My Boss Samuel

My Boss Samuel
39. Modus berlanjut


__ADS_3

Yuhuu apa kabar??


mohon maaf lahir batin ya..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share juga boleh..


Happy reading !!


##


Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Tepat saat aku duduk di depan meja riasku, aku mendengar nada chat dalam ponselku berbunyi. Awalnya aku tak berniat untuk membukanya, aku hanya mengecek lewat notifikasi yang tertera di layar. Namun, seketika ku urungkan niatku begitu melihat nama 'Bos Kampret' yang muncul.


Entah sejak kapan aku memberi nama tersebut di kontak ku. Aku hanya tersenyum lalu membalas chat nya.


Karena tadi Sam menawarkan untuk menjemput ku, ya jadinya pagi ini kami berdua masuk secara bersamaan dengan alasan bertemu di parkiran. Sebelum Sam masuk ke ruangannya aku melihat dia sedikit tersenyum ke arahku dengan manisnya. Hm ... Senangnya dapat semangat di pagi hari.


“Kenapa tuh Bocil?” tanyaku sembari menunjuk Tiwi saat berjalan ke arah mejaku.


Karena dari yang pertama kali aku lihat. Mukanya yang selalu ceria itu pagi ini mendadak berubah tak seceria biasanya. Ada apa gerangan?


“Biasa. Putus cinta” sahut Mbak Sari. “Udah gue nasehatin biar nggak sedih. Eh, tetep aja sendu begitu mukanya. Nggak tau kali, kalo begitu mukanya jadi tambah jelek banget”


“Mbak Sari.” rengek Tiwi sedikit mewek.


Mas Angga dan Rizal yang baru saja kembali dari pantry langsung menyuguhkan secangkir teh ke meja Tiwi.


“Minum dulu, mumpung teh nya masih anget. Entar kalo udah dingin nggak enak lho, sama nggak enaknya dengan suasana hati lo saat ini.” Ucap Rizal menggoda Tiwi.


“Anak orang tuh, Zal. Jangan di bikin makin sedih dong, di hibur kek.” Sahutku sembari tersenyum ke arah Mas Angga, karena dia sudah membawakan secangkir teh untukku.


Sejak Tiwi menjadi anggota di divisi ini memang baru pertama kalinya aku melihat Tiwi sedih begitu. Dan itu hanya karena putus cinta ... Aku sendiri memang tak bisa munafik sih, kalo soal cinta memang kadang bikin sakit. Aku sendiri pun pernah mengalami hal serupa. Dan aku tiba-tiba saja terbayang oleh hubunganku dengan Sam. Walaupun hubunganku masih dalam kategori kemarin sore. Tetapi entah kenapa berhasil membuat aku membayangkan hal yang tidak-tidak.


Bagaimana kalo seandainya aku nanti putus dengan Sam? Seperti apa ya rasanya? Apakah akan sakit banget? Duh ... Nggak kebayang deh, amit-amit. Aku segera menggeleng pelan untuk mengusir pikiran buruk ku.


“Wi?” Aku memanggil Tiwi pelan.


“Hm.” sahut Tiwi tanpa semangat sedikitpun.


“Ya elah, yang semangat kenapa sih? Nggak usah terlalu di pikirin lo itu masih muda dan cantik. Paling juga bentar lagi lo bisa dapet yang baru, ya kan?” Ujarku saat Tiwi masih saja bersedih.


“Bener kata Adel. Ah, untung jaman gue muda dulu nggak ngerasain beginian.” Sahut Mas Angga.


“Lagian gue juga pernah kok, Wi, ada di posisi elo. Gue tau banget sakitnya gimana.” Imbuhku lagi.


Rizal berdiri untuk kembali ke mejanya. “Apa yang di alami Tiwi itu wajar kok ... Yang nggak wajar kalo sikapnya sampai berlebihan aja.” Aku menatap Rizal lekat, kerasukan apa nih orang dari pembawaannya kelihatan beda banget. Lebih logis dan berfaedah dari biasanya. “Sebenarnya putus cinta itu nggak sakit, yang sakit itu kalau putus tapi ... masih cinta.”


“Buseeet! Ngena banget omongan lo, belajar dari mana, Zal?” Goda Mbak Sari.


Belum sempat mendengar jawaban dari Rizal, Tiwi sudah lebih dulu histeris sambil menangis.


“GUE EMANG MASIH CINTA!! TERUS GUE HARUS GIMANA??”


Kami semua terkejut melihat aksi Tiwi hingga Mbak Sari terpaksa membawa Tiwi ke Klinik supaya bisa menenangkan pikirannya. Dasar yang patah hati satu orang tapi semuanya ikut repot.


“Saya tadi kayak dengar orang teriak, ya?” Aku langsung melirik ke arah pintu ruangan Sam yang terbuka.


“Itu Sam, Tiwi nggak enak badan.” Jawab Mas Angga.


Sam hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu berjalan keluar dengan membawa sebuah dokumen di tangannya.

__ADS_1


“Adelia, bisa temani saya ke lantai eksekutif.” Kata Sam begitu berdiri di depan mejaku.


“Mau ngapain, Pak?” tanyaku. Namun seketika aku langsung meringis dan mengikuti langkahnya. Tau sendiri kan keputusan manusia yang satu itu tidak bisa di ganggu gugat.


Kami keluar dari lift tepat di lantai eksekutif. Lalu aku dan Sam berjalan keluar, cukup sepi karena memang lantai ini hanya di gunakan untuk pertemuan maupun meeting para petinggi perusahaan.


“Mau meeting ya, Pak?” tanyaku. Tetapi sepertinya pertanyaan ku salah setelah melihat Sam membelokkan langkahnya tepat di samping ruang eksekutif.


Aku masih setia mengikuti langkahnya hingga masuk ke dalam ruangan. Dan ternyata di dalam banyak sekali rak buku yang tersusun rapi di sini.


“Ini tempat penyimpanan berkas penting. Ada yang harus aku cari.” Kata Sam sambil mulai mencari-cari sesuatu.


“Terus ngapain ngajak saya kalo Bapak mau nyari sendiri?” tanyaku


Sam menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahku. “Bisa nggak kalo sedang berdua jangan panggil, Pak?” Sam menaikkan satu alisnya ke arahku. Aku hanya terdiam dengan sedikit tersenyum.


“Aku nggak bisa percaya sama sembarang orang, Del. Makanya aku ngajak kamu, karena aku percaya sama kamu.”


Aku meletakkan dokumen yang di bawa Pak Sam tadi ke atas meja. Kemudian mulai berjalan menyusuri rak-rak buku tersebut. Aku mengambil salah satu buku secara acak lalu berbalik ke arah Sam.


“Memangnya mau cari apaan?”


“Cari data tahun kemarin yang sama persis dengan keluaran produk mendatang.” Aku hanya membulatkan bibirku membentuk huruf O sempurna.


Cuma mau nyari data begitu saja harus ngajak aku. Modus banget sih. Aku tersenyum dalam hati.


“Adelia ...” panggil Sam pelan, laki-laki itu menumpukan lutut kirinya ke lantai. Menarik dengan sabar berkas yang berada di rak terbawah dan membacanya cepat. “Sebenarnya aku paling benci kalo di suruh mengurus seperti ini.”


“Lah ... Sama kalo gitu. Bikin kepala puyeng mana harus nyari satu-satu. Dan yang bikin lebih benci lagi, kamu pakai ngajak aku segala.” Ucap ku jujur.


“Tapi, aku juga nggak mau kalo harus menyuruh orang.” Aku melirik Bos yang kini sudah berstatus menjadi pacarku itu. Sam mungkin sedang kesambet, kalo dia tidak suka bersusah payah mencari sesuatu. Lalu, apa fungsinya dia di sini?


“Enggak ada bedanya deh, Sam.” Aku menatapnya heran.


Aku menghela nafas kasar. “Kamu terlalu perfeksionis sih.”


“Perfeksionis ya?” ulang Sam meyakinkan diri.


“Iya ...”


Biasanya, di Perusahaan orang-orang perfeksionis tingkat atas semacam Samuel Devano Gavin ini memang cenderung sulit mempercayakan tugas remeh pada bawahannya. Contoh kecilnya ya ini, dia bahkan harus ikut turun tangan sendiri. Belum lagi kalau menyangkut soal laporan, mata si Sam jelinya keterlaluan. Kelebihan titik satu saja pasti ketahuan, apalagi typo, auto melayang ke tong sampah.


Saat kami berdua tengah sibuk tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Aku langsung berbalik menatap pintu untuk mengetahui siapa orang yang masuk. Dan ternyata dia adalah Pak Yudistira, yang dulu juga pernah menjabat sebagai Bos di divisiku saat awal-awal aku bekerja di sini.


“Pak ...” Sapaku seraya berdiri dan membungkukkan sedikit badanku.


“Adelia, ya?” aku tersenyum. “Lama nggak ketemu ya, kayaknya masih betah saja kerjanya.”


“Iya, Pak. Alhamdulillah. Bapak mau ngapain?” Tanyaku dengan niat basa-basi.


“Saya mau ketemu Pak Sam.” Lalu Sam terlihat berjalan mendekat ke arah Pak Yudistira. Seakan mengetahui apa yang akan mereka bicarakan, aku pun memutuskan untuk berjalan dan mencari tempat agak jauh dari tempat mereka. Dan di sinilah aku tepat di ujung rak dekat jendela yang seketika menampilkan padatnya kota Jakarta siang ini.


“Kalo begitu saya duluan ya, Pak.” Pamit Pak Yudistira ke Sam, lalu ke aku. “Duluan ya, Del.” Aku pun hanya membalasnya seraya tersenyum.


Ruangan kembali sunyi lagi, hanya ada aku dan Sam. Dan aku pun langsung melanjutkan kegiatanku kembali.


“Adelia ...”


“Kenapa lagi, Sam?” Kenapa Sam jadi hobi banget panggilin nama aku sih?


Sam berdehem pelan sebelum melanjutkan ucapannya. “Kamu tau kalo di lantai eksekutif di larang melakukan flirting kan?”

__ADS_1


Perkataan Sam kali ini sukses membuatku menghentikan kegiatanku. Aku mendongak dan menemukan Sam tengah menatapku tanpa ekspresi. Flirting sama dengan main mata. Lalu, apa yang di maksudnya barusan?


“Lah, siapa yang flirting?” Tanyaku tak mengerti.


“Kamu dan Pak Yudistira tadi.” Ujarnya dengan jelas.


Ini orang kampret nya kok nggak hilang-hilang ya. Orang Cuma menyapa kok di bilang flirting? Tentu saja membuatku mendumal dalam hati.


“Kan aku tadi Cuma menyapa. Lagian apa salahnya sih? dulu beliau mantan Bos ku lho sebelum kamu ke sini.” Ucapku, mencoba untuk menjelaskan


Sedikit memiringkan kepalanya, Sam bergumam. “Really?”


“Lagian kalo mau flirting aku juga lihat-lihat kali. Seleraku masih daun muda, bukan daun kering begitu.” Tukasku sedikit kesal. Jelas saja, Sam mulai membuatku kesal saat ini.


“Kalo aku, menurutmu daun apa?” Sam bertanya sambil menatapku lekat.


Ups... Aku sedikit cengengesan.


“Kalo kamu mah daun setengah kering, Sam.” Aku segera meralat ucapan ku sebelum sungut Sam keluar, dengan membungkam mulut menggunakan tangan kananku.


“Tapi, aku nggak tahu bedanya daun muda, daun setengah kering dan daun kering itu seperti apa, Del.” Ujar Sam.


Oh syukurlah.


“Bedanya dikit kok, Sam. Enggak penting juga.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Menggulung rambutku ke atas lalu kembali melanjutkan kegiatanku.


Tapi tiba-tiba Sam mendekat dan tentu saja membuatku mendadak merasa gugup. Aku mengurungkan niat untuk mengambil dokumen selanjutnya demi menoleh ke arah Sam. Alisku berkerut pertanda kalo aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya.


Sam lalu menarik lenganku begitu saja untuk keluar dari ruangan tersebut. Aku makin bingung, sebenarnya apa sih isi kepalanya saat ini? Sam terus menarik tanganku menaikki tangga menuju atap gedung.


“SAM!!” pekik ku. Namun sama sekali tak di hiraukan olehnya.


Aku berusaha tenang walau sebenarnya jantungku sudah berdetak tak karuan. Hingga akhirnya kami berdua sampai di atap gedung lagi untuk yang kedua kalinya. Hasilnya, aku harus sedikit menyipitkan mataku karena panas terik matahari di siang hari ini. Kebayang nggak sih siang hari di atap gedung yang panasnya minta ampun?


Sam lalu melepaskan cekalan tangannya kemudian berdiri tepat di hadapanku.


Hilir angin terus saja menerpa wajah dan rambutku. Untungnya tadi aku sudah menggulung rambutku tapi tetap saja tidak dapat mencegah angin untuk merusak tatanan rambutku. Sam meletakkan kedua tangannya tepat di pundak ku dan jujur itu sangat membuatku tersentak dengan jantung yang hampir meloncat dari tempatnya.


Aku mendongakkan kepalaku yang langsung di sambut oleh tatapan darinya. Satu tangannya kini bergerak menyelipkan anak rambutku yang berantakan ke belakang telingaku. Walaupun sebenarnya terdengar sia-sia tapi Sam tetap melanjutkan aktivitasnya.


“Del ... Aku ingin meminta ijin.” Ujar Sam dengan suara seraknya.


Aku sedikit kebingungan dengan perasaan yang tiba-tiba terasa sedikit tidak nyaman. Apalagi saat ini, mata itu menyorotku intens.


“Ijin apa, Sam?” aku bertanya bingung.


Dalam detik yang terasa bagai kilat, jantungku tersentak saat Sam menarik kepala belakangku kuat. Jarakku dan Sam terkikis habis saat hidung kami hampir bersentuhan. Sam tersenyum.


“To kiss you, Adelia.”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue....



__ADS_2