
Selamat siang semua...
Sehat-sehat ya..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Share juga boleh bwanget.
Happy reading !!
##
Sam melajukan mobilnya ke arah pusat perbelanjaan. Aku semakin heran, kenapa dia membawaku belanja? Rasanya seharian tadi Sam sama sekali tak mengatakan kalau ingin berbelanja bahan makanan. Tapi wajar sih, orang seharian dia diam saja.
Dasar patung hidup.
“Ayo masuk.” Ajaknya.
Aku menaikkan satu alisku. “Kamu mau belanja?”
Sam menggeleng. “Bukan aku, tapi kamu.”
“Hah? Aku?” Aku sedikit terkejut. “Belanja apa? Aku nggak butuh apa-apa.”
Sam menggigit bibir bawahnya. “Sudahlah, ikut saja.”
Mau tak mau aku harus mengikutinya. Sam mengajakku masuk ke boot perlengkapan mandi. Dia berjalan ke tempat rak shampo, dan aku semakin bingung karena Sam berhenti di bagian rak shampo wanita.
“Kamu biasanya pakai shampo apa?” tanya Sam yang berhasil membuat kedua alisku terangkat tinggi.
“Aku?” telunjukku menuding diriku sendiri.
“Siapa lagi.” Ucapnya meyakinkan.
Aku hanya tersenyum canggung lalu mengangguk-angguk. Aku segera berjalan dan mengambil sebotol shampo yang biasa aku pakai. Untung saja masih ada stoknya.
“Kalau sabun mandi.” Sam menatapku.
“Sam kamu mau ngapain sih? Kamu mau beri aku hadiah alat-alat mandi.” Aku benar-benar tak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala Sam saat ini. Rasanya seperti ada dinding penghalang yang tak boleh aku tembus sama sekali.
“Buruan apa?” bukanya menjawab malah balik nanya dan menyuruh.
Aku meliriknya. Lalu berjalan ke arah rak sabun dengan langkah kesal. Aku mengambil sebotol sabun cair dan melemparkannya dengan kesal ke keranjang belanjaan.
Tak sampai di situ. Setelah selesai membayar Sam masih mengajakku berpindah tempat. Kali ini ke boot pakaian wanita.
Astaga, what happen?
“Kita ngapain lagi.” Aku menghentikan langkahku sembari menahan lengan Sam.
“Cari baju buat kamu.” Ucapnya santai.
“Buat apa, Sam?” jujur saja aku semakin penasaran.
Sam menghela nafasnya pelan. “Sudah, lebih baik cepat masuk.” Sam menarik lenganku tetapi aku menahannya.
Aku mulai melipat kedua tanganku ke depan. “Aku nggak mau masuk kalo kamu belum bilang sebenarnya ini buat apa?”
Sam berdecih lalu mendekatiku. Dia menundukkan kepalanya tepat di samping telingaku. “Nanti aku kasih tahu setelah kamu selesai memilih baju.”
Aku hanya bisa mendengus dan memutar mataku malas. Untuk kedua kalinya aku terpaksa lagi mengikuti kemauan Sam. Aku mulai memilih baju, dan yang bikin kesal lagi Sam tak hanya menyuruhku memilih baju. Tetapi dia juga mengatur baju apa yang harus aku beli.
Sumpah ya. Kalau urat maluku sudah putus sudah aku maki-maki saat ini juga Sam kampret ini. Biar sekalian jadi bahan tontonan mbak-mbak penjaga yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Sam. Sepertinya mereka tengah menunggu-nunggu moment saat Sam akan bertanya dan meminta bantuan mereka.
Akhirnya ... Aku sudah berhasil keluar dari mall dan kembali duduk di mobil Sam.
__ADS_1
Sam kembali melajukan mobilnya ke arah apartemennya dan membawa masuk barang-barang yang sudah kami beli. Atau lebih tepatnya barang punyaku.
“Sekarang sudah sampai di apartemen kamu. So, jelaskan apa maksud kamu.” Ucapku begitu aku dan Sam sudah berada di dalam apartemen.
“Aku ingin kita makan malam bersama.” Ujarnya.
Aku masih belum paham apa maksudnya. Terus apa hubungan makan malam dengan aktivitas belanja tadi.
“Kalo mau makan malam kenapa beli baju sama sabun? Kamu nggak akan mengajak aku makan ini kan, Sam.” Aku mulai menatapnya heran.
Sam terkekeh pelan. Ah ... Akhirnya aku bisa melihat tawanya lagi. Begitu dong, biar hatiku adem.
“Mana mungkin.” Sam menggenggam kedua tanganku. “Aku ingin makan malam bersama secara santai, layaknya berada di rumah. Jadi ... Kamu perlu mandi dan berganti pakaian.”
Tunggu dulu? Makan malam seperti di rumah. Jadi maksud Sam kita biar kayak pasangan suami istri begitu. Ah ... Wajahku langsung terasa panas, semoga saja pipiku saat ini tak merona.
“Ayo.” Sam menarik lenganku.
“Hah? Mandi bareng.” Ucapku histeris. Sungguh dangkal pikiranku, kenapa aku malah berpikiran seperti itu. Aish!
Sam menatapku dengan alis berkerut lalu setelah itu dia tertawa sedikit lebih keras.
“Ya enggak lah, memangnya kamu mau?” Sam menggodaku dan aku langsung menggeleng. Padahal dalam hati bilang mau, ck!
“Maksudku kita ke kamar, kan kamar mandinya ada di sana.” Imbuhnya.
Huft ... Beri aku waktu untuk bernafas lega sesaat.
Aku segera masuk ke kamar mandi Sam untuk memulai aktivitas mandi ku. Kamar mandi Sam sangat luas, bahkan ada bathub berukuran cukup besar dan bilik bersekat kaca untuk mandi.
Apa Sam juga menggunakan bathub itu untuk berendam. Aish! Sudah seperti anak perawan saja Sam.
Selesai mandi dan berganti baju aku segera keluar dari dalam kamar mandi. Dan ternyata Sam masih berada di tempatnya, duduk di atas ranjang kasurnya yang berukuran king size itu.
“Sekarang giliranku untuk mandi.” Sam menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga lalu tersenyum. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi.
Aku tak berniat untuk langsung keluar dari kamar Sam. Aku memilih untuk melihat-lihat isi kamarnya terlebih dahulu. Ya, kelihatannya sih biasa saja khas kamar seorang laki-laki yang di dominasi cat berwarna abu-abu dengan desain yang modern. Tetapi mataku langsung tertuju ke sebuah foto yang berada tepat di nakas samping tempat tidur Sam.
Foto tersebut sepertinya di ambil saat Sam masih kecil. Di samping kanannya ada Papanya yang beberapa hari lalu sudah aku jumpai. Dan di sisi kirinya ada seorang wanita cantik tengah tersenyum sembari memeluk Sam. Aku yakin dia adalah Mamanya Sam. Senyum Sam sangat mirip sekali dengan ibunya, hangat dan manis.
Aku tersentak begitu mendengar suara pintu terbuka. Tanpa aku sadari Sam sudah menyelesaikan acara mandinya. Dia keluar hanya dengan menggunakan lilitan handuk sebatas pinggang saja. Hal pertama yang aku rasakan adalah gugup dengan ritme detak jantung yang mulai berantakan.
Pemandangan itu mampu membuatku tertegun dan menelan sedikit ludahku. Sam tampak begitu seksi ketika dalam keadaan Shirtless. Kini aku benar-benar bisa melihat secara langsung penampakan tubuh atletis seorang Samuel Devano Gavin.
Tubuh bagian atasnya masih basah dan terdapat buliran-buliran air menetes di sana. Kulitnya mulus tak bercacat, dada bidang, lengan yang berotot, di tambah perut sixpack nya, ah ... benar-benar bentuk yang sempurna. Rambutnya masih basah dan berkelompok secara acak menetesi wajah Sam. Dia berjalan maju, seketika wangi fresh dari shampoo dan sabunnya berhasil menusuk rongga hidungku.
Laki-laki tampan yang nyaris sempurna. Shiit!
Tanpa aku sadari Sam sudah berdiri di depanku. Aku segera mengerjap untuk menyadarkan ku dari kekhilafan yang bisa saja berujung bahaya ini.
“Kamu mau ngapain?” aku setengah merutuki diriku sendiri. Harusnya aku langsung saja berdiri dari pada menanyakan hal tersebut.
Bodoh.
Sam mengerutkan alisnya. “Mau ganti baju lah. Kamu mau tetap di sini? Mau melihat ku ganti baju.” Sam menaikkan satu alisnya dengan raut menggoda. Sialan, wajahku mulai memanas. Aku segera meletakkan bingkai foto itu ke tempat semula lalu berdiri.
“A-aku tunggu di luar.” Ujarku sambil melangkah.
“Yakin?” Sam menggodaku lagi dan jelas aku semakin malu. Aku hanya bisa menggeleng sembari menggigit bibir bawahku. “Enggak mau lihat?”
Hah ... Jantungku sepertinya sudah berhasil copot dan jantung ke lambung. Kuatkan hamba-Mu ini Tuhan, bantu hamba berjalan sampai ke pintu dengan selamat. Aku tidak mau pingsan di sini.
Secepat kilat aku berlari ke arah pintu lalu menutupnya secara perlahan. Sebelum pintu itu benar-benar tertutup aku menyempatkan melirik Sam lagi. Dia sedang menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.
“Iya. Aku mau lihat Sam.” Bisik ku pelan. Aku segera berjalan ke bawah sembari terkikik.
__ADS_1
Semoga perbuatan ku ini tidak di hitung dosa.
##
Aku dan Sam mulai memasak bersama. Dia terlihat lebih cekatan dari pada aku. Bahkan acara memasak ini lebih dominan Sam yang mengerjakannya. Aku selalu menungguinya sembari memberikan pertanyaan-pertanyaan aneh ketika Sam sedang meracik ataupun menumis bumbu. Sesekali kita juga tertawa bersama ketika aku mengeluarkan jawaban konyol dan tak masuk akal.
Sam masih sibuk dengan masakannya, wajahnya terlihat tenang dan damai. Tiba-tiba sesuatu dalam dadaku mulai bergejolak membuat bibirku tak mampu menahan senyuman.
Ternyata benar, bahagia itu memang sederhana.
“Kenapa?” aku menaikkan kedua alisku saat mendengar pertanyaan Sam.
“Nggak apa-apa tuh.” Aku lalu mengerucutkan bibir.
“Nggak apa-apa tapi lihatnya sampai senyum-senyum sendiri.” Godanya dan aku segera memukul lengan Sam.
Enak aja. Aku kan malu kalau tertangkap basah begini.
“Oh ya, Sam. Habis ini kita foto bersama ya.” Pintaku dengan nada manja.
“Buat apa?” Sam mematikan kompornya. Satu tangannya bersandar di meja kitchen set sedangkan yang satunya meraih pinggangku.
“Hm ... Buat kenang-kenangan lah.” Jawabku mantap.
Namanya foto itu media untuk mengabadikan moments sekaligus kenang-kenangan. Pertanyaan Sam itu terkadang juga sangat aneh. Masa aku minta foto buat penangkal tikus, mana mempan. Nanti malah tikusnya jatuh cinta lagi setelah lihat foto Sam.
Preeet.
“Kenapa harus pakai kenang-kenangan?” Tanya Sam.
Aku mulai malas menjawab. “Ya nggak apa-apa. Kok kamu dari tadi tanya kenapa terus sih?”
Sam malah tersenyum. Tangannya bahkan semakin membawaku ke dalam dekapannya. Walaupun hanya memelukku dengan satu tangan tetapi rasanya tetap nyaman dan hangat.
“Enggak perlu kenang-kenangan.” Ucap Sam lembut.
“Kenapa?” tanyaku penasaran. Sam malah terkekeh, satu tangannya mulai mengusap pipiku lembut lalu berhenti di daguku. Sam mengangkat daguku supaya wajah kami semakin dekat.
“Karena aku nggak akan ninggalin kamu.” Jawabnya.
DEG.
Ok! Sam sepertinya benar-benar ingin membuatku pingsan.
“Aku akan selalu ada di sisimu. Sampai kapanpun, Adelia.” Sambungnya kemudian.
Detik itu juga Sam berhasil mendaratkan sebuah kecupan tepat di atas bibirku. Begitu hangat dan lembut. Aku hanya bisa memejamkan kedua mataku mencoba menikmati apa yang Sam berikan.
Mungkin dari sana aku bisa menemukan secuil kesungguhan atas apa yang Sam ucapkan.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1