My Boss Samuel

My Boss Samuel
96. Sudah Tiba Saatnya


__ADS_3

Halloo semua!


Masih semangat kan? Ini mungkin salah satu part yang kalian tunggu-tunggu.


Jadi jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Kabar kalau Sam adalah cucu dari pemilik perusahaan dan akan segera menggantikan kakeknya itu terus tersebar. Bahkan tak jarang kalau ada beberapa rekan Managernya yang mendatangi ruangannya dan mengucap selamat seharian tadi. Padahal saat ini Sam belum benar-benar di angkat resmi, ya walaupun dia sudah sering melakukan dua pekerjaan baru-baru ini.


Dan hal tersebut malah membuat Sam uring-uringan seharian tadi. Mungkin dia merasa terganggu gara-gara sikap rekan-rekannya, tetapi dia masih merasa sungkan untuk menegur jadi dia melimpahkan amarahnya ke anak buahnya.


“Sebagai ketua Tim B kamu harusnya bertanggung jawab, Ngga!” aku menatap kasihan pada Mas Angga saat laporannya di robek Sam begitu saja.


Kami di bagi menjadi dua kelompok. Aku, Mbak Sari dan Rio menjadi Tim A. Sedangkan Tim B, Mas Angga, Rizal dan Tiwi.


“Kan aku tadi udah minta pendapat kamu, Sam. Kamunya malah bilang terserah dan ikuti rencana awalku. Ya udah begitu jadinya.” Jelas Mas Angga.


“Harusnya bukan seperti ini! Kamu bisa kan mengembangkan ide yang lebih baik lagi.”


Padahal benar kata Mas Angga, sudah sejak pagi tadi Mas Angga berusaha meminta pendapat Sam. Tapi dianya selalu sibuk menanggapi ucapan orang-orang yang datang ke ruangannya. Ish! Kalau melihat dia seperti ini kok rasanya sebal sekali ya.


Semua kemarahan tidak jelas itu terus berlangsung hingga sore. Dan baru menghilang setelah Tim B membenahi dari awal dan mendapat persetujuan dari Sam.


“Calon istri Bos pasti beruntung banget ya.” Suara Rio memecah keheningan.


Jam menunjuk di angka lima, dan itu berarti tinggal satu jam lagi sebelum jam pulang.


“Ya semoga aja calon istrinya enggak kaget kalo tahu suaminya suka marah nggak jelas gitu.” Sahut Mas Angga.


Aku tahu pasti dia masih trauma dengan kemarahan Sam tadi. Tapi tenang aja, aku tidak keget kok kan sudah biasa. Hihi.


“Tapi gue penasaran deh sama calon istrinya pengen lihat. Kira-kira kita besok di undang enggak ya?” imbuh Mbak Sari.


Aku tersenyum dalam diam. “Ya pasti di undang lah, kan kita anak buahnya. Lagian Bos pasti juga kasihan banget sama kalian yang udah berharap gitu dapat makanan gratisan.” Ucapanku berhasil membuat semuanya tertawa.


“Mbak, bawa tas yang besar ya biar muat banyak.” Celetuk Rizal yang semakin membuat ruangan ini ramai.


“Bawa karung sekalian sono, kalo acaranya sudah selesai langsung double job mungut sampah.” Ledek Mas Angga.


“Tapi gue sedih nih.” Ucapan Tiwi berhasil mencuri perhatian dari kami semua.


Kenapa lagi itu bocah? Apa dia benar-benar tidak terima kalau Sam akan nikah. Kok aku jadi merasa bersenang-senang di atas kesedihan orang lain begini ya. Haha.


“Halaah, nggak usah sedih yang penting kita datang terus makan banyak. Syukur-syukur bisa ngantongin buat di bawa pulang.” tukas Rizal yang lagi-lagi membuat tertawa.


Jiwa-jiwa warga +62 banget!


“Jiwa missqueen kok nggak ada habisnya!” sindir ku.


“Gue beneran sedih ... Sedih karena nggak ada yang bisa gue ajak ke nikahan Pak Sam nanti, hiks.” Semua langsung bersorak ke arah Tiwi. Aku kira kalau sedih beneran.


Tiba-tiba mataku dan teman-temanku terpusat ke Rio yang tengah diam memasang senyum manisnya.


“Kenapa?” tanyanya polos.


Rizal langsung berdiri sambil mengusap-usap dagunya. “Lo nggak ada niat gitu buat ngajakin Tiwi. Dia cantik lho, single lagi.”


Rio terkejut. “Pasti ngajaklah, Mas, paling kita juga berangkat bareng kan nanti.”


“Kayaknya kalian berdua cocok deh.” Goda Mbak Sari.


“Iya, Mbak, cocok Cuma aturan perusahaannya saja yang nggak cocok.” Celetuk Rio yang berhasil membuat Tiwi tersenyum malu.


Waduuh, bakalan ada pasangan baru ini kayaknya.


Di tengah-tengah candaan kami tiba-tiba seseorang keluar dari dalam lift. Dia berjalan penuh semangat sambil tersenyum ke arah ruangan kami.


“Eh, Mira mau ngapain nih?” tanya Mas Angga.


Mira? Mau apa dia?


Mira tersenyum, menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Mau ketemu Pak Sam, ada kan?”

__ADS_1


“Ada, ada! Mau gue temenin masuk.” Goda Rizal dan hal tersebut malah membuat tingkahnya semakin ganjen.


“Enggak usah, Mas. Makasih ya.” Dia pamit lalu berjalan ke arah ruangan Sam.


Tiba-tiba perutku terasa mual, aku ingin muntah. Muntah ke muka Mira. Bisa tidak sih wajahnya itu tidak usah sok kecantikan begitu. Apalagi hari ini dia memakai rok yang sangat ketat di tambah kemeja yang ketat juga. Aku curiga jangan-jangan itu baju jaman SD nya di pakai lagi.


“Semok banget tuh cewek!” celetuk Rio yang langsung membuatku melotot.


“Selera lo kayak gitu!?” tanyaku nyolot.


Rio terlihat bingung dengan ucapan ku. “Gue Cuma bilang dia semok, Mbak, bukan berarti dia selera gue.”


“Masa sih? Di lap dulu itu ilernya, Ri.” Ucap Mbak Sari yang membuat semuanya tertawa, kecuali aku.


Seketika mood ku hancur gara-gara kedatangan kunti kejepit pintu itu. Ngapain sih pakai ke ruangan Sam segala? Mana sudah mau jam pulang lagi.


Tiba-tiba aku menatap ke sebuah map yang di berikan Sam siang tadi. Oh ya, aku harus mengembalikan map ini sekalian ingin melihat apa yang mau di lakukan Mira di ruangan Sam.


“Gue kasih ini ke Bos dulu ya.” Aku segera berdiri lalu masuk ke ruangan Sam.


Begitu pintu terbuka aku bisa melihat Mira dan Sam duduk di sofa yang ada di ruangan Sam secara berhadapan. Dan aku semakin sebal ketika melihat gaya duduk Mira. Seolah dia ingin memamerkan pahanya ke Sam.


Dia sedang asyik tertawa dengan gaya seanggun mungkin ketika aku masuk ke dalam. “Laporan tadi siang, Pak.” Ujar ku datar.


“Oh, iya taruh di atas meja saja. Kalian sudah mau pulang?” tanya Sam.


“Iya nunggu jam enam.” Ucapku datar sambil melangkah ke meja Sam.


Aku melangkah dengan kesal, ketika mendengar Mira ngobrol dengan Sam. Dia berusaha sekali menganggap ku tidak ada, bahkan dia sama sekali tidak menoleh ke arahku.


Aafdjfkfbtjk njiir!!


“Tolong kamu bawa laporan Angga sekalian ya, Del.”


“Yang mana?!” kataku sedikit ngegas sambil menatap Sam.


“Yang warna biru.”


Aku mendengus kasar sambil mencari map biru di antara beberapa tumpukan map di atas meja Sam.


“Kalau begitu saya pamit ya, Pak.” Ingin aku berkata, nggak usah sok manis lo ganjen!


“Enggak tahu, Pak. Sejak kemarin sakit terus bagian pergelangan kaki. Apa ini efek habis jatuh ya.”


‘Enggak ada yang tanya ganjen!’ Teriakku dalam hati.


Sumpah ya ini kunti kejepit pintu harus segera aku hempaskan. Sebelum perutku kembali mual lagi gara-gara melihat tingkahnya.


Aku lihat Mira berusaha berdiri dan berjalan, dan lagi-lagi dia berhenti dan mengaduh kesakitan. Hah, rasanya aku ingin muntah sekarang!


“Saya bantu sampai di luar.” Sam langsung berdiri begitu saja.


Apa? Dadaku langsung terasa sesak begitu saja. Rasanya kepalaku ingin meledak.


“Biarin aja lah, Pak. Kayaknya nggak kenapa-kenapa tuh kakinya. Akting kali!” sindir ku sekalian biar si Mira tahu rasa.


“Tapi dia kelihatan kesakitan beneran lho, Del.” Ucap Sam yang membuat Mira tersenyum dan menatapku sinis.


Mati wae lo, ganjen!


“Lagian ini benar-benar sakit, Mbak. Aku habis jatuh kemarin.”


Bodo amat!!


Sam menatapku sekali lalu dengan segera ia mendekati Mira dan tentu dengan sangat senang hati Mira ganjen itu langsung mendekap lengan Sam untuk berjalan keluar ruangan. Aku yang melihat adegan tersebut benar-benar merasa muak, aku sudah tidak tahan lagi.


Ternyata Mira ingin bermain-main denganku ya? Belum tahu bagaimana nekatnya aku kalau sudah merasa kesal, hah? Aku menghentakkan kakiku ke lantai dengan keras. Lalu menyusul berjalan di belakang mereka. Aku lihat Mira sengaja mendekatkan dirinya ke Sam, bahkan aku lihat dia berusaha menempelkan dadanya ke lengan Sam. Wadefaak!!


“Mira kenapa, Pak?” teman-temanku langsung heboh melihat kejadian tersebut.


“Enggak apa-apa kok. Kaki saya sakit.” Ujar Mira sok lembut.


“Sakit beneran apa sakit-sakitan ya.” Celetuk Mbak Sari dengan nada menyindir.


Aku mendukungmu Mbak Sari!


“Mau gue yang antar, gue antar sampai ke ruangan deh.” Tawar Rizal. Sam hampir menyetujui tawaran Rizal tetapi Mira langsung mengaduh dan semakin menempel di lengan Sam.

__ADS_1


Aku melotot di depan pintu ruangan Sam. Dadaku sudah sangat bergemuruh sekali. Bisa-bisanya sih Sam mau di pegang wanita lain seperti itu. Coba kalau itu aku, pasti dia akan langsung marah dan menonjok muka prianya.


“Pak Sam.” Panggilku tetapi tak membuat Sam menoleh sama sekali karena Mira terus saja merengek.


Baiklah, pilihan terakhir. Jika Sam tidak juga berhenti maka aku bersumpah akan memeluk Rizal di depan Sam.


“Sayang!” Sam langsung berbalik dan membuat Mira hampir terjatuh gara-gara pegangan tangannya terlepas dari lengan Sam.


Mira menatapku seolah aku orang gila. Sama seperti teman-temanku yang juga mendengar teriakanku barusan. Seolah aku baru saja kerasukan jin penunggu kantor.


“Ya.”


Dan jawaban singkat yang keluar dari mulut Sam seketika langsung membuat semua yang ada di ruangan ini melongo dengan bola mata yang hampir nyaris keluar dari tempatnya.


Aku merasa jarum jam seakan langsung berhenti, membiarkan aku dan Sam saling pandang. Suasana begitu sunyi benar-benar nyaris seperti dunia berhenti berputar.


Mungkin kurang lebih selama satu menit kejadian ini berlangsung. Hingga akhirnya aku berusaha menelan ludahku dengan susah payah. Aku merasa hampir mati berdiri.


Braak!!


Suara map jatuh ke lantai itulah yang memecah keheningan ini. Seolah jarum jam kembali berjalan. Aku segera menatap ke arah teman-temanku yang sama sekali belum berubah ekspresi wajahnya.


“ALLAHU AKBAR!!” Pekik Rizal kencang sambil memegangi kepalanya.


“YA ALLAH !! ASTAGHFIRULLAH !!” Tiwi memegang dadanya.


“YA ALLAH!! ALLAHU AKBAR!! ASTAGHFIRULLAH HAL 'ADZIM. ALLAHU AKBAR!!” Pekik Mbak Sari.


Mereka kenapa sih? Kok pada nyebut begitu, memangnya habis lihat jin kantor apa gimana sih.


Aku mengangkat kedua tangan ke atas. “G-gue bisa jelasin.”


Mbak Sari langsung berlari ke arahku dan meraih jari tanganku. Dan hal yang sama di lakukan oleh Rizal, dia berlari dan meraih jari tangan Sam. Mereka mengangat tanganku dan tangan Sam secara bersamaan.


“Cincin ini?!” pekik Mbak Sari.


“YA ALLAH ... ASTAGHFIRULLAH ... GUE NGGAK KUAT!!” Rizal langsung melepas tangan Sam dan bersandar ke meja Mas Angga.


“Sabar, nyebut ... Nyebut, ini minum dulu.” Mas Angga menyodorkan secangkir teh ke Rizal.


“J-jadi Mbak Adel dan Pak Sam ...” Tiwi tak melanjutkan ucapannya.


Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku sambil geleng-geleng.


“Jadi Adelia calon istri lo!” Mbak Sari langsung memekik dan menunjuk Sam secara frontal.


Sam mengangguk santai. “Iya.”


Semua kembali hening lagi. Bahkan aku melihat ekspresi Mira benar-benar seperti orang hampir pingsan. Aku tidak mengira kalau semua akan terjadi seperti ini. Tetapi satu yang aku yakini bahwa cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Dan itu adalah hari ini.


“Ayo kita pulang.” Sam tersenyum, mendekatiku lalu meraih tanganku. Dan lagi-lagi hal tersebut membuat semuanya memekik. “Kalian juga boleh pulang.”


Tidak ada jawaban.


Semua masih melotot, memandang tak percaya dengan apa yang ada di depan mereka.


“PAK SAM!! SAYA HANYA BERCANDA PAK!!” Rizal mulai histeris. “SEPULUH JUTA GUE!!!”


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


##


Yah, kebongkar juga kan ... Dan ternyata malah Adel sendiri yang membongkar hubungannya. hihi. Makin penasaran nggak nih sama kelanjutannya?


Makanya dukung terus ya,

__ADS_1


salam dari penulis amatir 😘


__ADS_2