
Selamat siang semuanya...
Curhat dikit ya,
Ini gak tahu kenapa aplikasinya eror sejak kemarin.
Sudah up tapi gak muncul. Buat komen gagal. duh... maafkan aku jika belum bisa mampir dan membalas komen eeiimm...
Adakah yang mengalami hal sama sepertiku??
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Pertemuan dengan keluarga Sam memang sangat menyenangkan dan berkesan. Sekarang aku bisa lebih tahu bagaimana seluk beluk keluarga Sam, bagaimana baiknya keluarga Sam saat bertemu denganku, bagaimana Sam dijadikan bahan olokan oleh keluarganya sendiri. Dan yang paling penting, aku sekarang mengetahui siapa Sam sebenarnya.
Semua begitu manis dan terjadi tanpa pernah aku duga.
Tapi ...
Semua berubah. Ketika tanpa sengaja aku mendorong Sam. Dia benar-benar marah, bahkan di sisa hariku berada di Bali. Sam tak kunjung menyudahi drama marahnya.
Sampai sekarang.
Aku menyenderkan kepalaku ke kaca mobil. Mataku tak pernah luput menatap jalanan. Sejak Sam menjemputku tadi sampai di perjalanan menuju kantor ini dia masih mendiamkan aku. Mobil berhenti tepat di traffic light.
Macet.
Aku mendesah pelan. “Sam kamu mau marah sampai kapan?”
Sam tak menjawab. Matanya fokus menatap kendaraan di depannya yang sudah berjejer panjang.
“Sam.” Aku menatap ke arahnya.
“Apa?” Akhirnya dia membuka suaranya. Walau terdengar malas tapi setidaknya ada suaranya. Dari pada hanya diam, serasa berada di mobil dengan makhluk tak kasat mata.
“Kamu marah?” Tanyaku lagi.
“Enggak.” Singkat, padat, jelas.
“Kalau nggak marah kenapa dari kemarin sampai sekarang kamu hanya diam saja?” Aku mulai gemas sendiri dengan keadaan ini.
“Terserah lah. Lagian nggak ada hal yang perlu di bicarakan.” Kata Sam.
Aku memejamkan mataku. Aku hanya berharap masih di beri kesabaran untuk menghadapi sifat kampretnya yang mulai kumat kembali. Aissh! Apa lebih baik aku belikan obat saja.
“Kalau begitu ... Apa punggungmu masih sakit?” tanyaku seraya menatap Sam. Sam memberikan ekspresi di luar dugaan ku. Menatapku tajam tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya.
Aku pikir dia akan menjawabnya. Tapi ternyata Sam kembali menatap ke depan. Tanpa mengucap kata apapun.
“Hello ... Kalau ada yang tanya itu di jawab.” aku mulai kesal.
“Pertanyaan retoris nggak perlu ku jawab.” Aku membelalakkan mata sembari membulatkan bibirku ke arahnya. Aku segera mendengus lalu melipat kedua tanganku.
Ok! Sam sepertinya memang sedang berhemat suara.
“Kampret!” gumam ku sebelum aku memutuskan untuk kembali bersandar ke kaca mobilnya dan menatap jalanan.
“Apa kamu bilang?” Rupanya dia mendengar.
Aku kembali menatap Sam. “Apa? Aku nggak bilang apa-apa.”
“Kamu pikir aku tuli?” Sam terlihat tak terima.
“Mungkin.” Biar saja dia bertambah kesal. Aku sudah muak. Sam terkadang memang sangat kekanakan. Dia akan lebih memilih diam dan marah dari pada harus mencari jalan keluar atau membicarakan baik-baik soal masalah yang sedang terjadi.
__ADS_1
Mobil di depan mulai berjalan maju secara perlahan. Sam kembali fokus menatap ke depan sembari melajukan mobilnya. Belum sempat melewati traffic light, lampu sudah berubah merah lagi.
Ya seperti itulah kemacetan ini. Apalagi kalau berangkat telat lima menit saja pasti sudah terkena macet. Apalagi ini hari senin.
Sam terlihat mengambil ponsel yang ada di saku jasnya. Aku lihat jarinya mulai sibuk menggeser-geser layar ponsel miliknya. Kemudian aku merasakan ponselku yang ada di dalam tas bergetar.
Siapa yang pagi begini sudah menelfon ku? Pikirku dalam hati.
Aku segera membuka tas untuk mengambil ponselku. Belum sempat aku melihat siapa nama pemanggilnya Sam sudah dengan cepat merebut ponsel milikku.
“Sam.” Aku menatapnya heran. Sam mengerutkan alisnya ketika menatap layar ponselku.
“Apa maksudnya?” tanya Sam sembari memperlihatkan layar ponsel itu ke arahku. Ya, dan di situ tertera nama 'Bos Kampret'.
Mati aku.
“Um ... Sam. Aku bisa jelasin. Itu nggak seperti yang kamu lihat.” Sebenarnya memang iya sih. Tapi demi keselamatan ku sendiri, ya biarlah.
“Hah?” alis Sam terangkat tinggi. Dia setengah memutar badannya ke arahku. “Jelas-jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan kamu masih gak mau ngaku.”
Aku mengibaskan tanganku ke depan Sam. “Ng ... anu. Itu Cuma lupa Sam, aku kelupaan belum ganti namanya.”
“Terus maksud kamu kasih nama Bos Kampret itu apa?” Rasanya sulit sekali menjawab pertanyaan Sam. “Hape ini akan aku bawa.”
“Hah? Jangan!” pekik ku.
“Kenapa?” Sam memicing ke arahku dan tentu saja nyaliku langsung menciut seketika.
“Ya, jangan. Kalo Hapeku kamu bawa, terus aku pake apa?” Aku menatap Sam dengan tatapan memohon.
Yang benar saja. Kenapa harus di bawa segala? Berasa kayak anak sekolah yang ketahuan bawa HP terus di sita sama gurunya.
“Gak usah banyak tanya.” Ucap Sam dengan sedikit penekanan.
Mobil kembali melaju hingga akhirnya sampai di kantor. Percayalah, selama perjalanan itu aku tak pernah berhenti merengek meminta agar ponselku di kembalikan. Benar-benar tak mudah membujuk Sam. Ibaratnya, kita seperti mengajak bayi yang baru lahir ngobrol. Yang ada kitanya capek dan si bayi malah asyik tidur.
Sam keluar dari mobilnya terlebih dahulu. Aku pun segera menyusulnya. Masuk ke dalam lift sembari terus merengek meminta ponselku di kembalikan.
“Kamu nggak tahu maksudku. Kalo aku bilang akan aku bawa, berarti Hape ini nggak akan aku berikan ke kamu hari ini.” Sam menatapku dengan kesal. Aku segera menekuk bibirku ke bawah.
Kesal. Jelas iya.
Pintu lift terbuka dan aku langsung berjalan ke luar terlebih dahulu. Mengingat ini sudah di kantor dan keinginanku untuk memukul punggungnya mulai terlintas di kepalaku.
Aku segera berjalan ke arah mejaku. Berusaha memasang wajah datar seolah tak terjadi apa-apa.
“Pagi, Adelia. Uh ... Yang habis libur dua hari. Kok lo makin bikin gue kangen aja, sih?” suara Rizal yang pertama kali menyapaku. Semua sudah datang dan duduk di tempatnya masing-masing.
Hanya aku yang baru datang. Dan semua sudah tak aneh lagi jika yang datang paling terakhir kalau beruntung pasti bisa berjalan dengan Pak Sam. Rizal dan Mas Angga pun pernah mengalaminya. Walaupun sebenarnya aku memang bareng dengan Sam, dari rumah malah.
Aku hanya membalas Rizal dengan senyum yang ku paksakan.
“Pagi, Pak Sam. Kok kelihatannya lesu begitu, Bapak sakit?” kini Rizal bertanya ke Sam.
“Bukan urusan kamu!” Bentak Sam.
Jahatnya.
Definisi ganteng-ganteng cadas!
Hal tersebut membuat Mbak Sari, Mas Angga dan Tiwi tertawa.
“Kenapa tertawa?” tanya Sam, matanya menyorot tajam ke semua penjuru ruangan ini.
“M-maaf, Sam.” Mas Angga malah meminta maaf. Padahal biarkan saja Sam marah dan kesal. Toh, dia menikmatinya.
“Bapak kalau sakit jangan buang-buang tenaga, safe energy, Pak.” Kali ini Tiwi ikut berkomentar.
“Kalau di lihat dari gejalanya, kayak orang sakit PMS, ya.” Kali ini aku yang tertawa mendengar ucapan Rizal. Rizal dengan polosnya mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
“Gak usah banyak bicara! CEPAT KERJA!” Sam segera berjalan ke ruangannya lalu membanting pintu dengan sangat keras.
“Ngeri, oey!” celetuk Rizal.
Aku masih tertawa. “Habisnya mulut lo yang kurang ajar itu memang ngeselin, sih.” Aku menatap Rizal. “Bisa aja selama liburan kemarin Pak Sam ketempelan setan baru. Nah elo malah nyari mati.”
“Astagfirullah, Del. Gue gak nyari mati, ya. Gue gak tahu. Kalau gue tahu, gue pasti diem. Udah ah ... Sekarang gue mau diem aja.” Rizal mulai menghidupkan komputer.
##
Sepulang bekerja aku terpaksa harus mengintili Sam. Aku terpaksa menunggunya lalu ikut ke apartemen nya. Semua itu aku lakukan hanya demi ponselku. Aku harus mendapatkannya kembali.
Aku mengikuti Sam masuk ke apartemen nya. Melewati dapur dan ruang tamu. Sam menaikki tangga dan aku masih setia mengikutinya. Sampai Sam membuka sebuah pintu lalu melempar tas dan jasnya, aku baru menyadari sesuatu. Aku sudah mengikuti Sam sampai masuk ke kamarnya.
Tenggorokanku tiba-tiba terasa tercekat.
Sam masih diam. Dia mulai melepas dasinya lalu menariknya kasar. Kini Sam membalikkan tubuhnya ke belakang, tepat di mana aku berdiri.
“Kenapa?” Dia mengangkat kedua alisnya.
“Hah?” aku terkejut. “A-aku mau Hapeku kembali.”
Sam berdecih. “Enggak semudah itu.” Aku reflek membulatkan mataku.
Sam mulai berjalan mendekatiku. Dan aku secara reflek memundurkan langkahku, selangkah. Tiba-tiba aliran darahku terasa begitu cepat memompa jantung hingga tak beraturan. Sam semakin mendekat dan aku juga semakin melangkah mundur.
Tanganku meraba-raba ke belakang berharap aku bisa memegang knop pintu supaya aku bisa langsung keluar. Ya, dan aku mendapatkannya. Begitu aku hendak memutar knop pintunya, Sam dengan cepat menahan pintu tersebut dengan tangannya.
Siaal! Perasaanku semakin tak terkendali.
Aku memberanikan diri untuk menatap Sam. “Aku akan tunggu di luar.”
Sumpah ya, walaupun aku sudah berpacaran dengan Sam. Tetapi aku masih merasa takut dengan sikapnya. Dia tak tertebak dan sangat seperti setan.
Faaakk!!
“Kamu kenapa suka sekali membuatku marah, hm?” Sam mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat pelan.
“Aku nggak bermaksud begitu, Sam.” Dia mulai menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.
“Yes, you do! Kamu sengaja kan.” Bisiknya tepat di depan wajahku.
“Sam ...” aku mulai merasa kesal. Benar-benar kepala batu, dia bahkan tak menghiraukan satupun dari ucapanku sejak pagi tadi.
“What?” Sam mulai memainkan ujung rambutku lalu bibirku. Aku harap Sam tak bisa mendengar detak jantungku. “Jangan buat aku kesal, Adelia. Aku nggak mau marah sama kamu.”
“Kalau kamu nggak mau marah sama aku. Ya harusnya memang jangan marah. Kenyataannya kamu selalu gampang marah dan emosi.” Ujarku sedikit kesal.
Apa maksudnya? Dia tak mau marah denganku tetapi ucapannya sangat bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan hari ini kenapa dia harus membawa paksa ponselku selama seharian? Bukankah itu kekanakkan.
“I want to kiss you.” Suaranya benar-benar terasa meruntuhkan hatiku.
“Hah?” aku terkejut mendengarnya. Perasaanku semakin tak terkendali. Bahkan rasanya tenggorokanku langsung mengering.
Sam mulai mendekatkan wajahnya. Aku mulai merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku. Aku berusaha mendorong dadanya walaupun itu terdengar sia-sia. Tangan kirinya mulai bergerak membelai pinggangku lalu meremasnya pelan.
“Sam ...”
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED...
__ADS_1