
Hallo semua...
Semoga kalian sehat selalu.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Seperti pagi biasanya, aku dan teman-temanku sudah berkumpul di ruangan dengan membawa bahan gosip yang tentunya semakin menambah heboh suasana pagi ini. Namun semua kehebohan tersebut langsung sirna begitu Sam datang dengan membawa sejuta aura dinginnya.
Aku dan yang lainnya kompak berdiri memberi salam dan hormat ketika atasan kami tersebut lewat. Setelah itu Sam membalas dan masuk ke ruangannya. Begitulah yang aku harapkan tapi ... Ternyata tidak seperti itu pemirsa.
Begitu Sam akan masuk ke ruangannya, Mas Angga dengan cepat berdehem dan menahan Sam agar tetap berdiri di posisinya.
“Kenapa?” tanya Sam.
Mas Angga berdehem lagi sambil melirik ke arah Mbak Sari dan Rizal yang terlihat begitu antusias sekali menunggu kalimat yang akan di ucapkan Mas Angga. “Kayaknya ada kabar bahagia yang belum kamu bagi ke kita ya, Sam.”
Klise sekali sih sindiran Mas Angga. Mereka pasti masih penasaran dengan cincin yang di gunakan Sam.
“Kabar apa?” Sam mengangkat kedua alisnya.
“Hm, itu cincin baru kayaknya.” Akhirnya Mas Angga langsung to the point.
Mbak Sari berdehem. “He’em tuh cincin baru, baru anget kayaknya.”
“Dih, tahi ayam kali ah anget segala.” Celetuk ku yang ternyata berhasil mendapat tatapan tajam dari teman-temanku.
Helloo apa ada yang salah dengan perkataan ku?
Sam sedikit tersenyum. “Cincin ini?” dia mengangkat jari di mana ada sebuah cincin yang sudah berhasil membuat kaum perghibahan ini penasaran sejak kemarin.
“Nah, itu iya.” Jawab mereka kompak, kecuali aku.
“Cincin itu yang buat saya nggak tidur semalaman lho, Pak.” Ujar Rizal.
“Ck, bohong banget lo tukang ngebo kayak elo sampai bilang nggak tidur semalaman.” Tukas ku kesal.
Rizal meringis ke arahku dengan bibir mengerucut. “Itu cincin tunangan ya, Pak?” imbuhnya lagi tapi bukan ke aku melainkan ke Sam.
“Kok Bapak tega sih buat saya patah hati, hiks.” Imbuh Tiwi.
Inginku bilang bodo amat saat ini juga di depan Tiwi.
“Selamat ya, Pak.” Sahut Rio.
“Tunangan sama siapa, Sam?” tanya Mbak Sari.
Kalau berdasar urutan posisi duduk harusnya ini giliran ku bertanya tetapi aku hanya diam sembari menggaruk-garuk tengkuk ku. Ya, gimana ya masa aku bertanya dengan hal yang sudah aku ketahui jawabannya kelihatan bodoh banget dong di depan Sam.
“Kapan nikahnya?” aku langsung melotot ke Mas Angga yang secara gamblang menanyakan hal tersebut. Hm, sudah nikah aja nih pikiran Bapak satu ini.
Apa mereka sudah benar-benar membagi rentetan pertanyaan itu sejak kemarin? Gila banget sih, semuanya di tanyain. Aku yang dengar saja bingung mau jawab yang mana. Bikin kesel aja!
Sam menggeleng pelan lalu menatap anak buahnya satu persatu. “Iya ... Ini cincin tunangan saya.”
Akhirnya Sam membuat pengakuan yang menggemparkan sejagat kantor. “HAAA!!!” semua terlihat kaget dengan jawaban Sam.
Ada yang geleng-geleng tak percaya, ada yang mengelus dada tunggu dulu yang ini kebangetan deh kayaknya. Ada yang langsung nangis yang ini juga lebay! Skip aja.
__ADS_1
“Sama siapa, Sam?” tanya Mbak Sari. Aku yakin dia sudah sangat kepo sekali.
“Sama ...” Aku hanya bisa menggeleng pelan dengan mata melotot ke arah Sam, jangan katakan Sam kalau tidak ingin aku tonjok saat ini juga. “Lebih baik kalian kerja dulu, ini sudah waktunya bekerja.”
Rizal mendesah sambil menepuk jidatnya. “Ah, Ya Allah! Cobaan apa lagi ini.” Pekiknya.
“Apa?” Sam menatap Rizal dengan kedua alis terangkat.
Rizal yang menyadari mendapat tatapan tersebut langsung meringis. “Hehe, cobaan kesabaran, Pak, saya harus lebih banyak-banyak bersabar.” Rizal masih meringis ke arah Sam. “Kalau begitu selamat bekerja, Bos.”
Sam tak menjawab lalu berjalan masuk ke ruangannya. Huft ... Lega.
Sekarang rasanya aku ingin sekali tertawa, menertawakan teman-temanku yang terlihat sangat kecewa sekali gara-gara Sam menggantung ucapannya. Lagian siapa suruh kepo, santai saja dan tunggu undangannya.
•••
“Kamu tunggu di apartemen aja, Sam. Aku mau beli sesuatu dulu.” Ucapku ketika mobil Sam berhenti di sebuah swalayan.
“Aku temani aja ya, lagian beli apa sih?” Sam tampak penasaran.
Ya mana mungkin aku membiarkan Sam ikut denganku dan tidak mungkin juga aku menjawab jujur mau beli apa. Kan hari ini rencananya aku mau melihat-lihat underware gara-gara postingan di sosmed kemarin yang katanya ada flash sale khusus hari ini.
Tidak mungkin sekali kan kalau Sam harus ikut denganku. Hm ... Tidak bisa di bayangkan pokoknya.
“Enggak usah, Sam, bentar aja kok. Kamu tunggu aja di apartemen kamu dan jangan lupa masakin buat aku.” Aku meringis ke arah Sam berharap dia mau menuruti ucapan ku.
Akhirnya Sam mengangguk. “Kabarin kalau butuh aku jemput.” Aku hanya tersenyum sambil mengacungkan dua jempol ke arahnya.
Sesuai janjiku, aku tidak boleh berlama-lama di sini jadi aku harus benar-benar gercep sekarang. Ternyata benar hari ini ada banyak sekali flash sale pakaian dalam, bra dan lingerie dari merk terkenal. Aku tak boleh melewatkan kesempatan ini.
Selesai membayar aku langsung keluar tapi sebelum memutuskan memesan abang ojol, aku memilih duduk dan membeli es teh terlebih dahulu di warung pinggir jalan depan swalayan ini. Dan di sini pertemuan tak terduga terjadi.
“Adelia?” aku langsung tersenyum canggung ke orang tersebut. “Gak nyangka ketemu lagi.”
Aku harus bagaimana ini. “Ah, iya nggak nyangka banget ya.”
“Duh, gue bisa bayar sendiri lho padahal kan jadi ngrepotin elo, Ka.” Aku jadi tidak enak dengan Raka.
“Kayak sama siapa aja sih, Del. Lagian kita udah lama nggak ketemu lho ... Terus pas terakhir ketemu lo malah kabur aja waktu itu.” Ucap Raka yang langsung mengingatkanku di mana kejadian Sam melihat pertemuanku dengan Raka kala itu.
Aku jadi was-was nih kalau Sam tiba-tiba muncul lagi. Bisa jadi perang dunia jilid empat nih. Aku dan Raka masih sibuk menikmati es teh sambil duduk di sebuah bangku sampai aku kelupaan kalau aku harus memesan ojek online.
“Del ...” panggilnya.
“Ya, kenapa?” aku langsung menoleh ke arahnya.
“Maaf soal kejadian dulu ya.” Loh apa ini, kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu dia meminta maaf lagi. Aku saja sudah hampir lupa. “Gue nyesel banget.”
“Eh?” aku langsung kaget. “Ah, nggak apa-apa gue malah udah lupa kali.”
Aku mencium bau-bau mantan yang ingin mengajak balikan dan sebelum hal tersebut terjadi aku harus segera mungkin melarikan diri.
“Tapi gue masih nyesel sampai sekarang.” Kata Raka.
“Ya elah, udah lupain aja.” Aku langsung berdiri. “Kayaknya gue harus segera balik deh ada janji soalnya.” Namun ketika aku berdiri Raka berhasil menahan tanganku dan pandangannya jatuh ke cincin yang melekat di jari manis kiriku.
“Lo udah tunangan?” Raka masih tak melepas tanganku.
“Iya, baru aja sih.” Sumpah aku ingin sekali menarik tanganku saat ini juga. “Gue buru-buru nih, Ka.”
“Tunggu, Del. Gue boleh minta nomor lo?” Raka masih bersikeras menahan tanganku sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Duh, lain kali aja deh gue beneran buru-buru.” Ucapku dan jangan berharap kalau aku akan memberikan nomorku.
__ADS_1
“Tapi, Del ...” sebelum Raka melanjutkan kalimatnya aku harus cepat-cepat mencari akal.
“Raka!” teriakku sedikit keras.
Dan sedetik kemudian satu pukulan mendarat ke wajah Raka. Aku bahkan sampai kaget dengan kejadian cepat tersebut. Astaga ... Bagaimana kalau sampai kejadian ini menimbulkan keributan?
“Brengsek lo! Jangan pernah berani lagi sentuh cewek ini.” Aku tertegun mendengar makian yang baru saja di lontarkan oleh orang yang saat ini sudah berdiri di depanku lalu menggeret tanganku meninggalkan Raka begitu saja.
Aku berhenti tepat di samping mobil berwarna hitam. Dan tak lama setelah itu aku langsung menarik tanganku dari cekalan tangannya.
“Uupps, sorry ... Gue gak bermaksud curi kesempatan, Del.”
Aku langsung melipat kedua tanganku dan melirik ke arahnya. “Raffael, kok lo bisa ada di sini sih?”
Raffael tersenyum. “Gak sengaja lewat aja sih, eh ... Malah lihat elo lagi di pegang cowok lain.” Aku langsung melotot ke arah Raffael. “Maksud gue kan gue nolongin elo, Del. Berani banget tuh cowok kurang ajar sama calon istrinya Sam.” Entah kenapa Raffael malah tertawa di akhir kalimatnya.
“Terima kasih ya kalau begitu.” Ucap ku kemudian.
Raffael ini ternyata paling berbeda dari saudara-saudara Sam yang lainnya. Bahkan bahasanya saja terdengar jauh lebih santai kalau ngobrol denganku. Dan yang lebih membuatku terkejut dia memiliki sifat yang hampir sama persis dengan Sam, sama-sama gampang emosian.
Apalagi dia sampai mengeluarkan kata-kata kasar ketika memukul Raka tadi. Aku saja hampir speechless.
“Sudah kewajiban gue.” Raffael tertawa lagi. “Lo mau kemana? Gue antar aja yuk.” Imbuhnya.
“Gue mau mampir ke apartemen Sam.” Dia langsung menjentikkan jarinya ketika mendengar ucapanku.
“Kebetulan gue juga mau ke sana bareng aja yuk!” Raffael langsung membuka pintu mobilnya lalu menyuruhku masuk.
Di sepanjang perjalanan Raffael banyak sekali mengobrol. Bahkan hal yang tak penting pun dia bicarakan sampai membuatku pusing mendengarnya. Padahal wajahnya terkesan galak lho Raffael ini tapi ternyata cerewet sekali. Sampai akhirnya mobil Raffael berhenti di basement apartemen Sam.
“Raff ...” panggilku ketika kami berdua keluar mobil.
“Kenapa, Del?” dia terlihat bingung.
Aku sedikit canggung mengatakannya. “Soal masalah tadi ... Jangan bilang ke Sam ya. Gue takut dia marah.”
Raffael mendengus. “Gue tahu kali, gue nggak bakalan cerita kok. Gue masih ada rasa kasihan sama cowok tadi.”
“Maksud lo?” tanyaku bingung.
“Gue kasihan kalau sampai cowok tadi di hajar habis-habisan sama Sam.” Raffael langsung tertawa dengan begitu kerasnya saat ini.
Apa dia gila ya? Aku menggeleng pelan sebelum akhirnya kembali berjalan karena pasti saat ini Sam sudah menunggu kedatanganku.
Apa reaksi Sam ya kalau tahu aku datang dengan Raffael, Ck!
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1
##
Sinyal kalian hari ini jelek enggak sih, kok dari tadi punyaku jelek ya... padahal untuk buka aplikasi lainya lancar jaya. Tapi giliran buka aplikasi ini pengambilan data gagal terus. Kan bikin males, huhuhu