My Boss Samuel

My Boss Samuel
PROLOG


__ADS_3

“Welcome home, brother!” Seorang pria yang tingginya nyaris setara denganku menyambut kedatanganku di bandara.


“Can you shut up!” Ujarku ketus. Dia hanya tersenyum tidak marah sedikitpun dengan kalimat pedas yang aku ucapkan.


“Kita udah dua tahun nggak ketemu lho, kamu nggak kangen gitu sama aku.” Ujarnya sambil mengerlingkan mata.


Aku hanya mendengus lalu segera masuk ke dalam mobilnya begitu saja. Aroon memang senang sekali menggodaku, tapi anehnya dia tidak pernah marah jika aku membalas perbuatannya. Walaupun secara umur aku jauh lebih tua darinya tapi tampaknya Aroon jauh lebih dewasa dari pada aku.


Secara teori aku mengakui hal itu, tapi dalam kenyataan aku tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun. Mungkin jiwa gengsiku terlalu tinggi, Ck!


Aku menghembuskan nafas sambil menatap jalanan dari kaca mobil. Akhirnya aku kembali ke sini setelah dua tahun pergi untuk meneruskan gelar magister dan untuk menenangkan pikiran. Ya ... Sekarang aku rasa otakku sudah pulih kembali.


Begitu sampai di rumah, aku langsung turun dari mobilnya dan berjalan masuk mencari keberadaan kakekku, Robert. Sebenarnya dialah orang di balik bersedianya aku pulang kembali ke Indonesia.


“Cucu kakek sudah datang.” Kami berpelukan singkat kemudian duduk di kursi ruang kerja kakek. “Hanya perasaan kakek atau memang kamu jadi lebih tampan.”


“Sam jadi menyesal karena sudah mau pulang ke Indonesia.” Aku menatap kakek dengan datar dan kakek malah tertawa.


“Kakek berani bertaruh kalau kepulanganmu ini adalah hal yang tidak mungkin akan kamu sesali.” Kakek tersenyum ke arahku. “Ini beberapa dokumen yang harus kamu pelajari.”


“Baru datang udah di kasih dokumen aja nih.” Aku menerima setumpuk dokumen tersebut lalu membuka salah satunya. “Kapan aku mulai kerja?”


“Harus secepatnya. Lusa sudah paling cepat.”


Aku menatap kakek dengan alis terangkat. Ternyata dia masih menjadi kakek yang menyebalkan. Sejak aku berada di London, kakek selalu saja menghubungiku setiap saat. Setiap aku tanya sih kakek hanya menjawab kalau dia merindukan cucu tertuanya, tapi aku paham kalau sebenarnya ada maksud terselubung.


“Kenapa sih kamu nggak mau langsung menggantikan kakek aja, Sam?” Kakek terbatuk dan aku tahu dia hanya berpura-pura saja. “Kakek kan sudah tua, sering sakit kalau banyak kerjaan, masa kamu tega lihat kakek sakit karena masih bekerja di usia yang sudah tua ini. Kakek kan iri dengan teman-teman kakek yang sudah bahagia menikmati masa pensiunnya.”


Kakek melirikku yang sejak tadi hanya fokus membaca dokumen, dan setelah aku menatapnya kakek langsung berpura-pura batuk lagi.

__ADS_1


“Nggak bisa sekarang, kek. Aku masih harus belajar.”


“Terus kapan? Sampai kapan kakek harus bertahan? Uhuk.” Kakek kembali berpura-pura batuk lagi, kali ini jauh terlihat lebih natural. Atau yang tadi itu memang batuk sungguhan?


Aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menutup dokumen yang aku baca. “One years ... Maybe.”


“Itu terlalu lama, nak.”


“Setuju atau aku nggak mau bekerja di perusahaan kakek.” Aku mungkin sedikit jahat dengan kakekku sendiri tapi aku juga tidak punya pilihan lain.


Sejujurnya selama di London aku juga sudah bekerja di perusahaan keluarga Papaku. Dan karena aku merasa kasihan dengan kakek, aku pun tak punya pilihan lain selain kembali ke sini. Lagi pula aku sudah baik-baik saja dan menganggap masalah yang aku alami bersama Natalie dua tahun yang lalu tidak pernah terjadi dalam hidupku. Aku sudah membuang semua masalah itu keluar dari pikiranku.


“Oke, one years. Dan kamu harus mulai bekerja secepatnya.”


Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. “Aku masih punya permintaan satu lagi.”


“Perasaan kakek hanya meminta cucu kakek untuk bekerja di kantornya sendiri, tapi kenapa rasanya seperti bernegosiasi dengan investor besar begini ya.” Kakek terlihat jengkel sendiri.


“Aku mohon, jangan sampai ada orang yang tahu kalau aku adalah cucu kakek sekaligus calon penerus perusahaan kakek.” Ujarku sungguh-sungguh.


“Really?” kakek hampir tertawa mendengar permintaanku. “Kakek tidak menyangka kalau ternyata kakek mempunyai cucu yang rendah hati, seperti yang ada di film-film yang pernah kakek tonton.” Kelakarnya namun tak membuatku tertawa sedikitpun.


Perbincangan dengan kakek tak berlangsung lama. Mengingat kalau kami akan mempunyai waktu banyak untuk bertemu setelah ini. Begitu aku keluar dari ruang kerja kakek, di luar sudah ada Aroon dan salah satu sepupuku yang bernama, Kai. Tampaknya mereka sudah menungguku sejak tadi.


“Wah, brother! Gue kangen sama lo.” Kai langsung memelukku begitu saja.


“Kenapa kamu di sini?” tanyaku sambil melepas pelukannya.


“Biasa, butuh holiday.” Ujarnya sambil tertawa. “Beruntung lo pulang hari ini, kak. Mau ke clubing?”

__ADS_1


Aku hendak menjawab namun aku urungkan niatku tersebut.


Aku hanya diam ketika Kai dan Aroon menyeretku masuk ke dalam mobil untuk pergi ke salah satu klub malam di sini. Percuma saja aku menolak karena mereka pasti mempunyai sejuta cara untuk mengajakku. Terlebih lagi Kai, bocah itu memang paling akrab dengan yang namanya klub. Beruntung kakaknya sedang berada di Australia.


Sudah pukul dua dini hari ketika aku, Aroon dan Kai sampai di rumah. Itupun kalau aku tidak memaksa untuk pulang, Aroon dan Kai pasti masih betah berada di sana. Padahal mereka sudah mabuk sejak tadi dan sialnya aku yang harus membawa pulang dua orang mabuk ini ke rumah. Aku memang jarang mabuk, bahkan selama di London pun aku jarang masuk klub dan mabuk di sana. Tapi bukan berarti aku tidak bisa meminum yang namanya alkohol.


Aku harus segera tidur karena besok aku harus terbang ke Jakarta untuk menyiapkan segala keperluan tinggalku di sana.


Welcome back, Sam!


.


.


.


.


.


Pemanasan dulu gaeess.


Kalau jempolnya banyak bakalan aku double up tiap hari hihi 🤭 (Belagu padahal mah sibuk eiim, yang lainnya aja masih ngegantung kok 😂)


Dan maap ya kalau bakalan banyak narasinya.


follow IG ku ya siapa tahu aku kasih spoiler juga di sana


@nan_dria

__ADS_1


Maachih.


__ADS_2