My Boss Samuel

My Boss Samuel
82. Teori Sam


__ADS_3

Selamat siang semua.


Semangat selalu ya....


Jangan lupa kasih Like, Vote dan Komen!!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


“Tiwi, kita turut berduka ya ... Maaf gak bisa melayat.” Ucap Mas Angga begitu Tiwi datang.


“Iya, Mas. Enggak apa-apa kok, gue ngerti. Btw, terima kasih ya atas semua doa kalian kemarin.” Perkataan Tiwi tentu saja langsung membuat aku dan Mbak Sari langsung menghambur memeluk Tiwi.


Di divisi ini Tiwi sudah berasa seperti adik bagi kami semua. Secara umur dia yang paling kecil di antara kami.


“Gue juga mau dong di peluk.” Ujar Rizal dengan memasang wajah manyun.


“Peluk ban truk aja sana!” Tukas ku sambil melempar kepalan tangan ke arah Rizal.


“Jahat banget sih, Del.” Ucapan Rizal berhasil membuat ku dan yang lainnya tertawa.


“Eh, anak baru belum datang nih?” Tanyaku. Bukan mau sok perhatian lho ya, hanya basa-basi saja.


“Loh, ada anak baru? Cewek apa cowok?” tanya Tiwi antusias.


“Hm ... Lo maunya apa cewek apa cowok. Hayo?” Ucap Rizal dengan nada menggoda.


“Cowok aja gimana? Biar pas gitu. Cewek tiga cowok tiga.” Balas Tiwi.


Loh kok aku baru kepikiran ya, benar juga kata Tiwi. Sekarang jumlah personil di divisi ini malah jadi pas gitu.


Rizal menjentikkan jarinya. “Oke, berhubung gue baik hati gue bakalan mengabulkan permohonan lo. Gue akan kasih anak baru berjenis kelamin cowok.” Ck! Kok kedengarannya kayak gimana gitu ya. Dan tepat di kalimat terakhir Rizal orang yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan akhirnya datang juga.


“Lebay lo, Nyuk!” sahut Mas Angga.


“Nah, itu dia.” Rizal menunjuk ke arah dimana Rio tengah berjalan keluar dari pintu lift menuju ke arah kami.


“Anying! Cakep oey!” pekik Tiwi yang berhasil mengundang tatapan dari Rizal.


“Ah, lo jangan jadi adik durhaka dong. Cakepan gue lah.” Tukas Rizal sambil bergaya sok keren.


Hal pertama yang di lakukan Rio ketika baru datang adalah tersenyum lalu mengucapkan selamat pagi.


“Umur lo berapa sih?” tanya Mas Angga.


“Saya dua empat, Mas.” Jawab Rio singkat.


Loh, kok masih terlihat imut sekali ya. Apa karena memang karakter wajahnya yang seperti itu. Ada kan sebagian orang yang memang memiliki karakter wajah baby face, dan sepertinya Rio juga termasuk baby face.


“Ish! Lo santai aja sama kita-kita. Enggak usah formal-formal banget. Biasa saja yang penting masih batas sopan, kita orangnya santuy, ya nggak?” aku mengatung kan jempol ke arah Mbak Sari.


Benar sekali, dengan bersikap biasa dengan sesama teman akan membuat hubungan lebih terjalin nyaman kan. Tidak perlu sungkan-sungkan dan malu-malu. Status kita dalam satu perusahaan ini sama kok, kecuali dengan atasan.


“Yang benar, Mbak?” tanya Rio memastikan.


“Lo nggak percaya.” Rio tersenyum ke arah Mbak Sari. “Oh iya, ini Tiwi.” Mbak Sari menunjuk Tiwi. “Kemarin lo belum kenalan kan.” Imbuh Mbak Sari.


“Pesan gue Cuma satu. Hati-hati ya, terkadang atmosfer cinta di sini suka berjalan tak terduga.” Celetuk ku yang berhasil membuat Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal tertawa.


Tentu saja, bahkan aku sendiri juga terjebak ke dalam atmosfer cintanya Pak Bos. Uhuy!


“Tiwi.” Ucapnya malu-malu.

__ADS_1


“Rio.” Balas Rio tak kalah malu-malu.


“Ciyee ...” aku, Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal kompak menyoraki. Ya, semoga saja Rio tidak syok masuk ke divisi ini yang memang sembilan puluh persen di huni oleh sekelompok manusia dewasa yang berkelakuan seperti anak kecil.


Tetapi acara menyoraki itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba Sam datang dengan wajah dingin andalannya.


“Kerja!” dan kalimat andalan Sam tersebut langsung membuat aku dan yang lainnya diam.


Ternyata Rio ini anaknya juga bisa di bilang mudah sekali berbaur. Obrolannya juga asyik dan tidak membosankan, wah calon-calon betah di divisi ini sepertinya.


“Eh, udah mau jam pulang aja. Berhubung sekarang anggota kita sudah lengkap, gimana kalau kita ngadain perayaan penyambutan untuk Rio sebagai anggota baru kita?” aku menatap Rizal lalu beralih ke Mbak Sari kemudian Mas Angga.


“Terus yang bayar siapa?” tanyaku. Gajian masih seminggu lagi lho ini.


“Ya jelas ... Rio lah.” Rizal tertawa tanpa merasa berdosa sama sekali.


Anak magang baru dua hari sudah berani-beraninya dia peras.


Rio berdiri dan tersenyum ke arah Rizal. “Wah, sorry Mas. Gaji gue belum cukup buat traktir kalian. Mungkin kalau gue udah gajian ke berapa gitu gue bakalan traktir deh, janji.” Rizal tersenyum sambil mengangguk. “Tapi jangan jerat gue ke dalam lingkaran lucknut pertemanan ya, hari ini gue yang traktir terus besok gantian elo. Terus besok gantian gue lagi, bisa tekor gue, Mas. Makanya gue harap jangan ada lingkaran lucknut di antara kita.” Jelas Rio panjang lebar.


Wah, aku benar-benar tak menyangka. “Kayaknya ada bibit the next Rizal generations nih. Jangan-jangan lo adiknya Rizal ya?” aku menunjuk Rio dan dia hanya menggeleng.


“Wah, bener Del. Gue juga curiga nih.” Imbuh Mas Angga.


“Ya elah, mana mungkin lagian dari pada duit gue habis buat merubah jenis kelamin si Ica mending gue gunain buat melamar lo, Del.” Tentu saja mulut sialaan Rizal langsung berhasil membuat semuanya tertawa.


“Parah!” teriak Tiwi.


“Kalau begitu gue duluan ya, Mbak, Mas.” Pamit Rio yang hendak pulang.


“Zal, gue melihat ada kecocokan antara elo dan Rio deh.” Kata Mas Angga.


“Iya tuh, apa mungkin semua cowok yang huruf awalan namanya R itu sifatnya sama semua? Rizal sama Rio.” Imbuh Mbak Sari.


Rizal tampak berpikir sambil mengangguk-angguk. “Begitu ya ... Eh, bocah!” seru Rizal ke arah Rio. “Sepertinya gue memang harus cari tahu.” Rizal langsung mengambil tas dan berjalan menyusul Rio. “Tungguin gue, Rio!”


•••


Malam ini Sam mengajakku mampir ke apartemennya lagi untuk mengganti acara makan malam bersama yang sempat tertunda tempo lalu. Rasanya karena sudah sering ke apartemen Sam jadi aku mulai menganggap seperti rumahku sendiri. Bahkan saat ini aku sudah begitu hafal dengan tata letak seluk beluk ruangan yang ada di sini.


Aku dan Sam memasak bersama untuk makan malam kami berdua. Sebenarnya aku bisa memasak sendiri, tetapi Sam memaksa untuk membantu atau lebih tepatnya mengganggu. Dia suka sekali mengganggu dengan cara memeluk secara tiba-tiba atau mencium ku. Ah ... Aku benar-benar risih, lama-lama aku tepungin juga tuh muka.


Selesai makan aku dan Sam pergi ke balkon apartemen Sam untuk melihat pemandangan kota di malam hari ini. Sekaligus menikmati bintang yang hari ini begitu penuh menghiasi langit. Benar-benar langit yang penuh dengan bintang. Jarang sekali kan ada malam seperti ini, mungkin hanya terjadi beberapa waktu dalam satu tahun.


Sam mulai mematikan rokoknya lalu menatap ke arahku. “Dingin ya?”


“Hm, sedikit.” Ujar ku.


Sam tersenyum. “Kamu percaya nggak, kalau dimana malam hari langitnya selimuti dengan penuh bintang pasti udara di bumi akan terasa lebih dingin dari biasanya.”


Aku mengerutkan kedua alisku. Teori dari mana itu?


Teori Sam kah?


“Kata siapa? Kamu jangan suka membuat teori sendiri, ah. Aku nggak percaya.” Ujar ku. Lagian sebelum aku benar-benar menemukan fakta yang membenarkan hal tersebut tidak salah kan kalau aku tidak percaya.


“Terserah, kalau kamu nggak percaya nggak apa-apa. Coba nanti bandingkan sendiri deh, besok pas bintangnya nggak muncul dengan saat bintang muncul seperti ini.” Sam sepertinya benar-benar ngotot ingin membuatku percaya.


“Ya terserah kamu.” Akhirnya aku hanya bisa mengalah.


Kami kembali terdiam, lalu terdengar Sam menghela nafasnya.


“Kemarin Bunda telfon, dan menanyakan kamu mau di bawakan apa untuk seserahan lamaran besok.” Sam menatapku dengan satu alis terangkat.


“Apa ya? Memangnya itu perlu ya, Sam.” Aku hanya mencoba membuat suasana agar tidak terlalu serius-serius amat.

__ADS_1


Kalau membicarakan tentang lamaran takutnya terlalu larut dalam keseriusan terus malah merambat kemana-mana nantinya.


“Ya perlu dan kamu harus jawab sekarang supaya keluargaku bisa segera menyiapkannya.” Kata Sam sedikit memaksa.


“Dih, maksa banget sih.” Tukas ku yang malah membuat Sam langsung menarik ku ke dalam pelukannya.


“Hm ... Sepertinya kamu memang ingin sekali aku paksa ya.” Ucapnya dengan nada menggoda.


Tentu saja kalau keadaan sudah seperti ini akan lebih menyulitkan ku. Aku suka heran, kenapa aku suka sekali sih memancing Sam. Sudah tahu kalau sifatnya suka aneh-aneh, dasar aku!


“Enggak, lepasin dulu baru aku jawab.” Protes ku tapi sepertinya sudah terlambat. Sam semakin mendekap ku lalu membenamkan wajahnya ke ceruk leherku. Setelah itu ia menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil yang berhasil membuatku geli. “Sam.”


Sam lalu mengangkat wajahnya tetapi setelah itu ia segera meraup bibirku ke dalam ciumannya. Ia mencium ku dengan pelan dan lembut, hingga membuat ku tak kuasa untuk membalasnya. Sam menjilat bibirku lalu menggigit bibir bawahku memberi rangsangan hingga mulutku terbuka. Lidahnya menelusup masuk dan membelit lidahku.


Sebelum pagutan itu berakhir lebih menuntut, Sam sudah lebih dulu melepas ciumannya. Nafasnya terdengar begitu memburu dan hangat menerpa kulit wajahku. Lalu setelah itu ia mendaratkan kecupan di keningku.


“Jadi ... aku mohon jawab sekarang.” Ucapnya dengan suara rendah.


Ah, Sam benar-benar bisa membuatku hilang kendali dengan sikapnya yang seperti itu.


Aku segera melepas tubuhku dari pelukannya lalu melipat kedua tanganku. “Kamu yakin ingin aku jawab sekarang?” Sam mengangguk. “Ok, kamu yang maksa ya ... Aku mau seserahan nya besok kamu bawa mobil.” Aku tersenyum menggoda ke arah Sam dan bahkan ekspresi wajahnya saat ini sudah tampak berubah.


“Mobil sport model terbaru, terus tas dan sepatu-sepatu mahal. Terus jangan lupa bajunya juga, baju keluaran terbaru dari Dior, Gucci, Hermes. Dan satu lagi ... Aku minta kalung berlian yang bagus banget.” Aku sengaja melebih-lebihkan ucapan ku untuk mengerjai Sam. “Oh iya, satu lagi ... Aku mau rumah. Gimana kamu sanggup apa enggak?” tantangku.


Rasanya aku ingin sekali tertawa saat ini.


“Kamu yakin dengan permintaan itu?” tanyanya.


“Yakin lah, kenapa kamu nggak sanggup ya?” aku tersenyum ketika melihat ekspresi wajah Sam. “Hm, sanggup nggak?” aku terus mendesak Sam.


Sam menghembuskan nafas sedikit kasar lalu tersenyum tipis. “Beri aku waktu.”


“Kamu nggak sanggup?” yang tadinya aku asyik tersenyum-senyum kini perlahan senyumku mulai hilang.


Bagaimana kalau Sam benar-benar tidak sanggup lalu memilih menunda acara lamaran kami. Duh, mulutku kadang kalau bicara memang suka kelewat batas banget sih. Pengen aku sambelin deh biar kapok.


“Aku nggak benar-benar serius, Sam.” Ujarku lagi sebelum Sam menjawab pertanyaanku yang sebelumnya. Aku hanya takut jika Sam menanggapinya dengan serius lalu memilih untuk menunda acara lamaran kami.


Bodoh! Bodoh!


Sam lalu menatapku. “Beri aku waktu untuk menyiapkan semuanya.”


Kepanikanku mendadak sirna begitu saja berganti dengan kebingungan dan tanda tanya besar di kepalaku. Bahkan perlahan lipatan tanganku mulai mengendur bersamaan dengan tatapan yang Sam berikan.


Sungguh?


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


##


Wah parah banget ye, itu bukan seserahan namanya tapi ngerampok. Kalau Sam sampai enggak sanggup beneran ujung-ujungnya cuma meringis tuh si Adel... hahaha.

__ADS_1


meringis meratapi nasib.


__ADS_2