
Balik lagi akunya!!
Semoga semangat dan sehat selalu ya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku sudah mandi, sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi tiba-tiba aku ingat dengan kejadian sebelum pulang kemarin. Aku benar-benar kelepasan, harusnya aku bisa mengontrol diri atau menghitung angka sampai lima terlebih dahulu sesuai anjuran dokter terapis, sebelum mengambil tindakan yang berakibat fatal.
Aku kembali ke kamar duduk di atas ranjang dengan rupa yang entah seperti apa bingungnya.
“Del!” Mama mengetuk pintu kamarku. “Kamu nggak berangkat. Ini udah di jemput Sam lho.”
Aku langsung mengerjap dan berlari untuk membuka pintu. Mama dan Sam berdiri di depan pintu dengan tatapan datar.
“Kamu kenapa sih, Del?” Mama mulai sewot.
Aku hanya menggaruk tengkuk dan menatap Sam. “Hari ini aku izin nggak masuk aja ya.”
“Kenapa? Kamu nggak sakit kan?” Sam langsung menyentuh keningku untuk mengecek suhu tubuhku. Namun dengan cepat aku menangkis tangan Sam.
“E-enggak ...” aku melirik Mama yang masih diam di tempat, dan seolah mengerti kalau aku butuh berbicara dengan Sam, Mama langsung mencibir dan pergi.
“Manja banget sih, Del.” Tukas Mama sambil berlalu.
Padahal aku kemarin sudah bercerita tentang kejadian terbongkarnya hubunganku dengan Sam. Tapi, Mama tetaplah Mama yang kadang selalu menyebalkan. Mama bilang, kalau ini adalah salahku yang sejak awal memilih menyembunyikan hubunganku.
Kali ini curhat dengan Mama benar-benar tidak membantu.
Aku berjalan masuk ke kamar dan duduk di atas ranjang di ikuti Sam.
“Aku ... Aku malu Sam.” Entah kenapa tiba-tiba aku menangis konyol di depan Sam, dan takut.
“Malu?”
Aku semakin keras menangis hingga membuat Vino berlari ke kamarku. Sampai di ujung pintu dia hanya melotot lalu bersandar di sana sambil geleng-geleng kepala. “Gue kira kesurupan.” Celetuk Vino yang malah membuatku semakin menangis histeris.
“Belum.” Ujar Sam datar dan itu semakin membuatku menjerit.
“Mbakmu kenapa, Vin? Ini tetangga pada nanyain.” Seru Papa dari lantai bawah. Vino semakin terbahak-bahak sedangkan aku semakin kesal. Aku menonjok-nonjok bantal untuk melampiaskan kekesalanku.
“Lagi cek sound, Pa! Otewe kesurupan.” Teriak Vino. Sam tersenyum sambil mengibaskan tangannya ke arah Vino. Setelah itu Vino pergi sambil tertawa.
“Kok kamu diam aja, sih?” tukas ku kesal.
“Terus aku harus apa?”
“Ya bantu mikir lah, apa lah.” Aku mulai kesal berbicara dengan Sam.
__ADS_1
“Memangnya apa yang harus aku pikirkan?” Sam menatapku datar.
Aku mendelik lalu memukul lengannya. “Kamu tuh nyebelin ya. Mau taruh dimana wajahku kalau aku berangkat ke kantor?!”
“Tetap di kepala.” Jawabnya cepat. Rasanya ingin aku tonjok mukanya sekalian. “Karena kalo di pindah nanti aku kangen.” Imbuhnya yang langsung membuatku setengah tersipu.
Apa sih? Aku lagi bingung seperti ini bisa-bisanya dia bercanda dengan santainya. Belum pernah di semen ya itu mulut. Dan kampretnya aku langsung tersipu berkat ucapan itu. Siaal!
“Aku nggak mau kerja! Titik!” tegas ku.
“Jangan kekanakan, kita bisa menghadapi ini bersama.” Sam merapikan rambutku dan menyelipkannya di belakang telinga.
Katakan bagaimana caranya aku harus menghadapi orang-orang kantor? Dan teman-teman lucknut itu.
Sam berhasil menyeret ku untuk pergi bekerja hari ini. Walaupun kedatangan kami sedikit terlambat berkat drama yang kubuat. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa dalam hati. Semoga tidak ada gosip yang menyebar atau apapun itu.
Tolonglah, Tuhan ...
Tapi sepertinya doaku tidak di dengar Tuhan atau malah sepertinya aku berdoa kurang banyak. Karena begitu aku keluar lift dan sampai di lantai ruangan kerjaku, semua mata langsung tertuju padaku.
“Pagi semua!” aku berusaha memasang ekspresi sebiasa mungkin seolah tidak pernah terjadi apa-apa kemarin.
“Kamu pernah dengar nggak, Sam! Azab teman yang suka bohongi temannya sendiri?” suara Mbak Sari terdengar sinis.
Apakah CCTV sudah menyala di ruangan ini? Karena aku ingin melambaikan tangan tanda menyerah. Apa aku harus pura-pura pingsan lagi untuk menyelamatkan diri?
“Dan azab buat orang yang udah bikin gue sakit hati dan hampir kehilangan duit sepuluh juta!” sahut Rizal.
Ye itu mah derita lo!
Rio mengangkat tangannya. “Gue nggak ikutan lho, Mbak.”
Aku harus bagaimana?? Berpikir, berpikir ...
“Duh, kayaknya kepala gue ...” aku memegang kepala dengan ekspresi memelas.
“Halaaah! Nggak usah pake drama pura-pura pingsan lo, Del!” Lagi-lagi Mbak Sari berujar sinis.
Aku merengut masam di tempatku sedangkan Sam tertawa tanpa suara. Bukanya dia tadi bilang ingin menghadapi bersama, kenapa sekarang malah diam aja nih setan?
“Untuk mempersingkat, gue bakalan kasih lo waktu sepuluh detik untuk menjelaskan.” Ujar Mas Angga.
Gila! Satu menit aja ada enam puluh detik lah ini Cuma sepuluh detik mau bicara apa aku?
“Oke, begini ...” aku menatap Mbak Sari, Mas Angga, Rizal, Tiwi dan Rio yang menatapku tajam. Aku menggaruk tengkuk karena bingung. “Anu ...”
“Anu lo kenapa? Udah jebol?” sambar Mbak Sari tanpa perasaan.
“Belum ih!” Aku merengut masam. “Ini kenapa Cuma gue yang di interogasi? Biang keroknya juga ada di sini!” aku menunjuk Sam yang tengah tersenyum tanpa dosa dan melihatku dengan santainya. “Harusnya kalian tanya dia! Kenapa gue!?”
Semua menatap pada Sam yang langsung tersenyum tipis ke arah mereka. Dia langsung bersidekap penuh wibawa, dan tentu saja aura Sam tersebut seolah langsung memancarkan ancaman bagi mereka.
“Kan elo yang taman kita-kita. Bukan Pak Sam!” Rizal memberi alasan.
__ADS_1
“Oh bagus ya. Kalian nggak berani marahin dia karena dia Bos gitu? Terus mentang-mentang gue kacung?!” ujar ku kesal.
“Pokoknya lo!” Ketus Mbak Sari. “Lo itu tiba-tiba pacaran, tiba-tiba udah lamaran, lo nggak tiba-tiba hamil juga kan?”
Asbfgtk njiir!!
Aku berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskannya secara perlahan.
“Gue sebenarnya mau cerita Cuma nunggu waktu yang tepat aja.” Aku memasang ekspresi semelas mungkin.
“Halaaah, basi!” Mbak Sari mengibaskan tangan kesal.
“Loh kok gitu sih, Mbak. Harusnya kalian senang dong karena gue udah nggak jomblo dan ... Mau nikah.” Aku memelankan suara di kata terakhir.
Mbak Sari menatapku. “Gue seneng sih, tapi ngerasa tertipu aja karena lo nggak pernah cerita apa-apa. Padahal gue cerita semua tentang gue bahkan urusan ranjang gue.”
Yee, itu mah lo aja yang cerita, padahal gue mah nggak nanya.
“Sorry deh, sorry!” ujar ku memelas.
“Pokoknya lo!” Mbak Sari menatapku kesal. “Diam-diam lo ada main sama Bos. Dan lo begoo-begooin kita semua!”
“Iya, dan bikin sakit hati juga!” imbuh Tiwi.
“Dan bikin gue mau kehilangan duit sepuluh juta!!” Rizal menjerit lalu menatap ke arah Sam. “Pak, saya hanya bercanda, Pak.”
Aku mengeram kesal. Rasanya ingin kuremas-remas wajah Sam yang malah tertawa tanpa suara itu. “Dia yang nembak gue! Harusnya dia yang kena. Bukan gue!”
“Loh kan elo yang nerima!” celetuk Mas Angga yang langsung membuat leherku terasa tercekat.
“Bunuh aja gue, woy! Bunuh!” aku berteriak lebay karena tidak punya cara lain untuk menyelamatkan diri. “Pokoknya gue mau berhenti jadi kacung! Gue kapok!”
••
Kabar kedekatan antara aku dan Sam semakin menyebar ke seluruh kantor. Di tambah kabar pertunangan yang sudah kami gelar dan akan segera menikah. Aku merasa menjadi pusat perhatian dan hal tersebut benar-benar membuatku merasa tidak nyaman.
Benar-benar tidak nyaman ...
Setiap kali aku berjalan pasti akan selalu ada sepasang mata yang menatap lalu berbisik membicarakan tentang diriku. Aku tak menyangka kalau semua akan terjadi seperti ini, menyesakkan dan menganggu pikiranku. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi dan bersembunyi di tempat yang orang lain tidak bisa mengenaliku.
Dan hal yang membuatku merasa semakin buruk adalah aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bukankah aku sudah seperti orang bodoh sekarang?
Tapi ini semua memang resiko yang harus aku jalani. Karena sejak awal aku menjalin hubungan dengan Sam, aku sudah menebak kalau cepat atau lambat hari ini pasti akan datang. Hari dimana semua orang tahu tentang hubungan kami. Aku hanya perlu bersabar dan menghadapinya dengan besar hati. Karena bagiku selama ada Sam aku tetap akan bisa bertahan, selama dia mengulurkan tangan dan memberikan bahunya untukku. Aku yakin ... Aku masih bisa tersenyum.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TO BE CONTINUED....