
Selamat siang semua.
Semoga sehat selalu ya...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Aku baru saja kembali dari acara makan siang bersama dengan teman-temanku. Begitu langkahku masuk di gedung perusahaan ini, tepatnya di Lobi perusahaan. Aku melihat Sam tengah asyik berbincang dengan seorang perempuan.
Siapa dia?
Aku belum pernah melihatnya sama sekali. Dia bukan anak baru lagi kan, urusanku dengan anak baru bernama Mira saja dari dulu sampai sekarang tidak ada habisnya. Please, jangan di tambah lagi.
Perjalanan menuju lift tentu saja harus melewati tempat di mana Sam tengah berdiri dan mengobrol dengan perempuan tersebut.
“Pak Bos banyak banget di deketin sama cewek-cewek ya. Dan anehnya nggak ada satupun yang bisa nyantol sama Bos.” Ucap Rizal setengah berbisik.
Apa katanya? Tidak lihat apa kalau temannya ini sudah berhasil membuat hati Pak Bos kecantol. Hm ... Pelanggaran!
“Seleranya bule juga kali.” Balas Mbak Sari.
Aku hanya bisa mendengus pelan tak mau menanggapi ocehan mereka. Lebih baik diam dari pada terpancing emosi.
Aku, Rizal, Mbak Sari, Mas Angga dan Tiwi langsung mengangguk hormat ketika berjalan melewati yang mulia Bos kampret itu.
“Pak.” Sapa Rizal. Jangan di tanya kenapa dia menyapa kan memang di antara anak buah Sam hanya Rizal saja yang suka sok ramah bahkan ke semua atasan.
Sam tersenyum tipis lalu mengangguk singkat. Tepatnya senyum itu ia tujukan ketika matanya berpapasan dengan mataku.
“Maaf, Pak, dasi anda berantakan.” Aku langsung melotot ke arah Sam.
Tidak salah lihat kan aku, apa yang di lakukan perempuan itu. Dia secara berani mengulurkan tangannya ke dasi Sam tapi dengan cepat Sam menolaknya.
Entah apa yang sedang aku pikirkan, melihat kejadian yang berlangsung cepat tadi langsung membuatku reflek merangkul lengan Rizal, bahkan Rizal pun sampai kaget dengan sikapku.
“Eh, Zal, lo sering chat Vino ya?” aku sengaja mengeraskan sedikit suaraku.
“Wah, bahaya nih! Jangan-jangan nih kunyuk mau melakukan pendekatan ke adiknya dulu baru ke mbaknya.” Sahut Mas Angga yang membuat semua langsung tertawa.
“Namanya juga usaha ya kan, Del.” Rizal mengedipkan satu matanya ke arahku dengan cara genit.
Saat ini aku dan yang lainnya tengah menunggu di depan lift yang letakkan cukup dekat dengan posisi Sam berdiri saat ini.
Aku segera melepas rangkulan tanganku lalu mendorong kepala Rizal. “Modus!”
“Modus tapi lo juga mau kan.” Tukas Rizal.
“Ciyee ...” persetan dengan teman-temanku yang malah mendukung aksi Rizal.
Untung saja pintu lift segera terbuka jadi kami segera masuk ke dalam. Ketika pintu lift hampir menutup aku menyempatkan melirik ke arah Sam dan rupanya dia tengah melirikku juga dengan ekspresi yang sangat tidak aku mengerti.
Apa aku sudah melakukan sebuah kesalahan?
##
Sebuah keberuntungan, hari pertama masuk kerja setelah libur dua hari aku dan teman-temanku bisa pulang jam lima sore. Aku hendak memasukkan ponsel ke dalam tas tetapi aku langsung melihat sebuah pesan masuk.
Sayang : masuk ke ruanganku.
Singkat, padat, jelas. Apa aku juga harus membalasnya dengan huruf Y besar.
Tentu tidak, kalau iya berarti aku sudah berani menantang singa marah. Ck!
“Kalian duluan aja, ya. Gue mau ke toilet dulu.” Kataku.
“Ok, bye!” sahut Tiwi.
Aku masih duduk di mejaku sembari menunggu mereka semua masuk ke dalam lift. Lalu setelah pintu lift tertutup aku segera berdiri menenteng tas dan berjalan ke arah ruangan Sam.
Aku membuka pintunya secara perlahan dan aku langsung bisa melihat Sam tengah duduk dengan mata menatap ke arahku.
Ceklek!
Kok suasananya mendadak dingin seperti ini ya. Siapa yang berani nurunin suhu AC nya?
__ADS_1
Aku lalu berjalan mendekat ke arah Sam, bukan untuk duduk juga. Tetapi aku lebih memilih berdiri sembari menatapnya.
“Ada perlu apa?” semoga aku tak salah bertanya.
Sam mendengus lalu berdiri. Dua tangannya ia masukkan ke saku celana bahannya. “Menurut kamu kenapa?”
Tunggu dulu dia kenapa sih. “Kamu pikir aku paranormal yang bisa menebak isi pikiran kamu.” Tukas ku sedikit kesal.
Semenjak menjadi pacar Sam aku benar-benar ingin sekali mempunyai kemampuan membaca pikiran. Supaya aku tidak perlu bingung lagi kalau Sam tiba-tiba bersikap aneh padaku. Karena keanehan sikap Sam itu merupakan adanya sesuatu yang tidak beres bagiku.
“Kenapa kamu merangkul tangan Rizal?” tanyanya.
“Loh memangnya kenapa? Kamu marah.” Sam langsung menatapku dengan tajam begitu mendengar apa yang aku katakan.
“Enggak perlu aku jelaskan seharusnya kamu juga sudah paham.” Tuturnya.
“Tapi kenapa harus marah?” jelas aku masih tak terima kalau Sam marah hanya gara-gara sikap reflekku tadi. Tidak tahu apa kalau aku tadi reflek begitu juga karena melihat dia sedang berduaan dengan perempuan lain.
“Jelas aku marah lah, kamu dengan entengnya merangkul lengan laki-laki lain. Dan kamu melakukannya di depan mataku. Kamu lupa?” Tuding Sam padaku.
Aku tidak lupa kok.
Sam itu terkadang suka mementingkan perasaannya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Apa tadi dia tidak sadar kalau aku juga kesal ketika ada perempuan lain hampir menyentuh dan membenarkan dasinya.
Ya walaupun tidak jadi, sih.
“Dan kamu juga jangan lupa, kalau perempuan yang ngobrol dengan kamu di Lobi tadi hampir berani membenarkan dasi kamu di depan mataku juga.” Aku sengaja menekan setiap kalimat yang aku ucapkan dengan jelas.
Mata Sam langsung menyipit. “Jadi kamu sengaja membalasnya. Tapi aku tadi langsung menolaknya, kamu lihat kan. Bukan seperti kamu yang malah berani ganjen dengan laki-laki lain di depanku.”
Mataku langsung membulat penuh ke arah Sam. Apa dia bilang? Dia bilang aku ganjen. Siaalan!
“Halah, bilang aja kamu cemburu!” tukas ku kesal.
“Bukanya kamu juga cemburu!” Leherku mendadak terasa tercekik. “Aku hanya mau mengingat kan ke kamu, Del. Kalau kamu jangan pernah berani ganjen seperti itu lagi dengan laki-laki lain.” Sialaan, Sam mengatakan ganjen lagi padaku.
Ingin rasanya aku memukul wajahnya sekarang menggunakan tas yang aku bawa ini. Seharusnya dia juga harus sadar diri kalau dia juga membuatku kesal. Bukan malah semakin membuatku kesal seperti ini.
Aku menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya. Sepertinya memang aku yang harus mengalah. Bos kan maha benar.
“Baiklah, kalau begitu saya paham. Sudah selesai kan, jadi si tukang ganjen ini pamit mau pulang dulu ya tuan tukang cemburuan.” Aku sengaja menekan kata terakhir sambil melotot ke arah Sam.
Tak perlu menunggu jawaban darinya, aku segera membalikkan langkah dari hadapannya.
Aku terpaksa membalikkan badan lagi ke arahnya. “Apa? Aku nggak bilang apa-apa. Aku bilang mau pulang.” Aku segera melengos lagi dan berjalan ke arah pintu.
Rasakan apa yang aku rasakan, aku sedikit tertawa dalam hati. Membalas Sam dengan cara seperti itu pasti akan langsung membuatnya kesal dari pada harus beradu mulut dengannya.
“Adelia!” seru Sam sedikit keras. Bahkan aku sendiri hampir kaget mendengarnya.
Aku memilih untuk tak menghiraukannya, takut kalau sungut Sam sudah keluar. Aku segera mempercepat langkah menuju pintu. Namun ketika tanganku berhasil memegang knop pintu, Sam berhasil menarik lenganku lalu mendorong tubuhku hingga punggungku menatap daun pintu.
Hah, aku sangat kaget.
Bahkan aku merasakan jantungku sudah berdetak sangat keras.
Sam mencengkeram lenganku kuat dan mata tajamnya menyorot ku dalam seperti ingin menelanku hidup-hidup. Aku merasakan kesusahan bernafas dalam posisi ini, ingin berteriak tetapi lidahku terasa sangat kelu. Lalu secara perlahan wajahnya mulai menunduk mendekati wajahku. Aku hanya bisa meremas tali tas yang ku bawa saat ini.
Tolong!
Nafas Sam sudah berhasil menyapu wajahku dan hal tersebut langsung membuatku merinding.
“Aku bukan pencemburu, tetapi apa yang sudah menjadi milikku adalah milikku. Aku tidak mau berbagi apalagi terbagi.” Sam menekan setiap kata yang ia ucapkan dengan sangat jelas.
Gleg!
Leherku terasa sangat tercekat. Apalagi sedetik setelah itu Sam semakin menunduk lalu mengecup bibirku secara mendadak.
Aku mohon, siapapun aku benar-benar membutuhkan pertolongan.
##
Aku terpaksa mengekor di belakang Sam sampai ke tempat dimana mobilnya terparkir. Sepanjang jalan aku hanya diam sambil menekuk bibirku. Biar saja, aku ingin Sam merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan.
Bukan malah seenaknya langsung main asal cium. Dia pikir kalau sudah berciuman bisa mengembalikan suasana hati seperti semula lagi.
Eh, tapi sebenarnya memang iya sih. Ck!
“Sam!” Sam langsung menghentikan langkahnya secara mendadak. Dan hasilnya aku pun langsung menabrak punggung Sam.
__ADS_1
“Ah, shiit!” umpat ku kesal.
Sam langsung menatapku tetapi aku tak memperdulikannya.
“Brother!” Aku langsung menggeser langkah ke samping guna melihat siapa yang tengah memanggil Sam tadi.
Seorang laki-laki yang memiliki perawakan hampir sama persis dengan Sam pun berjalan mendekat.
“Kapan kamu ke sini?” tanya Sam.
“Baru saja. Baru tiba dan gue mau mampir ke apartemen lo.” Ujar laki-laki tersebut.
“Enggak boleh!” wajah laki-laki tersebut langsung berubah manyun ketika Sam melarangnya. Lalu pandangannya beralih
menatap ke arahku.
Aku yang menyadari tatapannya pun langsung membuang muka begitu saja. Takutnya nanti ada yang salah paham dan mengatakan aku ganjen lagi.
“Si ...” Sam langsung menampik tangan laki-laki tersebut yang hampir menunjuk ke arahku.
“Jangan lihat-lihat dan jangan berani ngajak kenalan.” Ancam Sam.
Laki-laki tersebut mendengus. “Gue tahu, dia Adelia kan. Kenalin gue Raffael. Lo pasti sudah kenal kan sama Kai, gue kakaknya.”
Oh ... Jadi Raffael ini kakaknya Kai. Pantas saja mukanya sudah tidak asing lagi bagiku, seperti sudah pernah melihatnya dalam versi yang sedikit berbeda.
“Kamu ngapain sih ke sini? Pulang aja sana.” Kata Sam.
“Kan gue udah bilang, gue nungguin lo karena mau mampir ke apartemen lo.” Raffael langsung membulatkan matanya ke arahku lalu ke arah Sam. “Kalian mau gunain apar~” Sam langsung membekap mulut Raffael.
“Kamu duluan aja deh, aku masih ada urusan.” Sam mendorong tubuh Raffael ke belakang lalu Sam membuka pintu mobilnya agar aku bisa segera masuk.
“Ok, jangan lama-lama ya.” Raffael menepuk pundak Sam sambil mengacungkan jempol.
Sam sudah masuk lalu menyalakan mesin mobilnya. Sebelum mobil melaju Raffael langsung mengetuk-ngetuk kaca mobil Sam.
“Passcode nya apa, woy!” teriak Raffael namun tak di hiraukan Sam.
Sam jahat banget sih sama saudaranya.
Aku melihat ke belakang, tampak Raffael tengah mengumpat ke arah mobil ini.
“Sam jahat banget sih kamu.” Kataku.
Sam tersenyum miring sambil melirik kaca mobil depannya. “Biarin aja. Dan ingat kamu jangan pernah berani dekat-dekat dengan Raffael.”
“Tapi kamu bilang aku nggak boleh dekat juga dengan Aroon, terus Kai, sekarang Raffael juga?” lihatlah betapa kampret nya pola pikir Sam.
“Ya, memang jangan.” Jawabnya enteng.
“Tapi kok aku baru lihat dia sekarang.” Sudah dua kali aku berkunjung ke rumah keluarga Sam tetapi aku sama sekali belum pernah melihat Raffael.
“Dia selama ini kuliah di Sidney. Memang jarang pulang, dan sepertinya bulan ini masa kuliahnya berakhir.” Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. “Dia sudah terbiasa dengan pergaulan di luar sana, jadi kamu jangan pernah berani dekat dengan Raffael.”
“Cih, bukanya kamu juga pernah tinggal di luar negeri.” Sindir ku yang langsung membuat Sam menatap ke arahku.
Untung saja saat ini tepat berada di lampu merah.
“Perlu kamu tahu, Adelia. Aku dan Raffael itu jelas berbeda. Jelas aku hanya ingin melakukan segalanya dengan kamu.” Tutur Sam.
“Hah? Melakukan apa?” sahutku cepat. Dan pertanyaan ku berhasil mengundang raut wajah bingung dari Sam. “Apa?” desak ku.
Aku mendengar jari tangan Sam mengetuk-ngetuk stir kemudinya. Dan tentu alisku semakin berkerut menatap Sam.
“Melakukan ...” dengan cepat Sam memeluk dan mendaratkan ciumannya ke pipiku.
Aku begitu tersentak. Apa yang dia lakukan? Dan lihatlah wajah tak berdosa itu.
Sam sudah kembali ke posisinya semula lalu bersiap melajukan mobilnya kembali.
SAM KAMPREEET!!
.
.
.
.
__ADS_1
TO BE CONTINUED....