My Boss Samuel

My Boss Samuel
104. Pesta Belum Berakhir


__ADS_3

Hayoo udah pada nungguin ya??


Selamat beraktivitas semuanya ...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Pesta belum berakhir, atau lebih tepatnya semua sepupu Sam bersikeras bahwa pesta ini masih jauh dari kata selesai. Dan kini aku sudah berganti gaun lagi, sebuah gaun sederhana yang tidak terlalu panjang, dan rambutku di biarkan terurai begitu saja.


Yang di izinkan meninggalkan pesta hanya mereka yang di usianya empat puluh tahun ke atas, atau yang memiliki bayi dan anak kecil yang mungkin perlu istirahat. Termasuk Natalie, karena kehamilannya kini yang mulai membesar.


Acara malam ini khusus bagi mereka yang ingin bersenang-senang menikmati angin pantai, berdansa dengan pasangan atau mengikuti beberapa permainan yang sudah di persiapkan.


Raffael dan Kai bahkan menyelundupkan beberapa alkohol ke dalam pesta. Kakak-adik kelakuannya memang sama, selalu kompak. Musik yang mengiringi sudah berganti menjadi lebih bersemangat. Destian suami Natalie mendatangkan seorang DJ khusus untuk pesta malam ini.


Aku dan Sam tertawa kencang melihat Raffael yang mulai kehilangan kewarasan. Pria itu berdiri di atas meja sambil menggoyangkan tubuh mengikuti musik yang di mainkan oleh DJ. Dan di tangannya terdapat sebuah botol Red wine.


“Jangan Cuma di sini.” Mas Tristan mendorong tubuh Sam menjauh dariku. Sam hanya mengikuti dengan pasrah sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.


Ish, ganjen!


Kai menyerahkan segelas minuman pada Sam, dia menerimanya lalu menyesapnya sedikit.


“Gue punya permainan!” Raffael yang setengah mabuk berteriak di antara suara musik yang terdengar. Dia mengangkat botol minumannya yang sudah kosong lalu melompat turun dari meja. Berjalan sempoyongan menuju meja yang juga telah kosong, lalu meletakkan botol itu di sana. “Truth or Dare! Siapa yang ingin bergabung?!”


“I’m in!” Destian yang pertama kali berteriak sambil mengangkat gelas minumannya lalu tersenyum lebar.


Ck, iya lah orang istrinya tidak ada di sini jadi bebas.


“Saudara gue yang paling the best!” Raffael merangkul bahu Destian lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.


“I’m in!” Mas Tristan ikut berteriak.


“Yeah, i'm in!” Aroon juga ikut berteriak.


“Me!” Kai juga mengangkat gelas minumannya. Baru aja aku berpikir kalau dia ternyata tidak kompak dengan kakaknya, eh ternyata salah.


Lalu mereka menatap Sam yang hanya diam.


Sam melirikku sekilas. “I’m in.” Ujarnya dan sontak semua sepupunya tertawa.


Para pria berkumpul di meja itu, sedangkan sepupu-sepupunya yang perempuan hanya duduk sebagai penonton. Aku duduk bersama Tasya dan Veronica, adik Mas Tristan. Melihat para pria itu memulai permainan.


Raffael menyeringai, kemudian memutar botol dan semua menatap ke arah botol itu dengan raut wajah tegang. Dan entah ini adalah saat yang sial atau apa, yang jelas botol tersebut berhenti di depan Sam.


“Dare!” Sam segera berujar lebih dulu sebelum di beri pilihan.


Raffael tertawa miring, berlari mengambil minuman di bar yang ada. Mengambil sebotol alkohol murni lalu meletakkannya di atas meja. Sebagaimana yang aku ketahui bahwa alkohol murni itu memiliki kadar memabukkan yang lebih tinggi.


“Cuma lo yang nggak pernah mabuk, Brother.” Raffael tersenyum senang.


Sam menggeleng. “Yang lain.” Ujarnya datar.


Aroon tertawa, merangkul bahu Sam lalu menepuk-nepuknya. “Kamu udah beberapa kali jemput aku yang lagi mabuk, tapi aku belum pernah lihat kamu mabuk. Come on brother.”


Destian meraih botol tersebut lalu mengulurkannya pada Sam. “Jangan jadi pecundang!” Ujarnya sengaja


Sam menghela nafas, meraih botol itu, membukanya lalu menegaknya beberapa kali.


Semua sepupunya bersorak dan bertepuk tangan layaknya kumpulan bocah yang sedang bermain. Isi botol itu masih tersisa setengah saat Sam menyerahkannya pada Destian yang menerimanya sambil terkekeh.


Raffael kembali memutar botol dan semuanya kembali memperhatikan botol itu dengan raut wajah tegang. Dan botol tersebut berhenti di depan Raffael sendiri.


“Siaal!” Raffael berdecak kesal. “Dare!”


Kai tersenyum usil. “Hal yang pernah lo suruh ke gue, waktu ulang tahun gue tahun kemarin!” Teriaknya pada Raffael yang langsung melotot.


“Nggak sudi! Lo berani sama kakak lo!” Raffael bergerak menjauh tapi Mas Tristan segera menarik tangannya agar tidak kabur.


“Jangan kabur lo!”


Raffael berdecak sambil mengacungkan jari tengahnya ke adiknya sendiri, Kai. Lalu melompat ke atas meja dan mulai melakukan tarian ketika Aroon menyuruh DJ memainkan musik.

__ADS_1


Aku dan semua orang terbahak melihatnya. Ternyata Raffael melakukan tarian striptise (talanjang/erotis). Raffael sangat lihai dalam tarian itu, dia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu sambil terus menari dengan cara sensual di atas meja. Setelah semua kancingnya terlepas, dia memamerkan otot dan perut six pack nya ke semua orang, melepas kemejanya lalu memutar-mutar kemeja itu di tangannya seperti koboi.


Semua orang bersorak dan Raffael tertawa terbahak-bahak. Ketika dia hendak menarik sabuk yang melingkari pinggangnya, Sam segera menarik sepupunya itu turun sebelum Raffael benar-benar telanjang di atas meja.


Raffael yang setengah mabuk hanya tertawa, memakai kembali kemejanya tapi membiarkan kancingnya terbuka. Dia kembali memutar botol dan kali ini botol berhenti ke arah Destian.


“Dare!”


Wow, sepertinya semua orang lebih menyukai tantangan daripada mengungkapkan kejujuran.


Kini giliran Sam yang tertawa senang. Dan Destian melotot padanya. Sam mendekati Raffael dan membisikkan sesuatu, entah apa yang di bisikkan Sam tapi hal tersebut membuat Raffael tersenyum bahagia lalu menarik tubuh Destian agar duduk di kursi. Sam menahan tubuh Destian yang menatap sepupu-sepupunya dengan tajam.


“Brother!” Raffael melemparkan ponselnya dan di tangkap oleh Sam, dia terlihat mencari sesuatu lalu menyerahkannya pada Destian. Dan memaksanya untuk menatap layarnya.


Aku tidak tahu apa yang sedang Destian lihat pada layar ponsel Raffael. Tapi seketika aku bisa melihat Destian menggeram dan rahangnya terkatup rapat. Sam, Aroon, dan Mas Tristan tertawa terbahak-bahak saat Destian mulai mengumpat beberapa kali sambil terus menatap layar ponsel. Destian terus mengumpat dan mencoba berdiri dari kursi tapi Sam menahan bahunya dan memaksanya agar kembali menonton layar ponsel.


“Berengseek!!” teriak Destian.


Raffael tertawa nyaring, dan aku juga ikut tertawa meski tidak tahu apa yang terjadi. Lalu dia segera mengambil ponselnya dari tangan Sam. Dan kembali memutar botol.


Dan kini giliran Aroon.


“Dare!”


Tidak ada satupun yang ingin memilih Truth karena aku sendiri sangat penasaran sebenarnya dengan rahasia-rahasia yang mereka simpan dari satu sama lain.


Mereka semua tampak berpikir keras, memikirkan tantangan yang akan mereka berikan kepada Aroon. Kemudian Mas Tristan dan Raffael tiba-tiba menarik salah satu pelayan pria ke kerumunan itu. Aku hanya bisa mengerutkan keningku.


Raffael berbisik ke pelayan laki-laki yang rambutnya di cat merah tersebut. Sedangkan Aroon bersiap untuk kabur tapi Mas Tristan segera menangkap tangannya. Mas Tristan dan Raffael menahan kedua tangan Aroon yang sejak tadi sudah mengumpat berkali-kali. Dan saat itu pula aku baru menyadari kalau pelayan pria tersebut adalah seorang banci.


Pelayan pria tersebut tersenyum kegirangan mendekati Aroon yang gemetar di tempatnya. Lalu mengecup kedua pipinya dan membelai-belai dada bidangnya. Aroon berteriak marah dan itu malah membuat semuanya tertawa. Sebelum Aroon lepas kendali pelayan pria tersebut langsung melarikan diri dari sana.


Aku ikut tertawa melihat Aroon yang meraih sebotol air mineral di atas meja lalu mencuci wajahnya sambil terus memaki Raffael yang masih tertawa.


Astaga, sungguh keterlaluan.


Pesta itu baru berakhir pada tengah malam, Kai yang mabuk, Mas Tristan yang setengah mabuk, Destian yang terlihat biasa-biasa saja walau sudah menghabiskan bergelas-gelas alkohol, Raffael yang sudah muntah, Aroon yang masih menegak minumannya dan Sam yang sudah menghabiskan beberapa gelas minuman atas paksaan saudara-saudaranya.


Mas Tristan menyeret Kai ke kamarnya, sedangkan Aroon menyeret Raffael yang sudah lemas karena muntah. Destian segera menyusul istrinya yang mungkin saat ini sudah bermimpi liburan ke Eropa.


“Aku mau mandi.” Sam meraih tanganku dan menggandeng aku masuk ke dalam hotel.


“Kamu mabuk?” Aku bertanya sambil menatap Sam yang sedikit sempoyongan.


Sam hanya tersenyum. “Aku jarang mabuk, bahkan saat di London.” Ujarnya merangkul bahuku.


Kami memasuki lift yang membawa kami menuju lantai teratas hotel. Lantai khusus yang mereka siapkan untuk kami.


Lantai teratas Elino Hotel hanya di isi oleh sebuah kamar paling mewah yang ada di hotel ini. Ada sebuah kolam renang besar, taman yang indah, dan area yang begitu luas untuk bersantai dimana kursi-kursi berjajar rapi.


Aku begitu takjub pada dekorasi yang di penuhi oleh kelopak mawar.


“Kamu suka?” Sam memelukku dari belakang saat aku berdiri menatap kolam renang yang di penuhi kelopak mawar.


“Suka.” Bisikku lalu tersenyum padanya.


“Ini kolam air hangat.” Bisik Sam sambil menyusuri bahuku dengan hidungnya.


“Hm.” Aku bergetar di tempatku berdiri, bukan karena dingin karena angin yang berhembus kian kencang dari arah pantai. Tapi dari jemari Sam yang menyusuri lenganku dengan ujung jarinya.


“Mau berenang?” bisiknya sambil membuka resleting gaunku yang terletak di belakang.


“Kamu serius mau berenang tengah malam?” aku bertanya dengan jantung yang mulai memukul-mukulku kencang dari dalam sana.


“Kenapa tidak? Cuacanya cerah malam ini.” Sam berhasil menurunkan resleting gaunku dan mulai menariknya turun secara perlahan. Bibir Sam pun ikut bergerak turun mengecupi leher hingga ke lenganku.


Aku semakin bergetar dan merasa gerah.


“Tunggu.” Aku menahan gaun itu di dadaku.


“Hm.” Sam bergumam dengan terus mengecupi leherku.


“Kamu bau alkohol.” Bisikku pelan. “Aku nggak suka.”


Sam terkekeh, mengecup punggungku yang terpampang jelas di hadapannya. “Jangan kemana-mana. Aku ke kamar mandi dulu.” Ujarnya.


Begitu Sam masuk ke dalam, aku langsung berjongkok karena lutut ku terasa goyah. Astaga! Bisa lari kemana aku kalau seperti ini. Aku tak sanggup berdiri lagi, aku memeluk gaun itu semakin erat di dadaku.

__ADS_1


“Kenapa kamu?” Sam tertawa serak sambil menarik ku agar berdiri.


“Lutut ku lemas.” Ujar ku pelan mengakui apa yang sedang aku rasakan.


Sam kembali tertawa, suara tawa yang serak dan dalam. Dia berdiri di hadapanku dan aku terkejut saat melihatnya hanya mengenakan celana panjang, tanpa atasan.


“Aku tinggal sebentar aja, kamu udah mau pingsan.” Ledeknya sambil tersenyum miring.


Aku hanya bisa menggerutu dalam hati sambil mengerucutkan bibir. Apa dia tidak tahu kalau aku benar-benar gugup saat ini? Rasanya aku butuh minuman segar. Apa saja, kalau boleh sprite deh yang katanya bisa bikin plong!


Sam menarik gaunku itu turun hingga terjatuh di lantai, aku berdiri di depannya hanya mengenakan celana dalam dan bra tanpa tali. Wajahku memerah seiring dengan tatapan matanya yang menelusuri tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Kenapa kamu lihat aku begitu?!” ujar ku ketus untuk menutupi kegugupanku.


“Kenapa? Istriku kok.” Dia tersenyum.


Siaal, rasanya darah mengalir deras di tubuhku. Sam memeluk pinggangku , tangannya bergerak ke atas untuk membuka kaitan bra yang kukenakan.


“Sam.” Aku menahan tangannya gugup.


“Nggak apa-apa.” Bisiknya pelan. “Jangan takut.” Dia berhasil membuka kaitan itu dan menjatuhkannya di lantai, bergabung dengan gaun mahal yang kukenakan tadi.


Aku meletakkan kedua tangan di dada untuk menutupi dadaku. Dan hal itu malah membuat Sam tertawa serak. Tangan kanannya meraih daguku agar tatapan kami bertemu. Sam menunduk, lalu mengecup bibirku.


“Kita berenang?” dia bertanya di bibirku.


“Terserah kamu.” Jawabku dengan suara bergetar.


Sam tersenyum, meraup bibirku dalam pagutan dalam yang berhasil membuat kepalaku pening, dia menggigit bibir bawahku agar terbuka, begitu aku membuka bibir lidahnya langsung menyusup masuk, menjelajahi dengan sensual.


Aku terengah, memejamkan mata saat Sam menarik tanganku yang menutupi dada agar mengalungi lehernya. Dia memeluk pinggangku erat dan aku bisa merasakan dadaku bersentuhan dengan dadanya secara langsung. Jantungku nyaris meledak karena sensasi yang dia timbulkan. Benar-benar membakar.


Aku merasakan Sam mulai menarik dan menurunkan celana dalam ku, setelah itu dia juga menurunkan celananya. Pakaian kami kini benar-benar teronggok di lantai. Sam meraih pahaku dan menggendongku masuk ke kolam yang di penuhi kelopak bunga. Kedua kakiku melingkar di pinggangnya dan bibirnya terus menciumi bibirku dengan rakus.


Sam menurunkan aku di tengah kolam yang airnya mencapai dadaku. Air hangat yang malah membuat diriku semakin terasa gerah.


Ciuman itu beralih ke dagu saat aku nyaris kehabisan nafas, aku mendongak ketika bibir Sam beralih mengecupi leherku, menjilat dan menghisapnya hingga aku merasa melayang.


“Sam.” Aku mengerang ketika salah satu tangan Sam mulai menangkup payudaraaku dan membelainya lembut, seketika puncaknya langsung menegang kaku dalam sentuhan sensual itu.


Nafasku mulai terputus-putus saat bibir Sam mulai turun menciumi tulang selangka dan turun ke belahan payudaraaku. Aku meremas rambut Sam dan memeluk kepalanya kian erat saat kakiku terasa lemas dan hampir tak bisa menopang tubuhku.


Sam terkekeh, salah satu tangannya memeluk pinggangku dan satu tangannya yang lain membelai pahaku dalam gerakan lembut. Ujung jarinya terasa panas meninggalkan jejak yang mampu membuat darahku mendidih di dalam sana.


Sam sepertinya sudah tahu harus melakukan apa untuk membuat aku kehabisan nafas seketika.


“Sam!” aku nyaris berteriak saat tiba-tiba ujung jarinya menyentuhku di sana. Aku mendongak, mataku terbuka lebar menatap langit yang di penuhi bintang. “Oh!” aku mengerang ketika jarinya mengusap inti diriku yang mulai berdenyut. Mulutnya sibuk membuat jejak di dadaku.


Yang mampu aku lakukan hanyalah memejamkan mata dan memeluk lehernya kian erat. Karena tiba-tiba pandanganku mulai berkunang-kunang dan kepalaku terasa pening.


“Please.”


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


##


jeng ... jeng ...!!


Sengaja nggak gue lanjut ah, masih siang takut tambah panas. haha


Eh, tapi di tempatku tinggal beberapa hari ini dingin sih. Ck!


Sabar ye, semua butuh proses. Buat yang jomblo !!


Gue saranin jangan baca bab selanjutnya!! hahaha

__ADS_1


__ADS_2