
Hallooow, aku balik lagi.
Sebenarnya aku masih males buat Up.
Habisnya NT ku masih eror terus, bayangin deh komenku udah numpuk banyak tapi nggak bisa di buka. Eh, pas di buka malah masuknya entah nyasar ke komennya siapa itu gue nggak kenal...
Tapi ya udah lah...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
“Kita kemana?” Aku bertanya dan mengikuti Sam yang sedang menyeret koper di Lobi Elino Hotel.
“Hm.” Dia hanya bergumam tidak jelas.
Sejak kejadian Raffael mencium pipiku tadi siang, hingga kini Sam masih tidak mau bicara padaku. Menjengkelkan bukan?
“Sam.” Aku menarik lenganku.
Dia menatapku datar. “Pindah ke Villa. Di sini banyak setan.” Ujarnya kesal.
Tunggu dulu, apa dia bilang? Kok aku ingin tertawa ya? Bukankah dia sendiri juga setan? Kok bisa sih setan teriak setan, tidak sadar diri sekali ya?
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” dia bertanya ketus.
Aku langsung memasang wajah datar. “Siapa yang senyum? Nggak kok.” Ujarku mendahului Sam melangkah keluar dari Lobi.
“Iya, kamu senyum-senyum tadi.” Dia mengejarku dan bersidekap di depanku. “Kamu nggak berusaha minta maaf sama aku?”
Aku melongo? Apa katanya? Minta maaf untuk apa? Memangnya aku melakukan kesalahan apa?
“Kenapa aku harus minta maaf?” tanyaku heran.
Dia melotot. “Kamu nggak merasa bersalah?”
Aku menggeleng santai. “Nggak tuh.” Ujar ku sambil tersenyum.
“Aish! Kamu ini.” Ujarnya kesal sendiri. “Kamu biarin Raffael cium kamu.” Dia berkacak pinggang.
“Terus kenapa?” aku menatapnya tajam, menantang.
“Kenapa?” ucapnya dengan nada ketus. “Seharusnya dia nggak melakukan itu.”
Ya Tuhan ...
__ADS_1
Harus banget ya bertengkar di tengah-tengah Lobi begini? Untung hanya ada kami berdua, coba kalau tidak sudah pasti akan menjadi tontonan.
“Haha, lucu sekali, Sam. Dia tidak ada maksud apa-apa sama aku.” Ujar ku sarkas.
“Kamu itu istriku.” Ujarnya semakin kesal.
Aku memutar bola mata. Yang bilang aku istrinya presiden siapa?
“Kamu kenapa sih? Dia Raffael loh, adik sepupu kamu, artinya adik aku juga.” Aku mencoba bersabar.
“Aku nggak suka dia pegang-pegang kamu.” Dia menatapku cemberut.
Astaga! Kenapa dia semakin kayak bocah sih?
“Please deh, Sam. Ini Cuma masalah sepele loh.”
Dia masih cemberut. “Nggak ada yang sepele bagi aku kalau itu menyangkut kamu.”
Aku menghela nafas lelah. “Ya udah, nggak akan lagi. Lagian kita baru nikah sehari, kamu udah mau ngambek.”
“Aku nggak ngambek!” sambarnya cepat.
“Iya kamu ngambek. Kayak anak kecil.” Ledekku sekalian.
“Aku bilang enggak, ya enggak!” tegasnya.
“Iya!” aku tetap ngotot
Aku melotot heran.
“Mau kemana kamu?!” aku menjerit memanggilnya.
“Tidur.” Jawabnya datar dan menekan tombol lift.
Aish! This devil! Dia mau main-main denganku ya? Baiklah, terus aja bersikap kekanakan seperti itu, memangnya aku peduli? Aku tidak akan membujuknya sedikitpun.
“Nona.” Aku menatap Pak Awan, manager hotel tersebut menghampiriku. “Mobil sudah siap di depan dari tadi.”
Aku menggeleng. “Sam nya ngambek, Pak.”
Pak Awan menatap dua koper di depanku. “Nona sama Tuan Sam nggak jadi pergi?” aku hanya bisa menggeleng. Lagi pula aku tidak tahu mau kemana. Sam hanya bilang ingin ke Villa.
Tapi Villa yang di mana? Keluarganya punya beberapa Villa di sini. Aish!
“Kalau begitu saya bantu bawakan kopernya kembali ke atas.” Ujar Pak Awan.
Aku mengangguk, melangkah kesal menuju pintu samping Lobi, membiarkan Pak Awan kembali membawa koperku menuju lantai atas.
“Loh, nggak jadi pergi?” Natalie menghampiri aku yang melangkah menuju pantai.
__ADS_1
“Sam ngambek, Ck. Kekanakan banget kan, Cuma gara-gara Raffael isengin dia.” Ujar ku bete.
Aku lebih memilih pergi ke pantai saja, berkumpul dengan yang lainnya daripada harus satu kamar dengan si setan marah itu.
Natalie tertawa. “Aku baru tahu dia suka ngambek.”
“Kamu bayangin deh, Nat. Dia itu kalau di kantor berwibawa, tegas, galak, sadis, dingin. Lah sama aku? Kayak anak kecil tahu nggak? Dikit-dikit ngambek, siapa yang nggak sebel coba.” Ujar ku panjang lebar.
Natalie hanya terkikik geli. “Anak laki-laki memang seperti itu, terkadang mereka itu seperti bocah yang terperangkap di dalam tubuh orang dewasa.”
Aku mengangguk setuju.
“Nggak jadi pergi?” Raffael berlari menghampiriku setelah bermain voli pantai bersama saudaranya yang lain.
Bahkan aku juga melihat Vino ikut bermain di sana. Ternyata anak itu mudah juga berbaur dengan keluarga Sam. Apalagi Vino itu sifatnya hampir sama dengan Kai, sama-sama usil. Jadi aku sudah tidak kaget jika melihat mereka berdua langsung menjadi akrab sejak pertemuan pertama mereka.
“Sam ngambek. Gara-gara tadi pagi.”
Raffael tertawa kencang setelah mendengarnya. “Ya udah, jangan di bujuk. Biarin ngambek begitu.”
“Lagian dia sering banget ngambek. Bikin kesel aja.” Ujarku.
Raffael dan Natalie tertawa bersama. “Dia sama lo Cuma ngambek, Del. Kalo sama gue langsung main tonjok tahu nggak? Ingat pas kita barengan datang ke apartemennya.” Aku mencoba mengingat kejadian yang sedang di bicarakan Raffael. “Setelah lo pulang, dia ngajak main basket. Gue pikir main biasa, eh ... Nggak tahunya dia sengaja lempar bola ke wajah gue terus. Akhirnya dia emosi dan langsung nonjok gue.”
Aku dan Natalie semakin terbahak mendengar cerita Raffael. Pantas saja, saat itu Sam terlihat biasa saja. Aku kira kalau dia menyadari kalau Raffael adalah sepupunya jadi dia tidak harus cemburu. Eh, ternyata diamnya dia itu gara-gara menahan emosi toh. Ck!
Raffael lalu menarik tanganku menuju pantai. Dan mengajakku ikut bermain voli bersama yang lainnya.
Sekali-kali aku memang ingin membiarkan Sam bergelut dengan kekesalannya sendiri. Syukur-syukur dia bisa sadar dengan sikapnya yang kadang terlalu berlebihan itu. Sebenarnya aku juga tidak terlalu masalah dengan sikapnya itu tapi kalau di biarkan terus kapan dia bisa berubah??
Masa iya sih dia mau bertingkah seperti bocah yang dikit-dikit ngambek dan marah. Hello ... Lama-lama aku bacok juga kepalanya.
Lagian setelah ini aku sudah punya rencana kok untuk membujuk Sam. Kita lihat saja seberapa tahan dia mau marah denganku?
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
__ADS_1
Loh kok dikit??? Iya. hahahaha.
Sebenarnya banyak cuma aku potong aja jadi dua. Sekalian ngetes riview nya masih lama apa enggak gituh. Kalau udah nggak lama nanti langsung aku sambung deh 😁