
Selamat siang...
Aku mau ngucapin terima kasih atas dukungannya buat cerita amatir ini..
Semoga selalu terhibur,
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Share juga boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Sam menarikku masuk ke dalam pintu lift dan langsung mendorongku. Sehingga saat ini aku berhasil berada dalam kungkungan tangannya. Sam menatap wajahku lekat lalu dari sudut bibirnya tertarik membuat sebuah senyuman yang sama sekali tak ku mengerti maksudnya.
“Sepertinya kamu sedang bahagia sekali.” Ucap Sam.
“Ah masa? Aku tiap hari bahagia tuh.” Cibirku sembari mengerucutkan bibir.
Perlahan tangan Sam mulai menyentuh bibirku. “Masa? Kalau begitu mau aku kasih hadiah.” Aku hanya bisa mengerutkan alisku. Tanpa menunggu lama Sam mendekatkan wajahnya ke arahku.
Kenapa nih? Apa Sam mau menciumku di sini? Nanti kalau aku khilaf gimana? Duh, padahal dalam hati aku sih mau aja khilaf bareng Sam.
Aku menahan dada Sam. “Ini di kantor.” Ujarku. Sedangkan hatiku sudah heboh dan bersorak mengataiku munafik.
Sam tampak berpikir sekilas. “Siapa yang bilang ini di apartemenku.” Aku langsung terperangah begitu mendengar jawaban yang keluar dari mulut Sam.
Apa jangan-jangan dia sudah beralih profesi menjadi pelawak juga?
Tidak lucu.
Aku segera mendorong dada Sam lagi lalu melipat kedua tanganku ke depan. “Bapak lupa? Kan Bapak sendiri yang bilang kalo di kantor nggak boleh main flirting.”
Sam menggigit bibir bawahnya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan berwarna hitamnya. “Memangnya saya flirting sama siapa? Saya tidak pernah melakukan hal itu di kantor ya, Del.”
Bullshit!
“Y-ya tapi Bapak jangan gituin saya lagi. Apalagi ini ...” aku menggaruk belakang telingaku. “Ini masih di lift.”
Seketika Sam menodongku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan apa maksudnya. Tolong ... Lift ini sangatlah sempit, jangan tambah suasana menjadi panas di ruang terbatas ini.
Sam perlahan mendekatiku dan otomatis aku semakin bergerak mundur. Dia memiringkan wajahnya dengan seringai yang perlahan muncul dari sudut bibirnya.
Panas.
Tubuh bagian belakangku sudah mentok menatap dinding lift. Dan dengan cepat Sam berhasil mendarat satu tangannya ke dinding lift, tepatnya di sebelah telinga kiriku. Nafasku mulai terasa sedikit berat, apalagi saat Sam mulai menundukkan wajahnya.
Nafas Sam semakin terasa mengenai wajahku, membawa sensasi merinding di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mata sembari meremas buku agenda kecil yang aku bawa saat ini.
“Kalau yang aku lakukan tadi terhitung flirting. Bagiku tidak masalah!” aku semakin merinding ketika suara berat Sam terdengar jelas di telingaku. “Asal aku melakukannya sama kamu.”
Aku berusaha menelan ludah guna membasahi leherku. Sam langsung menatapku dan tatapan itu berhasil menggoyahkan hatiku. Perlahan wajahnya mulai mendekat lagi dan aku tahu apa yang menjadi target Sam saat ini.
Mataku semakin terpejam menahan getaran yang semakin mencuat dalam dadaku. Dalam sekejap benda kenyal dan hangat itu sudah menyentuh bibirku. Baru menempel, karena tiba-tiba aku terkejut mendengar suara pintu lift terbuka.
Dengan cepat aku menggeser posisiku ke samping menjauhi Sam.
“Eh, ada Neng Adel.” Aku hanya bisa tersenyum kaku ketika orang tersebut menyapaku.
“A-anu, Mang Diman dari mana?” Aku berusaha mencairkan suasana sebelum Mang Diman curiga dengan adanya aku dan Sam di lift ini.
__ADS_1
“Habis ngantar kopi.” Pintu lift kembali tertutup. Mang Diman terdiam di tempat lalu tersenyum canggung. “Pak Bos kenapa?”
Seketika aku menoleh ke samping dan langsung terkejut dengan apa yang aku lihat. Rupanya Sam sedang membenturkan keningnya sendiri ke dinding lift akibat terkejut dengan kedatangan Mang Diman.
Sam segera membalikkan badan dan membenarkan setelan jasnya. “T-tidak apa-apa, hanya sedikit pusing.” Ucapnya datar tanpa ekspresi.
Melihat tingkahnya membuatku ingin tertawa. Rasakan, makanya besok-besok jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi ya Bos.
Nyosor amat jadi pacar!
##
“Guys!” aku dan yang lainnya kompak menatap ke arah Rizal. “Pulang kerja nongkrong yuk!”
Mbak Sari melengos. “Memangnya lo punya duit ngajak nongkrong segala?”
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Mbak Sari. Mengingat ini memang sudah memasuki tanggal tua.
“Ck! Tenang. Gue tadi lihat dekat sini ada resto all you can eat baru. Dan pastinya ada ...” aku dan yang lainnya menatap Rizal dengan penuh binar. “Harga diskon!”
“ASYIIIK!” Teriak ku dan yang lainnya kompak.
Kata diskon di tanggal tua itu memang berarti sesuatu banget bagi kaum pekerja seperti kami.
“Enggak sampai sembilan puluh sembilan ribu udah bisa makan sepuasnya. Nanti kita patungan ya.” Imbuh Rizal sambil nyengir.
“Nah, tumben otak lo bisa punya ide cemerlang. Gue kira lo Cuma modal promosi terus minta di bayarin sama kita.” Ledek Mbak Sari.
Rizal mencebik. “Gue udah berubah, Mbak! Gue rela berubah demi masa depan yang lebih indah.”
Aku, Mbak Sari, Tiwi dan Mas Angga kompak bersorak ke arah Rizal. Dan tepat saat itu Sam keluar dari ruangannya. Hal pertama yang harus kami lakukan adalah memasang sikap waspada, tersenyum ramah dan membungkuk empat puluh lima derajat.
Sam hanya melirik sekilas dan tanpa basi-basi berjalan langsung berjalan ke arah lift.
“Tapi, gue nanti agak telat ya, yang penting pesenin dan jangan di makan jatah gue!” ancamku sembari melotot ke arah Rizal.
“Santai dong, Del. Mana mungkin gue makan jatah lo.” Rizal membalas dengan senyum jenakanya.
Sesuai dengan perjanjian, tepat pulang kerja aku dan teman-temanku akan menongkrong terlebih dahulu. Kami berpisah di parkiran karena aku harus ke minimarket dahulu untuk membeli bumbu penyedap pesanan Mama.
Saat aku masuk ke minimarket ponselku berbunyi dan ternyata itu dari Sam. Aku segera menggeser tombol hijaunya lalu aku tempelkan benda pipih itu ke telingaku.
“Hallo, Sam. Kenapa?” tanyaku saat panggilan sudah tersambung.
“Kamu dimana?”
“Aku lagi di minimarket, habis ini mau nongkrong sama anak-anak.” Kataku sembari memilih-milih bumbu.
“Oh ... Ya sudah kalau begitu. Nanti kabarin ya kalo sudah pulang.”
“Ok, bye.” Aku segera menutup panggilan telepon lalu berjalan ke kasir untuk membayar.
Keluar dari minimarket tanpa sengaja aku berpapasan dengan seorang cowok yang dulu pernah singgah di hatiku lalu melukainya tanpa merasa bersalah.
Entah ini hanyalah sebuah kebetulan atau memang takdir? Entahlah.
Tapi memang benar kan kalau mantan pasti akan bertanya apa kabar pada waktunya.
Uh ... Preeet.
“Adelia. Apa kabar?” Sapanya sembari tersenyum ke arahku.
__ADS_1
Aku tersenyum kaku. “Raka.”
“Ya ampun, gak nyangka kita ketemu lagi.” Saat itu juga aku langsung terkejut karena Raka alias mantanku itu langsung memelukku tanpa permisi. “Gue kira kita gak bakal ketemu lagi.”
Oh hell!!
“Ah, iya. Gue juga gak nyangka.” Aku harus segera melepas pelukan ini. “Raka gue mau~” ucapanku terhenti ketika aku melihat sosok Sam berdiri tak jauh dari minimarket. “Sam.” aku menggumam pelan seraya memastikan kalau yang aku lihat itu memang benar Sam.
“Apa?” tanya Raka.
Sumpah saat ini aku aku benar-benar tak ingin peduli dengan pertanyaan Raka. Aku ingin segera berlari mengejar Sam. Ya Tuhan ... Semoga tatapan tadi bukan pertanda buruk.
Jangan biarkan Sam salah paham.
Aku segera berlari menyusul Sam tanpa menjawab pertanyaan dari Raka sedikitpun.
“Sam!” teriakku ketika Sam hendak masuk ke mobil. Dan untungnya dia mau berhenti. “Sam, kenapa kamu bisa di sini?” tanyaku sedikit ngos-ngosan.
Sam segera menatapku dengan tatapan tajam. Wajahnya terlihat dingin dengan rahang yang terlihat mengeras.
Mampuuss!
“Kamu pikir kenapa?” aku sedikit terkejut mendengar nada dingin itu keluar dari mulut Sam. “Kamu bilang ke minimarket lalu mau nongkrong sama teman-teman kamu. Tapi ... Aku lihat kamu malah pelukan dengan pria lain.” Matanya memicing ke arahku.
“Aku nggak peluk dia. Dia tadi Raka dan kita dulu ...” Sam memotong perkataanku sebelum aku menjelaskannya.
“Aku tidak butuh penjelasan dari kamu, Del, setelah melihat apa yang baru saja terjadi.” Sorot mata Sam benar-benar menunjukkan kemarahannya.
“Tapi aku bisa jelasin~” lagi-lagi Sam memotong ucapanku.
“Kamu gak dengar aku bilang apa!” Sam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya lalu menatapku dengan tatapan tajam. “Kamu pikir ada seorang laki-laki yang rela jika kekasihnya berpelukan dengan orang lain?” aku hendak membuka mulut tetapi sepertinya Sam tak mengizinkannya. “Aku tidak rela, Del. Aku benci dengan apa yang baru saja aku lihat! Dan lagi, kamu juga belum pernah memberiku pelukan jika aku tak memelukmu terlebih dahulu. Apa di matamu aku terlihat sama dengan laki-laki tadi?”
“Tapi kan aku selalu membalas pelukanmu, Sam.” Aku langsung menggigit bibir bawahku dengan mata terpejam. Aku menyadari sebuah kesalahan dari kalimat yang aku ucapkan.
“Iya membalas. Sama seperti ketika kamu membalas pelukan dari laki-laki tadi.” Sam mendengus kesal lalu menatapku dengan tajam.
Hening sesaat.
Bahkan aku sendiri tak tahu harus menjawab apa. Sam memang benar, semua ucapannya tadi berhasil menyadarkanku. Ini adalah kesalahanku.
Sam segera membuang muka lalu membuka pintu mobilnya. Dan dalam hitungan detik mobil itu langsung melaju meninggalkan diriku yang masih di selimuti dengan rasa bersalah. Kalimat yang di ucapkan Sam berhasil berputar-putar memenuhi kepalaku. Dan sekarang aku mulai mengerti, aku memang tak pernah memeluk Sam, yang aku lakukan selama ini hanyalah membalas pelukannya.
Sama seperti yang aku lakukan ke Raka.
Arrgghh. Bodoh!
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED...
##
Eh... Ada yang marah lagi.
__ADS_1
Cepet di bujuk tuh, keburu marahnya tambah besar. hihihi.