My Boss Samuel

My Boss Samuel
121. Manja


__ADS_3

Selamat siang semua...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Aku mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam kamar mandi. Aku menguap malas dan berguling. Siapa yang muntah?


“Del!” Sam berteriak serak dari kamar mandi, aku mengerutkan kening dan meraba sisi kanan. Kosong!


“Adelia ...” Teriakan lemah itu kembali terdengar.


Aku langsung bangkit duduk dan meraih gaun tidurku yang tergeletak di lantai. Memakainya lalu melangkah menuju kamar mandi. Sam terduduk lemah di atas toilet duduk, wajahnya begitu pucat.


“Kamu kenapa?” Aku mendekatinya dan mengusap keringat dingin di keningnya.


Sam menggeleng. “Nggak tahu, mual.” Ujarnya menjatuhkan kepalanya ke dadaku.


“Ya udah bangun dulu.” Aku menariknya berdiri dan Sam mengikuti dengan langkah pelan. “Kamu masuk angin? Makanya kalau tidur itu pakai baju!” ujarku mengambilkan baju tidurnya yang terlempar hingga ke sofa, karena saat ini Sam hanya mengenakan celana tidurnya saja.


“Biasanya nggak pakai baju juga nggak apa-apa.” Jawabnya dengan suara lemah.


Aku mendelik sambil melotot ke arahnya. “Yee, di bilangin ngeyel ya kamu.”


Sam hanya mengerucutkan bibirnya lalu segera menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.


Sudah dua hari Sam selalu muntah-muntah seperti ini, dia merasa lemas luar biasa. Aku sampai merasa kasihan dan tidak tega melihatnya. Nafsu makannya juga mulai berkurang karena jika dia makan terlalu banyak, dia akan langsung muntah.


“Masa iya kamu juga yang kena morning sickness nya?” aku mengusap wajah pucatnya yang terbaring di ranjang.



“Aku nggak tahu.” Jawabnya sambil mengubah posisi dan meletakkan kepalannya di pangkuanku. Kedua tangannya memeluk perutku erat, menaikkan gaun tidurku ke atas agar dia bisa mengecupi perutku secara langsung.


“Manja.” Ledekku sambil mengusap rambutnya.


Sam hanya bergumam, memelukku erat dan enggan melepaskannya. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka kalau yang mengalami semua ini adalah Sam. Sejujurnya aku juga senang, tapi aku juga kasihan melihat suamiku yang seperti ini. Terlihat pucat, lemah tak berdaya.


“Kamu nggak kerja?” aku bertanya sambil terus mengusap rambutnya.


“Malas.” Jawabnya sambil menguap.


“Ck, dasar anak sultan.”

__ADS_1


Dia mendelik lalu melotot. “Dasar menantu sultan.” Balasnya mencibirku.


Aku tertawa, merebahkan kepalanya ke bantal lalu aku bangkit berdiri.


“Kamu mau kemana?” dia meraih tanganku dan bangkit duduk.


“Mau mandi.” Ujar ku datar.


Sam menggeleng. “Di sini aja, nanti aja mandinya, mandi bareng.”


Aku tertawa mencibir, meraih kepala Sam dan memeluknya di dadaku. Sam juga meletakkan kepalanya di sana dengan nyaman. Kata Sam semenjak aku hamil dadaku mengalami perubahan menjadi lebih besar dan berisi. Aku tidak menyangka kalau Sam bahkan sampai seteliti itu, atau dasarnya memang dia yang mesum?


Sam memejamkan matanya lagi. Aku menunduk dan mengecup pundak kepalanya.


Astaga, ternyata dia juga bisa bersikap menggemaskan seperti ini.


••


“Del ...”


“Berisik!” Aku menoleh pada Sam yang duduk di sofa lain.


Saat ini aku tengah menonton film Titanic, film yang sudah berpuluh-puluh kali aku tonton tapi tetap selalu berhasil membuatku baper, bahkan sampai menangis. Film Titanic itu menurutku sebuah film yang menggambarkan bahwa tidak semua yang ada di dunia ini berakhir dengan 'happy ending'.


James Cameron benar-benar the best lah menyutradarai film tersebut. Tidak heran kalau film Titanic tetap menjadi film favorit sepanjang masa.


“Aku mau ...”


Apa Sam tidak lihat kalau aku sedang asyik menonton?


Sam menghela nafas kuat-kuat. “Aku Cuma mau makan.”


“Ambil sendiri di dapur!”


“Tapi aku nggak suka sama lauknya.” lagi-lagi Sam merengek manja.


“Kalau begitu masak sendiri yang kamu suka!” tukas ku sebal. Kali ini aku tidak akan luluh dengan rengekannya.


Sam menatapku tajam.


Bukanya aku tidak mau melayaninya, tapi sejak tadi aku sudah di buat kesal olehnya. Pagi tadi, Sam ingin makan nasi goreng buatan ku, setelah aku capek-capek masak, dia hanya makan satu suap dan mengomentari masakan ku tanpa perasaan. Bahkan menurutku lebih kejam dari chef Juna.


“Nggak enak, niat masak nggak sih?” begitulah kira-kira komentarnya terhadap nasi goreng ku.


Aku menahan diri untuk tidak menyiram kepalanya dengan minyak goreng panas.


Lalu setelahnya, dia ingin makan bubur ayam. Dengan sabar hati aku pergi dengan Bibi mencari dan membeli bubur ayam yang kata Bibi paling enak di daerah tempat tinggal kami. Dan setelah bubur ayam itu aku hidangkan di depannya, tahu apa yang Sam katakan?

__ADS_1


“Kelamaan, aku udah nggak selera.”


Aku sungguh-sungguh ingin melempar bubur beserta mangkuknya itu ke wajahnya!


Jadi sekarang, dia hendak makan siang terus merengek lagi karena tidak menyukai sayur bayam yang di buatkan Bibi. Padahal enak loh, sayur bayam, lauknya tempe goreng, ikan, ayam, sama sambal, biasanya aja dia doyan kok. Dan kalau dia tetap merengek, aku tidak akan peduli. Sam biasanya memasak sendiri apa yang dia inginkan, tapi semenjak dia selalu muntah-muntah setiap pagi, tingkahnya mulai menyebalkan.


Sam menatapku kesal sekali lagi sebelum beranjak dari sofa menuju kamar. Dan aku tidak akan peduli. Aku hanya menatap datar pintu yang di banting nya kuat karena kesal. Bodo amat!


Selang satu jam, akhirnya aku mengalah dan mengikutinya masuk ke kamar. Ya itu juga karena film yang aku tonton sudah selesai. Dan alasan yang lainnya, bagaimanapun juga aku tetap harus membujuk Sam agar mau makan. Bisa di bayangkan kalau dia ngambek tidak mau makan, jatuhnya sakit. Siapa yang repot? Aku yang akan lebih repot lagi.


Semua ini aku anggap latihan mengurus bayi besar terlebih dahulu, sebelum bayi kecilku ini lahir.


Sampai di kamar aku lihat Sam tengah duduk bersandar di ranjang tempat tidur kami. Aku mendekatinya dan melirik ponsel yang kini menjadi pusat perhatiannya.


“Ow, udah nggak lapar lagi toh karena udah makan game.” Cibirku sengaja.


Sam hanya melirikku sekilas lalu kembali fokus bermain game di ponselnya. “Aku udah bilang nggak suka sama sayurnya.”


“Terus kamu maunya apa?” aku berusaha bersabar.


“Hm.” Dia hanya bergumam sambil mengangkat bahu.


Oke, sepertinya memang aku harus tega membiarkan dia kelaparan kali ini. Aku segera bangkit berdiri dan hendak melangkah keluar kamar.


“Padahal aku mau masakin kamu loh, tapi ternyata kamu beneran udah nggak lapar.” Aku berpura-pura tidak melihat ketika Sam melirikku.


Aku mengulum senyum sambil berjalan ke arah pintu. Begitu tanganku menyentuh knop pintu, kedua tangan Sam langsung melingkar di perutku dan bibirnya mengecupi leherku.


“Pengen sosis teriyaki sama brownies.” Ujar Sam manja.


Aku hanya berdecak. “Aish, banyak maunya kamu.”


Sam hanya menyengir lalu merengkuh pinggangku agar berjalan beriringan dengannya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUED....



__ADS_2