My Boss Samuel

My Boss Samuel
41. Mencuri Kesempatan


__ADS_3

Happy reading !!


##


“Sam.”


“Hm.” Gumamnya. Pandangannya masih sibuk menatap lembaran demi lembaran dokumen yang kini ada di tangannya.


Aku berdecak, “Ck! Kalo kamu lagi sibuk nggak usah panggil aku dulu. Mending aku keluar sekarang aja, ya.”


Tatapan Sam seketika langsung beralih menatapku. Aku yang sudah beranjak berdiri dari kursi terpaksa harus kembali duduk. Aku menelan ludahku sesaat untuk menghilangkan rasa kering di leherku. Sam itu sudah menjadi pacarku, tetapi kenapa ya? Dia masih suka membuatku takut. Harusnya kan di buat makin cinta begitu lah...


“Kenapa tadi kamu nggak mau aku jemput?” Aku menelan ludahku kembali setelah mendengar pertanyaan itu keluar. Wajah Sam benar-benar serius.


“Um ... Nggak apa-apa.” Aku menggaruk belakang telingaku yang sebenarnya tak gatal. “Kan aku sudah bilang, jangan terlalu sering jemput aku. Takutnya nanti peluang ketahuannya semakin besar.” Imbuhku mencoba menjelaskan.


“Ya, harusnya langsung bilang pas balas chat dariku.” Ucap Sam sedikit ngotot.


“Loh ... Aku udah bilang, ya?” Kataku tak kalah ngotot.


Sam berdecih. “Kamu telat bilangnya! Tadi aku sudah terlanjur sampai di rumahmu. Dan kamunya malah sudah berangkat.” Wajah Sam terlihat kesal.


Kini Sam sudah meletakkan dokumennya ke atas meja. Dan pandangannya sudah berfokus padaku sepenuhnya. Aku benar-benar bingung harus bagaimana? Ceritanya ini orang ngambek begitu atau apa sih?


“Ya, maaf. Aku kan nggak tau.”


“Nggak tau?” Sam menaikkan satu alisnya ke arahku.


“Iya.” Aku yang merasa kesal atas perlakuannya pun langsung melipat kedua tanganku ke depan. Lalu menatap Sam dengan tatapan kesal. “Terus kamu maunya gimana? Aku udah minta maaf, lho.”


“Ya, kamu jangan begitu lagi.” Ucapnya dengan nada marah.


“Iya! Aku nggak akan begitu lagi.” Ucapku mengulang perkataannya. Dan pastinya dengan nada kesal dan sinis.


Sam benar-benar menjengkelkan sekali. Hanya karena masalah seperti ini dia marah denganku. Ya walaupun aku juga sedikit keterlaluan sih. Tapi, apa susahnya sih? Sam kan tinggal putar balik mobilnya ke kantor dan nggak perlu pakai drama marah segala.


“Kok jadi kamu yang marah?” Tanya Sam.


“Habisnya kamu yang bikin kesal duluan.” Jawabku tak mau kalah.


“Ini di kantor, Del. Kamu harus bersikap profesional dong. Kalo muka kamu seperti itu nanti mengundang tanya dari teman-teman kamu.” Aku membelalak kan mataku ke arah Sam. Bukanya biang kerok dari ini semua adalah dirinya.


Aku segera berdiri dari tempat dudukku. Lalu aku memasang senyum manis yang jujur sangat aku paksakan. Kemudian aku sedikit membungkukkan badanku di hadapan Sam.


“Baik. Pak Sam yang terhormat.” Ucapku.


Lalu aku memutar badanku untuk berjalan menuju pintu keluar. Namun, baru juga beberapa langkah berjalan Sam kembali memanggilku dengan suara sedikit keras.


“Del!”


“Apa?!” Jawabku tak kalah keras dan sengak. Sedetik kemudian aku baru menyadari perubahan langsung dari wajah Sam setelah mendengar suaraku.


Mampuuslah aku! Aku kelepasan. Aku menarik bibirku ke dalam membentuk sebuah garis lurus. Wajah Sam kini sudah tampak menahan emosi dengan rahang yang sudah mengeras. Tatapan matanya pun sudah menyorotku tajam seperti pedang yang siap menusukku.


Oh Tuhan ... Selamatkan aku.


Aku melihat Sam hendak membuka mulutnya. Namun, saat itu juga secepat kilat aku langsung berlari ke arah pintu dan langsung keluar dari ruangannya. Gawat sudah! Aku tidak sengaja membuka segel Setannya.

__ADS_1


Aku bersandar di luar pintu ruangan Sam sembari memegang dadaku. Jantungku rasanya sudah mau copot.


“Kenapa, Del?” tanya Mas Angga.


Aku langsung memberikan tatapan horor ke arahnya. “Gawat, Mas! Gue nggak sengaja ngundang setan!”


##


Gara-gara kejadian tadi sampai sekarang aku masih merasa ketakutan. Bagaimana tidak? Emosi Sam itu sangat labil. Kelihatannya sudah baik-baik saja. Eh, tidak tahunya masih memendam amarah. Apalagi sejak tadi dia selalu marah-marah karena banyak sekali pekerjaan di hari ini.


Braakkk!!!!


Aku menggerakkan mataku ke atas untuk menatap sosok yang sudah membanting laporan ke atas mejaku.


“Ini laporan macam apa? Nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Kamu niat nggak sih buatnya, Del?!” Sam berkacak pinggang di depanku.


Aku bergumam seraya mengambil laporannya untuk ku baca. “Jelas lah, yang menarik kan Cuma diskonan lima puluh persen di mall-mall.”


“Apa!?” Sam seketika langsung berteriak.


“Pffftt ...” Aku mendengar suara tawa yang tertahan dari seisi ruangan ini.


“Kamu bilang apa?” Tanya Sam lagi.


“Ah, enggak, Pak. Saya nggak bilang apa-apa.” Ucapku gugup seraya mengibaskan tanganku.


“Kamu pikir telinga saya tuli?” Sam melotot ke arahku. “Kamu jangan bercanda, Del. Ini laporan penting yang harus segera di selesaikan minggu depan. Kamu tahu kan minggu depan sudah tutup dokumen?”


Aku mengangguk.


“Dan buat yang lainnya. Jangan pernah contoh apa yang di lakukan Adelia baru saja! Karena sekali lagi saya mendengar kalian bercanda di saat serius seperti ini.” Wajah Sam menatap seisi ruangan satu persatu. “Saya nggak akan kasih toleransi untuk kalian, paham!” Dan tatapan terakhirnya jatuh tepat di hadapanku.


Setelah itu Sam kembali lagi ke ruangannya. Dan tak lupa, dia juga membanting pintu dengan sangat keras. Perlu kalian tau, selama Sam menjadi Bos di sini pintu tersebut kalau tidak salah sudah tiga kali di perbaiki. Dan itupun juga dia masih belum sadar juga.


“Kenapa sih si Bos dari pagi marah terus? Padahal kan kalo nggak marah jauh lebih ganteng.” Kata Tiwi.


“PMS kali.” Celetuk Mbak Sari.


“Heh! Bukan PMS kali. Memang lagi kumat aja tuh kayaknya. Kehabisan obat, makannya jadi ngamuk.” Ucapku dengan penuh kekesalan.


“Gara-gara lo tadi pagi kali, Del.” Kata Mas Angga yang berhasil mengundang perhatianku.


“Gue?” aku menunjuk diriku sendiri. “G-gue nggak ngapa-ngapain, Mas. Kan udah gue bilang Bos kampret itu lagi kehabisan obat.”


“Siapa yang nyuruh ngobrol?!” Sam tiba-tiba keluar lagi dari ruangannya. Dan percayalah, tubuhku sekarang sudah lemas sekali rasanya. Takut kalau Sam mendengar ucapanku tadi.


“Kerja!!” Imbuhnya.


##


Aku pulang tepat pukul delapan malam. Tetapi karena aku tidak bisa menahan diri untuk ke kamar mandi jadinya aku harus ke kamar mandi terlebih dahulu. Dan menyuruh Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan juga Tiwi untuk keluar lebih dulu.


Aku kembali lagi ke ruangan untuk mengambil tasku. Lalu berjalan ke arah lift. Baru saja diriku ingin berjalan masuk ke dalam lift. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari belakang.


“Ahhkk!” Teriakku kaget.


Dengan cepat Sam menempelkan jari telunjuknya ke arah bibirku agar aku tak kembali berteriak. Kemudian Sam menarikku keluar lagi dari dalam lift.

__ADS_1


“Sam ... apa-apaan, sih? Kamu bikin aku kaget aja.” Ucapku seraya melepas lenganku dari cekalan tangannya.


“Memangnya mikirin apa kok sampai kaget?” tanyanya santai.


“Kamu bayangin deh. Aku sedang jalan sendirian. Tiba-tiba ada yang narik tanganku dari belakang. Kamu pikir aku nggak kaget, begitu?” Kataku sambil menatap wajah Sam.


Sam memasukkan tangan kirinya ke saku celana bahannya. Lalu tangan kanannya bergerak mengusap tengkuk belakangnya.


“Lebay.”


Aku langsung melotot. “Apa kamu bilang? Lebay? Dasar kamu tuh.” Tak perlu menunggu aba-aba aku langsung menghujani lengan Sam dengan cubitanku.


Siapa suruh bikin aku kesal? Aku terus mencubitnya hingga membuat Sam mengaduh kesakitan. Aku tak peduli dengan suaranya yang memohon agar aku menyudahi aksiku.


Sampai akhirnya Sam mendorong tubuhku hingga punggungku membentur tembok di belakangku. Dia menahan kedua tanganku tepat di samping kepalaku.


“Sam lepasin, nanti ada yang lihat.” Ucapku sembari berusaha melepaskan tanganku.


“Nggak ada yang lihat kok. Kan Cuma ada aku sama kamu di sini.” Kata Sam santai. Aku merasakan Sam semakin kencang menahan tanganku. “Hanya kita berdua.” Ucapnya lagi tepat di telingaku.


Suaranya terdengar sangat pelan dan menggoda. Seketika itu juga aku baru menyadari posisiku saat ini. Mataku menatap ke samping kanan dan kiri tepat di mana Sam menahan tanganku. Lalu aku menatap wajahnya yang kini sudah mulai menunduk.


“Sam, ada CCTV.”


“Tenang aja, sudah aku matikan kok CCTV-nya.” Leherku rasanya langsung tercekat setelah mendengar perkataan Sam barusan.


Apa Sam akan melakukan hal yang sama persis dengan yang kita lakukan di atap gedung waktu itu? Oh ... Manusia ini benar-benar pandai sekali mencuri kesempatan.


Aku merasakan laju jantungku mulai mengeras ketika Sam semakin menundukkan wajahnya. Ujung bibirnya mulai tertarik membuat sebuah seringai. Ya, itu memang seringai yang membuatku semakin berdebar. Hembusan nafasnya terasa hangat sekali saat menerpa hidungku. Dadaku bergerak naik-turun seiring dengan detak jantungku yang semakin tak beraturan. Aku memejamkan mataku saat hidung Sam mulai menyentuh hidungku.


“Aku antar pulang, ya?”


Perlahan aku membuka kembali mataku. Hal pertama kali yang kulihat adalah Sam yang menempelkan keningnya tepat di keningku dengan mata terpejam. Lalu saat mata itu kembali terbuka, netra birunya lah yang kini berhasil mencuri seluruh perhatianku.


“Ya?” Ucapnya lagi dengan lembut.


Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku lalu di ikuti gerakan naik turun dari kepalaku. Sam benar-benar kampret!


.


.


.


.


.


.


To be continued...


##


Wah... Yang pandai mencuri kesempatan. Harus hati-hati dong. Wkwkwk...


Waspada terus ya, Del. Jangan sampai lengah.

__ADS_1


Salam dari penulis amatir. ❤️


__ADS_2