
Sebelumnya aku mau cerita sedikit, boleh ya? Boleh dong. 😁
Makasih yang sudah memberi ucapan selamat karena cerita ini sudah mencapai 100 episode.
Nggak nyangka juga sih, padahal dari awal perkiraanku cerita ini paling mentok 100 eps itu udah sampai tamat, eh ... nggak tahunya malah lebih. Tapi ... nggak lebih banyak lho paling. haha.
Sekali lagi terima kasih buat dukungan kalian.
Tetap Like dan Vote selalu!!
Di share juga boleh.
Happy reading !!
##
Apa yang aku lalui belakangan ini terasa berbeda. Jika melihat kembali ke belakang, rasanya ada begitu banyak hal dan kejadian yang terjadi hingga membawaku pada titik ini.
Perlu aku ceritakan sedikit? Oke.
Aku perempuan yang tahun ini tepat berusia dua puluh tujuh tahun. Bekerja sebagai salah satu staff senior divisi promosi PT. FASHION NOVA, perusahaan yang bergerak di bidang pakaian jadi. Namun saat ini sudah merambat ke berbagai bidang lainnya. Perusahaan tersebut di kelola oleh keluarga konglomerat saat ini, yaitu Robert Athalarik Wijaya beserta saudaranya yang kini menetap di Singapura, Jacob Abigael Wijaya.
Bosku, alias manager di tempatku bekerja bernama Samuel Devano Gavin, pria yang tahun ini genap berusia tiga puluh satu tahun itu ternyata cucu dari pemilik perusahaan. Tentu itu kabar yang mengejutkan bagi diriku maupun seluruh jagat kantor. Karena selama ini dia berhasil menyembunyikan statusnya dengan baik selama bekerja sebagai Bosku. Dan kabar baiknya, bosku itu adalah kekasihku. Ups, bahkan saat ini sudah menjadi calon suamiku.
Bekerja dengannya selama hampir dua tahun sudah bisa membuatku mengenal sikapnya. Tukang marah, dingin, cuek, dan suka membuat keputusan seorang diri. Bermulut pedas, galak, jika kalian orang yang mudah tersinggung dan berhati kecil, aku sarankan jangan terlalu dekat dengan Sam. Karena percayalah hanya orang-orang berhati lapanglah yang mampu berdekatan dengannya. Setiap kalimat dan perintahnya seperti belati tajam yang akan menancap tepat di jantung. Dan itu sungguh menyakitkan.
Sungguh.
Dulu aku benar-benar selalu kesal dengan segala ucapan yang keluar dari bibirnya. Sam itu tidak lebih dari seorang Bos setan bin kampret yang pernah aku temui, aku selalu mengutuk setiap omelan yang dia lontarkan kepada anak buahnya. Tapi sejak dia menjadi pacarku, dia mulai sedikit berubah. Bahkan tak jarang membuatku senam jantung mendadak karena kelakuannya. Sweet!
Cenderung posesif dan pencemburu, sedikit mesum dan kabar baiknya dia ternyata sangat penyayang sekali. Hal tersebut mengingatkanku dengan kata-kata
'tak ada yang pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu' (kutipan dari film Twilight breaking down part 2)
Dan hal yang baru aku tahu dan cukup mengejutkan, ternyata selama ini kemanapun dan dimanapun Sam berada ada lima orang atau bisa di sebut Bodyguard yang selalu setia memantau gerak-gerik Sam, dalam radius jarak lima meter. Baik lima meter di depannya, belakang atau samping. Wow! Benar-benar hal yang tidak pernah terpikirkan olehku sama sekali.
Oh ya, aku juga sudah merencanakan pengunduran diri dari perusahaan Sam. Sebenarnya, bukan karena aku tidak betah lagi bekerja di sana. Hanya saja ada peraturan yang di larang menjalin hubungan lebih antar karyawan atau atasan. Sam pasti tidak bisa keluar dong orang dia calon penerus selanjutnya, jadi aku putuskan akulah yang mengundurkan diri. Dan ternyata keputusanku tersebut benar-benar tepat sekali.
Aku sudah menerima tawaran dari calon Papa mertua beserta calon kakek mertuaku untuk menjadi dosen di salah satu kampus yang mereka kelola. Dan kabar baiknya Rektor di sana juga anggota keluarga Sam.
Selain itu aku dan Sam harus fokus pada rencana pernikahan kami yang sudah berada di depan mata.
Iya, tinggal beberapa hari lagi.
Aku bahkan tidak pernah bermimpi kalau semuanya akan menjadi seperti ini. Maksudku, statusku dengan Sam kini selangkah lagi akan menjadi sepasang suami istri. Rasanya seperti mendapat durian jatuh dengan batang-batangnya sekalian. Menimbulkan kepanikan, rasa senang, namun juga menyesakkan ketika semua orang sudah mengetahui bagaimana hubungan kami.
Well, aku sekarang mulai tidak peduli dengan beragam komentar nyinyiers dari para haters. Bye!
Sekarang aku bukan kacung lagi, aku sekarang adalah Nyonya Samuel. Ck! Sombong dikit boleh lah.
Dan aku sama sekali tidak menyangka waktu akan berjalan secepat ini. Aku pikir satu bulan akan berjalan sedikit lebih lama, tapi ternyata tidak semua terasa begitu cepat.
Hari ini aku resmi keluar dari perusahaan Sam dan Sam sudah resmi mengambil alih posisi kakek Robert sebagai bos besar.
Sore ini Sam dengan besar hati mengizinkan semua teman-temanku untuk memeluk dan mengucapkan perpisahan denganku. Karena untuk seterusnya aku sudah tidak akan lagi bekerja di sini.
Haru dan sedih? Tentu saja.
Tidak ada yang lebih menyedihkan dari yang namanya sebuah perpisahan. Meskipun aku meyakini perpisahan akan tetap ada, tapi tetap saja semua itu terasa menyedihkan. Semua menangis dan berharap aku bisa bekerja lagi. Bahkan Mbak Sari sampai sesenggukan dalam pelukanku.
__ADS_1
Ayolah, jangan buat menjadi drama seperti ini. Aku hanya keluar dari perusahaan bukanya pindah benua. Apalagi rumah baruku nanti malah jaraknya akan semakin dekat dengan kantor.
“Gue nggak nyangka lo tega ninggalin gue, Del. Kata lo dulu kita bakal bertahan sama-sama terus melawan bos-bos galak yang menindas kita. Tapi apa? sekarang lo ninggalin kita.” Mbak Sari masih menangis dalam pelukanku.
“Kan sekarang Bos galaknya udah nggak ada di sini.” Ujarku sedikit mewek. Ya mau bagaimanapun aku tetap tak bisa menahan rasa sedih yang kini aku rasakan.
“Bohong!”
“Gue denger pengganti Pak Sam itu sepupunya, siapa tahu dia juga galak.” Tiwi mengusap air matanya.
Benar juga, jika Sam adalah setan maka Raffael adalah rajanya setan kali ya. Kata Sam, Raffael itu tak ada bedanya dengan dirinya. Bahkan bisa jadi melebihinya. Tapi, aku tidak mau membocorkan rahasia ini kepada mereka. Takut mereka trauma sebelum bertatap muka. Ck!
Mbak Sari melepas pelukanku. Dan Rizal mulai mendekat ke arahku, laki-laki mungkin lebih bisa menyembunyikan perasaan sedihnya dari pada seorang perempuan. Tapi aku lihat baik Rizal, Mas Angga dan Rio matanya memerah semua.
“Gue boleh peluk lo.” Rizal memasang ekspresi sedih di depanku.
“Boleh mumpung Sam belum datang.” Rizal tersenyum lalu memelukku.
“Nggak nyangka banget sih kita bakal pisah, Del. Lo tega banget sama gue. Lebih tega lagi lo nyuruh gue datang buat jadi tamu di hari pernikahan lo.” Aku langsung memukul dada Rizal dan melepas pelukannya.
Tadinya yang suasanya haru, sekarang sedikit mulai berkurang gara-gara ucapan Rizal. Semua tertawa sambil sesenggukan.
“Pesen gue nggak banyak, Del. Yang pertama, lo jangan lupain kita ya, kita tetap jadi teman sampai kapanpun.” Dan ucapannya tersebut langsung di angguki oleh yang lainnya. “Dan yang kedua ... Gue minta tolong banget, lo jangan tagih duit sepuluh juta gue ya.” Rizal memasang ekspresi semelas mungkin yang ia punya.
Semua kembali tertawa lagi, bahkan kini bercampur emosi. Bisa-bisanya Rizal mengambil kesempatan dalam situasi haru seperti ini.
“Bangcat lo, Zal.” Omel Mas Angga, lalu memelukku. “Baik-baik ya, Del, gue yakin lo makin bahagia setelah nikah sama Sam.”
“Pastilah, Mas.” Ujarku seraya tersenyum.
Begitu Mas Angga melepas pelukannya, Tiwi langsung berlari ke arahku. “Mbak, gue harap lo nggak akan pernah bosan dan mengabaikan chat yang berisi curhatan gue nanti. Kalo lo berani mengabaikan satu chat pun dari gue, gue bakal datang ke rumah lo terus nangis-nangis di depan rumah lo.”
“Apa sih lo, Mas.” Tiwi mengerucutkan bibirnya ke arah Mas Angga yang sedang tertawa.
Rio yang paling terakhir. Dia mulai mendekat lalu tersenyum ke arahku. “Sebelum gue peluk lo, gue mau nyanyi dikit buat lo, Mbak.”
Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku
Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku
Jangan pernah lupakan aku
Jangan pergi dari aku ...
(Nidji, Jangan lupakan)
“Ah elaaah, gue kalah sama bocah.” Jerit Rizal.
Rio dan aku hanya tertawa setelah melepas pelukan kami. Dan tepat sekali setelah itu Sam datang. Dia langsung tersenyum begitu keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah kami.
“Sudah pamitannya.” Tanya Sam, aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kamu nggak pamitan nih, Sam, kamu kan juga udah nggak jadi Bos kita lagi. Ck, kalian berdua benar-benar pasangan penghianat ya.” Ujar Mbak Sari pura-pura marah.
Sam terkekeh pelan, dia segera berdiri tegak dan menatap satu persatu wajah yang selama hampir dua tahun ini sudah menjadi anak buahnya.
__ADS_1
“Mungkin nggak banyak yang bisa saya ucapkan. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, karena kalian sudah pernah menjadi anak buah terhebat saya.” Baik aku maupun yang lainnya mulai tersenyum ke arah Sam. “Kalian yang tetap mau bertahan dengan segala kelakuan saya dan kerjaan yang saya berikan, terima kasih. Saya minta maaf kalau ada banyak salah selama menjadi Bos kalian. Dan karena saya masih berstatus sebagai Bos kalian sebelum kalian mendapat manager baru, saya juga akan mengucapkan salam perpisahan dengan Adelia.” Kini Sam menatapku.
“Terima kasih sudah menjadi anak buah saya selama ini, walaupun kamu lebih banyak ngeyelnya dari pada yang lain tapi saya bangga dengan kamu. Semoga kesuksesan selalu menyertai langkahmu calon istriku.” Semua bersorak ketika Sam mengucapkan kalimat tersebut.
“Sekali lagi terima kasih atas kerja sama kalian selama ini, dan terima kasih karena kalian sudah mau menjadi teman Adelia. Kalian mungkin yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Adelia dari pada saya, maka dari itu saya mengucapkan terima kasih. Saya berharap kalian bisa tetap bertahan dan menjadi tim yang lebih baik lagi, walau kalian sudah kehilangan salah satu teman kalian. Angga, Sari, Rizal, Tiwi dan Rio ... Terima kasih.”
Percaya atau tidak ucapan Sam tersebut membuat suasana menjadi haru kembali.
“Kita boleh peluk Bapak.” Ucap Rizal, dan tanpa aba-aba dia langsung memeluk Sam begitu saja setelah itu di susul oleh yang lainnya.
Astaga, ini sekumpulan orang dewasa apa anak TK sih?
Tapi aku benar-benar bersyukur sudah pernah menjadi bagian dalam tim ini. Mempunyai teman-teman yang baik dan menyenangkan. I'll gonna miss you all.
“Tunggu dulu, sebelum pulang mari kita foto bersama buat kenang-kenangan. Mumpung tim masih lengkap.” Usul Rio.
“Setuju!!” tentu saja tanpa pikir panjang kami langsung setuju.
Rio meletakkan ponselnya di depan meja lalu segera berlari menyusul kami, berdiri di paling depan dengan gaya paling narsis.
“SUKSES!!” teriak kami bersama.
“Jangan lupa datang ya ke nikahan saya dan Adelia, walaupun hanya sekedar untuk makan dan sebagainya.” Ujar Sam mengingatkan.
Eh, sepertinya ada yang salah dengan ucapan Sam.
“Siap Booos!!” semua mengangkat undangan pernikahanku dengan semangat yang sudah sejak pagi tadi sudah aku bagikan.
Coba katakan siapa sih yang tidak siap kalau di suruh makan gratis??
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Siap-siap yang pada mau kondangan ke nikahannya Adelia dan Samuel besok.. haha..
Sekali lagi terima kasih buat kalian yang sudah mendukungku.
Besok kan hari Minggu, Happy Sunday dong ya!
Rencananya besok, aku mau up spesial part wedding Sam sama Adel. Tapi ... belum tahu deh besok, hihi.
Biasanya hari Minggu malah banyak urusan mendadak, maklum ya eike kan juga punya keluarga. Di tunggu besok aja ya...
salam dariku penulis amatir 😘
__ADS_1