
Hallo apa kabar??
Semoga sehat selalu ya..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!
Share juga boleh banget..
Happy reading !!
##
Aku dan Vino saling berebut lari menuruni anak tangga. Adik semprul itu terlihat tak mau kalah dariku sedikit pun. Vino selalu menghalangiku hingga aku tak bisa menyalip dirinya. Dan tahukah apa yang membuat aku dan Vino seketika berubah layaknya Valentino Rossi dan Lorenzo?
Ya, tepatnya beberapa menit yang lalu aku dan Vino tengah asyik mengobrol di kamarku. Lalu dengan tiba-tiba Mama datang dan memberitahuku kalau Sam datang ke rumah. Tentunya, aku sebagai pacarnya langsung antusias menyambut kedatangannya. Sedangkan Vino, apa motivasi dia sebenarnya hingga dia juga tak kalah antusiasnya dengan diriku?
“Vin!” Aku menarik lengan Vino dari belakang saat kami sudah berhasil menuruni anak tangga. Dan bocah itu pun hanya menaikkan kedua alis sebagai responnya. “Lo kenapa semangat banget sih dengar Sam datang? Yang pacarnya itu gue. Lah ... Elo ngapain?”
Vino memajukan bibirnya lalu menarik lengannya hingga terlepas. “Gue itu Cuma pengen Mas Sam tau, kalo gue calon adik ipar yang baik, Mbak. Gue nggak mau aja kalo Mbak Adel suka jelek-jelek kin Vino.”
“Ya Allah ... Lo jadi adik Nethink banget, sih? Gue nggak seperti itu kali.” Ujarku gemas.
Vino mencibir, “ya siapa tahu, kan?” Vino tersenyum jahil. Lalu dengan cepat berlari mendahuluiku.
Aku hanya memutar mata sembari melangkah malas. Tidak tahu lagi deh apa yang ada di dalam kepala adik semprul itu. Sampai di ruang tamu aku langsung dapat melihat Sam duduk dengan tampannya sembari berbincang dengan Papa dan Mama. Bahkan mereka sudah sangat terlihat akrab sekali. Dan tentu saja itu membuat heran.
“Eh, Mas Sam, apa kabar, Mas?” Vino menyalami Sam. Lalu duduk di samping Sam.
“Baik. Kamu gimana, lancar kuliahnya?” Sam bertanya balik.
Belum sempat Vino menjawab, aku terlebih dahulu menyela ucapannya. “Cih! Jelas lancar lah. Orang anaknya kalo kuliah Cuma modal berangkat sama absen aja.” Lalu duduk di depan Sam. Terpaksa! Karena yang seharusnya menjadi posisi tempat dudukku malah sudah di ambil duluan sama Vino.
“Mbak Adel ...” Ucap Vino geram dan aku hanya tertawa.
“Ayo sambil di minum. Ini Mama juga buatin kue spesial lho.” Kata Mama sembari meletakkan sepotong kue ke piring kecil. Lalu, di berikan ke Sam. “Jangan kaget ya, Sam. Kalo kue ini rasanya enak banget.”
Sam hanya tersenyum lalu mulai mencicipi kue buatan Mama. Sesendok demi sesendok.
“Kerja jadi Bos pusing nggak, Sam?” Papa membuka suaranya setelah meletakkan cangkir kopinya ke meja.
Sam tersenyum tipis lalu meletakkan sendoknya ke atas piring yang di sangganya. “Kalo pusing itu sudah pasti, Om. Tapi yang namanya tanggung jawab. Ya ... Harus tetap di jalani.”
__ADS_1
Aku memandang Sam dengan tersenyum saat dia berbicara. Sam begitu tenang dalam bicara. Bahkan sama sekali tidak menunjukkan perasaan tak nyaman saat menjawab pertanyaan dari Papa. Wah... Auto lolos jadi calon mantu nih.
“Eh ... Kok panggil, Om. Mulai sekarang panggil Papa dan Mama saja. Biar sama seperti Adelia dan Vino.” Sela Mama.
Tentu ucapan Mama berhasil menarik perhatianku seutuhnya. Apa maksudnya?
“Bener, Mas. Kan nanti juga bakalan jadi Masnya Vino sungguhan.” Vino ikut berkomentar.
“Om juga malah lebih senang kok kalo di panggil Papa.” Aku semakin mengernyit ke arah arah Papa.
Wah ... Ini sudah kode keras. Semoga Sam tidak tertekan oleh kelakuan keluargaku ini. Aku hanya bisa memainkan kedua ibu jariku saat menunggu jawaban dari Sam.
“Baik, Pa, Ma.” Aku langsung membelalakkan mataku setelah mendengar ucapan dari Sam.
##
Aku meletakkan kembali ponselku ke atas meja setelah membalas chat dari Tiwi. Anak itu tadinya ingin mengajak ku keluar. Tetapi karena hari ini Sam ke rumahku, pastinya aku harus mencari alasan untuk menolak Tiwi.
“Kamu bilang apa?” tanya Sam setelah meminum jusnya.
“Bantu Mama bikin kue.” Aku hanya tersenyum ke arah Sam. Dan dia hanya menggelengkan kepalannya.
“Sam, kenapa kamu mau di suruh manggil orang tuaku dengan sebutan Mama dan Papa?”
Rasanya leherku mendadak kering sekali. Aku tidak salah dengar kan? Kenapa ucapan Sam itu selalu bisa tak terduga sih? Aku lama-lama kasihan dengan jantungku sendiri yang selalu saja di buat terkejut olehnya.
Aku berpura-pura menggaruk leherku. “I-iya, Sam.” Lalu aku segera meneguk habis jus dalam gelasku. Supaya detak jantungku dapat ternetralisir oleh dinginya es dari jus ini.
“Gimana kalo pas aku pulang ke Bali nanti kamu ikut juga, Del? Sekalian aku mau ngenalin kamu ke keluargaku.” Belum juga tetes terakhir jusku habis. Tetapi Sam malah membuatku langsung tersedak setelah mendengar ucapannya.
“Apa?” tanyaku kaget. “Apa nggak terlalu cepat, Sam?” imbuhku.
Sam menggeleng mantap seraya mengelus punggungku. “Enggak. Lagian aku juga sudah sering ke sini. Kan aku juga ingin ngenalin kamu ke keluargaku.”
“Um... Tapi, ngajaknya jangan mendadak ya, Sam.” Ujarku ragu-ragu.
“Iya, aku pasti ngabarin kamu dulu.” Ucap Sam sembari mencubit pipi kananku.
Tanpa ku sadari Vino sudah berjalan menuju ruang tamu sambil memainkan kunci motornya. Dan langkahnya seketika berhenti tepat di hadapanku. Aku dan Sam tentu merasa kaget dengan kehadiran Vino. Sam segera menarik tangannya dari pipiku lalu berdehem pelan.
Vino hanya tersenyum lalu mengacungkan jempolnya. “Nggak apa-apa, Mas. Di lanjut aja, Mbak Adel jarang lho di gituin. Pasti sekarang perasaannya lagi senang banget, tuh.”
__ADS_1
“VINO!!!” teriakku. Dan adik semprul itu hanya tertawa lalu berlari keluar rumah.
Hah ... Kelakuan adik lucknut itu benar-benar menjengkelkan. Semoga saja suatu saat nanti aku mendapat kesempatan untuk membalas semua perbuatan yang Vino lakukan. Ya, dan aku benar-benar sudah tak sabar menunggu saat-saat itu.
##
Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke kantor sendirian dengan menaikki ojek online. Saat berjalan masuk, aku bertemu Tiwi yang baru juga sampai di parkiran. Aku lalu menunggunya kemudian kita berjalan masuk bersama.
“Tega lo, Mbak. Kenapa kemarin nggak mau keluar sama gue, sih? Padahal gue kemarin mau ngajak lo nonton film baru di Bioskop. Sekalian gue mau curhat begitu.” Kata Tiwi saat kami mulai berjalan masuk ke dalam kantor.
“Kan gue udah bilang. Kemarin lagi sibuk bantuin Mama gue. Lagian mau curhat apaan, sih?”
“Curhat masalah penting lah.” Sahut Tiwi cepat.
Aku berdecak. “Ck! Kalo penting mending curhatnya sama Mamah Dedeh aja, Wi.” Ucapku tertawa. Lalu menekan tombol lift.
Tiwi ini memang selalu heboh kalo menyangkut soal curhat. Pantas saja kalau hari ini dia sedikit kecewa karena aku kemarin menolak ajakkannya.
“ish, Mbak Adel. Lagian gue itu mau curhat masalah gebetan baru gue.”
“Apa?” Aku langsung kaget mendengar ucapan Tiwi. “Gila! Baru dua hari yang lalu lo bilang putus sama cowok yang masih lo suka itu. Eh ... Sekarang udah ada gebetan baru aja. Nggak ingat lo dengan drama yang lo buat dua hari lalu?”
Tiwi malah tertawa ketika mendengar perkataanku. Memang dasar orang aneh. Tidak di rumah tidak di kantor ketemunya sama orang aneh semua.
Sabarkan aku Gusti.
“Jelas ingat, Mbak.” Tiwi masih tertawa. “Lo janji ya jangan bilang sama siapa-siapa.” Tiwi mengacungkan jari kelingkingnya ke arahku. Tentunya sikapnya itu malah membuatku semakin bingung.
“Iya.” Kataku pasrah.
“Sebenarnya gue kemarin putus juga gara-gara ketahuan deket sama gebetan yang ini.” Ucap Tiwi tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Astaga ... Human ini benar-benar aneh. Tiwi segera berjalan keluar lift setelah pintunya terbuka. Sedangkan aku malah asyik bengong sembari memikirkan apa yang baru saja aku dengar. Semoga saja keanehan yang aku dapat pagi ini tidak mempengaruhi aktivitasku seharian nanti.
Aku segera berjalan keluar untuk menyusul Tiwi. Tepat saat langkahku sudah berhasil keluar dari dalam lift. Aku langsung di kejutkan dengan penampakan yang membuat dahiku seketika mengernyit dalam.
“Sam?” Aku makin mengernyit sembari terus melangkah. “Siapa cewek itu?” Gumamku dengan penuh tanda tanya.
##
Kira-kira siapa hayo??
__ADS_1
Pantengin terus kelanjutannya ya.. love you all..