
Haii... aku balik lagiihh!!
Semoga kalian sehat selalu, dan semoga virus covid-19 nya cepat berlalu di bulan ramadhan ini!
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Cuuss lanjuutt...
Happy reading!!
##
Malam ini Aku, Papa, Mama dan Vino tengah berkumpul di ruang keluarga untuk menonton TV. Sebenarnya sih kalo formasi sedang lengkap begini, yang cenderung lebih memperhatikan acara TV nya itu hanya Mamaku saja. Kami semata-mata berkumpul hanya untuk menghargai, masa-masa kehangatan kami sebagai keluarga yang bahagia dan lengkap ini.
Vino sibuk dengan game di Hpnya, Papa lebih asyik dengan buku bacaannya. Sedangkan aku juga tak kalah sibuk dengan Hpku. Sesekali aku memang tak bisa menahan senyum saat sedang berjelajah di dunia sosial mediaku. Dan hal tersebut mengundang perhatian dari Papa, Mama dan Vino.
Dan kalian tau apa yang mereka pikirkan? Setelah sekian lama aku memahami situasi ini. Aku baru bisa menyimpulkan sebuah hipotesis yang berbunyi.
Pemikiran keluarga saya, ketika anda tersenyum menghadap ke ponsel, berarti anda mempunyai pacar.
Tapi aku masih butuh lebih bukti yang konkret lagi untuk hal itu. Tapi pasti sikap Mama akan selalu berubah setelah melihat aku senyum-senyum sendiri saat menatap ponsel. Mama akan mulai berkata dengan perkataan yang berisi kode-kode agar aku terpancing dengan pembicaraannya. Dan Vino si adik semprul, pasti akan langsung mepet-mepet ke arahku dan melirik-lirik ponselku.
Padahal kan penyebab aku senyum juga bukan hanya karena aku sedang chat dengan seseorang. Bisa jadi aku tersenyum karena sedang melihat video kucing kawin, misalnya.
“Del, acara lamaran Dewi besok kamu ikut kan?” Mama membuka suara,
“Ya kalo hari libur, Adel usahain ikut deh Ma. Tapi kalo pas hari kerja Aku nggak janji lho ya.”
“Jangan kerja di jadikan alasan buat lo nggak ikut hadir, Mbak. Padahal selain itu, ada alasan lain kan yang lebih nyata dan bersifat kebenaran.” Ini bocah ngomong apa sih.
Aku mendengus, “Vin, mending lo diem aja ya? Mau gue tabok?”
“Ya di usahain dong, ijin sama atasan kamu. Atau kalo sekalian mau ngajak Bos kamu juga boleh kok.” Mama tertawa di ikuti Vino.
Aku menoleh ke arah Papa yang terlihat cuek-cuek saja. “Papa, Adel nggak ikut gak apa-apa kan?”
Semoga Papa bilang iya.
Papa tersenyum ke arahku, “sebenarnya gak apa-apa, tapi lebih baik kalo ikut. Sekalian kumpul sama keluarga.”
Sebenarnya aku malas sekali membayangkan kalo aku berkumpul dengan keluarga nanti. Dan aku malas juga, untuk membayangkan semua pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan padaku nanti.
##
Aku baru saja selesai merapikan meja dan tempat ku bekerja. Lalu aku menghidupkan komputer dan mulai menyandarkan punggungku ke kursi.
__ADS_1
“Kenapa ya di Indonesia itu status hubungan sangat di pentingkan?” Tanyaku sembari memutar-mutar kursiku.
“Kenapa, Mbak? tiba-tiba tanya masalah status.” Kata Tiwi yang berbalik bertanya.
“Halah Wi, kayak nggak tau aja. Paling juga Adel mulai frustrasi tuh sama dirinya sendiri, yang sampai sekarang masih juga jomblo. Sudah 26 lho bentar lagi bakalan 27 umurnya.” Ujar Mbak Sari.
“Terus kenapa? Luna Maya aja yang udah 30an gue denger juga masih jomblo.”
“Terus lo mau nyontoh Luna Maya?” Tanya Mas Angga.
Aku berpikir sejenak, sebelum aku menjawab. Karena yang ku ketahui ucapan adalah doa. Jadi aku harus mengucap kata-kata yang baik supaya kalo di ijabah, jadinya baik juga untukku.
“Ya nggak lah, gue nggak mau kayak dia. Kalo boleh minta juga secepatnya gue di kasih pacar, terus nikah juga mau kok.” Jawabku yang ku akhiri dengan cengiran.
“Nikah aja sama orang gila, Del.” Celetuk Mbak Sari.
“Enak aja lo, susah tau! Bisa-bisa gue ikutan gila. Gue Cuma merasa seperti orang kesepian aja sih, setiap gue senyum sambil lihat HP pasti di kiranya sedang chatting sama pacar gue. Kalo beneran gue lagi chat sama seseorang sih gak pa-pa. Masalahnya, gue Cuma lihat video lucu doang.”
Rizal menatap ke arahku, “Del, ternyata ngenesnya sudah mulai menguasai pikiran elo.”
“Bahaya tuh, gue saranin lo konsul ke psikiater aja deh Mbak.”
“Lo kira Adel gila, Nyil.” Sahut Mas Angga sambil menatap ke arah Tiwi.
“Nggak perlu konsul segala, cukup sama gue aja. Gue jamin masalah terpecahkan.” Rizal berucap bangga namun membuat kami semua ingin menghujatnya.
“Tapi setalah gue pikir-pikir, lo ada benarnya, Zal.” Mereka semua menatapku serius, “nggak punya pacar kesepian, punya pacar nyusahin. Emang yang paling bener itu gapunya pacar, tapi punya seseorang yang kayak pacar.” Aku menjentikkan jariku, “sepertinya gue harus mulai mempertimbangkan lagi hubungan kita deh, Zal. Gimana kalo kita...?”
“Nggak..nggak..nggak... sorry ya Del, gue udah terlanjur malas hidup berkesinambungan dengan hubungan friendzone. Sakit gue kalo ujung-ujungnya dia milih cowok lain.”
“Hahaha... ternyata salah satu penyebab daftar mantan lo banyak, akibat friendzone yang lo hitung dalam daftar mantan, Zal. Baru tau gue.” Kata Mas Angga.
“Ya iyalah Mas... kan manggilnya juga udah sayang-sayangan. Eh, sayangnya dia kecantol sama orang lain.” Kami semua terkekeh mendengar curhatan Rizal. Ternyata di balik kisah cinta manusia itu menyimpan sejuta kengenesan juga. “Tapi kalo lo mau yang serius, gue siap loh, Del. Kapan? Minggu depan gue langsung siap deh.”
“Tapi sepertinya, untuk hal itu. Gue yang nggak siap.” Rizal mengerucutkan bibirnya.
“Angga ke ruangan saya sekarang”. Perintah Pak Sam dari ambang pintu. “Sudah jam kerja, buruan kerja! Jangan bahas status terus!”
Aku menatap horor ke arah Pak Sam. Dari mana Bosku itu tau hal yang kita bicarakan.
Mas Angga mulai berjalan masuk dan menutup ruang kerja Pak Sam.
“Sumpah, kok gue mulai takut ya. Tuh Bos bisa tahu dari mana coba, dengan topik pembicaraan kita?” Ujarku mulai menduga-duga.
“Gue setuju, Del. Jangan-jangan Pak Sam bisa menerawang pikiran, kayak anak-anak indi.” Ucap Mbak Sari yang menyetujui dugaanku.
__ADS_1
Tiwi mengernyit ke arah Mbak Sari, “Indi? Maksudnya Indihome, Mbak?”
“Indihome saluran internet PE'A! India!” Kali ini Rizal yang bersuara.
“Indigo. Guoblok emang lo bertiga!” Pisuhku yang malah di sambut tawa oleh mereka.
Beberapa menit kemudian Mas Angga membuka pintu di ikuti Pak Sam yang berjalan di belakangnya. Aku, Tiwi, Rizal dan Mbak Sari hanya menunduk dan tak berani menatap ke arah Pak Sam. Kalo tuh Bos benar-benar bisa membaca pikiran bisa gawat! Hancur sudah sobat perghibahanku.
“Bulan lalu kamu ngerjain tugas ini sama siapa, Ngga?”
“Sama Adelia, Sam.”
Pak Sam mengangguk, “Adelia, kamu bantuin tugas Angga ya?”
“I...iya, Pak.”
“Kenapa? Kamu baik-baik saja kan?” Pak Sam menatapku yang tengah tersenyum canggung.
“Iya, saya baik-baik saja kok Pak. Nanti saya akan bantuin Mas Angga.”
Pak Sam membulatkan bibirnya, “saya kira kenapa, soalnya kamu seperti orang ketakutan saat melihat setan.”
Tiba-tiba saja jantungku rasanya mau loncat. Aku nggak ingin lagi misuh dalam hati. Sebaiknya ku tunggu Pak Sam pergi setelah itu baru luapkan.
Pak Sam lalu berjalan dan masuk ke dalam lift.
“Tadi pikiran lo nggak lagi ngatain dia setan kan, Del?” Aku menatap ke arah Mbak Sari.
“Nggak Mbak, sumpah! Gue nggak mikirin apa-apa tadi.” Ucapku bersungguh-sungguh. “Mungkin setelah sekian lama, Pak Bos mulai menyadari kalo kelakuannya sama persis dengan setan.”
“Sssttt...” kami semua menoleh ke arah Rizal, “kita harus mulai hati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Bisa jadi kita mulai di mata-matai.” Ucap Rizal serius.
Walaupun itu terdengar konyol. Tapi, aku setuju dengan ucapan Rizal. Dalam hidup ini nggak mungkin ada kan yang namanya kebetulan sampai berkali-kali.
“Mas, gue tau gue cantik. Tapi gue cukup sadar diri kalo kita itu sama sekali nggak ada penting-pentingnya buat di mata-matai.” Kata Tiwi dengan wajah jujur.
Kali ini ucapan Tiwi cukup masuk akal, dan cukup menyadarkan kita juga.
“Atau jangan-jangan, yang memata-matai kita salah satu Jin anak buah Pak Sam?”.
Aku menatap ke arah Mbak Sari, “wah, jangan gitu dong, Mbak. Gue kan jadi takut! Om Jin, tolong jangan ganggu dan ngintilin gue ya, yang gue omongin itu fakta kok, suer deh!” Ucapku takut-takut sembari melihat-lihat ke atas.
“Istigfar woy!! Gue cukup memaklumi punya temen sarap kayak kalian. Kalo harus tambah punya temen sarap dan Pe'a, gue angkat tangan aja deh. Nggak mau ikutan!”
Dan tentu saja Aku, Rizal, Tiwi dan Mbak Sari langsung menatap ke arah Mas Angga. Dan bersiap-siap untuk melemparinya dengan bolpoin.
__ADS_1