My Boss Samuel

My Boss Samuel
Part. 1 - SAMUEL


__ADS_3

Aku menatap langit senja kota Jakarta sore ini. Kepadatan masih sangat terlihat meski hari sudah mulai petang. Aku menyesap secangkir kopi lalu kembali menghisap batang rokok yang hanya tinggal separuh itu.


Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan akan bekerja di kantor kakek, karena aku pikir aku akan menetap di London setelah dua tahun tinggal di sana. Tapi ternyata tidak.


Bekerja di kantor kakek? Akan seperti apa rasanya? Apakah akan ada hal yang membuatku tertarik? Atau malah sebaliknya? Ah, lebih baik aku segera beristirahat daripada memikirkan hal tersebut.


Esok harinya.


Mobilku berhenti tepat di basement kantor. Ketika aku keluar dari mobil ada banyak sekali pasang mata yang menatap ke arahku. Bahkan ada beberapa wanita yang secara terang-terangan menatapku.


Mereka kenapa sih? Membuatku risih saja?


“Astaga, cakep banget gila.”


“Karyawan baru apa siapa ya?”


“Mobil sama orangnya sama-sama cakep.”


“Nikahi adek bang.”


Aku memutar bola mataku ketika mendengar suara ribut dari arah belakang. “Ck! Apa-apaan sih mereka?” gumamku seraya melangkah masuk ke dalam gedung bertingkat yang bertuliskan PT. FASHION NOVA.


Saat aku sampai di lobi ternyata di sana sudah ada seorang wanita yang menurut perkiraanku berusia sekitar tiga puluhan. Dia menyapaku ramah.


“Pak Samuel, ya?” Aku mengangguk seraya tersenyum. “Kenalkan saya Bu Nia.” Wanita itu memperkenalkan diri dengan gaya sedikit centil.


Aku menjabat tangan yang dia ulurkan dengan sedikit ragu. “Ah, iya saya Samuel.”


Wanita bernama Bu Nia itu lalu mengajakku berjalan dan aku hanya mengekor saja di belakangnya.


“Oke, saya langsung saja ya, Pak. Bapak di sini akan menggantikan saya menjabat sebagai manager di divisi promosi.” Bu Nia mengajakku masuk ke salah satu ruangan sambil menjelaskan tugas yang akan aku lakukan. Sebenarnya aku sudah sedikit paham, toh aku yang meminta kakek untuk masuk ke divisi ini. “Karena kebetulan saya telah mengajukan resign dari perusahaan ini.”


Aku paham betul maksud dari ekspresi dan perkataannya itu. Seolah dia dengan sengaja ingin aku bertanya lebih lanjut tentang alasan dia resign. Ck, sial.


“Kira-kira alasan resignnya kenapa ya? Bukannya sudah enak menjabat manager.” Aku merutuki diriku sendiri yang dengan bodoh bertanya hal seperti itu.


Bu Nia tersenyum genit. “Saya mau cari calon suami, Pak. Sudah terlalu lama bekerja jadi sekarang giliran menikmati hidup.” Aku mulai waspada ketika dia menatapku sambil tersenyum. “Kalau saya tahu bakalan ada manager baru seperti Bapak, saya nggak bakalan resign. Nyesel saya tuh, kan jadi nggak bisa kenalan lebih lanjut sama Pak Sam.”


Aku mengerjap saat tangannya menyentuh lenganku dengan begitu gamblangnya. Astaga, apakah seluruh karyawan wanita di kantor kakek harus seganjen inikah?


Aku membuang nafas pelan sembari merapikan dasi yang tiba-tiba terasa begitu mencekik leherku. Jujur aku ini normal, seratus persen normal tapi ... Aku sedikit risih jika harus berhadapan dengan wanita yang seperti ... Aku menatap Bu Nia yang masih tersenyum menggoda ke arahku.


Aku berdehem. “Bisa langsung antarkan saya ke ruang kerja sekarang.”


“Wah, kok buru-buru banget sih, Pak. Padahal saya masih pengen ngobrol, eh ... Maksud saya, saya masih pengen menjelaskan masalah pekerjaan dengan anda.” Lagi-lagi dia menyentuh lenganku begitu saja.


Jantungku sudah berdebar tak karuan. Bukan karena cinta ya, ini lebih tepatnya ke perasaan takut. Takut kalau nanti aku malah bisa-bisa di perkosa lagi sama wanita ini. Bahkan tangannya kini mulai bergerak-gerak pelan di lenganku.

__ADS_1


Ya Tuhan, lindungilah hamba.


“Sekarang saja, bu.” Aku segera berdiri dan melangkah keluar tanpa memperdulikan bu Nia yang terus memanggilku.


Aku memijat pelan pangkal hidungku ketika Bu Nia masih saja menggangguku. Kini kami tengah berada di dalam lift berdua dan dengan percaya dirinya dia merapatkan tubuhnya ke dekatku. Aku menggeleng pelan lalu menghembuskan nafas sedikit panjang.


Oke, tenang. Yang perlu aku lakukan hanyalah memasang wajah sedatar mungkin.


Pintu lift terbuka dan Bu Nia mengajakku berjalan keluar.


“Mari, Pak.” Ujarnya sambil mengulurkan tangan.


Apa maksudnya?


Aku menatap tangan itu datar dan Bu Nia hanya tersenyum lalu menarik tangannya kembali.


“Maaf, Pak. Tangan saya suka reflek sendiri kalau lihat orang tampan.” Aku hanya mendengus pelan lalu melangkah ke luar lift.


Begitu aku keluar, aku bisa mendengar suara ramai orang yang tengah tertawa bersama. Pandanganku langsung tertuju ke sebuah ruangan bersekat kaca di sisi kanan.


“Ini divisi promosi, ruang kerja Pak Sam.” Bu Nia menyenggol lenganku sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk singkat dan berjalan mendekati ruangan tersebut bersama Bu Nia. Semakin aku mendekat ke ruangan tersebut suara ramainya semakin kentara sekali. Ini kantor apa pasar sih?


Bahkan saat aku sudah berdiri di tengah ruangan tersebut mereka belum menyadari kedatanganku sama sekali.


Temannya itu membalas sambil berbisik. “Nggak tahu, Mbak. Kayaknya dia pengganti Bu Nia deh. Gila ganteng banget, kayak bukan orang tuh modelnya.” Mereka lalu terkekeh bersama.


Terus kalau aku bukan orang dia menyamakan aku dengan apa? Astaga. Aku bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan tapi aku berpura-pura cuek dan memasang wajah datar dan dingin tentu saja.


Dalam hatiku mulai muncul perasaan menyesal karena telah mau bekerja di perusahaan kakek.


“Good morning everyone! perkenalkan saya Samuel Devano Gavin panggil saja, Sam. Saya pengganti Bu Nia, Bos baru kalian.” Ujarku memperkenalkan diri.


Baru saja aku selesai berbicara perempuan berambut panjang tadi sudah kembali berbisik-bisik dengan temannya yang lain, yang kali ini terlihat sedikit lebih tua darinya. Apa memang dia secerewet itu? Sejak tadi suka sekali mengajak temannya mengobrol. Dasar aneh!


Aku lalu melirik mereka tajam. Dan sepertinya keduanya langsung menyadarinya. “Sudah ngobrolnya?”


Mereka tidak menjawab dan wanita berambut panjang itu langsung terlihat menunduk sambil sesekali melirik ke arahku.


“Saya harap kita bisa bekerja sama dalam tim ini dan membuat tim kita lebih baik lagi. Dan tentunya akan ada beberapa perubahan dari peraturan sebelumnya. Sekiranya itu yang mau saya sampaikan. Any question?”


Jelas aku akan membuat beberapa perubahan supaya mereka bisa sedikit lebih tenang, tidak berisik dan ramai. Seperti kesan pertama saat aku masuk ke ruangan ini tadi.


Tiba-tiba salah satu dari mereka mengangkat tangan dan tersenyum malu-malu. Aku menatap datar ke perempuan yang terlihat paling muda di antara teman yang lainnya tersebut. “Pak ... Bapak keturunan bule ya?”


Semua temannya termasuk aku sendiri langsung menatap heran ke arahnya. Kenapa di hari pertamaku bekerja aku sudah bertemu dengan banyak sekali perempuan aneh?

__ADS_1


Aku menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. “Iya, kebetulan Papa saya orang London.” Dia terlihat mengangguk-angguk. “Ya sudah, sekarang selamat bekerja kembali." Sambungku kemudian.


Aku tidak mau berlama-lama memperkenalkan diri. Sebelum pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya muncul. Aku segera masuk ke ruangan setelah serah terima jabatan bersama Bu Nia.


Dari balik kaca jendela yang ada di ruanganku, aku bisa melihat anak buah baruku itu tengah sibuk berbincang sambil bercanda. Ah, sepertinya memang kelakuan mereka seperti itu.


Aku iseng-iseng membuka profil anak buahku tersebut. Dan dari sana aku sekarang tahu siapa saja nama mereka. Angga, Sari, Rizal, Tiwi dan aku berhenti ketika mataku menatap sebuah potret perempuan muda yang berambut panjang tadi.


Perempuan aneh.


Adelia Rinjani. Itulah nama yang tertera di profilnya.


Aku langsung mengerjap saat telepon kantorku berbunyi. “Hallo, Pak. Saya lupa bilang kalau minggu ini ada laporan yang harus di selesaikan segera. Semua berkas dan dokumen ada di atas meja ya.”


“Baik, Bu. Saya akan kontrol semuanya.”


“Makasih Pak Sam. Semoga bisa ketemu lagi ya, siapa tahu bapak bersedia saya ajak minum teh.” Terdengar suara terkikik dari seberang sana.


Aku tidak membalasnya dan langsung menutup panggilan itu begitu saja. Ah, sepertinya mulai hari ini aku harus lebih banyak bersabar bekerja di sini.


Aku menyandarkan punggung ke kursi menatap langit-langit ruang kerjaku. Setelah itu kembali melirik jendela kaca dan lagi-lagi melihat anak buahku tengah mengobrol sambil tertawa. Aku menggeleng dan mengambil sebuah map di atas mejaku. Begitu aku melihat nama yang tertera di sana seketika aku langsung tersenyum tipis lalu berdiri dari kursiku.


Aku membuka pintu ruangan dan suara berisik dari mereka langsung menusuk gendang telingaku.


“Adelia Rinjani.” Sang pemilik nama itu terlihat kaget dan langsung menoleh ke arahku. Tapi belum sempat dia bersuara aku langsung kembali menutup pintu dan duduk di kursiku.


It' time to work!


.


.


.


.


.


###


Jempolnya kemarin dikit amat genks padahal view banyak 🙄


Cuss lah ramaikan biar makin syemangaaat update eeiim.


Dan sekali lagi aku minta maap ye kalau di POV Sam kemungkinan bakalan banyak narasinya. Ya semoga tetap menghibur ajalah.


Lop yuu genkss

__ADS_1



__ADS_2