My Boss Samuel

My Boss Samuel
55. Keluarga Sam (2)


__ADS_3

Halloo balik lagi..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya!!


Di share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Wanita memang di ciptakan dengan perasaan yang lebih kuat di bandingkan dengan laki-laki. Dan terkadang aku membenci hal tersebut. Adakalanya semua itu membuatku takut dengan perasaanku sendiri.


Sam masih diam.


Dan wanita itu sudah duduk dan bergabung makan malam dengan kami semua. Dia duduk tepat di samping Destian, pria yang memiliki potongan rambut ala tentara dan perawakan seperti mafia itu menyambutnya hangat.


“Adelia ... Kenalkan dia Natalie. Anak kedua Bunda, istrinya Destian.” Bunda mengenalkan wanita tersebut yang ternyata bernama Natalie.


“Hai Adelia, senang bertemu denganmu.” Sapanya ramah.


“Senang bertemu denganmu juga, Nat.” Aku membalasnya tak kalah ramah.


Acara makan malam selesai. Tiba-tiba Kai memberi usul kepada Aroon, Sam, Destian, Tasya, Natalie dan aku untuk mengikutinya. Aku yang memang belum mengetahui seluk beluk rumah Sam hanya merasa takjub ketika berjalan mengelilingi rumahnya.


Dan akhirnya Kai berhasil membawaku dan yang lainnya ke halaman belakang rumah. Mataku seketika terbelalak menyaksikan pemandangan di halaman belakang rumah Sam. Tepat di belakang sana tak jauh dari halaman belakang rumah ini ternyata adalah pantai.


“Mumpung kita kumpul, kita senang-senanglah. Jarang kan bisa berkumpul seperti ini. Sekalian upacara penyambutan calon kakak ipar.” Ucapan Kai berhasil mengundang sorak dari yang lainnya dan hal tersebut membuatku malu. “Diam dulu.” Kai mengintruksi agar semuanya diam. “Kak Adelia, welcome to our family.”


Kai mengulurkan tangannya ke arahku. Aku tak tahu maksudnya, aku hanya melirik Sam dan dia malah tersenyum. Aku pun akhirnya membalas uluran tangan Kai dan tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba Kai mencium punggung tanganku.


Cari mati sepertinya.


Sam segera memukul kepala Kai keras. “Jaga sikapmu!”


Kai tertawa. “Santai, Kak. Takut banget kalo Kak Adelia kecantol sama Kai.” Aku tertawa mendengar ucapannya.


Sam memegang tanganku saat menuruni tangga. Tangga ini menghubungkan langsung ke pantai. Dan disinilah kami, di pinggir pantai sembari menyalakan api unggun. Mulai bercerita dan bercengkrama, tak lupa Aroon tadi sempat membawa gitar. Jadi sekarang ia dengan lihainya memetik gitar tersebut di iringi suara nyanyian dari Kai dan Tasya.


“Keluarga kamu baik.” Bisikku ke telinga Sam. Dia melirikku sekilas lalu merengkuh pinggangku.


“Jangan tertipu.” Aku menatap Sam dengan heran. “Aroon itu orang yang paling jahil, dia musuhku sejak kecil.” Kemudian aku terkekeh pelan setelah mendengar penjelasan Sam. “Dan Kai, walaupun dia masih kecil. Dia orang yang paling mesum di antara saudara laki-lakiku.”


Aku semakin terkekeh. Lalu ku senderkan daguku ke bahu Sam. “Sama dong seperti kamu.” Sam menatapku dengan alis berkerut. “Kamu juga mesum. Kamu selalu berhasil membuatku hilang kendali.” Bisikku tepat di telinga Sam.


Aku dan Sam terkikik bersama.


Sam menempelkan mulutnya ke telingaku. “Kamu yang selalu membuat ku kehilangan kendali.”


Sekujur tubuhku terasa merinding mendengar bisikkan dari Sam. Belum ada semenit aku mengatakan kalau Sam bisa membuatku hilang kendali. Dia malah langsung mempraktekkannya.


Dasar.


“Woy! Hati-hati, Del. Jangan terlalu dekat dengan Sam. Dia berbahaya.” Aroon menekankan kata terakhirnya dan berhasil membuat Sam melotot ke arahnya. Namun seolah tak takut Aroon malah tertawa sangat keras.


Sepertinya hiburan untuk saudara Sam itu adalah dengan mengerjai Sam deh.


“Iya, Del. Pokoknya kamu harus selalu waspada.” Imbuh Destian. Aku setuju kok, setuju banget malah.


“Siap! Pertahan diriku aman kok.” Aku mengacungkan jempol ke arah mereka.


Tiba-tiba Natalie berdiri. “Sayang, aku merasa pusing. Mungkin sakitku belum sembuh total.”


“Oh iya, aku lupa!” Destian menepuk jidatnya. “Kalau begitu aku tinggal gak apa-apa, ya. Bisa ribet kalo istri sakit lagi.”


“Bilang aja kamu yang susah, Des.” Celetuk Aroon.


Akhirnya Natalie dan Destian masuk kembali ke dalam rumah. Dan karena perempuan yang tersisa tinggal aku dan Tasya. Aku pun segera mendekat ke arah Tasya lalu kami melanjutnya cerita kami.


Tasya ini memang sangat imut dan cantik. Apalagi sikapnya kadang masih seperti anak kecil. Duh ... Nggak kebayang pacarnya segemas apa dengan Tasya.


##

__ADS_1


Hari berganti.


Sabtu pagi, aku bangun lebih awal dari ranjang empuk dan nyaman berukuran king size ini. Aku segera turun ke bawah. Rencananya aku ingin membantu memasak. Maklum lah, sebagai tamu yang pengertian biar di cap rajin begitu. Hehe.


Sampai di dapur aku hanya melihat tiga wanita yang tampaknya belum terlalu tua. Mungkin mereka adalah pembantu di rumah ini.


“Selamat pagi.” Sapaku.


“Eh, non Adelia. Sudah bangun, saya baru mau masak.” Kata salah satu dari mereka yang berwajah paling tua.


“Iya, saya bantu ya?”


“Tidak usah, non. Tunggu saja di kamar nanti kalau sudah siap Bibi akan kabari.” Kata Bibi dengan sopan.


Aku hanya tersenyum dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun aku melihat Bunda masuk ke dapur.


“Loh ... Adelia sudah bangun. Ngapain ke sini?” tanya Bunda.


“Tadinya mau bantu siapin sarapan, Bun.” Jawabku jujur.


Bunda tersenyum. “Siapa yang suruh?” Bunda merangkul lenganku. “Ikut Bunda aja, yuk!”


“Kemana, Bun?” tanyaku penasaran.


“Ke belakang rumah. Menikmati udara pagi, nanti kalau sudah selesai kita makan sama-sama dengan yang lainnya.” Bunda mengajakku berjalan ke belakang rumah.


Demi Neptunus si Dewa Lautan!


Pemandangan pagi hari di sini sangat tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata. Parah! It's beautiful.


Mungkin ini efek karena hampir selama 27 tahun. Hidupku hanya di hiasi oleh polusi, panas dan kendaraan yang padat merayap.


Bunda Eliza mengajakku duduk menikmati hangatnya sinar mentari yang baru menyingsing. It's real life. Jauh dari keramaian dan kepadatan di ibu kota. Tanpa polusi dan bising kendaraan.


“Bunda senang sekali Sam akhirnya mengenalkan kamu dengan keluarga ini.” Ucapan Bunda membuatku mengerjap dari lamunanku dan langsung menatapnya.


“Maksud, Bunda?” Aku menatap Bunda Eliza dengan alis berkerut.


Hah? Apa maksudnya.


“Kamu tahu perempuan itu siapa?” Bunda tersenyum ke arahku dan aku hanya menggeleng. “Kamu sayang.”


Oh ... Jadi seperti itu aku di mata Sam. Aneh? Benar-benar sialan.


“Kalau Sam ke sini dia sering sekali menceritakan tentang kamu. Tentang perasaan sukanya hingga dia yang merasa frustrasi karena tak kunjung mendapat respon dari kamu.” Bunda Eliza terkekeh.


“Hah? Sam begitu.” Kataku kaget. Dih lebay sekali hingga membuatku ingin tertawa.


Bunda mengangguk. “Iya, sayang. Dan kamu tahu seperti apa bahagianya Sam ketika kamu menerima cintanya? Dia yang selalu dingin dan cuek itu mendadak tersenyum seharian.” Bunda Eliza terkekeh begitu juga aku. Tadi Sam mengatakan kalau aku aneh. Padahal dia sendiri yang aneh.


“Hari ini dia bahkan memaksa Papanya datang ke Indonesia untuk mengenalkannya denganmu, sayang.” Aku langsung menatap Bunda Eliza.


Tunggu dulu, Papanya Sam. Duh ... Kenapa tiba-tiba deg-degan ya mendengar kabar tersebut? Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang memanggilku dari belakang.


“Bunda, Adelia? Kalian kenapa pagi-pagi sudah di sini?” tanya Sam.


Aku dan Bunda hanya tersenyum. “Rahasialah, tidak semua laki-laki bisa mengerti dengan perbincangan wanita, kan?” kataku sembari melirik Sam.


“Bunda cerita apa sama, Adelia?” Sam tak menghiraukan perkataanku dan langsung mendekati Bunda.


“Ish! Kamu gak boleh tahu. Women secret!” Ujar Bunda Eliza sambil tersenyum ke arahku.


Sam mendengus kesal. “Del ...” ia menatapku.


“Apa sih, Sam? Ih ngeyel banget sih kamu. Di bilangin orang tua gak percaya.” Aku tersenyum melihat ekspresi Sam.


“Ok, terserah!” Sam mengalah. Eh ... Lebih tepatnya mutung alias kesal. Ia segera kembali masuk ke dalam rumah.


##


Sam menuntunku berjalan keluar rumah, lalu ia mengajakku masuk ke pintu lain yang berada di samping bangunan rumah Sam.

__ADS_1


Ini beda rumah atau apa kah? Batinku.


“Sam kita mau ngapain?” Aku pun mulai bertanya.


“Nanti kamu juga tau.” Jawab Sam santai. Aku hanya mendengus kesal.


“Jangan bilang kamu mau mesum, ya? Mentang-mentang di rumahmu.” Sahutku asal.


“Hah?” Sam menghentikan langkahnya dan menatapku heran. “Aku bukan orang yang seperti itu, Del.”


Aku hanya mencibir. “Belum kali!”


“Apa?” Sam menaikkan satu alisnya ke arahku.


“Gak jadi!” Sam lalu kembali mengajakku berjalan.


Sepertinya Sam mengajakku memasuki sebuah ruang tengah. Ya aku mengetahuinya setelah melewati ruang tamu sebelumnya.


“Pa ...” jantungku terasa berhenti berdetak. Dengan cepat aku arahkan pandanganku mengikuti tatapan Sam.


Seorang pria yang tengah duduk membelakangi kami langsung berdiri. Dia tersenyum ramah. “She’s your girl?”


Sam tersenyum. “Ya. Adelia Rinjani.”


Aku segera membungkuk sembari mengulurkan tanganku ke pria yang aku rasa adalah Papanya Sam. Ia menyambut uluran tanganku hangat sembari tersenyum. Ah ... Mata itu mirip sekali dengan mata Sam.


“Nice to meet you, Sir.” Ujarku ketika menjabat tangan Papanya Sam.


Papa Sam menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke depanku. “Nama saya Carlisle Gavin. Panggil saya Papa seperti Sam memanggil saya.” Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Duh namanya, untung di suruh panggil Papa. Kalau enggak aku panggil Bambang aja deh biar gampang. Dan ternyata Papa Sam lancar berbahasa Indonesia. Ya, walaupun terdengar sedikit bulepotan. Maklum!


“Kakekmu ada di dalam.” Imbuh Papa Carlisle.


Tunggu dulu, kakek? Siapa lagi? Astaga ... tapi seingatku Sam pernah mengatakan kalau di sini adalah rumah keluarga kakeknya.


“Ok, Sam temui kakek dulu ya, Pa.” Papa Carlisle menepuk bahu Sam sebelum anaknya itu membawaku masuk menemui kakeknya. Sam berhenti dan menoleh ke arah Papanya.


“Good choise, son!” Papa tersenyum jahil ke arah Sam. Dan Sam hanya menggeleng.


Aku beranggapan kalau hampir semua anggota keluarga Sam itu sangatlah ramah dan humoris. Tapi, kenapa Sam tidak mewarisinya ya? Dia terlalu dingin dan gampang marah. Atau memang aku yang belum mengetahui sisi lain dari Sam?


Dan sialnya aku jatuh cinta padanya.


Preeett!!


Sam membuka sebuah pintu. Dia tadi mengatakan kalau itu adalah ruang kerja kakeknya. Sam menggenggam tanganku masuk. Aku hanya tersenyum dan menurut. Tetapi, begitu aku sampai di dalam seketika senyumku langsung pudar begitu saja. Aku melihat kakek Sam sudah berdiri dan bersiap menyambut kedatanganku dan Sam.


Ini bukan bulan April kan? Katakan ini bukan April Mop.


Ya Tuhan ... Pria paruh baya itu tersenyum ke arahku. Berjuta pertanyaan mendadak singgah dan memenuhi kepalaku.


Kakek Sam, Mister Robert??


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED...


##


Hm... Bukan Aprol Mop, Del. Itu namanya mimpi ketiban durian. Hahaha


semoga kalian enggak bosan. Mau gimana lagi kalau seluk beluk keluarga Sam tidak ku jelaskan nanti kesannya gimana gitu, yee kan??? eeiimmbeer...

__ADS_1


Salam dari penulis amatir. ❤️


__ADS_2