
Happy reading lagi yey !!!
##
Aku masih memeluk Mama erat, menerima usapan lembut di kepala saat mendengar suara Sam mengucap salam dari depan. Tubuhku menegang kaku ketika melihat dia memasuki ruang keluarga dengan wajah pucat.
“Mama ke dalam dulu. Selesaikan baik-baik.” Mama mengurai pelukan dan mengecup keningku lalu pergi meninggalkan aku dan Sam yang duduk dalam kecanggungan.
“Ngapain kamu kesini?” aku memilih membuka suara lebih dulu karena sepertinya Sam tidak berniat memecah keheningan.
“Jemput kamu.” Ujarnya datar.
Aku masih mengamati wajahnya yang tampak pucat itu. Tapi walaupun begitu ekspresi wajahnya tetap saja datar.
“Aku belum mau pulang.” Ujar ku ketus sambil kembali meraih kertas ujian salah satu mahasiswa dan mengoreksinya.
“Adelia.” Sam memanggilku dengan suara datar. “Jangan kekanakan begini.”
Apa katanya? Aku segera melempar kertas yang ada di tanganku ke atas meja lagi lalu menatap tajam padanya.
“Kekanakan kamu bilang?!” Aku menjerit, tak peduli Mama akan mendengarnya. “Kamu mengabaikan aku dua hari, Sam, tanpa alasan dan kamu pikir itu nggak kekanakan?! Please, jangan egois!”
Sam tampak menghela nafas. “Kita bisa bicara ...”
“Aku capek, Sam.” Ujar ku lemah. “Aku nggak paham mau kamu itu apa? Kamu makin sibuk sedangkan aku makin merasa nggak berguna jadi istri. Aku capek.” Aku menunduk.
“Aku nggak pernah menganggap kamu begitu~”
“Tapi kamu bersikap seolah-olah kamu nggak butuh aku dan hanya aku yang butuh kamu!” lagi-lagi aku menyela kalimatnya dengan cepat. Sam terdiam. “Kamu bahkan nggak ngasih alasan kenapa kamu nggak telepon aku, chat aku. Apa kamu sesibuk itu sampai lupa kalau kamu punya istri!”
“Aku kesal. Oke aku akui.” Sam akhirnya terpancing emosi. “Aku kesal karena kamu bisa panggil orang lain dengan sebutan yang lebih lembut di banding kamu panggil aku.”
“Aku nggak ngerti!” selaku cepat dengan suara frustrasi.
“Dulu kamu panggil Tristan dengan sebutan Mas juga, aku masih bisa maklum karena mungkin dulu kamu belum tahu kalau dia saudaraku. Dan kamu panggil dia Mas sebagai bentuk menghormati. Tapi rekan dosen kamu? Kamu panggil Mas juga? Dan aku Cuma kamu panggil nama?”
Aku melongo. “Cuma karena itu!?” aku berteriak kencang. “Cuma karena panggilan sepele kamu sampai kayak gini sama aku?!” Aku menggeleng tak percaya. Semua benar-benar tak terpikirkan olehku.
“Panggilan itu nggak pernah sepele buat aku!” tukasnya tajam.
__ADS_1
Aku mendengus lalu tertawa sambil mengusap air mata yang entah mengalir sejak kapan. “Kalau kamu mau aku panggil Mas juga, harusnya kamu bilang, Sam! Bukannya diam aja. Kamu pikir aku paham maunya kamu kalau kamu nggak bilang? Aku nggak bisa baca pikiran kamu!”
“Tapi harusnya kamu bisa ngerti~”
“Aku nggak ngerti!” jeritku kesal. “Selama ini aku nggak ngerti dengan kode-kode dan sikap kamu dan kamu tahu itu. Jadi stop buat kasih aku kode nggak jelas. Lebih baik kamu ngomong langsung biar otakku ini bisa paham apa yang kamu mau!” potongku ketus.
Aku benar-benar tak tahu harus berkata seperti apa lagi ke Sam.
“Aku nggak sepintar kamu kalau kamu lupa!” Sambung ku sinis.
“Kamu lebih pintar dari itu!” ujarnya tajam. “Kamu pasti bisa lihat sendiri kan kalau anggota keluargaku tidak ada yang panggil suaminya dengan nama dan~”
“Dan aku bodoh sedangkan kamu pintar!” Aku kembali membentak marah. “Semuanya salah aku begitu?” aku berteriak histeris. “Iya aku salah. Aku bodoh. Aku nggak peka!” aku mengusap pipi yang berair. “Karena aku bodoh harusnya kamu kasih tahu secara jelas. Karena aku ini nggak peka harusnya jangan kasih aku kode. Dan karena aku istri kamu, bukan berarti kamu bisa salahin aku terus. Aku capek, Sam. Capek ngadepin kamu yang NGGAK JELAS BEGINI!!” Ujar ku berteriak lalu terisak.
Ekspresi Sam tampak seolah aku baru saja menamparnya.
“Apa kamu sadar kalau belakangan ini kamu sibuk dengan urusan kamu sendiri? Apa kamu lupa kalau setiap malam aku hampir sendirian di meja makan, nungguin kamu yang nggak tahu kapan pulangnya. Apa kamu sadar kalau kamu mulai menjauh?” aku bertanya serak dan lirih, kemudian mengusap pipiku. “Aku juga nggak bisa kasih kamu anak.” Ujar ku semakin lirih lalu segera menaiki anak tangga menuju kamarku dulu.
Sedangkan Sam masih diam di tempatnya.
Aku membanting pintu dan menguncinya, merebahkan diriku di atas ranjang dan membenamkan wajahku ke bantal lalu menangis sekeras yang ku inginkan. Semua kesedihan yang diam-diam aku pendam selama beberapa bulan ini aku luapkan dengan cara menangis.
••
Entah sudah berapa lama aku menangis dan berada di dalam kamarku, hingga sayup-sayup aku mendengar sebuah obrolan dari luar kamarku. Dan aku yakin kalau itu suara Sam dan Papa.
“Kamu baik-baik aja?”
Aku menoleh ke arah pintu yang masih tertutup itu. Aku mendengar suara Papa yang barangkali sedang bertanya pada Sam.
“Sebenarnya tidak, Pa. Saya tidak baik-baik saja.”
Aku kembali menangis begitu mendengar suara Sam baru saja.
Dia pikir dia saja yang tidak baik-baik saja? Aku juga. Aku juga tidak baik-baik saja, bahkan aku sakit. Sakit yang entah bagaimana cara mengobatinya.
“Maaf sudah membuat putri Papa menangis. Saya sudah keterlaluan.”
Lagi-lagi aku mendengar suara Sam. Aku semakin membenamkan wajahku ke bantal dan menutup telingaku serapat mungkin. Aku tidak ingin mendengar suaranya.
__ADS_1
Hingga akhirnya aku mendengar suara handle pintu yang di tarik secara paksa. Aku kembali mengangkat wajah dan menatap pintu yang masih tertutup itu.
“Di kunci?” itu suara Papa.
Aku tahu betul apa yang mungkin sedang Papa pikirkan saat ini. Dan benar saja setelah itu aku mendengar suara kunci yang terbuka.
“Semarah apapun Adel, dia tidak akan sampai benci kamu. Marah itu hal yang wajar. Dia memang begitu kalau ngambek. Di bujuk juga luluh. Ya udah Papa ke bawah dulu ya.”
Dan tepat saat suara Papa menghilang aku bisa mendengar suara pintu itu terbuka. Aku segera menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalaku. Sam kembali menutup dan mengunci pintunya. Setelah itu aku merasakan Dia sudah duduk di tepi ranjangku. Dia mengusap lenganku yang tertutup selimut, sebenarnya aku tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Tapi bukankah lebih baik memang seperti ini? Aku lebih baik diam tak bersuara dan berpura-pura tidur di bawah selimut.
Aku merasakan Sam bergerak naik ke atas ranjang dan memelukku erat dari belakang.
“Maaf.” Bisiknya pelan. “Maafin aku.” Imbuhnya sambil mendekapku lebih erat, seolah tak ingin melepaskanku dan membuatku menangis lagi.
Air mataku kembali menetes. Sebisa mungkin aku diam dan menggigit bibirku bawahku agar tak terisak. Aku berusaha menenangkan diri dengan memejamkan mata. Hingga aku terlelap dengan sendirinya di dalam pelukan Sam.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
Vote
Vote
Like
Like....
❤️
__ADS_1