My Boss Samuel

My Boss Samuel
14. Sepenggal Kisah


__ADS_3

Hai gennkkss..


Sekedar mengingatkan bab ini khusus menceritakan kehidupan Adelia, sebelum akhirnya memilih bertahan bekerja dengan atasan yang super duper ngeselin..


Bagi yang suka mohon di Like, Vote dan Komen ya! Biar gue tau seberapa minat kalian dengan cerita ini..


Happy reading..!!


##


Pintu yang sudah kami anggap keramat semenjak kehadiran manusia bernama Samuel Devano Gavin itu tiba-tiba terbuka dengan keras hingga membentur ke dinding. Sumpah ya, tuh orang kayaknya tidak bisa banget jagain fasilitas Perusahaan.


Wajah sangar Bos yang slalu membuat kerja jantung kita bekerja lima kali lipat itu terpampang dengan begitu menakutkannya, mungkin sudah semacam Bos pasukan setan. Mata tajamnya menyorot kami satu persatu secara intens dan tajam, setajam silet.


Entah kesalahan apa lagi yang kami perbuat, sehingga bisa membangkitkan sosok Lucifer dalam dirinya. Pak Sam membawa setumpuk berkas laporan di tangannya. Yang kami tau betul itu adalah laporan kami yang baru saja kami serahkan, tepatnya satu jam yang lalu.


“Kalian bisa kerja gak sih?!” Dengan entengnya setumpuk berkas itu jatuh ke tempat sampah, “saya gak ngerti ya cara kerja kalian itu seperti apa? Kerja yang benar. Apa jangan-jangan kerja kalian itu Cuma berangkat, sampai di kantor kerja seenaknya sambil gosipin orang, habis itu pulang terus nungguin gajian. Begitu?”


Pandangan ku, Rizal, Tiwi, Mas Angga dan Mbak Sari saling tatap. Seolah berkata, kita harus jawab apa tidak sih?

__ADS_1


“Kalian bukan anak kemarin sore yang baru saja masuk ke divisi ini ,kan? Kenapa masih saja kerjaannya nggak benar!” Ku lihat rahangnya masih mengeras, itu pertanda kalo dia belum selesai dengan amarahnya. Dan kini Pak Sam malah mulai berjalan mendekat ke arah kubikel kami. “Rizal sama Tiwi, kalian sudah biasa kan terjun ke lapangan kenapa data yang kalian buat masih belum bisa sesuai aktualnya?!” Satu gebrakan meja terdengar sangat keras di ruangan ini.


“Sari ...” Tatapan tajam itu berpindah menatap Mbak Sari, “yang dari muda sudah bekerja di sini, bikin penentuan harga saja masih salah! Harusnya hal semacam itu sudah harus hafal si luar kepala!” Sumpah ya aku gemetar sekali menunggu nama ku di panggil. “Angga juga! Kerja sudah sampai tua. Ngetik masih saja typo! Apa kamu butuh kacamata baru? bilang ke saya. Kamu tau setiap kata itu mempengaruhi makna, kalo semua kamu bikin typo terus gimana?!” Untuk yang kedua kalinya gebrakan meja kembali terdengar menggema.


Duh tinggal namaku saja yang belum di panggil.


“Adelia ...” Benar kan terpanggil juga namaku, “kamu kan saya suruh buat bagan promosi baru, terus apa itu yang kamu kasih ke saya?”


“Maaf, Pak. Kan produknya sama persis dengan keluaran bulan kemarin. Jadi saya pikir tinggal di samakan saja.” Aku berusaha memberi penjelasan.


“Kamu pikir ini Perusahaan kamu! Jangan seenak nya. Kalian di sini itu di tuntut untuk kreatif agar bisa menarik minat konsumen. Kalo kerja kalian begini terus gimana kalian mau maju?” Pak Sam benar-benar menyeramkan sekali kalau sedang marah-marah.


“Gue lama-lama kasihan deh sama pintunya. Mungkin sebentar lagi itu pintu bakalan nyerah karena gak kuat di banting terus setiap hari.” Ujar Rizal nyeleneh.


“Dari pada elo mikirin pintu, mending lo pikir nih laporan lo.” Ucap Mas Angga yang sudah berjalan ke arah tong sampah untuk mengambil laporan kita.


Mas Angga meletakkan laporanku ke atas mejaku, dan aku benar-benar syok setelah melihat kondisi laporanku. Padahal aku sudah membuatnya dengan susah payah, sebagus, serapi dan semenarik mungkin. Tapi kini sudah berubah bentuk lengkap dengan coretan spidol merah besar.


Aku mengusap wajahku kasar. Jujur ya ... Lama-lama kerja kalo tidak di hargai begini, memang sakit banget rasanya. Seolah menyadarkan kalo aku ini memang hanya seorang kacung yang memang tempat nya salah dan salah.

__ADS_1


Sebenarnya, bukan kami itu tidak sanggup untuk resign dari pekerjaan dan mencari pekerjaan di tempat lain. Masalahnya, jaman sekarang cari kerja itu susah. Kami sebagai karyawan, jujur memang tak punya pilihan lain, selain terpaksa harus bertahan. Apalagi di perusahaan ini kami mendapat gaji yang besar belum lagi di tambah bonus yang bisa cair setiap bulan. Dan lagi, hal yang paling membuat kami tetap bertahan adalah pertemanan kami ini yang sudah terjalin lama dan kelewat Absurd.


Tentu itu menjadi salah satu hal yang perlu kami pertimbangkan. Belum tentu di luar sana akan jadi lebih baik dari tempatku bekerja saat ini. Bisa jadi sama saja atau yang lebih menyakitkan bisa jadi lebih parah.


Aku sadar, setiap atasan memang mempunyai sifat dan cara kerjanya sendiri dalam mengatur bawahan sepertiku. Dan ini memang sudah menjadi resiko ku dalam bekerja. Makanya selama aku mampu, aku akan mencoba bertahan.


Apalagi kalo mengingat saat aku susah payah mencari pekerjaan. Saat itu tepat saat aku lulus kuliah, dan aku harus bisa menerima kenyataan kalau kondisi keuangan keluargaku sedang dalam kekurangan.


Mama ku hanya seorang ibu rumah tangga dan Papa ku kala itu tengah merintis bisnis bersama teman nya. Namun dengan teganya teman Papaku menipu dan membawa pergi semua uang hasil usaha mereka. Papa terpaksa memberi nafkah ke keluarga kami dengan sisa uang tabungan nya yang tak seberapa itu. Di tambah kala itu aku masih mempunyai adik yang hendak memasuki jenjang SMA. Pastinya bakal membutuhkan biaya pengeluaran yang cukup banyak.


Dengan tekat bulat, sehari setelah kelulusan aku segera gencar mencari pekerjaan. Pernah aku di terima di salah satu Perusahaan swasta yang tak terlalu besar. Di sana aku di tuntut harus kerja dengan disiplin tanpa toleransi sama sekali, bahkan hampir setiap hari aku pasti pulang malam dengan gaji yang tak seberapa. Akhirnya tepat 1 tahun aku memutuskan untuk keluar, setelah aku sudah berhasil menabung sedikit uang dari hasil kerjaku itu untuk membantu Papa, agar bisa merintis bisnis nya kembali.


Lalu aku mencoba mencari pekerjaan lagi. Tepat saat itu Perusahaan terbesar di kotaku tengah membutuhkan banyak karyawan. Hingga akhirnya di sinilah aku mencoba bertahan, selama sudah hampir 4 tahun. Selama itu pula aku sudah melalui banyak nya asam garam bekerja di sini. Awalnya aku hanya lah karyawan biasa yang bekerja di gedung lapangan. Namun setelah mempertimbangkan ijazah kuliah ku yang bergelar S1 aku di angkat ke Office dan di sinilah aku berakhir, di divisi promosi.


Masuk ke divisi ini juga jalanku tak semulus kulit para artis yaa, apalagi dalam satu divisi hanya berisikan 4 orang awalnya, sebelum kehadiran Tiwi. Di sini aku justru malah makin dekat berhadapan dengan Bos-Bos ku yang berpegang teguh dengan aturan atasan selalu benar dan jika atasan salah kembali ke peraturan sebelum nya.


Maka dari itu seharusnya hatiku sudah kebal sekali dengan kelakuan-kelakuan seorang atasan. Namun siapa yang tau sih, seberapa kuat dinding pertahanan hati seseorang?? Setahuku manusia hanyalah makhluk yang lemah. Yang kerap kali membutuhkan sandaran dan curahan dalam setiap apapun yang menimpa dirinya.


Kalo aku boleh berharap sih ya, aku nanti pengen nya dapet suami yang sukses, kaya tujuh turunan deh kalo perlu. Biar apa, biar aku nggak perlu lagi susah payah bekerja. Namun suatu ketika kenyataan menyadarkan diriku,

__ADS_1


Ingat, lo nggak akan mendapat apa yang lo inginkan dalam hidup lo jika hanya berharap saja. Adelia Rinjani


__ADS_2