My Boss Samuel

My Boss Samuel
49. Pembalasan


__ADS_3

Halloo semua!!


selamat hari minggu...


Sehat selalu ya biar bisa Like, Vote dan Komen!!


Di share apalagi, bwoleh bwangeeet.


Happy reading yey !!


##


Malam ini aku berbaring dengan malas di tempat tidurku. Berulang kali aku mencoba untuk memejamkan mata. Namun tak kunjung juga tertidur. Aku menghela nafas sesaat. Pantas belum bisa tidur orang masih jam delapan. Sedangkan biasanya aku tidur di atas jam sepuluh.


Aku menyalakan layar ponselku lagi. Aku membuka aplikasi chat dan ku pandang nama 'Bos Kampret', sudah lebih sepuluh menit sejak pesanku terbaca. Namun Sam belum juga membalasnya. Aku membanting ponselku lagi ke samping secara asal.


Siaal!!


Sam benar-benar keterlaluan. Sudah hampir tiga hari ini dia marah dan tak mau aku ajak bicara. Aku harus bagaimana lagi? Maunya dia sebenarnya juga seperti apa, aku pun tak tahu. Apalagi kemarin jelas-jelas aku melihat dia bisa tersenyum saat berbicara dengan Mira. Sedangkan kalo denganku selalu marah bawaannya.


Benar-benar menyebalkan. Mengingat muka mereka berdua kemarin yang asyik tersenyum-senyum sembari berbincang membuatku semakin kesal. Aku harus memberi Sam pelajaran.


##


Tepat pagi ini, aku sudah duduk di depan sebuah cermin besar yang ada di meja rias ku. Dengan semangat aku memoles wajahku dengan riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya. Tak lupa aku juga menggunakan lipstik yang tak kalah cetar dari biasanya. Aku memilih lipstik berwarna merah terang dari salah satu brand kosmetik ternama. Dari iklannya, orang yang memakai lipstik tersebut akan terlihat lebih seksi.


Ya, dan aku percaya itu.


Tak lupa aku juga menambahkan riasan pada mataku. Yang biasanya aku hanya mengaplikasikan eyeliner secara natural. Pagi ini aku sengaja membuat winged eyeliner. Terlihat cocok dengan bulu mataku yang memang lentik ini.


Aku sengaja memakai rok hitam ketat yang lebih pendek dari biasanya. Dan jika Sam kemarin bilang tidak ada yang boleh memakai high heels di divisinya. Kali ini aku akan menantangnya. Aku memakai high heels bahkan yang haknya lebih tinggi dari yang kemarin.


Aku merapikan rambut yang sejak subuh tadi sudah ku buat blow out serapi mungkin. Lalu ku tenteng tas keluar kamar. Tepat saat aku keluar dari kamarku ternyata Vino juga baru keluar dari kamarnya. Kebetulan kamarku dan Vino hanya terpisah satu ruang, yaitu ruang kerja Papa. Vino menutup pintunya lalu berbalik hendak berjalan ke arahku.


“Astaghfirullah!” Vino memegang dadanya dengan mata melotot. “Mbak Adel?” aku hanya tersenyum ke arah Vino. “Kaget gue, Mbak! Gue kira topeng monyet mana yang pagi-pagi begini sudah nyasar ke sini.”


Aku segera memukul kepala Vino. “Enak aja lo! Cantik begini di bilang topeng monyet. Jadi adik kurang ajar banget lo.” Lalu aku berjalan mendahului Vino.


“Namanya kaget, Mbak. Lagian tumben banget dandan menor begitu. Giliran udah punya pacar aja rajin dandan. Dulu cuek aja sampai kusut muka lo.” Vino terus berbicara di belakangku. Sedangkan aku tak ada niat sedikitpun untuk membalas ucapannya.


Selesai sarapan aku segera bersiap diri untuk berangkat ke kantor. Aku berniat untuk memesan taksi online. Maklum, sudah dandan oke begini masak iya harus baik ojek. Sayang dong.


“Mau bareng gue apa enggak?” tawar Vino ketika kami keluar dari ruang tamu.


Aku pun meliriknya. “Lo nggak lihat, mbak mu udah dandan begini lo suruh naik motor KLX lo? Yang ada sampai di kantor gue bisa kayak orang gila.”


Vino hanya terkekeh mendengar ucapan ku. “Justru lebih bagus. Lebih mengundang perhatian.” Dia kembali tertawa.


Dasar punya adik tak kalah kampret. Berhubung taksi yang aku pesan sudah datang aku segera naik dan melaju ke arah kantor.


Aku sengaja datang mepet dengan jam masuk di kantor. Begitu pintu lift terbuka aku segera keluar dengan percaya dirinya. Sesuai rencana ku, pagi ini semua sudah berkumpul di ruangan. Bahkan sosok yang menjadi alasan aku berdandan begini pun juga sudah datang.


Semua mata tertuju padaku saat aku berjalan dengan santainya ke arah mejaku.


“Selamat pagi!” Sapaku dengan wajah sumringah.


Aku melihat wajah Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi menatapku dengan tak percaya. Begitupun dengan Sam.


“Selamat pagi, Pak Sam. Maaf ya sedikit terlambat.” Aku tersenyum ke arahnya. Dan ekspresi Sam berhasil membuatku tertawa dalam hati.


Sam tersenyum kaku padaku. Lalu satu tangannya mengarah ke dasi dan menggerak-menggerakkan dasi yang ada di lehernya itu beberapa kali.


“P-pagi, Adelia.” Sam kembali tersenyum kaku ke arahku. “Ok, kalo begitu selamat bekerja.” Dia terlihat melirikku sebelum masuk ke ruangannya. Menyadari hal itu aku pun membalasnya dengan senyuman manis ku. Namun, Sam segera membuang muka lalu masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Aku pun duduk dengan penuh rasa kemenangan.


'Rasain lo! Seharian nanti gue bakal ngerjain lo!’ kataku dalam hati.


“Del ... Lo mau bikin gue horny, ya?” aku segera melotot ke arah Rizal. “Duh, gue nggak kuat, Del.”


Kurang ajar nih. “Enak aja! Otak lo isinya apa sih? Siapa juga yang mau buat lo horny. Sorry ... Gue gak ada niat tuh.”


“Terus lo dandan begini buat apa?” tanya Rizal.


“Nah, bener. Lo dandan buat apa? Masha Allah ... Mana bibirnya hm ... mau saingan sama ikan Louhan lo?” Kata Mas Angga yang malah berhasil membuat semua tertawa.


Aku hanya memajukan bibirku ke arahnya. “Sekali-kali nggak apa-apa lah. Toh, nggak rugi di gue.”


“Gue baru tahu, lo punya lipstik warna begitu, Del.” Kata Mbak Sari. Aku segera tersenyum ke arahnya.


“Keluaran terbaru. Gue bingung mau pilih yang mana, ya udah deh gue cobain yang ini. Cantik nggak?” tanyaku antusias sembari ku kedip-kedipkan mataku ke arahnya.


“Mbak, gue besok mau kursus make up sama lo boleh, ya?” Aku segera menatap ke arah Tiwi yang kini tengah memasang wajah polos itu ke arahku.


“Gue curiga nih, jangan-jangan ada udang di balik bakwan nih.” Mbak Sari menatapku dengan senyum jenaka. “Lo mau godain atasan yang mana?”


Demi setan yang bersarang di tubuh Sam. Mulut Mbak Sari itu benar-benar membuatku kesal. Apalagi ucapannya itu malah di sambut tawa oleh yang lainnya.


'Ya jelas gue mau godain atasan yang bernama Sam itu lah' ucapku dalam hati tapi.


“Lo jangan suudzon, Mbak. Nggak baik, dosa.” Ucapku sok menasehati.


“Jangan-jangan lo mau godain Pak Arief lagi. Dia kan duda, kaya raya lagi.” Rizal sudah tertawa keras karena ucapannya sendiri. Aku hanya bisa menahan sabar. Kalau masih ada Sam yang muda, single dan kaya kenapa harus memilih duda.


Lihat saja suatu saat mereka pasti akan merasa tertampar setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


##


“Adelia, temani saya meeting dengan Pak Arif sekarang.” Sam berdiri di depan mejaku.


“Jangan ajak Adelia ketemu Pak Arief, Pak. Nanti ada yang berdiri tegak lagi, tapi ... bukan keadilan.” Ucap Rizal nyeleneh.


Mbak Sari tertawa. “Wah ... Tiang listrik dong.” Imbuhnya seru.


Jangan sampai gara-gara teman-temanku itu rencana ku hari ini gagal. Mereka memang teman tak tahu di untung!


Aku pun memilih untuk mengabaikan ucapan dari Rizal maupun Mbak Sari. “Maaf, Pak. Saya tidak bisa, saya sudah ada janji dengan Bu Riska.” kataku sembari tersenyum ke arah Sam.


“Bu Riska?” Sam menatapku.


“Iya. Ada masalah dana di promosi kita minggu depan.” Aku tersenyum lagi. Dan hal tersebut berhasil membuat Sam salah tingkah. “Bapak bisa mengajak Mas Angga atau Mbak Sari.” Tawar ku.


“Hah?” Sam sedikit tersentak ketika mendengar ucapan ku. “B-baiklah, ayo, Ngga. Temani saya.” Aku melempar senyum lagi ke arah Sam saat ia tak kunjung berhenti menatapku.


Pukul sepuluh siang Sam kembali mendatangiku untuk meminta bantuan.


“Nanti sehabis istirahat bisa ke ruangan saya. Saya perlu kerangka promosi kita minggu depan.” Lagi-lagi Sam berdiri di depan mejaku.


“Jam berapa?” Tanyaku.


“Jam satu.” Ucapnya. Aku hanya tersenyum lalu berdiri. Tepat saat aku berdiri aku bisa melihat jelas perubahan wajah Sam yang tampak menegang.


“Maaf, Pak. Jam setengah satu saya sudah harus ketemu Bu Riska lagi.” Aku berjalan perlahan mendekati Sam dan berhenti tepat di sebelahnya. “Kalau hanya perlu kerangkanya, Mbak Sari juga punya kok, Pak. Benar kan, Mbak?”


“Yang lo kirim kemarin kan, Del?” Sahut Mbak Sari.


Aku mengangguk. “Jadi sama Mbak Sari saja ya, Pak.” Ucapku lembut. Aku melihat wajah Sam semakin menegang. Akhirnya aku segera melangkahkan kaki meninggalkan Sam yang masih berdiri di depan mejaku.

__ADS_1


Rasain! Nggak enak kan di kerjain.


Aku berjalan ke pantry dengan perasaan senang. Bahkan aku sampai harus menutupi mulutku supaya aku tak kelepasan dan tertawa dengan kerasnya.


“Buat kopi, Neng?”


“Iya, Mang.” Ucapku kepada seorang OB yang sudah akrab denganku.


“Buat sendiri dulu, ya. Mang lagi sibuk nih.” Aku pun hanya mengacungkan jempol ke arah Mang Diman. Lalu masuk ke pantry.


Aku segera mengambil cangkir, lalu ku tuang kopi dan gula ke dalamnya. Kemudian aku berjalan ke arah dispenser untuk menuang air panas. Saat aku menunggu cangkirku penuh, aku mendengar sebuah langkah kaki berjalan ke arahku. Kemudian aku hanya tersenyum ketika bau parfum maskulin khas yang sudah sangat aku hafal siapa pemiliknya itu menyeruak masuk ke dalam hidungku.


Aku segera membalikkan badan seraya mengaduk kopiku. “Loh, Pak Sam. Bapak mau kopi?” aku berpura-pura kaget, lalu menawarinya kopi.


Sam sedikit berdehem. “Em, boleh.” Aku membalasnya dengan tersenyum lalu mengambil segelas cangkir kosong. “Jangan lupa ...”


“Iya, kopi hitam gula sedikit, kan?” Sam hanya menggaruk tengkuknya lalu mengangguk.


“Del ...” panggil Sam di saat aku menuang air panas ke dalam cangkir. “Kamu sepertinya sedang berusaha menghindari ku, ya.”


“Menghindar?” aku menatap Sam sembari mengaduk kopinya. “Saya nggak menghindar tuh.”


Tuh kan, peka juga. Aku kira setelah aku seperti ini Sam masih tak bisa peka juga. Ternyata dugaan ku salah. Itu berarti aktingku hari ini sangat bagus. Baiklah permainan tidak akan berhenti sampai di sini.


“Tapi sejak tadi kamu selalu menghindar dariku.” Ujarnya terlihat tak percaya dengan ucapanku.


“Buktinya, sekarang saya nggak menghindar tuh. Malah saya buatin kopi buat Bapak.” Aku masih sibuk mengaduk kopi Sam.


“Del!” panggil Sam sedikit keras.


Aku tidak tahu kenapa ia harus meninggikan suaranya. Aku pun akhirnya menatap Sam dengan alis berkerut. Ah ... Wajah itu. Kenapa mendadak jadi rindu begini ya saat menatap wajah Sam. “M-maaf, Del.” Imbuh Sam. Mungkin dia menyadari perubahan ekspresi wajahku saat ini.


“Nggak apa-apa.” Ucapku datar. Aku menyodorkan kopi yang sudah selesai aku aduk. Niatnya, aku ingin segera pergi tetapi Sam segera menahan lenganku. Untungnya pantry juga merupakan kawasan bebas CCTV kalau tidak bisa habislah aku.


Sam meletakkan cangkir kopinya ke atas meja. “Kenapa kamu berdandan seperti ini?”


“Memangnya kenapa? Jelek ya?” Tanyaku polos.


Sam menggeleng. “Enggak. Nggak jelek hanya saja ...”


“Apa?” Tanyaku mendesak.


“Hanya saja, terlalu berlebihan. Aku tidak menyukainya.” Tiba-tiba saja dadaku bergetar setelah mendengar kalimat Sam tersebut. Seperti ada perasaan aneh yang muncul dalam dadaku.


Sam mendekat ke arahku. Kemudian ibu jarinya bergerak menyentuh bibirku. Aku merasa jantungku semakin terpacu kencang saat ibu jari Sam bergerak lembut mengusap bibirku.


“Lipstik ini ... Aku nggak mau melihat kamu memakainya di depan orang lain.” Aku langsung membulatkan mataku ke arah Sam. Apa maksudnya. “Kalo kamu mau, cukup pakai saja saat di depanku.”


Sedetik kemudian sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Ya, hanya sebuah kecupan tetapi bisa membuat seluruh tubuhku seketika membeku.


.


.


.


.


.


To Be Continued...


__ADS_1


__ADS_2