My Boss Samuel

My Boss Samuel
68. Mampir Ke Rumah


__ADS_3

Selamat siang.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Acara makan malam bersama ini berlangsung dengan penuh canda gurau. Sudah tahu kan ya, bagaimana sifat Mama dan Papaku selama ini. Dan untung seiring berjalannya waktu Sam bisa menyesuaikan diri terhadap keluargaku dengan begitu baiknya. Bahkan dia sekarang sudah bisa ikut membalas candaan yang di lontarkan Papa.


“Aku bantuin Mama dulu ya.” Sam mengangguk lalu berdiri mengikuti Papa berjalan ke ruang keluarga.


Aku membantu Mama membereskan meja makan dan mencuci piring di dapur.


“Udah biar Mama aja.” Mama sudah menyender di sampingku.


“Serius? Mama nggak mau Adel bantu.” Ya walaupun aku memang jarang membantu sih, maafkan anakmu yang kurang ajar ini ya, Ma.


Mama melengos. “Biasanya juga nggak bantu.” Tukas Mama berhasil menusuk dadaku. “Mau sok rajin gara-gara ada Sam.” Selidiknya.


“Dih, enggak kali. Sam itu cinta sama Adel apa adanya.” Ujar Ku bangga. Aku masih sibuk dengan cucian piringku sementara Mama yang katanya tadi mau mengambil alih pekerjaan ini malah sibuk mengajakku bicara.


“Kamu kali yang tergila-gila sama Sam.” Ledek Mama.


Aku tahu Mama hanya menggodaku. Pasti Mama hanya ingin mendengar aku menceritakan soal Sam padanya. Ck! Sesi curhatnya besok saja ya Ma.


“Jadi Mama kok nggak percayaan.” Aku mengerucutkan bibirku kesal. “Nanti jangan kaget kalau tiba-tiba Sam melamar Adel.”


Mama langsung mencengkram lenganku dengan tatapan penuh selidik, aku hanya bisa mengerutkan alis heran ke arah Mama, kenapa sih? Tiba-tiba Mama berbisik tepat ke telingaku.


“Mama udah nggak sabar menunggu hari itu.” Bisiknya lalu terkikik puas. Aku hanya menatap Mama sambil geleng-geleng.


Selesai mencuci piring aku dan Mama bergabung di ruang keluarga. Papa dan Sam kelihatannya tengah terlibat dalam obrolan bisnis yang seru.


Tak mau waktu Sam di ambil alih oleh kedua orang tuaku, aku pun memutuskan untuk mengajak Sam naik ke lantai dua tepatnya ke balkon rumahku. Walaupun rumah dua lantai ini tak begitu besar. Tapi aku masih punya satu balkon kecil di atas di dekat kamarku. Hanya berukuran 1x2 meter, ada sebuah kursi panjang dan beberapa tanaman hias di sana. Biasanya di sana aku menikmati hari-hari kemalasan ku selain di kamar, selama aku menjadi jomblo kemarin.


Berhubung sekarang sudah jarang aku tempati jadi lebih sering di gunakan Vino untuk bermain game atau nongkrong ketika ada temannya yang datang. Padahal dulu aku dan Vino sering kali bertengkar untuk menempati balkon tersebut.


“Nggak ikhlas banget sih kamu, Del. Papa kan lagi ngobrol sama Sam.” Sindir Papa.


“Besok-besok juga masih bisa Papa.” Ujar ku singkat.


“Ok, berarti Sam harus sering mampir ya.” Sahut Mama cepat, Mama dan Papa saling lirik lalu tergelak.


Jangan buat Adelia malu dong di depan Sam, astaga.


“Iya, Ma ... Sam akan sering mampir.” Tanpa menunggu lama lagi aku segera mengajak Sam menaiki tangga.


##

__ADS_1


Vino terus menggerutu kesal di belakangku lalu menaruh gelas di atas meja dengan keras hingga menimbulkan suara yang membuat Sam terheran.


“Ya elah, Vin. Cuma di suruh bawain gelas isi air doang keselnya orang satu kompleks lo ambil semua.” Sindirku dan Vino tetap memasang wajah kesal.


Sam masih diam, dia sudah duduk sembari menungguku membawa camilan dan minuman. Berhubung aku tidak bisa membawa semuanya sekaligus jadi aku meminta bantuan Vino, tapi si bocah semprul itu malah menggerutu.


“Lo itu ganggu gue, Mbak. Gue lagi mabar dikit lagi bisa menang, ah.” Vino mengacak rambutnya kesal. “Mas ...” lah kenapa malah merengek ke Sam ini bocah.


“Kamu user apa?” tanya Sam.


Di luar dugaan, Vino langsung duduk di samping Sam dan menjawabnya dengan antusias. “User assasint sama mage.”


Aku hanya bisa mengerutkan alis sembari memandang bingung ke dua orang laki-laki yang tengah asyik membahas salah satu game MOBA mobile yang sempat trending hingga saat ini.


“Sampai tier apa?” tanya Sam lagi.


Vino dengan bangganya menepuk dada sambil tersenyum. “Vino udah tier legend dua bintang lima, Mas.”


Sam tersenyum lalu mengangguk-angguk. “Wah, kalau begitu kapan-kapan kita harus main bareng dong. Kebetulan Mas Sam top global Kagura.”


Mata Vino langsung berbinar dengan mulut menganga. “Serius, Mas?”


Aku semakin mengernyit. Ayolah segera selesaikan omong kosong kalian aku benar-benar tak mengerti woy! Bisa-bisa malam ini setelah berhasil ku selamatkan dari Mama dan Papa, Sam akan berganti di kuasai oleh Vino.


Sam mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya. “Mana ID mu? Mas kasih skin.” Vino langsung histeris mungkin sudah seperti cewek kalau lihat barang diskonan tapi ini versi cowoknya.


“Hey!” Aku langsung merebut ponsel Sam. “Lain kali aja deh. Dan elo Vin, mending lo ke kamar aja sana tadi aja kesel sekarang antusias banget.”


“Sudah besok aja, tenang Mas nggak lupa kok.” Sam tersenyum.


Dan akhirnya Vino setuju, dia langsung berdiri lalu meninggalkan aku dan Sam. Kok dia kayak kurang ajar banget ya, sama Mbaknya sendiri malah tidak mau menurut.


“Dasar!” gumamku namun sepertinya Sam mendengarnya dengan jelas.


“Kenapa?” dia mengambil minuman yang ada di atas meja.


“Enggak kok. Vino tuh ganggu aja.” Tukasku kesal.


Sam terkekeh pelan lalu kembali menaruh gelas ke atas meja. “Kenapa kamu nggak mau banget ya kalo ada yang gangguin kita?”


Eh, apa katanya? Kok jadi malu sendiri ya mendengar pertanyaan Sam barusan. Tapi memang benar juga sih, duh jawab apa dong.


“Ah enggak kok, aku kan capek males nanggepin dia.” Aku menggaruk-garuk tengkuk ku tanpa melihat Sam, takut saja kalau dia sampai tahu aku berdusta.


“Kalau capek kamu istirahat aja sana.” Aku langsung menatap Sam tak mengerti.


“Maksud kamu?” Aku langsung menatapnya.


Sam menghela nafas sesaat lalu tersenyum. “Tidur sana biar capeknya cepat hilang.”


Loh, kok jadi begini sih. Aku kan ingin berdua dengan Sam malam ini, kenapa dia malah menyuruhku tidur? Ah Sam kampret!

__ADS_1


Harusnya dia peka dong, aku kan masih berakting marah dengannya masa dia tak ada niat untuk membujukku supaya aku tak marah lagi. Jahat.


“Atau jangan-jangan kamu memang beneran mau berduaan saja denganku.” Sam menatapku dan lihat wajahnya, dia tersenyum sok manis sekali.


“Sam.” aku sedikit mengeraskan suaraku.


“Apa?” berbanding terbalik denganku, Sam justru menjawabku dengan sangat lembut. Masih tak bergeming dan dia menjawab lagi. “Apa sayang.”


Ya Tuhan, bolehkan hamba terbang melayang sebentar. Rasanya kalau mendengar Sam memanggilku dengan sebutan Sayang itu sesuatu banget. Seperti candu yang membuatku ingin mendengarnya lagi dan lagi. Dia melafalkannya dengan sangat fasih, pelan dan lembut.


Aaa. Jantung aku mohon tenanglah sedikit ya.


Aku menggigit bibir bagian dalamku, tak lupa kedua tanganku juga meremas kursi panjang tempat yang aku duduki dengan Sam malam ini.


“Kok diam sih.” Sam kembali bersuara, bahkan kini tangannya mulai bergerak menyentuh rambutku lalu menyelipkannya ke belakang telinga.


Ayo Del ngomong geblek. “Um, a-aku belum ngantuk kalau kamu suruh tidur.”


“Tapi katanya capek.”


“Iya, tapi buat santai begini udah hilang sendiri kok nanti.” Tanganku reflek menggaruk belakang telingaku menunggu Sam menjawab perkataanku.


Tiba-tiba Sam menarik pinggangku hingga mendekat ke arahnya setelah itu ia membenamkan wajahnya ke ceruk leherku. Ada sapuan hangat dari nafas yang di hembuskan Sam di sana dan seketika membuat seluruh tubuhku merinding.


“Aku juga ingin berdua saja denganmu, Del. Bahkan kalau boleh meminta, aku ingin menikmati saat berdua denganmu lebih lama lagi tanpa harus ada malam sebagai pemisah jarak.” Sam semakin mengeratkan pelukannya di pinggangku.


Hatiku sudah berdebar tak karuan. Kenapa Sam sering sekali mengatakan hal-hal yang selalu membuat hatiku berdebar sih?


Aku mulai melingkarkan tangan kananku ke punggung Sam lalu tangan kiriku bergerak membelai rambut Sam. “Malam bukan hanya sebagai pemisah jarak Sam, tapi malam juga sebagai waktu untuk istirahat. Memangnya kita nggak butuh tidur.”


Ada kekehan kecil yang aku dengar dari Sam, kini dia mulai mengecupi leherku dan menggigitnya pelan. “Tidur denganmu.”


“Apa?!” aku hendak melepaskan diri tapi Sam menahanku.


“Maksudku, aku sudah nggak sabar bisa tidur berdua denganmu di kamar yang sama, di satu ranjang yang sama.” Jantungku semakin berdegup menunggu kalimat Sam selanjutnya. “Aku sudah nggak sabar ... menikah denganmu.”


Deg.


Sam menatapku dengan tatapan sayu lalu secara perlahan ia menarik tengkukku ke bawah hingga bibir kami bertemu. Sam membuka mulutnya, menciumku dengan sangat hangat.


Hening.


Bahkan hanya terdengar suara deru nafas kami yang saling memburu karena ciuman ini. Bahkan bunyi cecapan di sela ciuman ku dan Sam terdengar sangat jelas. Aku rasa malam ini alam seolah mendukung apa yang aku lakukan dengan Sam. Langit cerah bertabur ribuan bintang, tak ada angin namun terasa sangat dingin.


Bahkan yang biasanya ada suara berisik dari motor yang lewat, malam ini tak terdengar satu pun motor pun yang lewat. Apa mereka kehabisan bensin berjamaah?


Sam melepas ciumannya menatapku sesaat lalu kembali menyatukan bibirnya dengan bibirku lagi, lebih dalam dan hangat.


Kalau aku berani jujur, aku juga ingin malam ini tak pernah ada Sam. Aku masih ingin berdua denganmu, duduk berdua sambil bercengkrama menikmati setiap detik, menit dan jam berdua sembari berangan tentang masa depan kita.


__ADS_1


__ADS_2