
Happy reading yaaw!!
##
Aku menggerakkan mataku malas ketika mengikuti Pak Sam berjalan memutari area bahan dan bumbu makanan. Ku lihat Pak Sam tampak telaten sekali saat memilih bahan dan bumbu masakan.
Bos ku kini berjalan di depanku dengan mendorong sebuah troli, yang sudah hampir terisi penuh. Terkadang, aku sesekali tersenyum ketika melihat Pak Sam berhenti untuk memilih barang yang akan ia beli. Tak lupa kadang ia juga meminta pendapatku untuk bumbu mana yang lebih bagus.
Aduh, masak saja jarang, Pak. Mana saya tahu??
Mungkin begitulah isi hatiku saat beberapa kali Pak Sam meminta pendapatku. Tapi, jangan salah sangka dulu. Walaupun aku jarang memasak bukan berarti aku tidak bisa memasak lho ya. Tentu aku bisa, apalagi jaman sekarang semua serba mudah.
“Itu buat stok berapa bulan, Pak?” tanyaku sedikit mengejek, pasalnya kini troli yang di bawa Pak Sam sudah benar-benar penuh.
Pak Sam sedikit berpikir. “Nggak tau juga sih, buat saya kalau bahan dan bumbu sudah habis ya tinggal belanja lagi.” Hm... pemikiran yang sangat simpel.
“Tapi ini banyak banget lho, Pak.”
Pak Sam menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arahku. Aku nggak salah bicara kan?
“Sebenarnya, saya sengaja belanja lebih banyak.” Aku hanya mengangguk, “karena Papa saya Minggu depan mau berkunjung. Dan nggak ada salahnya kan? Kalau saya masak buat Papa saya?”
“Hehe... nggak kok, Pak, nggak salah.” Ujar Ku
Sebenarnya aku masih punya banyak sekali pertanyaan. Dan kalau nggak aku tanyakan pastinya bakalan menghantui mimpi indah ku. Jadi, kesimpulannya aku harus menanyakan semua pertanyaan yang sudah singgah di kepalaku sejak tadi.
“Pak...” Panggilku sedikit ragu, dan Pak Sam langsung menoleh ke arahku. “Memangnya Bapak di sini benar-benar sendirian ya? Kok Papa anda ke sini malah mau mampir ke apartemen Bapak. Bukanya pulang ke rumah gitu?”
Pak Sam sedikit tersenyum. “Saya di sini memang sendirian, keluarga saya ada di Bali semua. Lebih tepatnya keluarga kakek saya.”
“Terus kenapa Bapak nggak tinggal di Bali saja? Kan enak bisa bareng keluarga.”
Pak Sam menghentikan langkahnya kemudian menatapku intens. Duh jadi deg-degan ini. “Kamu pikir, saya orang yang punya banyak waktu buat menghabiskan perjalanan Jakarta-Bali setiap harinya, begitu?”
Aku hanya meringis, benar juga. Kok aku jadi Be-Go ya?
“Eh... iya, Pak. Maaf ya saya nggak kepikiran.”
“Memangnya sejak tadi kamu mikirin apa?”
“Hah?” tentu saja aku sedikit kaget di tanya begitu, dan terlebih lagi aku juga tak berharap Pak Sam bakalan bertanya seperti itu. “Nggak mikirin apa-apa kok.”
Aku diam sejenak lalu dengan cepat berjalan mendahului Pak Sam.
Pak Sam selesai membayar di kasir dan menghasilkan dua buah kantong plastik berukuran besar dan yang satunya sedang. Awalnya Pak Sam yang membawa semuanya, tapi naluri kemanusiaanku tak bisa ku tutupi. Aku pun menawarkan untuk membawakan salah satu kantong plastiknya, apalagi Cuma bumbu-bumbu masakan pastinya ringan.
__ADS_1
“Habis ini pulang kan, Pak?” tanyaku memastikan.
Pak Sam kembali berpikir sejenak sembari menatapku. Jangan di tatap terus dong saya Pak.
“Kita ke penjual bunga dulu, Adelia.”
Aku benar-benar langsung kebingungan dan teringat dengan perkataanku. Jadi, Pak Sam benar-benar tak main-main soal santet?
“Pak, saya kan sudah bilang santet itu dosa. Bapak nggak takut apa masuk neraka. Lagian untuk menjatuhkan lawan bisnis itu ada banyak cara Pak. Bukan dengan~”
“Kenapa pikiran kamu selalu negatif ke saya sih, Del?”
Deg!
Aku bungkam. Mataku menatap punggung Pak Sam yang sudah berjalan di depanku. Melihat Pak Sam benar-benar berjalan ke arah toko bunga aku langsung berpikir ke hal yang lain.
“Bunganya bukan buat santet ya, Pak? Tapi buat mandi, supaya setan yang ngikutin Bapak hilang gitu?”
Langkahku tiba-tiba terhenti saat aku menubruk punggung keras milik Pak Bos. Sebenarnya aku ingin sekali mengumpat, tapi ku urungkan niatku itu karena kini Pak Sam langsung berbalik ke arahku.
“Kamu tahu voodoo, Adelia?”
“Voodoo? Seperti nama kucing tetangga saya itu, Pak.” Aku menatap Pak Sam dan dia terlihat masih mempertahankan wajah datarnya ke arahku.
“Bagaimana kalau kamu, saya jadikan kelinci percobaan saya? Untuk membuktikan manfaat benda tersebut. Makanya saya mau beli bunga sekarang.”
Aku langsung menyambar lengan Pak Sam dan melebarkan mataku.
“Voodoo itu apa, Pak?”
Pak Sam tersenyum miring. Perlahan Pak Sam melepaskan cekalan tanganku pada lengannya. Dan dia langsung kembali berjalan.
“Boneka santet.”
Hah? Apa katanya? Santet.. kelinci percobaan?
Mendadak aku mendapatkan kesimpulan saat melihat Pak Sam yang sudah berjalan mendahuluiku. Dengan menenteng kantong plastik yang sejak tadi ku bawa, aku berusaha mengejar Pak Sam.
“Pak, kok saya baru tahu kemampuan Bapak yang satu ini?”
Aku berusaha mensejajarkan langkahku dengan Pak Sam.
“Kemampuan apa?”
“Dukun. Pantas saja Bapak selalu mengetahui hal-hal yang kita lakukan di ruang kerja. Ternyata Bapak punya kemampuan khusus, ya.”
__ADS_1
Pak Sam menggeleng pelan. “Itu kemampuan rahasia.”
“Terus kenapa harus saya yang di jadikan kelinci percobaan?” tanyaku dengan sedikit berdecak. Nggak terima dong, kalau aku harus jadi kelinci percobaan Pak Bos.
“Karena saya ingin.”
Aku memutar bola mataku jengah. Bisa nggak sih Bos kampret ini memberikan jawaban yang sedikit logis. Tadi saja bilang kalau pikiranku aneh-aneh, sekarang dia sendiri yang aneh.
“Itu dosa, Pak. Saya kan anak buah baik-baik.”
Mata tajam Pak Sam menyorotku dari atas hingga ke ujung kaki. “Tidak cukup baik untuk saya.”
Aku mencibir, “memangnya definisi baik menurut Bapak itu seperti apa?”
Pak Sam melirikku sekilas.
“Tidak banyak pertanyaan seperti kamu.”
Jelas jawaban itu sangat membuatku kesal. Akhirnya kami masuk ke sebuah toko bunga. Pak Sam menghampiri seorang penjaga toko bunga tersebut dan meninggalkanku yang masih berdiri dengan kesal.
“Saya mau beli Lili tiga puluh tangkai, ada?”
Praktik dukun mana coba yang memakai bunga Lili? Karena penasaran, aku segera masuk menyusul Pak Sam. Dia terlihat sibuk memilih bunga yang akan ia beli, dan ini sedikit mencurigakan. Apa memang Pak Sam orang yang sangat totalitas sekali ya dalam segala hal?
“Nggak kemahalan, Pak, pakai bunga Lili? Biasanya kan Cuma bunga mawar, malah bisa dapat satu karung.”
Pak Sam menoleh ke arahku dengan tatapan yang tak bisa ku baca. Lima tangkai Lili putih berada di tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis khas miliknya.
“Dua puluh satu April dua ribu lima.” Tatapan Pak Sam terlihat menerawang.
Aku menatap Pak Sam tak mengerti, maksudnya apa coba?
“Saya bukan paranormal dan juga bukan anak indigo, Pak. Tolong jangan suruh saya menebak pikiran Bapak dan jangan bikin saya bingung dengan bahasa yang nggak saya pahami maksudnya.” Ucapku protes, karena aku nggak mau ini semakin aneh.
Di luar dugaan, Pak Sam justru membalas ucapanku dengan senyum sendu.
“Saya kehilangan Mama saya di tanggal dua puluh satu, Adelia. Dan sekarang adalah tanggal dua puluh satu. Jadi, hari ini saya ingin mengenang beliau dengan membeli bunga kesukaannya.”
##
Nah loo... Gimana ekspresi Adelia ya?? Setelah mendengar pernyataan tersebut.
Jangan lupa Like, Vote dan Komennya ya genkkss!!
__ADS_1
Salam dari penulis amatir