
Apa kabar semua??? ada yang kangen sama gue, eh ... maksudnya Adelia sama Samuel.. hehe
Sudah di masak apa daging kurbannya ??
Maaf ya kemarin enggak update, maklum sibuk !
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
“Del, kaus kakinya dimana?” Sam berteriak dari dalam walk in closet. Aku yang tengah menyisir rambut menatapnya dari pantulan cermin.
“Laci bawah.” Ujar ku sambil mengoleskan lipstik di bibirku.
“Yang kiri apa yang kanan?”
“Kanan.”
Sam membuka laci sebelah kanan. “Nggak ada.”
Aku menoleh. “Semua kaus kaki kamu ada di sana.”
“Aku nyari yang hitam.” Ucap Sam.
“Ya semuanya di situ kok.” Ujarku sambil memakai maskara di bulu mataku.
“Nggak ada.” Ujarnya tampak kesal.
Aku menghela nafas, mendekati Sam dan mencari kaus kaki hitam yang sudah hampir tiga puluh menit ia cari. “Makanya cari itu pakai mata, jangan pakai mulut.” Ujarku menyerahkan kaus kaki itu padanya.
Kaus kaki itu padahal ada di depan matanya.
Setiap Sam mencari sesuatu, Sam jarang bisa menemukannya. Padahal benda yang ia cari ada di depan matanya, tapi dia hanya menatap fokus pada satu titik dan tidak berniat mencari di titik lain.
Setiap pria yang aku kenal memang seperti itu, dulu Papa juga sering kali kehilangan kunci motor maupun mobilnya hingga membuat satu rumah heboh padahal kunci itu tergantung di dinding tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sam hanya terkekeh dan mengecup bibirku.
Kami bulan madu selama seminggu di Maldives, lalu menambah jatah liburan selama tiga hari di London. Itu atas permintaan Papa Carlisle yang ingin sekali mengenalkan aku ke keluarganya yang tidak sempat datang ke acara pernikahanku dan Sam kemarin. Setelah itu barulah kami kembali ke Jakarta.
Sam kembali sibuk dengan pekerjaannya, terlebih dia sudah menjadi CEO PT. FASHION NOVA. Dan aku mulai sibuk belajar dengan Om Juna karena ternyata dia lah Rektor kampus tempatku mengajar, dia adalah Papa Mas Tristan.
Tiga bulan berlalu begitu cepat tanpa aku sadari. Kami sudah pindah ke rumah baru yang di beli Sam. Selama masa-masa belajarku dengan Om Juna, aku beberapa kali mampir ke kantor Sam karena merindukan Mbak Sari, Mas Angga, Rizal, Tiwi maupun Rio. Setiap kesana mereka selalu mengeluh dan mengadu padaku tentang kelakuan iblis Raffael yang benar-benar melebihi Sam. Bahkan Tiwi selalu di buat menangis olehnya.
Tapi siaalnya mereka tidak bisa berhenti karena sekejam apapun Raffael, dia tetap ada sisi baiknya. Dan yang paling mereka sukai dari sisi baik Raffael adalah dia selalu mentraktir mereka setiap akhir bulan, sebagai bentuk terima kasih atas kerja keras mereka. Kalau urusan makan gratis mereka masih tetap kompak aja ya.
Wah, kampret juga si Raffael. Kenapa Sam dulu tidak seperti itu ya??
“Kamu sudah siap?” Sam menatapku yang tengah sibuk memilih sepatu, perlu aku beri tahu walk in closet ini penuh dengan barang-barang mewah pemberian Bunda Eliza, Tante Sarah dan Tante Monika waktu pernikahanku kemarin.
Apalagi setiap Minggu Tante Monika, istri Om Juna selalu mengajakku berbelanja barang-barang mewah. Aku tidak tahu sebanyak apa tagihan kartu kredit yang harus Sam bayar melihat barang-barang yang aku bawa pulang. Tapi sepertinya Sam tidak mengeluh sedikitpun tentang barang yang terus menumpuk di ruang penyimpanan itu.
Ya, kira-kira seperti itulah gunanya jadi istri horang kaya, Ck!
Aku dan Sam sarapan bersama dan di rumah ini ada tiga asisten yang mengurus dapur dan juga membersihkan rumah. Meski Sam lebih menyukai jika aku yang memasak, tapi dia tidak mengeluh saat aku tidak sempat memasakkan makanan untuknya.
Terlepas dari sikapnya yang semakin posesif, dia suami yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah mengeluh tentang semua tindakanku.
Aku bisa mengatakan, aku sangat beruntung memilikinya.
__ADS_1
••
Ini hari pertama aku akan mengajar di kelas tahun ajaran baru para mahasiswa kampus Guna Bangsa. Ada sedikit kegugupan karena aku belum sama sekali memiliki basic sebagai pengajar. Tapi Om Juna selalu berkata, jangan pernah takut sebelum mencobanya. Selain itu, aku juga mempunyai Sam yang selalu bersedia mendukung dan memberikan support padaku.
Aku berjalan bersama Om Juna menyusuri kampus Guna Bangsa ini, dan berakhir di sebuah ruangan yang hanya di isi empat orang dosen. Dua wanita yang aku yakin sudah berumur sekitar empat puluhan itu tersenyum ramah padaku. Bu Desi dan Bu Ida, Kami saling berjabat tangan dan mengenalkan diri, mereka sangat ramah. Dan yang terakhir aku berjabat tangan dengan seorang pria, Pak Arlan. Atau dia memintaku untuk memanggilnya Mas Arlan karena umurnya belum terlalu tua, satu tahun di atas Sam dan dia juga belum menikah. Dan ternyata dia juga masih baru di sini, baru satu tahun mengajar.
Hal yang paling aku takuti dan membuatku susah tidur selama berhari-hari ini ada di depan mata, jantungku berdebar keras saat aku membuka pintu kelas. Wajah-wajah muda yang baru saja menjadi mahasiswa baru di kampus ini menyambut kedatanganku dengan tersenyum.
Sepertinya tidak terlalu menyeramkan, ya.
“Selamat, Pagi.” Sapa ku. Aku berdiri di depan kelas.
“Pagi !!”
“Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat buat kalian, selamat bergabung dan belajar di kampus Guna Bangsa. Nama saya Adelia, panggil saja Bu Adelia jangan panggil yang lain. Nanti kalo saya nggak nengok kalian baper lagi.” Semua kelas tertawa mendengar candaan ku. Padahal aku begitu juga supaya aku tidak gugup.
“Kalo di panggil, Mbak, boleh?” seisi kelas bersorak ke sumber suara.
Aku hanya menatap dan tersenyum ke arah mahasiswa baru tersebut, dia memiliki senyum yang imut sekali ketika tersenyum ke arahku dan ... tampan. Tubuhnya besar dan tinggi, aku yakin dia juga gemar berolah raga. Bibit idola kampus nih kayaknya.
“Memangnya kamu siapa? Mau panggil saya, Mbak?” tanyaku. Kata Om Juna hari pertama masuk kuliah biasanya memang hanya di isi dengan perkenalan dan pengenalan tentang materi. Jadi ya tak ada salahnya kan aku gunain buat bercanda dulu.
“Ya siapa tahu jadi ... Jadi apa, prok, prok, prok.” Dia tertawa dengan ucapannya sendiri di ikuti oleh anak yang lainnya.
Siaal, ternyata aku mendapat kelas yang isinya mahasiswa lucknut nih.
“Garing lo!” sahut salah satu temannya yang duduk persis di sebelah laki-laki tersebut.
“Lo cemburu?? Tenang walaupun Bu Adel cantik tapi ... Lo tetap yang tercantik di mata gue kok, Ka.” Celetuknya lalu mendadak satu kelas kompak bersorak ke arah mereka berdua.
Aku berjalan agak mendekat ke meja mereka, yang kebetulan berada di paling kanan baris ke empat.
“Nama kamu siapa?” tanyaku menatap mahasiswa laki-laki tersebut.
“Saya, saya Alang, Bu.” Ujarnya sambil tersenyum.
“Dia Anka, Bu.” Sahut anak bernama Alang tersebut. Padahal aku tanya yang cewek lho tapi dia yang jawab.
“Kalian pacaran?” tanyaku memastikan.
Aku melihat anak perempuan yang bernama Anka itu tersenyum dan hendak menjawab, tetapi dengan cepat Alang berseru.
“Dih, enggak lah. Ogah banget pacaran sama dia.” Entah kenapa ucapannya berhasil membuat semuanya tertawa.
“Mulut lo, Al. Mau gue ulek.” Teriak gadis yang memiliki paras cantik tersebut.
Aku hanya tertawa menyaksikan apa yang tengah terjadi. Alang hanya mendengus ke arah Anka, setelah itu kembali diam di kursinya.
Aku rasa bercandaan kali ini sudah cukup. Aku mulai mengajar dan mengenalkan materi yang akan mereka pelajari dariku. Ternyata semua keraguanku terjawab sudah. Semua berjalan begitu lancar dan menyenangkan.
••
Aku selesai mengajar tepat di jam sebelas siang. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah Mama, karena setelah menikah selama tiga bulan aku sama sekali belum berkunjung ke rumah Mama. Jangan salahkan aku, aku tahu ini terdengar jahat tapi ... Aku dan Sam saat ini memang mulai sibuk dengan urusan kami. Bahkan di hari liburpun aku juga kadang masih mempunyai tugas untuk belajar bersama Om Juna. Dan aku masih begitu sulit untuk membagi waktu.
Aku memarkirkan mobil sport ferarri yang di berikan Sam sebagai seserahan lamaran kala itu di depan rumahku dulu. Ya, akhirnya mobil itu terpakai juga sekarang. Pintunya terbuka namun terlihat sepi, aku melangkah masuk sambil mengucap salam. Memanggil Mama, Papa maupun Vino, berharap salah saru dari mereka ada yang muncul dan menyambut kedatanganku.
“Mama!” aku berteriak sekali lagi. Dan Mama akhirnya muncul dari belakang.
Mama terdiam sejenak, menatap kedatanganku yang mendadak tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Aku ingin berlari memeluk Mama tetapi niat itu ku urungkan begitu Mama melengos dan pergi ke dapur.
“Masih ingat orang tua toh kamu, Del.” Ujar Mama dingin. Mama terlihat menyibukkan diri di dapur.
Rasanya seperti mendapat tamparan ketika Mama melontarkan kalimat itu. Dan itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
“Ma ... Adel baru punya waktu hari ini.” Aku mencoba mendekati Mama tapi Mama menjauh sambil berpura-pura sibuk di dapur.
“Oh sibuk? Sibuk sampai lupa orang tua begitu.” Tuduhnya.
“Adel nggak lupa sama Mama dan Papa. Adel dan Sam benar-benar masih di tahap penyesuaian, Ma. Kami sama-sama sibuk, belum bisa atur jadwal untuk berkunjung ke sini.” Aku mencoba menjelaskan. “Dan kebetulan hari ini, Adel ada waktu jadi aku ke sini sendirian, Mama nggak senang kalo aku datang sendiri?”
“Ck!” Mama berdecak sambil mengangkat kedua bahunya. Aku hanya diam karena rasanya ada sesuatu yang menusuk dalam hatiku. “Nggak ada yang bisa membuat Mama senang selain bisa melihat anak Mama sendiri.” Imbuhnya pelan.
Dan entah kenapa tiba-tiba mataku terasa panas, pandanganku mulai kabur dengan air mata yang berkumpul di kelopak mataku.
“Mama senang kamu akhirnya ke sini, Del. Mama, Papa sama Vino itu kangen banget sama kamu. Mama pikir kamu udah lupa kalo masih punya orang tua.” Mama menekan kalimat terakhirnya dan hal itu berhasil membuat air mataku jatuh.
“Ma, Adel nggak lupa ...”
“Iya nggak lupa tapi nggak pernah ke sini, itu sama aja bohong.” Mama mengelap tangannya dengan kain lalu menatapku. “Kita masih tinggal di kota yang sama, Del, tapi Mama ngerasa kita itu tinggal di negara yang berbeda. Apa susahnya sih nengok Mama sama Papa ... Mama tahu kamu udah nikah, tapi kamu jangan lupakan Mama dan Papa begitu saja.” Mama mulai menangis.
Aku langsung berjalan dan memeluk Mama. “Adel nggak lupa, Ma, maafin Adel.”
“Mama sama Papa itu udah tua, Del. Mama hanya ingin sesekali melihat keadaan anak Mama baik-baik saja atau enggak.”
“Adel baik-baik aja, Ma.” Aku dan Mama saling sesenggukan.
“Apa salahnya meluangkan waktu main ke rumah orang tua, selagi Mama dan Papa kamu ini masih hidup, Del. Kamu jangan nyesel kalau Mama dan Papa nanti udah nggak ada.” Mama mengusap kasar air matanya yang sejak tadi terus mengalir.
“Mama jangan bicara seperti itu, Adel minta maaf, Ma ... Maaf.” Aku semakin memeluk Mama. “Adel juga kangen Mama, Papa dan Vino. Aku nggak lupa sama kalian, aku janji setelah ini aku bakalan sering main ke sini buat jenguk Mama sama Papa.”
Tiba-tiba Mama melepas pelukanku lalu menatap ke arahku, mata Mama sama sembabnya dengan mataku. Mama mulai mengusap air mata yang mengalir di pipiku. “Jangan hanya berjanji, Del, Mama nggak mau kalo Cuma di beri janji. Mama nggak mau gara-gara berjanji terus kamu jadi terpaksa berkat janji yang kamu buat.”
“Enggak, Ma.” Aku menggeleng kuat.
“Mama hanya minta, sekali-kali kamu luangin waktu kamu aja buat ke sini, nggak usah sering-sering Mama pasti juga udah seneng banget kalo udah bisa lihat anak Mama ternyata bahagia setelah menikah.” Mama mengusap air mataku, walau air matanya sendiri terus mengalir.
Aku tidak tahu kalau ternyata kedua orang tuaku mempunyai perasaan seperti ini padaku. Bahkan ketika aku sudah menjadi istri orang lain, mereka tetap mengkhawatirkan keadaanku. Mereka tetap mengharapkan kabar dan kehadiranku, aku merasa sangat bersalah sekarang.
“Maafkan Adel, Ma ... Mama nggak usah khawatir sama Adel karena saat ini aku sangat baik-baik saja, sangat baik.” Aku memeluk Mama kian erat. “Adel minta mulai saat ini Mama dan Papa nggak usah khawatir sama Adel. Yakinlah kalo Adel pasti baik-baik aja, aku bahagia menjadi istri Sam, Ma. Dan Mama sama Papa juga harus bahagia melihat Adel menjadi istri Sam.”
Aku kembali menangis sesenggukan di pelukan Mama. Dan Mama terus menepuk-nepuk bahuku.
“Maafin aku, Ma, karena aku sudah buat Mama dan Papa khawatir.”
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Sebenarnya gaess, cerita ini tuh rencana awalnya mau aku bikin endingnya pas setelah Adelia dan Sam menikah. Tapi, setelah aku pikir-pikir kurang gimana gitu ya? Nggak asyik gitu kalo masalah rumah tangga mereka nggak aku ceritakan.
Mau seharmonis apapun kehidupan rumah tangga pasti ada dong yang namanya masalah nyempil di sana.
Salah satunya masalah komunikasi dengan orang tua setelah menikah. Ya walaupun enggak semuanya tapi, aku yakin ada yang pernah mengalami termasuk aku. wkwkwkwk.
__ADS_1
Nah makanya aku masih mau lanjut dulu ini cerita, tapi mungkin update nya nggak akan sesering kemarin ya... jadi harap maklum. 😉
salam dari penulis amatir ini ya 😘