My Boss Samuel

My Boss Samuel
76. Baru Tahu


__ADS_3

Hallo guys....


Sebelumnya mau mengingatkan ini bab pendek.


Dan tidak ada adegan mesrah nya, wkwkwk.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Karena dukungan kalian sungguh sangatlah berharga.


Di share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Setelah menghabiskan liburan dua hari yang penuh drama itu. Akhirnya hari ini aku harus kembali bekerja lagi menghirup udara kantor yang selama dua hari kemarin sudah aku tinggalkan. Kembali ke aktivitas nyataku bergelut dengan komputer, kertas, bolpoin dan berbagai macam laporan. Huft!


Dan jangan lupa, manusia bernama Samuel Devano Gavin itu tentu kalau sudah kembali ke kantor dia juga akan kembali ke wujud semula.


Jangan tanya wujud apa ya.


“Gila anying! Kerjaan baru di tinggal dua hari libur aja sudah banyak banget ya. Jangan-jangan ini Sam sengaja lagi.” Keluh Mbak Sari ketika memulai pekerjaannya.


“Perasaan juga sudah dari dulu begini, nggak usah sok dramatis deh, Mbak.” Cibirku.


Enak saja, baru juga ketemu mereka sudah berani-beraninya mau membicarakan Sam. Untuk saat ini jangan dulu lah, ya.


“Tapi gara-gara ini, gue pagi-pagi udah pusing nih.” Mbak Sari masih belum terima. “Berasa sia-sia banget liburan gue kemarin.” Imbuhnya.


“Ya udah deh ... dari pada lo kebanyakan mengeluh. Gue punya usul nih, gue bakal bilang ke Sam kalau khusus buat lo nggak usah di kasih libur deh. Toh kata lo juga percuma liburan lo.” Sahut Mas Angga yang langsung membuat Mbak Sari berdiri. Mas Angga hanya tertawa melihat tingkah Mbak Sari.


“Oh jadi begitu kelakuan lo sekarang, hm. Makan temen banget sih lo, Ngga.” Tuturnya tak terima.


Aku sih hanya bisa geleng-geleng mendengar perdebatan antara emak dan bapak satu ini yang memang selalu berujung tak ada yang mau mengalah terlebih dahulu.


“Ini spesial buat, Adelia. Yang dua hari kemarin udah berusaha menahan rindu berat buat ketemu gue.” Rizal menaruh secangkir teh hangat ke atas mejaku.


“Gue tonjok lo!” tukas ku dan dia hanya tersenyum lalu kembali ke mejanya.


Bukan untuk duduk tetapi dia malah menyandarkan tubuh ke meja kerjanya, lalu dengan santainya menyesap kopi buatannya sendiri.


“Lo kebiasaan ya, Mas, suka banget ninggalin gue.” Tiwi langsung memukul Rizal begitu saja hingga membuat Rizal tersedak.


Ya, seingatku memang mereka berdua pergi ke pantry bersamaan. Entahlah kenapa kalau kembali selalu sendiri-sendiri.


“Ya elah ... Lo kan udah gede, Wi, gue percaya kalau elo nggak bakalan tersesat ataupun di culik di kantor ini.” Ucapan Rizal berhasil membuatku tertawa, mana ada sih penculik di kantor yang super ketat ini.


Tiwi tak menjawab dia hanya melengos sambil memajukan bibirnya.


“Lo belum tahu ya, Zal. Jaman sekarang penculik sudah lebih maju akalnya. Siapa tahu mereka juga kluyuran di sini.” Celetuk Mbak Sari.

__ADS_1


Rizal hanya mencibir, mungkin dalam hatinya mengutuk karena mempunyai teman yang sama sekali tak bisa membantunya. Yang ada malah nambahin masalah.


“Jangan ngambek dong!” bujuk Rizal. “Gue punya tebakkan nih biar lo nggak ngambek lagi.” Tiwi masih memasang wajah cemberutnya.


Rayuan apa lagi yang akan di keluarkan oleh Rizal. Dia itu memang suhu-nya tukang rayu ya, makanya Sam suka sekali menugaskan Rizal ke lapangan. Mulutnya benar-benar mempunyai daya pikat tersendiri.


Aku, Mbak Sari dan Mas Angga sudah bersiap-siap mendengar apa yang akan di katakan Rizal. Aku melipat kedua tanganku ke atas meja lalu aku condongkan sedikit tubuhku ke depan.


“Dengerin ya ... Pasien yang kalau sakit terkena gejala rindu biasanya di larikannya kemana, hayo?” Rizal memutar-mutar jari telunjuknya sambil tersenyum.


“Ke rumah sakit lah.” Sahut Tiwi.


“Salah! Yang benar ke ruang ... I see you.” Sejujurnya jawaban Rizal sangatlah absurd, tetapi melihat ekspresinya bicara mampu membuat ku dan yang lainnya tertawa.


“Lo ngomong apa sih, nyuk!” ujar Mas Angga.


“Eh ada lagi.” Aku semakin geleng-geleng melihat tingkah Rizal. “Kendaraan, kendaraan apa yang imut kalau lagi jalan, hayo?”


“Kayaknya Rizal ketempelan banci di taman lawang deh.” Celetuk Mbak Sari.


“Haha, saking frustrasinya sampai beralih haluan ya.” Imbuhku.


“Eh, jawab dulu lah.” Sahut Rizal.


Aku lebih memilih diam tak mau menjawab. Percuma, mau sebenar apapun jawabannya bagi Rizal itu akan tetap salah.


Aneh.


Rizal tersenyum. “Salah!”


Ayolah, jangan sampai kegilaan Rizal menyebar di ruangan ini. Dia harus segera di hentikan.


“Terus apa, bambang.” Kataku kesal.


“Jawabannya ... Kereta api cute, cute, cute.” Rizal menjawab dengan menirukan nada salah satu lagu khas anak-anak.


Anying!


Tapi hal tersebut berhasil membuat kami tertawa, sebenarnya sih bukan ke tebakkan nya yang lucu tetapi lebih ke ekspresi Rizal yang kelewat konyol.


Aku menyandarkan punggung ke ke kursi sambil geleng-geleng ke arah Mbak Sari. “Gila! Stres berat kayaknya tuh bambang.” Aku dan Mbak Sari pun semakin tertawa.


“Siapa yang menyuruh tertawa?” lagi-lagi suara inilah yang selalu membuat aku dan teman-temanku langsung bungkam.


Sejak kapan Sam menyender di pintu ruang kerjanya. Astaga, bahkan posisi dudukku yang seharusnya bisa melihat langsung kalau Sam keluar dari ruangannya pun sama sekali tak menyadarinya.


“B-bapak sejak kapan di sana?” pertanyaan Rizal berhasil membuatku melotot. Tidak, bukan hanya aku tetapi semuanya termasuk Sam.


Sam menegakkan tubuhnya lalu melipat kedua tangannya ke depan. “Belum lama, sejak kereta api cute kamu tadi lewat.” Sam mengucap nya dengan nada yang datar.


Tetapi bagiku itu terdengar lucu, bahkan aku hampir saja tertawa, lalu aku gunakan tanganku untuk membekap mulutku ini.

__ADS_1


Kalian percaya deh denganku, aku yakin Sam tadi juga ikut tertawa kok pas dengar banyolan Rizal. Hanya saja dia bersikap sok cuek. Gengsi begitu.


##


“Adelia bawa laporan mingguan kamu, ayo ikut saya!” perintah Sam.


Tanpa harus menjawab aku pun segera mengiyakan lalu mengikutinya berjalan ke arah lift.


“Mau kemana?” tanyaku begitu sudah sampai di dalam lift.


“Ke ruangan kakek.” Aku hanya membulatkan bibirku.


Rasanya kok sedikit nervous ya mau bertemu dengan kakek Robert di kantor. Ya walaupun aku sudah sangat akrab dengan beliau, tetapi kan kalau di kantor Kakek Robert tetaplah pimpinan tertinggi di perusahaan ini. Aku harus bersikap seperti apa? Harus formal atau biasa saja?


Sampai akhirnya pintu lift terbuka lalu Sam keluar terlebih dahulu setelah itu baru aku. Tetap harus menjaga hormat dong, kan dia Bos ku kalau di kantor. Kalau keluar bareng nanti di kira pengantin kirab lagi.


Sam langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Duh, percaya deh situ cucunya. Aku menatap ke sekeliling ruangan yang begitu besar dan rapi ini. Lalu pandanganku jatuh ke meja Pimpinan perusahaan ini yang tak lain dan tak bukan adalah kakek Robert. Kursi kakek Robert menghadap ke jendela kaca besar yang ada di belakang mejanya, dan aku lihat beliau duduk di sana.


“Sam.” Bisik ku pelan. Sam menoleh dengan alis terangkat. “Kok kakek enggak berbalik arah ke sini sih, lagi sibuk ya?”


Sam tak menjawab, dia justru malah tersenyum lalu menarik ku mendekati kursi kakek.


Aku sedikit memberikan perlawanan ketika Sam menarik ku, ya bagaimanapun juga kelas karyawan sepertiku tetap tidak sopan namanya kalau sampai berani mengganggu kesibukan atasan kami.


Tapi begitu Sam dan aku berhenti tepat di samping kursi kakek Robert, aku langsung melongo menyaksikan apa yang aku lihat. Bahkan aku langsung menutup mulutku menggunakan laporan yang aku bawa.


“Kakek tidur?” tanyaku pelan.


Sam mengangguk. “Sepertinya sih habis membaca.” Sam lalu mengambil buku yang ada di pangkuan kakeknya secara hati-hati. “Lihat, sepuluh halaman.”


Aku mengerutkan alisku. Apa maksudnya?


“Biasanya kakek sudah langsung tertidur di halaman ke lima, dan ini halaman terbanyak yang pernah kakek baca.” Sam tersenyum sambil melihat sekilas isi buku bacaan kakek.


“Hah?” aku semakin bingung. “Bagaimana bisa kakek langsung tertidur pulas begitu?”


Sam mengangkat bahunya lalu meminta laporan yang aku bawa setelah itu menaruhnya ke atas meja kakek Robert bersama dengan buku yang di baca kakek tadi.


Setelah itu Sam menarik tanganku keluar dari ruangan Kakek Robert.


“Maka dari itu, aku kadang juga bingung bagaimana bisa kakek menjadi pimpinan sedangkan kakek itu suka langsung tertidur kalau di suruh membaca banyak kata.” Alisku semakin berkerut mendengar perkataan Sam.


Otakku bekerja sesaat guna mencerna apa yang Sam katakan baru saja. Tak lama setelah aku dan Sam sudah berada di luar ruangan Kakek Robert, aku langsung tertawa begitu saja.


“Kenapa?” Sam terlihat heran.


Aku masih tertawa lalu menggeleng. Tak perlu aku jawab kan untuk pertanyaan yang satu ini.


##


Adelia sepertinya sedang menertawakan keanehan keluarga Sam. Enggak cucu, enggak kakek, enggak saudara-saudaranya semua aneh. Mereka sepertinya mempunyai keturunan anehnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2