tanganku ke depan.


“Adel...!!!” Rizal, Mbak Sari dan Mas Angga berteriak ke arahku dengan tatapan tajam.


“Uppss.” Aku menutup mulut dengan tanganku. “Gue nggak ikutan deh”


##


Walaupun suara AC terdengar mendominasi di dalam mobil ini. Tetapi, entah kenapa bagiku atmosfirnya masih begitu terasa panas. Aku mencoba membenarkan posisi dudukku agar lebih nyaman lagi.


“Kenapa?” aku langsung menoleh ke sisi kanan tempat di mana Sam mengemudikan mobilnya.


“Hah?” aku menaikkan kedua alisku. “Nggak apa-apa kok, gerah.”


“Masa sih? AC nya udah nyala lho ...” Duh, Sam kamu mana paham sih apa yang ku rasain saat ini. Ini gerah bukan sembarang gerah, ini gerah gara-gara kamu.


“Untung Sari tadi ingat kalo Tiwi ketinggalan, ya? Kalo enggak bisa tidur semalaman di kantor Tiwinya.”


Yang sejak tadi aku merasakan tak nyaman. Akhirnya setelah mendengar ucapan Sam barusan bisa membuatku sedikit tertawa. Apalagi kalo teringat kejadian tadi yang benar-benar kelewatan. Bayangin deh, teman macam apa kita ini sampai-sampai melupakan salah satu anggota personil kita yang masih berada di dalam klinik?


Untung saja, saat Mbak Sari kembali ke dalam untuk menyusul Tiwi di klinik masih ada suster yang jaga. Kalo nggak! sudah pasti kita bakalan berdosa banget gara-gara ninggalin Tiwi.


“Udah ah ... Nggak usah di bahas lagi, rasanya pengen tertawa tapi takut dosa.” Ucapku


“Terus kamu maunya kita bahas apa?” Tanya Sam yang berhasil membuatku langsung bingung seketika. Dan kini mobil Sam berhenti tepat di lampu merah. “Del ...”


“Ya?” aku menoleh ke arah Sam yang kini tengah menatapku.


“Soal tadi siang aku~”


“Ahh itu ... Nggak usah di bahas, please!” sambarku memotong ucapannya dengan nada memohon. Dan Sam terlihat bingung.


“Aku kan Cuma mau bilang~”


“Sam ...” Rengek ku. Aku secara reflek langsung merangkul lengan Sam dan menempelkan jari telunjukku ke bibirnya. “Aku bilang jangan.”


Sam terlihat tersenyum lalu semakin menundukkan kepalannya. Dan rasanya gejolak aneh seperti yang kurasakan siang tadi muncul kembali. Jariku semakin kencang meremas lengan Sam dengan ritme detak jantung yang tak bisa ku kendalikan.


Nafasku semakin terasa berat saat ujung hidung Sam mulai menyentuh hidungku. Aku berusaha menghindarinya tetapi seolah terhipnotis, tubuhku malah tak bisa ku gerakkan sama sekali.


Tepat saat aku hendak membuka mulut, suara klakson mobil dari belakang langsung membuat kami terperangah. Tentu saja aku kaget, aku langsung melepas pelukanku di lengan Sam dan kembali ke posisi dudukku lagi.


Setelah itu aku lebih memilih memandang ke sisi jalan sembari menghembuskan nafas lega beberapa kali.


##


Gawat nih... Sepertinya pesona Sam benar-benar memikat sampai membuat Adelia tak bisa berkutik. Tenang Del, khilaf dikit nggak apa-apa kok.. hihihi..

__ADS_1


__ADS_2