My Boss Samuel

My Boss Samuel
65. Tidak Ada Kapoknya


__ADS_3

Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Jadwal peluncuran produk baru ternyata bisa berjalan lebih cepat dari perkiraanku kemarin. Ternyata tidak perlu sampai dua hari atau bahkan tiga hari. Semua bisa selesai saat ini juga, bukannya mau sombong tetapi ini semua hasil kerja kerasku lho!


Bonus i'm coming.


“Saya mau mengucapkan terima kasih karena kalian sudah bekerja dengan sangat baik.” Tutur Sam. Dia tengah berdiri di tengah-tengah ruangan untuk memberikan ucapan atas keberhasilan pekerjaan divisi ini.


Rizal mengangkat tangan, “Pak! Ini semua sembilan puluh persen berkat Adel lho, Bapak nggak mau memberi ucapan khusus ke Adelia.”


Aku sedikit terkejut mendengar perkataan dari Rizal, apa maksudnya. Kan aku jadi malu, aku mencoba melirik Sam dan rupanya dia juga tampak sama terkejutnya denganku. Alih-alih mengabaikan ucapan Rizal, semua temanku malah langsung mendukung ucapannya agar Sam memberi ucapan secara khusus padaku.


“Iya tuh, kita nggak mau makan teman. Kita tau porsi yang sesuai untuk kita itu seperti apa. Jadi kita nggak bakalan maruk pujian, sorry to say.” Imbuh Mbak Sari.


Walaupun mereka terbilang teman kampret tapi untuk masalah pekerjaan aku dan teman-temanku akan tetap selalu care.


Sam menatapku dengan wajah datar. “Adelia.” Duh, malah jadi aku yang deg-degan padahal hanya mau mendapat ucapan selamat. “Terima kasih atas kerja kerasnya, walaupun saya sempat meragukan kamu. Ternyata kamu bisa mengerjakannya dengan baik. So ...”


Aku menggigit bibir bawahku pelan tak sabar menunggu Sam menyelesaikan ucapannya.


“Terima kasih, Adelia.” Imbuh Sam dengan nada lembut. Dia menatap dan tersenyum ke arahku. Semoga saja pipiku tak merona untuk saat ini.


“Ciyeee ...” ucap Mbak Sari dan Mas Angga kompak.


“Loh kok ciye sih.” Ujar Rizal penasaran.


Mendapat respon seperti itu dari Mbak Sari dan Mas Angga membuatku merasa canggung. Padahal mereka tidak mengetahui hubunganku dengan Sam tetapi mendengar ledekan mereka benar-benar membuatku malu, Ck!


“Menurutmu Adelia sudah masuk kualifikasi calon istri idaman apa belum, Sam.” Celetuk Mas Angga.


Sam berdehem kecil lalu melipat kedua tangannya. “Apa maksud kamu?”


“Pria seperti kamu kayaknya tipe-tipe ceweknya yang rajin bekerja gitu, macam Adelia.” Kali ini Mbak Sari ikut berkomentar.


Dasar mereka. Belum ada habisnya membahas soal kemarin, dan yang lebih menyebalkan Sam juga malah tak bersikap seperti biasanya marah atau apalah. Kalau begini kan aku yang merasa tidak nyaman.


“Gue juga, jadi ada kemungkinan kalau saya jadi kriteria Bapak, kan?” Tiwi mengedipkan matanya ke arah Sam.


Rizal mengangkat tangan. “Kayaknya bukan hanya Pak Sam. Gue pun juga kriterianya kayak Adelia lho.”


“Ye, lo mah semua juga masuk kriteria.” Tukasku kesal.


Sam masih bersikap santai, ia melirik sekilas jam tangannya lalu kembali berbicara. “Kalian belum lupa kan kalau saya tidak suka anak buah saya banyak bicara?”


“Belum, Pak.” Jawab teman-temanku kompak.


“Jadi ...” Sam menaikkan kedua alisnya sembari menatap seisi ruangan ini satu persatu.


Awalnya Mbak Sari terlihat sumringah ketika hendak menjawab ucapan Sam tetapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah dan langsung menunduk.


“Tidak ada yang bisa menjawab.” Ujar Sam lagi.

__ADS_1


“I-iya kami paham, Bos.” Sahut Mas Angga kemudian.


“Good.” Sam lalu kembali masuk ke ruangannya.


Aku sedikit tertawa dalam hati. Aku kira Sam sudah berubah dan akan masuk ke perkumpulan anak buahnya ini ternyata dugaanku salah.


“Anjiir! Gue takut lho kalau si Bos bakalan marah-marah.” Rizal membuka suaranya.


“Duh, gue juga hampir kelepasan. Ngga kayaknya kita terlalu kelewatan deh dari kemarin.” Ujar Mbak Sari ke arah Mas Angga.


Mas Angga mengangguk. “Iya, Sar, mulut gue kayaknya butuh bimbingan.”


Aku mendengus pelan. “Makanya bercanda pakai otak.” Ucapanku berhasil membuat semua teman-temanku mendengus kesal.


Enggak kapok apa ngomongin Bos mulu.


Mungkin mood Sam tadi memang sebenarnya sedang baik. Jadi dia tidak perlu marah dengan tenaga, cukup dengan sindiran dan ternyata berhasil.


Berhubung hari ini divisiku tak ada tugas jadi aku dan teman-temanku bisa pulang lebih awal. Aku mulai mengemas barang-barangku masuk ke dalam tas lalu entah mendapat bisikan setan dari mana tiba-tiba aku mendapat ide untuk mentraktir teman-temanku.


Aku tahu ini masih tanggal tua. Tapi rasanya ingin sekali mentraktir mereka, toh nanti juga bakalan di ganti sama bonus bulananku.


“Guys!” intruksiku berhasil mencuri perhatian semua teman-temanku. “Gimana kalau hari ini gue traktir kalian?” aku menaikkan alisku guna meminta pendapat dari teman-temanku.


Tak sampai dua detik Rizal langsung berlari mendekatiku. “Del, lo itu malaikat apa sih? Cantik, baik, pekerja keras, mau mentraktir teman makan lagi. Gue kan jadi ... Mau lah.” Ucapan Rizal berhasil mendapat tawa dari yang lainnya.


“Mumpung gue masih baik.” Sahutku.


“Kalau begitu gue doain lo baik setiap hari, Mbak.” Ujar Tiwi.


“Dih, ngarep ye!” cibirku. “Yuk! Ke all you can eat kemarin aja ya yang murah.” Ajakku.


Jelas lah, siapa yang tak kompak ketika akan mendapat traktiran.


##


Aku dan teman-temanku sudah berkumpul di meja yang di atasnya sudah lengkap dengan menu-menu pilihan kami. Ya, itung-itung ini juga sebagai ganti rugi saat aku harus mementingkan urusan pribadiku di banding berkumpul dengan mereka kemarin.


Aku mulai mengambil daging lalu aku letakkan ke atas selada dan tak lupa juga aku tambahkan kimchinya biar sama dengan cara makan orang-orang korea.


“Wah, sayang banget, Del. Lo tadi gak ngajak Sam sekalian.” Aku langsung tersedak begitu mendengar ucapan Mas Angga. “Ya elah, Cuma dengar namanya aja sampai tersedak segala.”


Kampret! Mas Angga menertawakan aku.


“Lagian lo kenapa sih, Mas, suka banget ngrecokin Pak Sam?” Tanya Rizal penasaran.


“Ya, enggak sih gue Cuma suka aja ngeledek Sam biar dia cepat-cepat nikah.” Mas Angga tertawa.


“Mau nikah gimana orang Pak Sam aja belum nembak gue.” Mataku membulat penuh ke arah Tiwi. Dasar dedek gemas yang satu ini benar-benar fans beratnya Sam.


Sorry ya, Wi. Kayaknya lo harus siap-siap patah hati kalau gue sama Sam nikah nanti, aku tertawa dalam hati.


“Jangan-jangan Sam gak suka lagi sama cewek.” Kali ini aku melotot ke arah Mbak Sari.


“Maksud lo apa, Mbak?” tanyaku tak terima.


Mbak Sari sedikit menatapku heran. “Ya, gimana ya ... Habisnya gue belum pernah lihat ceweknya Sam.”

__ADS_1


“Bukan berarti belum pernah lihat terus lo menyimpulkan kalo dia nggak suka cewek.” Tegasku.


Sembarangan saja. Aku jadi kesal sendiri.


“Dih ... Segitunya yang membela Bos.” Ledek Mas Angga.


Aku langsung tersadar. Tenangkan diri, aku tidak boleh terpancing dengan omongan mereka. Bisa-bisa menimbulkan kecurigaan lagi.


“Tapi benar juga sih, setau gue pria bule yang tampangnya macho badan atletis banyak yang maho.” Ujar Rizal.


“Nah makanya, Zal, gue juga curiga.” Sahut Mbak Sari.


Aku merasa kebakaran jenggot mendengar obrolan mereka. Berani-beraninya mereka membicarakan Sam di depanku. Dan beraninya mereka beranggapan kalau Sam melenceng.


Oh, God.


Tak tahu apa ya. Sam itu seribu persen normal, bahkan aku sendiri hampir selalu di buat khilaf olehnya. Lagian kalau dia tidak suka cewek apa arti hubunganku dengannya selama ini. Di tambah Sam selalu menunjukkan kalau dia benar-benar seorang pria jika sedang bersamaku, seperti saat berciuman atau seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Ups!


Tidak! Tiba-tiba kok merinding ya ingat kejadian di kamar apartemen Sam waktu itu.


“Kalau itu gue nggak setuju. Pak Sam itu normal ya.” Elak Tiwi.


“Dih, emang lo pernah di apain sama Bos kok percaya banget kalo dia normal.” Aku reflek membanting sumpitku dengan keras ke atas meja setelah mendengar ucapan Rizal.


Ini sudah kelewatan.


“Kenapa lo, Del?” tanya Rizal dan semua kini sudah menatapku.


Aku langsung gelagapan. “Ah, anu ... Tangan gue kram.” Aku meringis ke arah mereka.


Aku hanya berharap mereka bisa percaya, mereka masih saling menatapku dengan alis berkerut dan tentu aku harus semakin melebarkan senyumku.


Beberapa detik kemudian mereka tertawa.


Apa yang lucu? Aneh.


“Gue kira lo bakalan patah hati setelah tau kalau Pak Sam itu mungkin nggak normal.” Rizal dan yang lainnya kembali tertawa.


Aku semakin menggesek-gesekkan gigiku untuk menahan keinginan menusuk mulut Rizal dengan sumpitku.


“Kalian di sini?” suara itu berhasil membuat mataku membulat.


Bukan hanya aku tetapi Mbak Sari, Mas Angga, Tiwi dan Rizal. Ya ampun, bahkan Rizal sampai tersedak setelah mendengar suara tersebut.


Boleh kan aku menertawakan Rizal sebentar? Hahaha.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


##

__ADS_1


Ini curhatan pas jaman kerja dulu, kalo ngumpul sama teman terus ngomongin atasan. Eh, gak taunya si atasan muncul mendadak. Apa jangan-jangan semua atasan memang punya insting yang kuat ya jika di omongin anak buah. hihihi


__ADS_2