My Boss Samuel

My Boss Samuel
52. Hujan


__ADS_3

Apa kabar semua??


Sehat selalu ya...


Jangan lupa kasih Like, Vote dan Komen !!


Share apalagi boleh bwangeet!!


Happy reading !!


##


Tak seperti pagi biasanya. Pagi ini gerimis sudah menyapa, menemani setiap insan yang hendak melakukan aktivitasnya. Termasuk diriku.


Aku bukanlah pecinta hujan. So, bisa di bayangkan sekesal apa diriku pagi ini. Aku selalu malas kalau mendengar kata hujan. Anything wet, anything cold, i really hate it!


Banyak yang bilang, 'hujan selalu membawa kenangan bagi setiap insan yang merasakan'


Preeett! Belum ngerasain aja berangkat ke kantor kehujanan. Seharian kedinginan gara-gara bajunya basah. Apalagi kalau biasanya baju yang kena air hujan itu baunya agak apek begitu kan.


“Ah, hujan, kenapa engkau datang di saat waktu yang tidak tepat?” Aku melirik sinis ke arah Vino. Pagi ini aku dan Vino sudah bersiap keluar rumah sebelum gerimis ini datang. “Memangnya ini sudah musim hujan, Mbak?”


Aku mendengus. “Setahu gue belum.” Aku lalu melipat kedua tanganku ke depan. “Lo tau nggak, Vin, kalo gue benci hujan.”


“Ck! Mending lo ingat jaman kecil lo dulu deh, Mbak. Sebelum ngomong kalo lo benci hujan.” Aku menatap Vino dengan tatapan heran. Beraninya dia berkata seperti itu. “Siapa dulu yang suka bandel main hujan-hujanan? Siapa yang dulu suka ... Lo lihat itu talang air. Lo kan, Mbak, yang dulu suka berdiri di bawah situ sampai kepala lo pusing gegara kelamaan di bawah situ.”


Aku hanya meringis ke arah Vino. Mulut bocah semprul itu berhasil membawaku ke ingatan bertahun-tahun silam. Dan itu memang benar.


“Lo tau, kalo seiring bertambahnya usia. Hal yang dulunya kita sukai bisa menjadi sangat tidak kita sukai kalo sudah menjadi dewasa.” Ucapku sok bijak.


Vino berdecak. “Ck! Gue nggak mood ya. Pagi-pagi hujan begini, di tambah harus mikirin apa yang barusan lo omongin. Sumpah gue nggak mood, Mbak.”


Sedetik kemudian aku berhasil mendaratkan pukulan ke kepala Vino. “Awww!! Sakit, Mbak.”


“Lo jadi adik keterlaluan banget, sih. Gue nggak yakin kalo pacar lo betah sama kelakuan lo.” Ucapku kesal.


By the way, ini sudah hampir mepet dengan jam masuk di kantorku. Tetapi, aku tidak peduli. Siapa suruh pakai hujan segala? Sayangnya juga Papa sedang ada urusan di luar kota. Jadinya tak ada mobil di rumah.


“Cewek mana sih, Mbak, yang nggak betah sama cowok humoris kayak gue.” Vino terkekeh. Aku semakin melongo ketika dengan percaya dirinya Vino mengatakan hal tersebut.


“Lo sadar nggak sih, Vin. Kalau lo itu ngeselin.” Ujarku kesal.


“Kan kata elo, Mbak. Bukan kata cewek-cewek yang deket sama gue.” Sahutnya dengan enteng.


“Lah ... Terus kalo kata cewek lo gimana?” tanyaku penasaran dong.


“Cewek gue?” Vino menunjuk dirinya dengan jari telunjuk. “Gue nggak punya cewek.”


Aku tertawa sangat kencang. “Seorang Vino Linggarjati ternyata nggak punya pacar. Preeet!” Aku segera menghentikan tawaku. “Lo pikir gue percaya? Hah ... Jangan-jangan lo mau jadi fakboy ya, Vin.”


Vino mengibas-ngibaskan tangannya ke arahku. Dia hendak menyanggah ucapanku tetapi niat itu harus di urungkannya.


“Ya Allah ... Punya anak dua sama aja. Kalian nggak pergi kuliah sama kerja?” tiba-tiba Mama keluar sembari marah-marah. Telingaku dan telinga Vino menjadi korban ke bar-baran Mama pagi ini.


“Ampun, Ma!” teriak Vino. Akhirnya Mama melepas tangannya dari telingaku dan Vino.


“Mama nggak lihat ini masih hujan.” Ucapku sedikit kesal. Duh, panas banget kupingku.


“Hujan masih turun air pada takut banget, sih.” Mama mulai sewot.

__ADS_1


“Ma ... Vino nggak mau sakit. Cukup hati Vino aja yang sakit. Vino nggak sanggup kalo badan ini ikut sakit.” Aku tertawa mendengar ucapan Vino. Astaga, bocah itu.


Mama memukul lengan Vino. “Ngomong apa sih! Ya Allah sehatkanlah akal anak-anak hamba.”


Diin....


Aku, Mama dan Vino seketika menoleh ke sumber suara. Tepat di luar gerbang rumahku sebuah mobil berwarna hitam berhenti di sana.


Siapa? Tanyaku dalam hati.


Tak lama setelah itu pintu mobil terbuka lalu turunlah seorang berpakaian jas rapi dari sana.


“Sam.” aku menatap Sam mulai berlari menuju teras rumahku.


“Pagi, Ma.” Sam menjabat tangan Mamaku.


“Kok nggak pakai payung sih, Sam. Basah kan baju kerjamu. Mau di keringin dulu di dalam. Del, bantuin Sam ngeringin bajunya sana.” Ini Mama kenapa ya, tadi aku dan Vino di suruh hujan-hujanan. Giliran Sam yang kehujanan sewot banget.


“Nggak usah, Ma. Nanti juga kering sendiri.” Sam tersenyum. “Aku mau jemput kamu, Del. Kita berangkat bareng ya?”


“Hah?” aku mengangkat alisku tinggi. “Kok kamu bisa tahu kalo aku belum berangkat. Aku kan nggak ngasih kabar ke kamu.”


Wajah Sam yang sedikit basah karena terkena air hujan itu tersenyum ke arahku. “Feeling aja.”


Mama dan Vino kompak terbatuk. Aku melupakan keberadaan mereka. Akhirnya aku berangkat bareng Sam, tak lupa Vino juga ikut bersama kami. Sam mengantar Vino terlebih dahulu ke kampusnya. Setelah itu barulah kami berangkat ke kantor.


##


“Kemana mobil kamu?” tanyaku.


Aku membuka pintu mobil Sam. Tak lupa aku juga membuka payung yang aku bawa tadi karena gerimisnya tak kunjung reda. Aku berjalan ke arah Sam, menunggu Sam keluar dari mobil supaya tidak terkena air gerimis. Kok jadi sweet banget ya aku.


“Terima kasih.” Ucap Sam singkat saat dia sudah turun dari mobilnya. Ia mengambil alih ganggang payungku supaya tinggi payungnya bisa setara dengan tinggi badannya.


Aku dan Sam berjalan di bawah payung kecil melewati gerimis di sepanjang parkiran kantor ini. Aku bisa melihat jelas bahu kanan Sam sedikit basah karena payung yang kita gunakan tak cukup besar untuk melindungiku dan Sam dari gerimis pagi ini.


“Itu juga mobilku. Kalo pakai mobil yang biasanya sayang aja. Nanti kena hujan.” Ujarnya sambil terkekeh.


Aku tak salah dengar kan? Duh ... Sama mobil aja sayang. Apalagi sama pacar. Hahaha.


“Kalo nggak mau kena air hujan mendingan kamu tadi nggak usah berangkat aja.” Kataku.


“Nggak bisa, Del. Nanti yang ngawasin kalian siapa?” aku hanya mendengus ketika mendengar ucapan Sam. Tidak perlu di awasi justru aku dan yang lainnya pasti malah lebih bahagia.


“Sam kalaupun kamu~ ... Aaakkhh!” Sam segera merengkuh pinggangku dan tanganku reflek memeluk lengan Sam.


Batu kerikil sialan! Aku hampir saja terjatuh gara-garanya. Aku menatap Sam dengan wajah kaget karena hampir terjatuh. Dan Sam membalas tatapanku dengan tersenyum.


“Perlu aku gendong supaya kamu bisa lebih berhati-hati?” Sam menatapku sambil tersenyum jahil.


Aku membelalakkan kedua mataku ke arah Sam. Segera ku pukul Sam berkali-kali hingga dia mengaduh. Bahkan aku sampai tak menyadari kalau saat ini aku dan Sam sudah keluar dari batas payung. Dan hal tersebut membuat bajuku sedikit basah.


Kantor sudah terlihat sepi karena memang aku dan Sam datang terlambat hari ini. Apalagi tadi harus mengantar Vino terlebih dahulu.


Sam menekan tombol lift ke lantai ruangan kami.


“Del, gimana kalo jumat besok kamu ikut aku ke Bali?” Sam menatap ke arahku.


“Apa?” kataku sedikit tersentak. “Maksud kamu?”

__ADS_1


“Kamu ikut aku ke Bali. Ketemu keluarga aku, sabtu besok libur kan? Jadi kita bisa berangkat hari jumatnya sepulang kerja.” Jelas Sam.


Aku masih tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Sam. Bagiku kalimatnya tersebut terdengar sangat mendadak.


“Aku nggak bisa ngasih jawaban sekarang.” Kataku yang bertepatan dengan terbukanya pintu lift. Aku segera keluar dari dalam lift terlebih dahulu.


Sejujurnya aku memang sangat bingung. Bertemu dengan keluarga Sam, apakah aku siap? Seperti apa keluarganya, apakah mereka bisa menerimaku dan baik padaku?


Arrgghh! Tiba-tiba pikiran buruk itu melintas memenuhi isi kepalaku. Padahal belum juga ketemu sama keluarganya.


“Dari mana lo, Del. Jam segini baru datang. Mana basah-basahan lagi.” Belum sempat aku menjawab perkataan Mbak Sari. Sam sudah lebih dulu mengeluarkan sapaannya ke ruangan ini.


“Loh, kok Pak Sam juga basah-basahan.” Rizal menatapku dan Sam secara bergantian.


Aku mulai risih dan ini tak bisa di biarkan. “Oh ... Tadi nggak sengaja ketemu di jalan.”


“Jalan mana?” pertanyaan Mas Angga berhasil mengundang perhatianku dan juga Sam.


“Jalan ke kantor lah, Ngga. Tadi saya lihat Adelia berteduh makanya saya ajak bareng.” Aku bisa tertawa lega dalam hati setelah mendengar ucapan Sam. Sudahlah, biar Sam aja yang menangani semua ini.


Aku pun memutuskan berjalan ke arah mejaku.


“Udah deh! Nggak usah kepo. Iri bilang Mas.” Ucapku sebelum menimbulkan pertanyaan baru dari mereka.


Sejauh ini mereka masih belum menyadari kalau seharusnya aku dan Sam itu tak searah.


“Dih, siapa juga yang iri.” Sahut Mas Angga.


“Elo! Baru aja tuh.” Tukasku dan Mas Angga hanya menekuk bibirnya ke arahku.


“Lo jangan ke Ge-eRan dulu, Del. Muka lo tadi pasti kelihatan melas banget. Makanya Sam mau nebengin lo.” Ucap Mbak Sari tak terima.


Belum tahu saja Mbak Sari. Aku tak perlu memasang wajah memelas agar Sam membolehkan aku menumpang di mobilnya. Orang setiap hari aja dia pengennya aku mau naik mobilnya terus tuh.


“Wah ... Tau gitu. Kenapa tadi nggak gue aja yang lihat Adelia, ya. Kan lumayan, hujan-hujanan bisa di belokkin bentar.” Rizal tertawa di ikuti Mbak Sari dan Mas Angga.


Dasar otak kadal. “Lo tahu kan, salah satu tanda doa yang di ijabah itu kalau lagi pas turun hujan. Nah ... Tadi gue sengaja doa biar gue terhindar dari manusia lucknut macam elo!”


“Tega lo, Del. Tau gitu tadi gue juga berdoa biar bisa ketemu sama lo.” Aku hanya mendengus. “Secara doa gue lebih baik. Pasti Tuhan bakalan ngabulin.”


“Sok tau lo! Tuhan lebih tau mana doa yang benar-benar baik dan yang bukan.” Cibirku.


“Sudah ngobrolnya?”


Seketika pandanganku langsung tertuju ke arah Sam yang saat ini masih berdiri di ruangan ini. Astaga ... Bagaimana bisa aku melupakan keberadaan seseorang yang saat ini sudah singgah di hatiku itu.


Ah ... Salah sendiri sih. Sekalinya astral ya tetap astral. Seringkali Sam memang tak kasat mata bagiku dan yang lainnya. Yang jelas tau-tau sudah ada suara dan sosoknya yang berdiri di antara kami.


“Hehe ... Pak Sam. Sudah, Pak.” Rizal tersenyum canggung saat menjawab pertanyaan dari Sam.


“Kalau begitu KERJA!” Suara Sam pagi ini aku rasa mampu menyaingi suara kilat di luar sana.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued...


__ADS_2