My Boss Samuel

My Boss Samuel
64. Hal Gila Apa lagi?


__ADS_3

Hallo semua...


Mau mengingatkan ini bab pendek.


Karena lagi sibuk dan sinyal jelek. hehe..


Maap ya.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


“Del, gue kemarin lihat story Vino ada foto lo lagi berdiri di sebelah cowok deh kayaknya.” Aku hampir saja tersedak kopi yang aku minum saat ini ketika mendengar pertanyaan dari Rizal.


“M-maksud lo?” Tanyaku penasaran.


Rizal berdecak, “Vino kemarin bikin story kondangan terus ada foto elo. Lha ... Yang bikin hati gue sedikit sakit seperti tertikam pisau.”


“Dih, lebay lo, Mas.” Sahut Tiwi.


“Gue serius, ada rasa sakit tapi tak berdarah.” Rizal mengelus dadanya penuh drama. “Di foto itu kayaknya sebelah Adelia ada cowok yang pakai batik yang sama persis dengan rok Adelia.” Jelas Rizal. Waduh jeli juga mata si kampret ini.


Kok aku malah tidak sadar kalau Vino mengambil gambarku kemarin. Awas saja kalau dia sampai membocorkan rahasia ini, apalagi dia kan memang sohib banget sama Rizal sampai punya nomor WA segala.


“Mana fotonya gue jadi penasaran.” Ujar Mbak Sari, dia berdiri lalu berjalan ke meja Rizal. Takut terjadi hal yang tak ku inginkan, aku pun menyusul ke meja Rizal.


Rizal membuka ponselnya untuk mencari story Vino kemarin. Beberapa detik menunggu tapi aku lihat dia tak menemukannya. Aku sedikit bisa tersenyum lega.


“Mana lo bobong ya?” kata Mbak Sari.


“Gue nggak bohong. Dan satu hal yang ingin gue sampaikan ke Adelia, lo kemarin benar-benar terlihat cantik banget, Del. Lo pasti nyesel deh karena nggak mau jadi pacar gue.” Aku mendorong kepala Rizal sehingga membuat Mas Angga, Mbak Sari dan Tiwi tertawa.


“Ngaco lo! Lagian paling yang di foto itu juga Bokap gue nggak usah lebay deh.” Tukasku sambil berjalan kembali ke arah mejaku.


“Enggak mungkin lah, Del. Gue tahu perawakan Bokap lo seperti apa. Secara kan ... pernah hampir jadi calon mertua.” Ujar Rizal dengan tertawa lalu di ikuti yang lainnya.


Dasar.


Siang harinya aku dan teman-temanku menikmati makan siang sekaligus beristirahat di cafe dekat kantor. Ya, walaupun masih tanggal tua tapi di sinilah cafe terdekat dengan harga merakyat.


Rizal dan Mas Angga sudah lebih dulu masuk untuk memesan tempat. Sedangkan aku, Tiwi dan Mbak Sari masih berjalan santai menuju cafe tersebut. Tepat di halaman cafe tiba-tiba seseorang menubruk bahuku hingga membuat tubuhku sedikit terhuyung.


“Aduh maaf, Mbak. Aku gak sengaja.” Ucap orang tersebut.


Mendengar suaranya aku sudah tahu siapa orang tersebut. Segera aku menatapnya dengan mata berkilat. Aku tersenyum lalu melipat kedua tanganku ke depan. “Enggak sengaja ya?” Aku mendengus pelan, “sengaja juga nggak apa-apa. Gue maklum kok kalo orang seperti elo itu suka nyenggol orang.”


Mbak Sari tertawa, “duh ... Kayaknya kurang perhatian deh makanya suka nyenggol-nyenggol orang.”


Untungnya saat ini aku berjalan dengan Mbak Sari dan Tiwi. Jadi mereka bisa ikut-ikutan membumbui suasana.


“Aku beneran gak sengaja, Mbak. Aku buru-buru mau masuk.” Dia membungkukkan badannya, tersenyum lalu kembali berjalan.

__ADS_1


“Mira!” teriakku ketika dia sudah berjalan menjauh. “Gak sengaja kok nyenggolnya pakai tenaga.” Sindirku lalu di ikuti tawa dari Mbak Sari dan Tiwi.


Aku melihat Rizal dan Mas Angga sudah duduk di meja nomer empat dengan menu makanan yang sudah terhidang.


“Kalian lama banget sih?” tanya Mas Angga.


Mbak Sari mendengus. “Lo nggak tahu sih, tadi kita habis syuting adegan sinetron dulu.” Aku hanya tertawa mendengar perkataan Mbak Sari.


Mas Angga menyipitkan matanya ke arah Mbak Sari, Tiwi lalu ke aku. “Kalian pasti dapat peran antagonis ya barusan.”


Aku memandang Mbak Sari lalu Tiwi secara bergantian, setelah itu kami terbahak-bahak.


##


“Sari, laporan mingguannya sudah selesai?” tanya Sam.


“Sudah.”


“Angga daftar harganya sudah kamu perbaharui?” tanya Sam lagi.


“Sudah beres.”


“Kalau begitu siap launching kan, Del.” Matanya berhenti ke arahku.


Aku hanya bisa meringis. “Belum, Pak. Masih ada sedikit kendala di bagian desain.”


Mata Sam langsung membulat sempurna. “Kok bisa?” Sam langsung mengerjab. “Maksud saya, bagaimana bisa?”


Mbak Sari dan Mas Angga menatap Sam dan aku secara bergantian.


“Iya, Pak. Ini rincian problemnya.” Aku segera berdiri dan memperlihatkan layar tab ku ke Sam.


“Kamu tidak berusaha untuk mempercepatnya?” Sam menatapku.


Aku mengangguk. “Sudah, Pak. Paling cepat dua hari.”


“Dua hari?” Sam meninggikan suaranya.


“Tiga hari.” Ucapku asal lalu membekap mulutku.


Sam langsung menggebrak meja Rizal, untung saja si penghuninya sedang tak berada di tempat.


“Kalau benar-benar sampai tiga hari. Saya tak akan segan-segan membuat kalian semua tidak bisa pulang ke rumah besok malam.” Ancam Sam.


“Yah, jangan gitu dong, Sam. Terus siapa yang nemanin suami sama anak tidur nanti.” Keluh Mbak Sari.


“Setuju. Kamu sih belum nikah Sam enggak bisa ngerasain pulang di tunggu anak istri.” Imbuh Mas Angga.


Wajah Sam terlihat sedikit menegang lalu melirik ke arahku. Tentu saja kelakuan Sam langsung membuatku gugup. Aku hanya bisa berdehem lalu kembali berjalan ke mejaku.


“Makanya cepat nikah, Sam. Sudah kepala tiga kan.” Lagi-lagi Mas Angga membuat ekspresi wajah Sam menjadi canggung.


“Nikah enak lho, Sam, tidur ada yang nemanin, pulang ada yang mijitin.” Bukannya berhenti tetapi Mbak Sari malah semakin gencar membumbui ucapan Mas Angga.


Rasanya gemas sekali, ingin aku acak-acak muka mereka. Karena mendengar kata menikah bayanganku langsung teringat dengan kejadian tempo hari ketika aku dan Sam hampir terjerumus ke jurang kekhilafan. Duh ... Apa bayangan Sam juga sama sepertiku?

__ADS_1


“Bukan urusan kalian.” Ucap Sam mengagetkanku dari lamunan.


“Belum ngerasain dia, Sar.” Mas Angga dan Mbak Sari tertawa.


Sumpah ya, perkataan mereka sudah benar-benar melenceng jauh dari topik. Aku melirik Sam dan dia juga malah melirikku. Aku reflek terkejut dan hampir menjatuhkan bolpoin.


“S-sudah, cepat kembali bekerja lagi.” Ujar Sam lalu berjalan ke arah lift.


Mbak Sari dan Mas Angga hanya tersenyum. Lalu tiba-tiba Sam memutar langkahnya lagi menuju ruangannya.


“Ada yang ketinggalan, Pak?” Ledek Mas Angga. Karena kami tahu kalau seharusnya Sam kembali masuk ke dalam ruangannya bukan malah berjalan ke arah lift.


Sam hanya menatap tajam ke arah Mas Angga lalu menutup pintu ruangannya. Emak dan Bapak kampret itu sudah kembali terbahak-bahak kembali.


“Kayaknya Sam jadi pengen kawin, Ngga.” Kata Mbak Sari.


“Nikah, Sar. Bukan kawin.” Balas Mas Angga dengan senyum jenaka.


Aku hanya bisa tersenyum sembari menggigit bibir bawahku gemas. Dasar teman lucknut!


••


Aku mengetuk pintu ruangan Sam lalu masuk ke dalam. Terlihat Sam tengah sibuk dengan pekerjaannya. Rambutnya sudah mulai berantakkan, dasinya sudah mengendur di tambah dua kancing kemeja teratasnya sudah terlepas. Kalau melihat Sam seperti itu rasanya pengen cepat-cepat jadi istrinya deh. Upps!


Yaa, gimana ya? Gemas banget rasanya ingin membenarkan dasi dan kancing yang sudah terlepas itu.


Sam menatapku dengan kedua alis terangkat, hal tersebut langsung membuatku tersadar. “Um, ini laporan terbarunya, Pak.” Aku menyerahkan file ke atas meja Sam.


Aku berniat ingin segera keluar dari ruangannya namun tiba-tiba Sam memanggilku.


“Del ...” aku pun langsung menoleh. “Menurutmu perkataan Angga sama Sari tadi serius atau hanya bercanda.”


Aku langsung terbatuk. “Em, itu ... Ah, Bapak kayak nggak tahu mereka aja. Mereka hanya bercanda, Pak. Enggak usah di pikirin.”


Sam meletakkan kedua sikunya ke atas meja lalu menyangga dagunya sambil menatapku. “Kalau aku ngajak kamu nikah ... Kamu mau?”


“HAH?!” teriakku histeris. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong.


Hm, hal gila apa lagi yang merasuki otak Sam.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED...


##


Kembali ke pekerjaan dulu ya gaes...

__ADS_1


Nanti kalau gak kerja numpuk lagi kerjaanya, apalagi kalau sampai gak di gaji. Huft... Pusing pala eikee eeiimm...ber.


Salam dari penulis amatir.


__ADS_2