My Boss Samuel

My Boss Samuel
37. Di Luar Ekspektasi


__ADS_3

Yuhuu apa kabar??


Sehat-sehat ya, kan bentar lagi mau lebaran.. hihi


sekedar mengingatkan bab ini nggak ada scene romantis.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share juga boleh


Happy reading !!


##


Aku turun dari kamarku setengah berlari menuju dapur. Tempat di mana Mama sudah menghidangkan menu sarapan pagi ini. Senyum lebarku tak bisa aku tutupi kepada siapa pun yang aku jumpai pagi ini. Bukan gila ya, tapi bahagia.


“Selamat pagi semua.” Sapaku sumpringah begitu sampai di dapur. Aku lihat Papa dan Vino sudah mulai melakukan aktivitas sarapan mereka.


“Pagi Vino, adikku yang paling ganteng.” Aku tersenyum ke arah Vino. “Pagi juga Papaku yang tak kalah ganteng”


Mama yang tengah berdiri dengan membawa semangkuk sup hanya berdecak. “Ish! Mimpi apa semalam bahagia banget pagi ini? Mimpi di lamar pangeran?”


Hmm bukan lagi pangeran Ma!


Aku langsung berdiri, mengambil mangkuk Mama untukku letakkan ke atas meja. Lalu aku rangkul pundak Mama dengan bibir mengembang lebar.


“Nah ... ini dia sang ratu, yang cantiknya tiada tara” aku menatap ke arah Papa dan Vino yang tengah menatapku dengan tatapan heran. “Nggak salah kalo anaknya lebih cantik tujuh turunan begini.”


Aku kembali duduk, aku mulai mengambil nasi dan beberapa lauk tak lupa aku juga mengambilkan lauk untuk Vino, Papa dan Mama. Siapa tau mereka bisa ketularan bahagianya aku. Saat mereka hendak bergerak mengambil sesuatu aku pasti akan langsung bergerak cepat mengambilkannya. Setelah itu aku kembali makan lagi dengan bibir yang terus tersenyum.


“Ma, Mbak Adel nggak minum obat apa-apa kan?” Vino mulai membuka suaranya.


“Setahu Mama enggak, Vin.” Aku lihat Mama dan Vino mulai menatapku dengan penuh selidik.


Kalau hari biasanya aku akan marah, tapi tidak untuk hari ini. Rasa bahagiaku pagi ini sangatlah dominan sehingga mampu mengalahkan segala rasa yang biasanya hinggap di setiap hariku.


“Tapi Vino khawatir, Ma. Jangan-jangan Mbak Adel mulai mengkonsumsi obat anti depresi. Makanya efek sampingnya bisa begini.” Ucap Vino.


Aku seketika menatap Vino. Kemudian tersenyum lebar ke arahnya.


“Ini bukan sembarang obat, Vin. Kalaupun ini obat gue yakin dosisnya pasti tinggi banget sampai gue di buat mabuk kepayang begini.” Celotehku yang mampu membuat Vino menatapku dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Jelaslah, kalau misalnya di kategorikan ke dalam jenis obat-obatan aku bakalan masukin Pak Sam ... eh, maksudku Sam. Ehem ... maaf ya kan sekarang kita sudah pacaran. Mungkin Sam termasuk ke dalam jenis obat narkotika dengan dosis yang amat tinggi dan berbahaya. Sekali teguk saja pasti langsung bisa membuat kecanduan yang amat sangat parah yang tak akan pernah ada obatnya dan membuat mabuk pastinya. Iya mabuk cinta, Ciyee!


Vino mulai berdecak. “Ck! Dari gejalanya sih ... sepertinya orang jatuh cinta nih.”


“Nah, nah ... Pinter lo! Coba tebak jatuh cinta sama siapa?” tanyaku dengan penuh antusias.


Mama meletakkan sendoknya. “Kalo Cuma jatuh cinta Mama nggak akan kepo, Del. Kalo kamu jadian dan punya pacar Mama baru kepo.”


“Kalo itu Papa juga setuju, Ma.” Papa yang sejak tadi hanya diam, akhirnya kini mulai ikut berkomentar.


Aku makin tersenyum mendengar mereka saling berpendapat. Tapi sepertinya tidak baik deh bohong sama keluarga. Nanti kalau Sam mau ngapelin gimana coba kalo keluargaku tidak ada yang tau? Akhirnya aku melipat kedua tanganku ke atas meja. Aku menyorot satu persatu ke arah Papa, Mama dan Vino.


“Ini bukan hanya sekedar jatuh cinta.” Ucapku dengan nada dan pelafalan yang sangat jelas. “Bukan sembarang juga jatuh cinta.”


“Ahh ... ngomong apa sih, Mbak, kelamaan! Jangan buang-buang waktu Vino yang sangat berharga ini dong, Mbak.” Sahut Vino begitu saja. Ya ampun ini bocah, gue gites tau rasa lo!


Aku hanya nyengir. “Iya deh, Adel bakalan to the point.” Aku menghirup nafas panjang lalu mengeluarkannya bersamaan dengan senyuman. “Mulai hari ini Adel udah nggak jomblo lagi! Adel udah punya pacar!” Sambungku dengan penuh antusias.


Namun, kenyataan yang menyadarkanku tentang ekspektasi yang tak sesuai dengan realita itu memang sangatlah menyakitkan. Alih-alih membuat semua anggota keluargaku bahagia dan terkejut, justru mereka terlihat hanya bersikap biasa saja dengan ekspresi wajah yang lempeng-lempeng saja.


“Oohh ...” begitulah ucap mereka kompak.


Ngeselin!!


Aku lihat Mama kembali makan sarapannya lagi. “Kalo itu mah, Mama udah nggak kaget. Jangankan Mama. Papa sama Vino juga biasa aja kan, ya?”


Aku benar-benar di buat melongo oleh sikap keluargaku ini. Jangan-jangan mereka sudah mulai menjadi keluarga yang normal? Dan hanya aku sendiri yang belum normal? Tidak, tidak bisa.


“Tapi ini kan berita penting Ma, Pa ... bukanya kalian selalu minta Adel buat cari pacar.” Aku masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


“Iya Mama tau.” Mama kembali menatapku, “kalo boleh Mama nebak, kamu jadian semalam kan?” dan pastinya aku langsung menganggukkan ucapan Mama.


Aku melongo lagi untuk yang kedua kalinya. Sejak kapan Mama mempunyai kemampuan khusus seperti ini? Kenapa tidak di turunkan ke aku? Aku menatap Mama dengan tatapan seolah meminta Mama untuk melanjutkan ucapannya.


“Sama Sam, kan?” Imbuh Mama.


“Hah?” aku langsung melemparkan sendokku ke atas piring. Sejak kapan Mama bisa menebak masa depan? Sejak kapan Mama indigo? Ini benar-benar di luar dugaanku selama ini. Dan ucapan itu sangat tepat sasaran sekali.


“Kok Mama bisa tahu?” tanyaku penasaran


“Jelaslah Mama tahu, orang Sam yang ngasih tahu.” Ekspresi wajahku mendadak berubah kesal saat ku dapati Papa, Mama dan Vino saling tersenyum.

__ADS_1


Dalam hidupku, aku memang sangat banyak sekali mengalami kejadian-kejadian aneh dengan orang-orang aneh pula di luaran sana. Tetapi, ternyata kejadian aneh ini juga menyelimuti keluargaku yang membuat aku sulit percaya.


“Kalian tau dari Sam? Kok bisa?” Aku semakin gencar memberi Mama dengan pertanyaan-pertanyaan yang seketika melintas di kepalaku.


“Del, Del ... Sam itu sudah lama mau bilang suka sama kamu. Tapi kamunya aja yang nggak peka-peka. Makanya, kemarin sebelum dia nembak kamu dia minta ijin dulu ke sini sama Mama dan Papa~”


“Tunggu dulu, minta ijin? Minta ijin apa?” selaku cepat


“Ya, minta ijin buat macarin kamu. Ya jelaslah Mama sama Papa langsung dukung.” Mama meletakkan sendoknya ke atas piring. “Kenapa sih nggak dari dulu aja, Del? Kamu juga jadi cewek kok nggak peka. Mama aja yang Cuma lihat Sam langsung peka.”


Aku segera meneguk habis air putih di samping piringku. Sebenarnya aku masih belum sepenuhnya bisa mencerna ucapan Mama. Tetapi, satu hal yang bisa ku tangkap tentang fakta kalau Sam sudah sejauh ini mempertimbangkan semuanya. Dan kenapa aku tidak menyadarinya?


“Bahkan Sam juga sudah sering ke sini lho, Del.” Kini Papa ikut berkomentar lagi.


“Benar kata Papa, Mbak. Apalagi kalo ke sini pasti selalu bawain makanan kesukaan Vino.” Wadefak! Ini sebenarnya apa sih?


Aku kembali terkejut dengan pernyataan barusan. Apa katanya? Kenapa aku seperti orang bodoh begini ya di keluarga ini. Orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa.


##


Aku keluar dari dalam lift dengan senyum yang terus menghiasi wajahku. Aku sapa rekan kerjaku satu persatu dengan penuh rasa bahagia pagi ini. Baru saja aku duduk dan menyalakan komputer. Aku langsung menghentikan aktivitasku demi menyorot sosok yang pagi ini sudah berdiri di depan ruangan ini dengan begitu tampannya.


“Morning, all. Apa kalian mendapat tidur yang cukup semalam?”


“Wah ... kayaknya nggak ada tidur yang lebih cukup selain kamu, Sam.” Celetuk Mas Angga. “Dan kayaknya selain waktu tidur yang cukup, ada yang mimpi dapet durian montong nih.”


Tentu saja ucapan Mas Angga langsung membuat tawa kami keluar.


“Sedep Mas kayaknya, duriannya.” Imbuh Rizal.


Sam hanya tersenyum kecil lalu melipat kedua tangannya ke depan. “Ini bukan sekedar durian montong.”


“Serius, Pak?” Tanya Rizal.


“Wah, boleh dong, Sam, bagi-bagi sama kita?” ucap Mbak Sari dengan raut wajah jenaka.


Sam menatap ke arahku sejenak yang anehnya langsung membuat aliran darah di sekitar wajahku terasa makin cepat.


“Boleh ... nanti pulang kerja saya traktir kalian makan.” Ujar Sam dengan begitu santainya.


Dan tentu saja ucapan Sam barusan langsung membuat ruangan kami seketika heboh. Di tambah ini masih pagi yang tentunya stok sarapan kami masih penuh-penuhnya.

__ADS_1


Aku lihat Sam langsung berjalan masuk ke ruangannya setelah sebelumnya melempar senyum tipis nan manis ke arahku. Duh Gusti ... Bisa-bisa hamba-Mu ini lama-lama kena diabetes sama serangan stroke ringan karena makhluk memikat itu.


__ADS_2