My Boss Samuel

My Boss Samuel
Part. 2 - SAMUEL


__ADS_3

“Saya baru bekerja di sini dan saya sudah di sambut dengan hal seperti ini. Nggak berguna!” aku melemparkan laporan itu ke lantai, menatap wanita yang baru saja masuk ke ruanganku. “Apa kamu tidak bisa mengerjakan laporan dengan baik? Saya lihat kamu sudah cukup lama bekerja di sini.”


Dia menunduk. “Maaf, Pak. Saya akan memperbaiki ...”


“Ini sudah perbaikan yang ke lima tapi tidak ada perubahan.” Aku menyela cepat. Sejak pagi tadi memang hanya laporannya yang belum mendapat persetujuanku dariku.


Dia mengangkat wajah, menatapku dengan sorot kesal tapi mulutnya terkatup rapat. “Saya akan mencobanya lagi.”


“Cepat!”


Matanya membulat, mulutnya mengumpat tanpa suara. Aku bersidekap, menunggu barangkali dia akan membantah, tapi dia hanya menghela nafas kuat-kuat lalu mengangguk. “Kalau begitu saya permisi.” Ujarnya lalu membalikkan tubuh tanpa menunggu jawabanku.


Ck, dasar tidak sopan!


“Siapa yang bilang kamu boleh pergi?!”


Dia berhenti melangkah, menatapku dari balik bahunya. “Bukannya saya harus kerjakan laporan ini sekarang?” dia terlihat kesal.


Great! Dia punya cukup nyali juga rupanya. “Of course.” Aku meraih tiga map yang ada di atas meja lalu menyerahkan itu ke tangannya. “Sekalian periksa laporan ini dan saya tunggu satu jam lagi.”


“Satu jam?!” Dia memekik kencang.


“Yes, harus on time.”


Dia kembali membuka mulut dan kembali menutupnya. Memeluk tiga map itu erat-erat di dadanya seolah ingin meremukkan map itu secepatnya. Lalu tanpa mengatakan apapun, dia keluar dari ruanganku.


“Dasar sialan, bos setan! Nggak punya perasaan! Bos kampreeet!” aku masih bisa mendengar dia mengomel dengan suara kencang di luar sana, sama sekali tidak peduli meski dia tahu aku akan mendengarnya.


Aku bersandar pada daun pintu. Tersenyum geli.


Sepertinya ini akan menyenangkan. Harusnya aku menarik ucapanku yang mengatakan aku menyesal bekerja di sini, karena ternyata bisa menyiksa dan mengerjai anak buah itu sangat menyenangkan. Apalagi yang bernama Adelia itu, baru bekerja sama sehari saja sudah berani mengatai aku setan. Well, kita lihat saja, sejauh mana dia mampu bertahan. Kalau dia bisa bertahan bekerja denganku ...


Maka dia adalah ... Perempuan hebat.


Aku terus bersandar dan mengintipnya melalui tirai jendela kaca. Mulutnya terus bergerak, mungkin mengumpat atau mengomel, aku juga tidak tahu. Tapi meski ia tampak kesal, ia tetap mengerjakan pekerjaannya dengan cekatan sambil sesekali meladeni ucapan teman-temannya.


Aku tersenyum tipis. Aku kira wanita sepertinya tidak akan mau bekerja sebagai karyawan kantoran.


Untuk ukuran wanita. Dia cantik. Sangat cantik.


Dan dia juga ... Menarik.


Malam ini aku berkunjung ke rumah kakek yang ada di Jakarta. Sebenarnya kakek punya rumah di sini tapi aku tidak mau tinggal bersamanya. Ya, anggap saja aku ingin mandiri.


“Bagaimana pekerjaan kamu?” aku menatap kakek yang tengah menaruh cangkir teh ke atas meja.


“Biasa aja.” Aku menjawab datar sambil terus bermain game pada ponselku.


“Sam.”


Aku menghentikan permainanku lalu menatap kakek. “Kenapa?”

__ADS_1


“Mumpung kamu sudah tinggal di sini sering-seringlah keluar. Cari teman, mulai jalani hidup yang lebih dewasa. Kamu hampir tiga puluh tahun, kan?”


Aku tahu kemana arah pembicaraan kakek ini. “Memangnya kenapa?”


Kakek hanya mengangkat bahu. “Nggak apa-apa. Kakek hanya nggak mau kamu terbebani dengan kejadian dua tahun lalu. Kamu ... Masih normal kan?”


Keningku berkerut saat mendengar pertanyaan kakek. Pertanyaan apa itu?


“Jadi kakek anggap cucu kakek ini nggak normal?”


“Bukan begitu maksud kakek. Maksudnya, kamu masih suka dengan perempuan kan?”


Aku melongo menatap wajah polos kakek saat menanyakan hal seperti itu. “Kenapa memangnya?”


Kakek segera mendekat ke arahku. “Kakek hanya khawatir karena selama ini kamu belum pernah pacaran. Apalagi sejak ... Kejadian dua tahun lalu. Kamu seperti semakin menghindari wanita.”


Aku hanya menatap kakek dengan wajah datar. “I’m normal.” Ujarku dan seketika kakek langsung bernafas lega lalu tertawa.


“Syukurlah, syukurlah.” Kakek mengusap dadanya sendiri. “Sudah-sudah sekarang mendingan kamu tidur saja. Ini sudah malam dan besok kamu harus bekerja lagi kan.” Kakek menepuk bahuku pelan.


Aku menatap kepergian kakek dengan rasa heran. Memangnya aku terlihat tidak normal kah? Walaupun aku memang belum pernah menyukai wanita tapi aku cukup yakin seribu persen kalau aku normal. Buktinya selama ini aku biasa saja ketika berdekatan dengan seorang pria.


Eh?!


Aku langsung bergidik. Apa sih? Kenapa aku malah membayangkan yang tidak-tidak? Ah, pertanyaan kakek benar-benar tidak masuk akal.


Hari-hariku bekerja sebagai manager terus berlanjut. Bahkan aku makin menyukai pekerjaan ini. Menjadi Bos dari anak buah yang menurutku sedikit aneh. Tidak hanya satu melainkan hampir semua anak buahku, aku rasa memang aneh. Mereka sering sekali berkata hal-hal aneh yang membuatku diam-diam tersenyum geli. Tapi tak jarang juga mereka membuatku kesal karena mereka sering mengobrol dan tidak tanggung jawab dengan pekerjaan mereka.


Tapi sialnya, tidak ada satupun dari mereka yang membuatku tertarik. Saat-saat seperti itulah yang membuatku berpikir, apakah aku ini benar-benar normal?


Sial.


“Sejak Pak Sam kerja di sini divisi kita jadi terkenal loh.” Saat ini aku sedang berada di ruang meeting bersama anak buahku. Kami baru saja selesai meeting dan menggunakan sisa waktu untuk bersantai sebelum kembali bekerja.


“Oh ya? Kenapa?” aku menatap Rizal yang sedang tersenyum ke arahku.


“Dulu sih karena saya. Cowok paling tampan di lantai ini.” Semua temannya langsung berteriak protes.


Dari awal berkenalan pria bernama Rizal itu memang sangat konyol.


“Kapan sih penyakit lo sembuh, Zal? Jangan sampai otewe gila lo. Jangan dengerin dia, Pak. Dari awal udah nggak waras entah bisa masuk ke sini lewat jalur apa?” ucapan Sari berhasil membuat yang lainnya tertawa.


“Jalur tikus kali.” Angga ikut mengomentari.


Sejak pertemuan pertama dan menjadi bos mereka aku jarang sekali ikut bercanda dan tersenyum di depan mereka. Tapi sejujurnya aku juga ikut tersenyum di dalam hati dan percayalah itu sangat menyiksa.


Aku berdehem untuk menyamarkan senyum. “By the way, dari awal kan saya sudah bilang kalau kalian bisa memanggil saya dengan sebutan nama saja.”


Aku sedikit merasa asing di panggil 'Pak' karena aku terbiasa di panggil dengan sebutan nama saja. Bahkan sepupuku yang jauh lebih muda saja aku suruh panggil nama.


“Wah, nggak bisa dong, Pak. Nggak sopan masa panggil nama sama atasan.” Ujar Angga terlihat sungkan.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Saya justru malah nggak suka dengar kalian panggil Pak ke saya. Saya nggak biasa.”


“Nggak mau, ah.” Tiwi mulai membuka suaranya. “Kalau di suruh panggil sayang aku baru mau.” Bocah itu tertawa sambil menyembunyikan wajahnya karena malu.


“Gue juga mau kalau gitu.” Bisik Adelia dan mereka kembali tertawa lagi.


Mereka mulai lagi.


“Elaaah, tega banget sih ngomong gitu deket kuping gue, Del.” Rizal terlihat mencubit pipi Adelia.


Aku hanya menatap datar ke arah mereka lalu berdiri. “Ya sudah kalau tidak mau. Tapi saya tetap mengkhususkan Angga sama Sari panggil saya dengan sebutan nama saja. Tidak boleh protes.”


“Tapi, Pak ...” belum sempat Angga melanjutkan kalimatnya aku sudah keluar dari ruang meeting tersebut.


Pintu lift perlahan terbuka dan aku melihat di depan ada Adelia yang tengah sibuk menata berkas-berkas yang dia bawa. Dia terlihat fokus dengan berkas di tangannya sampai tidak melihatku yang hendak keluar lift.


“Aduh, kalau jalan pakai mata dong!”


Tentu saja aku langsung berhenti melangkah, menatap ke belakang di mana Adelia tengah membereskan kertas-kertas yang berserakan. Aku menatapnya bingung. Dia kenapa? Apa dia sadar berbicara seperti itu?


“Udah nabrak nggak bantuin lagi!” suara ketusnya kembali terdengar. Padahal aku sama sekali tidak merasa menabraknya.


“Excuse me?” aku bertanya padanya.


“Harusnya sorry bukan excus ...” dia langsung melotot begitu mengangkat kepalanya saat menyadari kalau aku yang ada di hadapannya. “Pak Sam!” dia memekik kencang lalu menutup mulutnya dengan berkas yang dia bawa. “Maaf, Pak. Saya nggak lihat kalau ternyata ... Bapak yang nabrak.” Gumamnya sambil menunduk.


“So, kamu tetap akan menuduh saya jalan nggak pakai mata?”


“Enggak, Pak.” Selanya cepat. Adelia langsung masuk ke dalam lift begitu saja. “Sekali lagi maafkan saya, Pak.” Dia menunduk dan tubuhnya menghilang di balik pintu lift yang mulai tertutup.


Dia benar-benar aneh.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


##


Ramaikan dong genks aku kan kangen baca komen-komenan kalian yang kadang bisa buat aku ketawa-ketawa sendiri 🤭🤭


Betewe, sampai part dua ini udah ada yang mikir kalau Sam itu ternyata nggak se-garang dari apa yang kalian bayangin selama ini?

__ADS_1


__ADS_2