My Boss Samuel

My Boss Samuel
69. Pesta Bunda Eliza


__ADS_3

Hallo semua kembali lagi.


Sehat selalu ya,


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


“Kok perasaan bulan ini banyak banget libur duanya ya?” Tutur Rizal di sela aktivitasnya.


“Lebay lo! Baru dua kali sama besok, kecuali kalau satu bulan full sabtu minggu libur terus.” Sahutku.


Rizal mendengus, “terus kalau seperti itu bisa gue sebut banyak liburnya.”


Aku terkekeh pelan lalu menghentikan aktivitasku pada layar komputer, aku tatap Rizal dengan sorot jenaka. “Bukan, lebih tepatnya bisa di sebut ‘kere’ bulan depan, karena nggak ada lemburan.” Ucapan ku berhasil membuat yang lainnya tertawa.


“Kalau itu gue setuju.” Akhirnya Mbak Sari angkat bicara.


Terkadang pikiran seorang karyawan itu memang aneh. Kalau pas banyak pekerjaan suka mengeluh ingin libur, tapi kalau sedang tidak ada pekerjaan pulang lebih awal dan tidak ada jam lembur tambahan masih tetap mengeluh juga. Mengeluh tak ada lemburan, mengeluh miskin, tidak bisa shopping ... Ya, contohnya gue. Hehe.


“Tapi yang bikin gue sedih bukan masalah uang.” Kali ini Tiwi ikut berkomentar, “gue sedih karena waktu ketemu kita jadi berkurang.”


Aku, Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal kompak menyorak Tiwi karena sikap melow yang berlebihan itu. Hm, berarti bagi Tiwi aku termasuk nganenin dong.


“Gue juga kangen kali, Wi, sama anak dan istri.” Sahut Mas Angga.


“Tapi gue juga setuju kok sama Tiwi.” Rizal menyela dengan cepat. “Kalian bayangin deh, waktu kita itu jauh lebih banyak habis di pekerjaan hampir sembilan puluh persen. Ibaratnya di rumah itu kita Cuma numpang istirahat doang. Dan maka dari itu, waktu kita bersama juga jauh lebih banyak di banding dengan keluarga kita. Enggak salah kalau Tiwi bilang sedih berpisah sama kita, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan itu jika di tinggalkan barang sekejap aja sudah pasti bikin kangen.” Jelasnya panjang lebar.


Hm ... Ada benarnya juga memang. Bahkan jujur ni ya, aku sudah menganggap mereka seperti keluarga nomor dua ku selama empat tahun ini.


“Gue nggak nyangka, Zal, lo semakin dewasa dan omongan lo semakin bisa buat gue terhura.” Ujar Mbak Sari.


“Ya elah, Mbak. Terharu kali, terhura apalagi itu.” Jawabku.


Mas Angga masih tersenyum sambil geleng-geleng. “Kalau begitu gue mau ngucapin makasih ya, buat kalian yang udah gue anggap adik-adik gue.” Dia mengakhiri dengan tertawa.


“Jangan anggap gue adik, Mas. Karena gue udah terlanjur menganggap lo seperti bokap gue.” Seru Tiwi.


“Kapan gue punya anak segede elo, Wi.” Gumam Mas Angga yang membuat kami semua tertawa.


“Jujur nih ya, gue juga bakalan kangen kalau nggak ketemu kalian. Kayak ada rasa gimana begitu.” Aku mendengus ke arah Rizal, si biang lebay itu memang paling bisa membuat suasana menjadi semakin hanyut.


“Bohong ah!” Celetuk ku.

__ADS_1


Kali ini Rizal berdiri lalu menghampiri mejaku. “Ye, nggak percaya. Kentut aja di tahan bikin sakit apalagi kangen, Del. Kangen sama lo lagi.” Ia mencubit pipiku sambil mengerling kan matanya.


Kumat kayaknya.


“Rizal kamu ngapain?” Rizal langsung kaget, tidak bukan hanya Rizal tetapi aku juga dan bahkan yang lainnya. Bagaimana bisa Sam muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah kami dan tak ada satupun yang menyadari kedatangannya.


Aku segera menampik tangan Rizal lalu menunduk. Sedangkan Rizal langsung mengangguk dan tersenyum ke arah Sam. Tak ada ekspresi dari wajah Sam dia hanya diam sambil memandang anak buahnya saru persatu lalu kembali masuk ke ruangannya.


Sudah macam iklan ya Bos kampret itu.


##


Pagi ini, aku menginjakkan kakiku kembali di tanah Bali. Sesuai ajakan Sam kala itu, hari ini adalah hari ulang tahun Bunda dan acaranya akan di adakan sore nanti seperti yang di katakan Sam.


Sudah menjadi kewajiban bagi Aroon, setiap Sam pulang ke Bali dia akan berubah menjadi sopir dadakan untuk Sam. Tapi kali ini dia terlihat lebih sumringah ketika menjemput Sam, apa mungkin efek karena hari ini ulang tahun ibunya.


“Senang bertemu denganmu lagi, Adelia.” Aroon langsung mengulurkan tangannya, namun belum sempat aku menjawab Sam sudah lebih dulu memukulnya.


“Masih berani?” Sam menatap Aroon.


Aroon hanya tersenyum, “santai lah, iya iya ... Yuk! Masuk sudah di tunggu sama yang lain.”


Aku hanya tersenyum lalu masuk ke mobil.


Sampainya di rumah Sam aku sedikit terkejut karena keadaan rumahnya terlihat sepi tidak seperti orang yang akan mengadakan pesta. Sam menyuruh salah satu pelayan untuk membawa koperku masuk.


“Acaranya bukan di sini, tapi di salah satu hotel kami yang di Nusa Dua.” Jelasnya.


Aku mengangguk sesaat sebelum menyadari makna kata hotel kami yang di ucapkan Aroon. Pikiranku langsung berputar, memikirkan kalau keluarga Sam selain mempunyai dan mendirikan sebuah perusahaan jadi mereka juga mempunyai bisnis hotel.


“Kak Adelia.” Tasya langsung menghampiri dan memelukku begitu saja. “Tasya senang deh, kakak ke sini lagi.”


“Masa?” godaku sambil tertawa, “kakak juga seneng bisa ketemu kamu lagi.” Aku dan Tasya kembali tertawa bersama.


“Mau dong di peluk juga.” Sedetik kemudian Aroon langsung meringis karena Sam langsung mendaratkan pukulan di kepalanya. “Iya, iya enggak berani deh.” Imbuhnya lalu masuk ke dalam.


“Kak ke belakang yuk! Bunda ada di sana.” Ajak Tasya.


Aku pun langsung melirik Sam. “Nanti aja biar aku yang taruh di kamar Bunda.” Ucapnya seolah mengerti maksud dari lirikan ku.


Ya, karena Sam bilang ini acara ulang tahun jadi aku memutuskan untuk memberi kado juga ke Bunda Eliza. Awalnya Sam melarang, karena dia tidak mau merepotkanku, tetapi aku tetap membeli kado. Walaupun aku tahu kadoku tak bernilai seberapa tapi aku tulus kok memberinya ke Bunda Eliza.


Tasya terus menuntunku sampai ke belakang rumah dari kejauhan aku sudah bisa melihat Bunda Eliza tengah menikmati camilan di pinggir kolam renang bersama Natalie. Begitu menyadari kedatanganku Bunda Eliza langsung berdiri dan memelukku.


“Senang sekali kamu mau datang, sayang. Bunda sudah kangen banget sama kamu.” Aku membalas pelukannya dengan hangat.


Lalu pandanganku beralih ke Natalie, dia pun langsung memelukku juga sambil tersenyum manis sekali dan senyum itu benar-benar membuatku iri. Jujur, walaupun Natalie selalu menyambut ku hangat dan ramah tetapi entah kenapa masih ada perasaan mengganjal di dalam lubuk hatiku yang membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Bukan karena wajah juteknya, dia bahkan tak pernah memasang wajah jutek ketika berbincang denganku. Tapi tentang senyum itu yang ia berikan ke Sam pada saat pertama kali aku ke sini.

__ADS_1


“Bun, gimana kalo kita ajak Adelia belanja hari ini.” Ucap Natalie.


“Wah, benar juga ... Kamu mau ya, Del, temanin Bunda beli baju.” Wanita paruh baya itu memohon padaku.


Astaga, aku kan hanya tamu kenapa harus di ajak belanja segala sih, kan aku jadi sungkan.


“Iya kak ikut saja, Tasya juga ikut kok. Nanti kita belanja rame-rame.” Imbuh Tasya tak kalah antusias.


“Tapi ...” belum sempat aku menjawab tetapi mereka bertiga langsung menarik ku untuk mengikuti kemauan mereka.


Huft ... Ya sudah lah ya, dari pada menolak dan akan berakhir sia-sia mending menurut saja.


Mobil yang di kemudikan oleh sopir pribadi keluarga Sam berhenti di salah satu mall bernama Discovery shopping mall.


Bunda Eliza mengajakku masuk ke salah satu boot dari brand ternama untuk memilih dress, sembari menunggu Bunda Eliza memilih aku pun juga iseng ikut-ikutan memilih. Begitu aku menemukan dress yang menurutku bagus aku langsung mengecek kabel harga dan aku langsung melongo dong setelah melihat label harganya.


Gila cuy!


Satu dress saja bisa menghabiskan uang gaji ku lebih dari sebulan, berasa kaum missqueen beneran nih kalau di sini. Aku segera mengembalikan dress tersebut ke tempatnya.


“Kok di kembalikan lagi, sayang. Enggak kamu coba dulu siapa tahu cocok, bagus lho pilihan kamu.” Bunda Eliza mengambil lagi dress tersebut.


“Enggak usah, Bun. Adelia Cuma lihat-lihat saja kok.” Bunda menatapku sembari tersenyum, lalu memanggil seorang penjaga dan menyuruhnya membungkus dress yang ku pilih bersama dengan dress Bunda Eliza.


Hah! Serius di bayarin kan? duh kok jadi tak enak begini ya. Hm, ternyata seperti ini kehidupan keluarga Sam, lekat dengan barang mewah dari brand-brand ternama. Tapi aku juga tidak heran sih, orang kaya punya uang banyak kalau salah satunya tidak di gunakan untuk berbelanja seperti ini mau di gunakan buat apa lagi.


Akhirnya acara berbelanja tadi tak berlangsung lama karena mengingat waktu harus mempersiapkan ke nusa dua nanti.


•••


Aku menatap pantulan diriku di depan cermin, melihat tubuhku sendiri dengan riasan make up natural dan dress mahal yang di belikan Bunda Eliza tadi. Kok rasanya ada yang aneh ya, apa karena tidak terbiasa memakai baju yang harganya cukup membuatku menelan ludah. Jelas lah, biasanya juga beli baju di pasar gembrong kalau dress ini aku tukar di sana, hm ... Sudah dapat hampir setengah toko deh.


Dua jam yang lalu aku dan juga keluarga Sam sudah tiba di salah satu hotel terkenal yang di kata milik keluarga Sam ini. Perjalanan ke sini tadi di tempuh menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarga Sam. Dan kalian tahu, aku semakin merasa bagaikan butiran debu di antara keluarga horang kaya ini. Dan anehnya Sam tak pernah membahas soal apapun yang di milikinya selama kita berpacaran dan pastinya itu menjadi keuntungan tersendiri bagiku. Aku jadi merasa tak perlu minder dengan apa yang di miliki Sam karena dia tak pernah mengungkitnya di depanku.


Staf di hotel ini sudah mengkhususkan satu lantainya yang memang untuk acara pribadi keluarga sang pemilik. Di tambah kamar-kamar khusus juga yang sangat mewah sekali, bagiku ini adalah kamar hotel termewah yang pernah aku kunjungi.


Aku keluar dari kamarku dan di luar Sam sudah menungguku. Dia terlihat tak henti-hentinya menatapku, apa aku terlihat aneh memakai dress ini ya?


“Sam, aku nggak cocok ya pakai begini? Kalau aku ganti dress ku sendiri aja gimana?” aku hendak kembali masuk ke kamarku namun Sam segera menahan lenganku.


Dia berjalan mendekatiku lalu mengusap wajahku dengan jemarinya. “You’re so beautiful.”


Aku hanya bisa memalingkan pandanganku ke arah lain, aku tak mau Sam melihatku bersemu ketika ia memujiku seperti itu. “Aku udah pernah bilang kan, nggak usah sok manis. Nggak pantes.”


Sam langsung melingkarkan lengannya ke pinggangku lalu meraih daguku hingga wajah kami saling bertemu. “Kamu sulit sekali percaya dengan ucapan ku, ya.” Sam menundukkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik, “mulai hari ini kamu harus percaya kalau setiap kata yang aku ucapkan ke kamu itu adalah jujur.”


Hatiku langsung berdebar mendengar perkataan dari Sam. Dia menatapku lagi lalu mencium tepat di atas bibirku. Aku kira hanya sebatas kecupan ternyata semakin lama semakin ******* dan memperdalam ciumannya. Sam menyelipkan lidahnya masuk mengabsen setiap rongga dalam mulutku tanpa terlewat sedikitpun. Aku hanya bisa memeluk dan meremas lengan Sam, berharap agar jangan ada yang melihat apa yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1



__ADS_2