
Selamat Hari Minggu...
Happy holiday semuanya...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku sudah berbaring di ranjang tempat persalinan. Ada dokter Lala dan beberapa suster di depanku. Sakit terus menyerang perutku ... begitu sakit dan mulas, sepertinya anakku ini memang sudah benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Aku menatap Sam yang sejak tadi selalu setia menemaniku sambil menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. Wajahnya tampak resah, aku tahu mungkin dia takut. Sam terus mengecupi punggung tangan dan keningku, yang bisa aku lakukan hanyalah membalasnya dengan tersenyum. Ya, walaupun sebenarnya sedikit terpaksa. Aku hanya ingin Sam tahu kalau kita akan baik-baik saja, aku dan anak kami akan berjuang bersama.
“Dok, bukaannya sudah lengkap.” Ucap salah satu perawat.
“Baik, kalau begitu ayo kita mulai persalinannya.” Ujar Dokter Lala kemudian. “Ibu Adelia, tolong ikuti sesuai aba-aba saya, ya.” Imbuhnya.
Aku mengangguk dan mulai menarik nafas. “Bismillah.” Sam pun ikut mengangguk dan menggenggam tanganku semakin erat.
“Yak, atur nafas lalu mengejan sekuat tenaga.”
“Iya, ayo sedikit lagi.”
“Dorong.” Begitulah instruksi yang selalu dokter Lala katakan.
Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk agar bisa segera bertemu dengan malaikat kecilku.
“Ayo, sayang. Kamu bisa semangat.” Sam menggenggam tanganku erat sambil terus memberiku semangat. Sesekali mengecup dan menyeka keringat yang membanjiri kening dan pelipisku.
“Sedikit lagi, dorong.”
Akhirnya ...
“Oeeekkk ...”
__ADS_1
Dan malam itu akhirnya, telah lahir anak pertama kami, seorang bayi laki-laki.
Suara tangis kencangnya terdengar memenuhi ruang persalinan ini. Aku lihat Sam mengerjap dengan cairan bening yang menetes dari matanya, dia tersenyum ke arahku lalu mengecup keningku, kecupan yang sangat lama.
“Terima kasih, sayang.” Tuturnya.
Aku tersenyum dengan mata terpejam, namun tak bisa menahan air mata yang mulai mengalir dari sana.
Sekarang aku adalah seorang Ibu. Ternyata seperti inilah pengorbanan seorang Ibu melahirkan anaknya, sungguh luar biasa. Sekarang lengkap sudah keluarga kecilku.
Selepas aku memberikan ASI pertamaku untuk bayiku, tak banyak yang bisa aku ingat. Aku hanya bisa mengingat wajah mungil yang begitu manis tengah terlelap di dalam pelukanku. Dan wajah Sam atau yang sekarang akan di panggil Daddy itu terus saja mengecupi keningku sambil sesekali menyeka air matanya.
Tubuhku terasa lemah dan pandanganku mulai berkabur.
•••
Axcello Gavin Dilaga, lahir dengan berat mencapai tiga koma lima kilogram. Cukup besar untuk ukuran seorang bayi. Kulitnya kemerahan, rambutnya lebat dan bibirnya begitu merah dan mungil.
“Mirip kamu ya, Sam.” Sam menoleh ke arah Mama yang berada tepat di sampingnya. Dia tersenyum, menatap salah satu keajaiban yang ia saksikan sendiri kelahirannya di dunia ini.
Bagaimana aku sebagai istrinya telah berjuang sekuat tenaga demi anak kami.
Kondisiku masih sedikit lemah, karena aku baru saja terbangun dari tidurku. Sedangkan Sam sejak tadi terus menggendong putra kecil kami sejak lahir hingga kini, sudah dua jam berlalu.
“Di taruh aja, Sam. Nanti manja loh.” Sam terlihat tersenyum ke arah Mama.
“Masih pengen meluk.” Jawabnya sambil mencium kening Axcello yang masih tertidur.
“Wah, ganteng banget sih keponakan Uncle.” Aroon datang bersama Raffael lalu menatap wajah kecil Axcello. “Mirip kamu banget ya, Sam?”
“Iya nih. Curang lo Brother, masa Adel nggak kebagian sama sekali.” Raffael ikut berkomentar.
“Lihat dong.” Mas Tristan ikut menyempil untuk melihat keponakannya. Tiga pria besar itu kini sedang berhimpitan untuk melihat putraku.
Begitu mendengar kabar kalau aku akan melahirkan semua anggota keluargaku dan keluarga Sam langsung berkumpul. Dan jadilah ramai seperti ini.
“Minggir, anak aku masih tidur.” Ujar Sam menepis Aroon agar menjauh.
__ADS_1
“Pelit.” Aroon menjauh, membiarkan Mas Tristan yang menatapi wajah Axcello yang masih berada dalam pelukan Sam.
“Boleh gendong nggak?”
Sam terlihat menatap Mas Tristan yang menatap anak kami tanpa berkedip. Lalu setelahnya dia menyerahkan Axcello ke tangan Mas Tristan. “Awas kalau jatuh!” ancamnya.
Aku hanya bisa tersenyum bersama Mama yang duduk di sebelahku. Lalu Sam berjalan mendekati ranjangku.
“Kok curang? Tristan boleh gendong. Aku ngelihat aja nggak boleh.” Protes Aroon.
“Makanya kalian cepet-cepet bikin anak sendiri.” Celetuk Kakek Robert yang masih berdiri di ambang pintu.
“Mau bikin sama siapa. Lawannya aja belum ada.” Ujar Aroon.
“Betuuul!” imbuh Mas Tristan dan hal tersebut berhasil membuat kami semua tertawa.
Sam kini duduk di tepi ranjang ku dan mengecup keningku.
“Gimana perasaan kamu?” dia bertanya sambil memandangiku.
Aku tersenyum lembut, meraih tangan Sam dan menggenggamnya. “Bahagia.” Bisik ku pelan sambil tersenyum manis.
“Aku juga.” Bisik Sam pelan sambil mengecup keningku.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1