My Boss Samuel

My Boss Samuel
48. Batas Kesabaran


__ADS_3

Selamat hari sabtu..


Sebelumnya saya mau minta maaf..


untuk novel ini saya hanya bisa UP satu kali sehari..


Maklum eeiimm banyak kerjaan di dunia nyata.. hahaha


yang penting rajin setiap hari ya.. Ok lanjut!!


Jangan lupa ya guys...


Like, Vote dan Komen !!


Happy reading !!


##


Aku menggigit kuku jariku dengan perasaan was-was. Semua mata yang ada di ruangan ini tengah menatapku dengan tatapan yang sangat tak aku mengerti. Aku terus menggerakkan kakiku untuk menghentak lantai seiring dengan perasaan cemasku.


“Ok! Gue minta maaf ... Gue khilaf.” Ucapku seraya melepas gigitan pada kuku jariku.


“Kok lo minta maaf sama kita, sih?” Kata Mas Angga.


“Mbak Adel memang harus minta maaf sama kita. Terutama gue!” Aku segera menatap Tiwi. “Parah lo, Mbak! Lo nyakitin suami impian gue.”


Rasanya kepalaku bertambah pusing setelah mendengar ucapan Tiwi.


“Gila! Runcing banget hak-nya.” Kata Mbak Sari.


Kemudian Rizal berjalan ke arahku dan mengambil sepatu highheels hitamku yang hanya tinggal sebelah kirinya saja. Aku sudah melepas highheels ku sejak tadi, setelah insiden sepatu melayang.


Ah ... Rasa nyeri itu menyerang kepalaku lagi. Setelah aku mengingat kejadian yang baru saja terjadi setengah jam yang lalu.


“Bisa buat gantiin paku nih. Pantas aja muka Pak Sam sampai bocor.” Rizal memainkan sepatu high heels hitamku itu di tangannya.


“Hah? Bocor?” tanyaku sedikit panik.


“Menurut lo! Lo kira mukanya tadi sampai berdarah karena apa, sayang?” Aku mengerucutkan bibir ke arah Rizal. “Ya pasti gara-gara inilah.” Kata Rizal sembari mengangkat sepatuku itu ke depan wajahku.


Aku menggigit bibir bawahku pelan. Kejadian tadi benar-benar di luar kendaliku. Tidak tahu kenapa, rasanya aku hanya marah dan kesal. Dan akhirnya berujung dengan hal yang membuatku menyesal. Seperti saat ini.


“Kalau sampai lukanya bikin muka ganteng Pak Sam berkurang. Gue nggak akan maafin lo, Mbak!” Ucap Tiwi dengan nada sungguh-sungguh.


“Kok lo gitu sih, Wi.” Protesku.


“Mending sekarang lo samperin, Sam, aja deh, Del.” Mas Angga mencoba memberi solusi.


“Iya tuh ... Samperin sana! Terus lo minta maaf. Kalo perlu lo sujud-sujud deh di depannya. Takutnya nanti malah kita semua juga ikut kena imbasnya lagi.” Imbuh Mbak Sari.


Aku masih diam dengan wajah bingung. Bukannya aku tak mau minta maaf kepada Sam. Tetapi, aku lebih takut untuk bertemu dengannya. Bagaimana jika Sam marah padaku? Secara kalau dia marah, uh ... Seramnya udah melebihi ketemu setan saat mau boker di kamar mandi.


“Ya elaaah! Malah bengong. Buruan sana!” Mbak Sari mendesakku lagi. Aku hanya menatapnya ragu-ragu lalu dengan cepat aku berdiri.


“Ternyata Bogel amat lo, kalo nggak pakai sepatu tinggi.” Aku melotot ke arah Rizal yang kini sudah terlihat menertawakanku.


Sialaan! Nggak tahu temannya lagi kesusahan. Dia malah ngetawain.


Aku segera berjalan menuju Klinik kantor dengan perasaan campur aduk. Jantungku semakin terpompa keras saat tanganku menyentuh pintu klinik tersebut. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya melangkahkan kakiku masuk ke dalam.

__ADS_1


Begitu masuk aku langsung dapat melihat Sam yang tengah duduk di atas ranjang klinik yang tirainya sengaja di biarkan terbuka. Dan di depannya ada seorang perawat yang terlihat masih sibuk mengobati luka Sam. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku ketika melihat luka sobek di pelipis kanan Sam.


Segera aku langkahkan kakiku untuk mendekat ke arah Sam. Dan hal lain yang mencuri perhatianku saat ini adalah sepatu highheels hitamku. Ternyata sepatu itu sejak tadi masih berada di dalam genggaman tangan Sam.


“Sudah, Pak.” Ucap seorang perawat tersebut.


“Terima kasih.” Sam tersenyum tipis saat perawat tersebut berjalan keluar. Dan sekarang hanya tinggal aku dan Sam yang ada di kamar klinik ini.


“Pak ...”


“Apa?!” Tanya Sam dengan nada dingin.


“Maaf ...” Jawabku dengan bibir tertekuk.


“Sekarang kamu baru bilang maaf setelah berhasil melemparkan sepatu ini.” Sam mengangkat sepatu tersebut hingga ke depan wajahku.


“Habisnya Pak Sam buat saya kesal.” Aku masih berusaha membela diri.


“Loh ... Berarti kamu belum paham dengan maksud saya tadi?” aku hanya mengernyit sembari menatap Sam. Jelas aku tak paham, yang ada malah emosi.


Sam segera beranjak berdiri dan hendak berjalan keluar. Namun, dengan cepat aku menahan lengannya.


“Pak ...” Sam segera menoleh ke arahku, “sepatu saya.”


Sam menatapku dengan tatapan dingin. “Sepatu ini akan saya sita.”


“Loh, tapi jangan sekarang, Pak. Besok deh! Saya ganti dulu dengan sepatu yang lain. Soalnya itu ... Sepatu kesayangan saya.” Ucapku dengan nada sedikit memelas.


Sepatu highheels itu memang sepatu kesayanganku dan terfavoritku. Dulu aku harus sampai berjuang mati-matian untuk mendapatkan sepatu itu. Melawan sekumpulan para wanita bar-bar yang saling berebut untuk mendapatkan barang yang mereka incar.


Aku merasa rasa percaya diriku semakin meningkat saat menggunakan sepatu highheels hitam tersebut.


“Bapak tega melihat saya memakai ini.” Pandangan mataku turun ke bawah. Menunjukkan ke Sam kalau saat ini aku hanya memakai sendal jepit yang aku pinjam dari Office Girl di pantry.


“Bukan urusan saya!” Sam sangat menekan kalimatnya tersebut. Lalu dengan cepat ia berjalan keluar dan dengan cepat juga aku menyusulnya.


Aku terus merengek dan berusaha membujuk Sam agar mau mengembalikan sepatu itu padaku. Namun usahaku ternyata sia-sia. Dia benar-benar terlihat sangat marah saat ini. Pintu lift terbuka dan Sam segera keluar sementara aku terus mengekor di belakangnya.


“Pak ...” rengekku. Saat ini aku sudah sampai di ruanganku lagi. “Sepatu saya!” aku sudah sangat frustrasi karena Sam.


Sam segera memutar langkahnya ke arahku lalu berjalan mendekat. Tangan kanannya menenteng tinggi sepatu highheelsku.


“Mulai besok pagi, saya nggak akan mengizinkan anak buah saya memakai sepatu seperti ini.” Aku langsung melotot setelah mendengar ucapan Sam. Lalu dia memutar langkahnya menuju ke yang lainnya. “Dan jika ada yang melanggar ... Saya nggak akan segan-segan untuk memberikan surat peringatan, mengerti!” Sam menekan kata terakhirnya dengan sangat tegas.


Tanpa menunggu lama Sam segera masuk kembali ke ruangannya. Dan meninggalkan aku yang masih berdiri dengan wajah bengong.


##


Baru kali ini aku merasa tak percaya diri saat berangkat ke kantor. Aku terpaksa harus memakai flat shoes-ku yang sudah lama tak pernah aku pakai. Aku berjalan malas ke arah mejaku dan berusaha tak memperdulikan tatapan dari teman-temanku.


“Kusut banget mukanya, Del? Sengaja mau buat gue gemes ya.” Ucap Rizal saat aku sudah duduk di kursiku.


“Gue kurang percaya diri kalo pakai flat shoes begini.” Aku sedikit mengangkat kakiku agar semua tau kalo aku memang kurang percaya diri.


“Gue juga. Tapi, ini semua kan juga gara-gara ulah lo sendiri.” Kata Mbak Sari yang malah membuatku teringat lagi dengan kejadian kemarin.


“Kalo gue fine-fine aja, tuh. Mau pakai highheels atau flat shoes gue tetap nyaman.” Tiwi berdiri menunjukkan kakinya yang hari ini juga memakai flat shoes.


“Nah ... Lo contoh Tiwi, tuh.” Aku menatap ke arah Mas Angga. “ BTW, lo makin kelihatan kayak anak SMP deh, Wi. Jadi ... pengen jitak kepala lo.” Imbuh Mas Angga yang membuat Tiwi cemberut.

__ADS_1


Dan ucapannya tersebut berhasil membuatku tertawa. Di tengah candaan kami, tiba-tiba Sam datang dengan raut wajah dingin. Bahkan dia sama sekali tak mengucap sapaan ke kami semua dan lebih memilih langsung masuk ke dalam ruangannya.


Dan lagi-lagi perhatianku jatuh ke perban yang masih menempel di pelipis kanannya itu. Haduh ... Luka itu akan menimbulkan kemarahan berapa lama ya.


“Kayaknya Sam masih marah, tuh.” Mbak Sari membuka suaranya begitu pintu ruangan Sam tertutup.


“Gue rasa juga begitu.” Kini Mas Angga menatapku dengan tatapan horor yang tiba-tiba membuatku takut. “Hati-hati, Del ... Serangan orang marah itu kadang berbahaya.” Kalimat Mas Angga di akhiri dengan suara tawa jahatnya.


Dan ucapan Mas Angga terbukti. Seharian ini rasanya Sam sengaja mencari-cari kesalahanku agar dia bisa memarahiku. Entah hanya kesalahan sekecil apapun, dia selalu tidak terima dan langsung membentakku seenak hatinya.


Sakit hati? Tentu saja.


Siapa yang tak sakit hati jika di perlakukan seperti itu oleh atasan. Apalagi kalau atasan itu ternyata juga pacarku. Lah ... Kok jadi kayak judul sinetron di tivi-tivi ikan terbang itu ya.


Aku ulang deh. Apalagi atasanku itu pacarku sendiri. Rasanya seperti mendapat dua serangan sekaligus. Kalau marahnya sebagai atasan paling Cuma masuk ke kepala. Masuknya lewat telinga kanan terus keluar lewat telinga kiri. Kalau marahnya sebagai pacar, otomatis masuk ke hati juga.


“Pak ... Bisa bicara sebentar?”


“Nggak bisa saya sibuk!” kata Sam dengan nada dingin.


“Pak, saya mau bicara di ruangan Bapak?”


“Nggak bisa! Saya banyak kerjaan. Lain kali saja!”


Kalimat itu yang selalu aku lontarkan ke Sam. Namun juga seperti itu jawabannya.


Aku menatap ke arah Mbak Sari, Rizal, Tiwi dan Mas Angga dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. Aku menepuk-nepuk dadaku sendiri untuk menunjukkan kalau sakitnya tuh di sini.


##


Hari kedua aku masih berusaha untuk meminta maaf ke Sam. Ya, walaupun masih tetap sama hasilnya. Tetapi aku tidak menyerah. Hingga siang ini, pandanganku seketika langsung menoleh ke arah suara pintu lift yang terbuka. Tepat di sana Sam keluar dan di belakangnya ada Mira.


Hah? Aku hanya mengernyit tak paham. Sam berjalan keluar bersama Mira dan sesekali tertawa saat Mira mengatakan sesuatu.


What the hell!!


'Apa-apaan manusia itu. Berani-beraninya tertawa dengan wanita lain. Sedangkan aku pacarnya saja sejak kemarin di cuekin dan di marahin secara terus menerus. Ini nggak bisa ku biarkan' ucapku dalam hati dengan penuh emosi.


“Baik, Pak. Nanti saya sampaikan ke Pak Arif.” Sam terlihat mengangguk. “Kalo begitu saya permisi, mari.” Mira tersenyum sembari menyelipkan rambut ke belakang telingannya. Dan sebelum dia berjalan ia sempat melirik ke arahku.


Ok, fine! Kesabaranku ada batasnya. Dan ini sudah melebihi batasku. Lihat saja, tunggu pembalasanku.


.


.


.


.


To Be Continued...


##


Hayoo... Belum ada adegan mesranya.. hahaha.


Jangan protes ya! Pokoknya pantengin terus kelanjutannya..


Salam dari penulis amatir ❤️

__ADS_1


__ADS_2