My Boss Samuel

My Boss Samuel
72. Penjelasan Natalie


__ADS_3

Yuhuu balik lagi akunya....


Semoga terhibur ye.


Jangan Lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Entah sudah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk tengkurap di atas tempat tidur sambil menangis. Bahkan saat ini aku sampai merasakan perih pada mataku mungkin saat ini mataku sudah sangat sembab dan membengkak. Setelah kesepakatan tadi aku langsung masuk ke kamar dan aku tak mau di ganggu oleh siapapun. Mungkin ketenangan bisa memperbaiki kondisi hatiku.


Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari pintu kamar, aku langsung bangkit dan menoleh ke arah pintu. Ah ... Mataku perih sekali. Jujur aku masih malas sekali untuk bertatap muka dengan orang-orang apalagi kalau melihat keadaanku saat ini ada sedikit rasa malu juga. Apalagi kalau orang itu adalah Sam, aku benar-benar tak mau bertemu dengannya dengan kondisi seperti ini.


Sungguh menyedihkan.


Aku berniat mengabaikan ketukan tersebut tetapi aku langsung bangkit dan duduk di atas kasur lagi ketika mendengar suara panggilan dari arah luar.


“Del, aku tahu kamu belum tidur. Boleh aku masuk?” pintanya.


Aku harus jawab apa, suara itu apakah aku sanggup bertatap muka dengannya saat ini. Ah, penampilanku sangat tidak mendukung saat ini.


“Sebentar.” Aku langsung mengusap wajahku menggunakan tissue membersihkan sisa air mata sekaligus memperbaiki sedikit penampilanku. Dan aku hampir lupa rambut, aku segera menyepol asal rambutku ke atas.


“Aku hanya mau ngobrol saja kok, Del.” Ucapnya lagi.


“Iya, masuk aja.” Tarik nafas lalu buang. Ayo semangat, Del, kamu bisa. Aku berusaha menyemangati diriku sendiri dan semoga mataku sembabku ini tak terlalu mencuri perhatiannya.


Setelah itu aku mendengar suara pintu terbuka lalu perlahan suara langkah mendekat. Aku masih belum berani menatap ke arahnya, aku hanya bisa menunduk dan merasakan kehadirannya ketika ia sudah duduk di atas tempat tidurku.


“Kamu habis nangis ya?” tanyanya pelan.


Aku harus jawab apa mana mungkin aku mengakuinya secara gamblang, mata ini menggagalkan ketegaranku. “Enggak kok.” Dustaku.


“Aku sudah dengar semua cerita kamu dari Sam.”


DEG.


Jantungku terasa berdetak kencang ketika mendengar nama Sam di sebut.


“Tapi kamu jangan berpikir kalau kedatanganku ke sini gara-gara Sam ya. Walaupun sedikit sih.” Imbuhnya, berusaha mencairkan sedikit suasana canggung ini.


Ayolah, Del, kamu jangan jadi manusia lemah kamu harus bisa menghadapi ini walaupun sebenarnya masih kesal juga kalau di suruh bertatap muka dengan orang-orang di rumah ini. Kemudian aku memutuskan mengangkat wajahku lalu hal pertama yang bisa aku lihat adalah senyum dari Natalie yang sangat hangat itu tertuju padaku.


Aku berusaha tersenyum kecil. “Kamu nggak perlu jelasin apa-apa kalau ini demi Sam.”


Aku yakin saat ini Natalie sudah melihat wajahku yang pasti terlihat sangat menyedihkan ini. Ah ... Persetanlah!


“Bukan demi Sam kok, tapi demi kalian.” Natalie terlihat memberi jeda sesaat sebelum akhirnya menepuk lembut lenganku. “Sebenarnya aku juga malas harus mengungkit hal ini lagi, tapi ... Kamu harus tahu kebenarannya, Del.”


Tunggu dulu.


Apa yang akan Natalie ceritakan? Apakah aku siap mendengarnya. Aku mohon jangan sampai cerita itu terdengar seperti yang tidak ingin aku dengarkan.


“Yang kamu lihat tadi memang benar, Del. Kamu tak salah lihat. Tapi yang perlu kamu ketahui, semua itu terjadi tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Tadi aku dan Sam tengah membicarakan tentang kamu.” Hah, mereka membicarakan aku tapi kenapa? Apa yang mereka bicarakan? Sebenarnya aku ragu ingin lanjut mendengarkan tetapi aku juga penasaran dengan kebenarannya. “Aku bilang ke Sam, kalau kamu sepertinya merasa tak nyaman denganku.”


“Aku nggak berpikir seperti itu, Nat.” Sahutku cepat.

__ADS_1


Natalie tersenyum, “nggak apa-apa, Del. Aku paham kok, bahkan aku paham sejak pertama kali kita bertemu. Saat di meja makan itu aku sudah merasa kalau kamu menunjukkan rasa tak nyaman setelah kedatanganku. Lalu aku bilang ke Sam karena awalnya dia nggak percaya dan ternyata dia juga baru menyadari semenjak kejadian di pesta tadi sore.”


Tiba-tiba aku teringat sekilas kalimat yang aku dengar di dapur tadi. ‘Apa aku bilang, kamu sih nggak percaya.’


Ah... Bodoh, apa yang sudah aku pikirkan.


“Lalu soal ciuman tadi ...” untuk bagian ini aku masih sedikit belum siap untuk mendengarnya, bisa penjelasannya di tunda terlebih dahulu. “Itu juga tidak seperti apa yang kamu lihat, tadi aku hanya berniat mengambil ice cream sebelum menyusul Destian, tiba-tiba aku bertemu Sam di dapur. Dan dia meminta tolong padaku supaya mengambilkan ice cream juga, katanya dia mau memberikannya untukmu.” Natalie menatapku sambil tersenyum, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa aku hanya bisa menggigit bibir bawahku.


“Ya sembari berbincang lalu secara tiba-tiba Sam mencium keningku sebagai rasa terima kasih.” Imbuhnya.


Lalu kenapa harus dengan cara mencium sebagai tanda terima kasihnya ?


Sepertinya Natalie memang berniat bercerita bukan berniat meminta pendapatku. Dia tersenyum lagi dengan tangan mengelus lenganku.


“Sam memang pernah bilang kalau dia sayang denganku.” Kepalaku langsung penuh dengan tanda tanya berwarna merah besar, aku tak bisa menyembunyikan raut terkejut ku di depan Natalie. Jangan katakan hal yang tidak ingin aku dengar. “Tapi ... Ini yang perlu kamu tahu, Del. Sayang yang Sam berikan ke aku itu tidaklah sama dengan rasa sayang yang dia berikan untukmu.” Natalie mengucap setiap katanya dengan penuh penekanan. “Dia menyayangiku hanya sebatas sebagai adiknya saja, tidak lebih. Jelas berbeda dengan sayang yang dia rasakan untukmu, rasa sayang yang ingin memiliki dan menjadikan bagian dari hidupnya.”


Aku mencoba mencerna setiap penjelasan yang Natalie ucapkan walaupun masih terdengar tak masuk akal. Tapi sampai di sini aku mulai mencoba memahaminya.


“Maaf kalau aku sudah buat kamu salah paham. Aku tak berniat seperti itu, jujur aku sangat senang ketika mendengar kalau Sam sudah mempunyai kekasih. Dan aku lebih senang ketika aku akhirnya bisa bertemu denganmu, Adelia.” Aku tak bisa berkata setelah mendengar penjelasan dari Natalie.


“Aku juga minta maaf karena aku sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kamu. Aku pikir semua yang terjadi tadi ....” Aku tak sanggup meneruskan kalimatku. “Maafkan aku.” Natalie kini memeluk tubuhku dan mengusap punggung belakangku.


“Kamu nggak salah kok, Del. Harusnya memang aku yang menjaga jarak dengan Sam ketika menyadari rasa ketidaknyamanan mu.” Entah kenapa aku malah menangis, aku juga tidak tahu kalau ternyata aku secengeng ini.


“Aku juga minta maaf.” Lirihku dan Natalie langsung melepas pelukannya begitu saja.


“Kamu nangis lagi?” tanyanya, bukannya berhenti menangis justru air mataku malah semakin deras mengalir. “Hei, kenapa? Jangan nangis dong. Kamu mau membuat mata kamu sembab seperti apalagi, Del.” Natalie mengusap jejak air mataku.


Aku benar-benar cengeng, kamu harus strong, Del.


“Maaf ...” jari telunjuk Natalie langsung mendarat di atas bibirku.


“Stop, kamu harus berhenti menangis. Dan aku rasa kamu juga harus menemui Sam sebelum ... Dia menjadi frustrasi.” Natalie terkekeh di akhir kalimatnya.


“Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.


“Kamu pasti nggak akan percaya kalau dia adalah Sam kalau kamu melihat tingkahnya tadi.” Natalie tersenyum lagi.


Kok aku jadi penasaran ya, memangnya kenapa sih dengan Sam? Perasaan dia itu manusia yang paling pintar menyembunyikan ekspresinya. Tidak mungkin kalau Sam sampai bertingkah seperti orang gila setelah kami bertengkar tadi.


“Dia seperti orang gila.”


APA?


Tenang dan kuasai. “Maksud kamu?” aku sungguh penasaran.


“Dia berusaha meminta bantuan ku dan juga Aroon bahkan sampai memohon. Seumur-umur aku baru melihat dia bersikap seperti itu tadi dan itu sungguh menyedihkan.” Jelas Natalie.


Mendengar kata menyedihkan rasanya malah membuatku merindukan Sam. Astaga, baru juga tidak bertemu berapa jam sih, kok rasanya sudah kangen seperti ini? Dan selebihnya aku ingin melihat keadaanya seperti apa sekarang.


“S-sekarang dimana Sam?” tanyaku hati-hati.


“Mau di mana lagi, dia di tangga bawah katanya dia nggak akan pergi dari sana sebelum kamu mau menemuinya.” Aku mengerutkan alisku ketika mendengar jawaban dari Natalie.


“Memangnya dia nggak ke kamar aja, kenapa harus menunggu di tangga?” Entah kenapa Natalie malah terkekeh mendengar perkataan ku, perasaan tidak ada yang lucu.


Natalie mengelus lenganku. “Kamu tahu kalau sebenarnya yang kamu tempati sebagai tempat tidur ini adalah kamar Sam.”


Apa? Kamar Sam. Yang benar saja kenapa aku tidak tahu.

__ADS_1


Bodoh.


“E-enggak tahu.” Aku lanjutkan dengan gelengan pelan.


“Ini kamar Sam, dia yang meminta agar kamu tidur di kamarnya. Dia nggak mau kamu tidur di kamar lain, dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu tapi ini rahasia ya.” Natalie mengedipkan satu matanya ke arahku. “Setiap kamu ke sini Sam lebih memilih tidur di ruang TV, sebenarnya dia bisa tidur di kamar lain tetapi kamarnya sedikit jauh dan dia nggak mau, dengan alasan nggak mau ninggalin kamu. Makanya dia lebih memilih tidur di depan TV yang berada tepat di bawah lantai ini.”


Aku benar-benar speechless mendengar penjelasan dari Natalie. Ternyata Sam bisa melakukan hal sebodoh itu. Astaga Sam.


“Ternyata Sam bisa bodoh juga ya.” Ujar ku datar.


Natalie terkekeh. “Iya, memang bodoh dan itu demi kamu.”


Aku merasa, sakit dalam hatiku perlahan mulai bisa tertutup. Setelah awan mendung pasti akan selalu datang pelangi, ya itulah yang di rasakan hatiku saat ini. Luka yang ku rasakan sepertinya perlahan luruh dan menghilang seiring dengan penjelasan yang di berikan oleh Natalie. Walaupun belum sepenuhnya paham tetapi aku sudah bisa menyimpulkan.


“Sam itu sebenarnya sangat penyayang, Del. Apa yang sudah dia sayangi akan selalu di perjuangkan nya, sebut saja dia egois tetapi memang seperti itu kenyataannya. Dia selalu berlebihan dengan segala hal yang menyangkut orang yang ia sayangi. Dan sekarang orang itu kamu, Sam akan selalu berusaha membuat kamu ada di sisinya bagaimanapun caranya.” Imbuh Natalie.


Aku mendengus pelan. “Selain bodoh dia berlebihan juga ya.” Aku memastikan.


“Pokoknya sifat Sam itu enggak bisa di tebak, Del. Dia selalu punya cara tersendiri yang nggak bisa orang lain pahami. Dan sebagian memang bersifat berlebihan seperti yang terjadi tadi.” Mendengar ucapan Natalie membuatku membayangkan hal-hal aneh yang memang di lakukan Sam semenjak awal bertemu hingga sekarang. Dan memang benar banyak hal anehnya di banding hal normal pada umumnya.


Ck, kok aku ingin tertawa ya mengingat kejadian-kejadian absurd bersama Sam.


Aku dan Natalie terus melanjutkan perbincangan kami mungkin hampir satu jam. Ternyata Natalie benar-benar di luar dari yang aku kira selama ini, dia sangat baik dan dewasa padahal umurnya sama denganku. Apalagi dia banyak tahu tentang Sam dan dia tanpa sungkan menceritakannya padaku. Jujur aku sangat senang sekaligus iri karena dia juga pernah menjadi orang yang Sam sayangi bahkan dia lebih baik karena bisa tahu segala sesuatu tentang Sam.


“Terima kasih , Nat, sudah mau berbagi cerita denganku. Dan maaf sudah salah sangka padamu.” Ucapku.


Natalie menggeleng pelan. “Sama-sama, Del. Dan jangan bilang maaf lagi aku sudah bosan mendengarnya.” Ah iya sudah berapa banyak kita bilang maaf ya tadi, aku juga mulai bosan. Lalu Natalie kembali memelukku. “Jangan menangis lagi ya, nanti kalau Sam lihat dia pasti nggak akan memaafkan dirinya sendiri.” Natalie dan aku kembali terkekeh.


“Biarin aja.” Tukas ku.


“Kamu mau aku kasih tahu rahasia kelemahan Sam.” Natalie memandangku dengan tatapan menggoda dan itu berhasil membuatku penasaran.


“Apa?” tanyaku.


Setelah itu Natalie berbisik ke telingaku, aku sedikit tak percaya namun akhirnya kami berdua kembali tertawa bersama. Mungkin harus aku coba.


“Sekarang kamu sudah siap ketemu dan ngobrol sama Sam.” Sebenarnya aku masih sedikit canggung jika harus bertemu dengan Sam sekarang tapi setelah membahas banyak hal tentangnya mendadak aku jadi kangen.


“Hm ... Boleh sih.” Ucapku ragu.


Natalie lalu mengajakku bangkit dari posisi duduk kami, dia menggandengku keluar pintu kamar ini dan berhenti di atas tangga.


“Ternyata dia masih di sana.” Natalie berbisik padaku. “Habis ini kamu masuk lagi ya, biar aku ngobrol sebentar sama Sam.”


Aku mengangguk dengan pandangan melihat ke bawah tangga, tempat di mana Sam duduk sembari menundukkan kepalanya. Dan apa yang dia lakukan? Sam duduk di sebelah koperku yang memang tadi aku tinggal di sana. Astaga, pemandangan ini benar-benar membuatku meringis.


Kenapa Sam bodoh sekali sih? Aku kan kesal lihatnya. Rasanya aku ingin turun sebentar lalu memukul kepala Sam biar dia sadar dengan kebodohannya saat ini. Ck!


Natalie mulai menuruni tangga dan aku kembali lagi masuk ke kamar. Aku harus siap bertatap muka dengan Sam, aku tidak boleh terlihat berantakan dan yang pasti aku tidak boleh terlihat cengeng di depan Sam.


Aku kembali duduk di atas tempat tidurku dengan perasaan berdebar. Lalu perasaan itu semakin membuncang ketika aku mendengar suara seseorang yang mengagetkanku dari arah pintu.


“Boleh aku masuk.”


.


.


.

__ADS_1


.


TO BE CONTINUED....


__ADS_2