
Selamat hari Sabtu alias malam Minggu...
Pasti semangat ya.
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen!!
Share apalagi boleh bwanget.
Happy reading !!
##
“Lama banget sih lo, Del?” Aku terperangah ketika mendengar pertanyaan dari Mbak Sari.
“Ah, iya. Antri soalnya.” Aku hanya bisa tersenyum kaku seraya mengelus lenganku.
Aku masih merasa kesal dengan Sam yang tak mau mendengar penjelasan ku dan malah memilih langsung pergi begitu saja.
Sialaan!
“Kalo aja lo telat sedikit lebih lama. Gue jamin jatah lo udah habis di makan sama Mas Rizal, Mbak.” Rizal mencubit pipi Tiwi.
“Mana mungkin! Sembarangan lo.” Tiwi hanya mendengus ke arah Rizal.
“Udah deh, mumpung udah kumpul. Yuk! Kita makan.” Seru Mbak Sari dengan penuh semangat.
Seharusnya saat ini aku juga bisa menikmati keseruan momen kebersamaan ini dengan teman-temanku. Tetapi, kejadian barusan benar-benar mengganggu suasana hatiku saat ini, yang ada dalam pikiranku hanya Sam. Aku ingin bertemu dengannya. Aku tidak akan pernah rela jika dia marah hanya karena salah paham ini.
“Gue lagi deket sama cowok.” Tiwi membuka suaranya. Kini semua mata berfokus padanya
Rizal menepuk bahu Tiwi. “Sudah seharusnya lo dapat cowok baru. Jangan mikirin mantan lo terus.”
Mbak Sari mendengus. “Zal ... Gue tau lo memang gampang move on. Secara sebelum putus lo udah punya cadangan. Tapi gak semua orang bisa seperti itu.”
Aku tertegun sesaat. Kenapa kali ini teman-temanku membahas masalah percintaan seperti ini? Apalagi saat ini bertepatan dengan suasana hatiku yang sedang gundah gulana dan penuh kekesalan begini.
“Gue memang niat pengen move on, Mbak.” Tiwi membalik dagingnya. “Tapi ... Cowok ini kayaknya agak egois deh. Dia gampang banget marah dengan kesalahan yang gue buat.”
“Terus mau lo kalo cewek salah cowok harus maklumi begitu? Itu juga egois namanya.” Rizal tak terima. Dia langsung mengunyah dagingnya dengan kesal.
“Ye, bukan begitu. Kan gue bisa jelasin terlebih dahulu sebelum dia marah.” Aku langsung membelalakkan mataku ke arah Tiwi. Itulah yang aku alami saat ini.
“Gue setuju, Wi. Enggak setiap kesalahan yang di lakuin cewek itu sengaja kan? Kita masih bisa jelasin. Apa sih susahnya buat cowok untuk mendengarkan dan memahaminya terlebih dahulu. Memangnya kalo dia marah kita nggak kepikiran apa?” Ucapku penuh dengan kekesalan. Sampai tak sadar kini semua mata telah menatap ke arahku.
Aku langsung meringis sembari mengatungkan daging ke arah mereka. “Makan cuy.”
Duh ... Kelepasan.
Mbak Sari menyipitkan mata ke arahku. “Lo terlalu mendramatisir, Del. Lo nggak perlu bicara dengan penuh amarah begitu. Kayak ... udah pernah ngalamin aja.” Ada nada meledek di akhir kalimatnya dan hal tersebut berhasil membuat semuanya tertawa.
Tega sekali mereka tertawa di atas penderitaan ku.
“G-gue kan Cuma menyampaikan keluh gue sebagai wanita. Mumpung di sini ada Rizal sama Mas Angga, siapa tau mereka bisa paham.” Ucapku tak mau kalah. Bisa jadi bahan olokan kalau sampai tidak bisa menjawab perkataan Mbak Sari.
“Masalah mengerti itu juga butuh waktu, Del.” Rizal menatapku serius.
“Nah, bener si curut.” Rizal memukul lengan Mas Angga dan Mas Angga hanya terkekeh. “Bukan masalah nggak mau mengerti dan mendengar penjelasan dari seorang cewek. Tapi ... Terkadang rasa kecewa yang membuat kita juga butuh waktu buat mikir.”
“AMAZING!” seru Tiwi keras.
Kecewa?
Aku kembali menatap pemanggangan sembari membolak-balikkan daging. Ada benarnya juga dengan apa yang baru saja Mas Angga katakan. Aku hampir lupa kalau laki-laki juga punya rasa kecewa. Apa saat ini Sam kecewa denganku? Ah ... Aku harus menemuinya.
__ADS_1
“Saran gue, kalian jadi cewek juga harus mengerti dikit lah sama kita kaum pria. Jangan egois! Kita kalo udah kecewa kadang ngalahin egoisnya cewek lho ya kan, Zal. Suami lo juga kan, Sar?” kata Mas Angga.
“Hm ... Ya gitu. Gue bahkan sampai harus mohon-mohon sama nangis biar suami gue kasihan.” Ucap Mbak Sari di iringi dengan tawanya.
“Ya, okelah. Next time gue bakal coba saran dari lo, Mas.” Kata Tiwi.
Benar.
Aku harus mencoba saran dari Mas Angga. Dalam suatu hubungan di antara kedua belah pihak memang tak sepantasnya berebut ego. Aku paham betul dengan sifat Sam, dia gampang marah dan emosian. Dan seharusnya aku bisa mengerti itu.
Mungkin saat ini Sam memang egois karena tak mau mendengar penjelasan ku. Tapi tak seharusnya aku berdiam dan membiarkan ego menguasai diriku dan juga Sam. Apalagi kesalahan tadi jelas hasil perbuatan ku.
Jika Sam adalah api, maka biarkan aku menjadi airnya.
So sweet.
Aku menggebrak meja dengan keras.
“Ya Allah! ATURAN LO, DEL!! Kita lagi makan, copot jantung abang.” Ucap Rizal yang langsung membuatku tersadar.
“Lo kenapa? Jangan bilang kesurupan.” Imbuh Mbak Sari.
Aku hanya meringis lalu menggaruk belakang telingaku. “Anu, em ... Gue ada urusan. Gue harus cepet pulang karena ...” aku mencoba mencari alasan yang tepat dan mataku langsung tertuju ke kresek putih bertuliskan Indimart. “Nyokap gue nungguin bumbu ini.”
“Hah?” semua kompak menatapku dengan tatapan heran.
“Gue lupa. Sorry ya.” Semoga mereka percaya.
“Ya Allah, Del. Lo kenapa nggak bilang dari tadi? Lo bakalan jadi anak kurang ajar kalo sampai nyokap sama adik lo makan makanan yang nggak ada rasanya malam ini.” Ucap Mas Angga.
Duh ... Kok ngebayangin nya kasihan juga ya. Tapi, bumbu ini kan bukan buat masak malam ini.
Aku segera berdiri. “Kalau begitu gue duluan ya. Soal patungan gue bakal kasih besok pas kerja.” Aku hendak berlari namun suara Rizal menghentikan ku.
Aku harus segera sampai ke apartemen Sam.
##
Aku turun dari taksi tepat di halaman apartemen milik Sam. Aku segera berlari lalu masuk ke dalam lift. Rasanya kali ini lift berjalan sedikit lambat, seolah tak mengerti perasaan orang yang sedang buru-buru.
Lift berhenti tepat di lantai kamar apartemen Sam. Aku segera berjalan ke pintu apartemen Sam lalu ku tekan passcode nya dengan cepat. Begitu bunyi beep terdengar, aku bisa menghirup nafas sedikit lebih lega.
Aku berjalan masuk. Namun setelah ku jelajahi ruang tamu, dapur dan ruangan lainnya aku sama sekali tak berhasil menjumpai keberadaan Sam. Aku lalu melirik ke atas, tidak salah lagi pasti Sam ada di kamarnya. Aku segera berjalan menaiki tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar Sam. Ada rasa gugup yang tiba-tiba datang dalam benakku.
Aku berusaha mengatur nafas lalu ku ketuk pintu tersebut sebanyak tiga kali secara beruntun.
Tak ada sahutan. Aku masih diam sembari memandang pintu yang ada di depanku. Lalu tiba-tiba aku melihat pintu itu perlahan terbuka.
“Sam.” Panggilku pelan ketika aku melihat Sam sudah berdiri tepat di hadapanku dengan ekspresi datarnya. Dia masih menggunakan kemeja kerjanya.
“Kenapa ke sini?” tanyanya dengan nada dingin.
Aku mengambil nafas. Dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat gugup.
Aku mulai melangkah maju sembari mengulurkan kedua tanganku. Detak jantung tak beraturan ini benar-benar membuat tanganku terasa sedikit bergetar, lalu aku menyelipkan kedua tanganku ke sela tangan dan pinggang Sam.
Sam sedikit mengerjap atas apa yang aku lakukan. Mungkin otaknya masih belum bisa menyimpulkan apa yang ingin aku lakukan saat ini. Kini tanganku berhasil menggapai pinggang bagian belakangnya. Dengan lembut aku rebahkan kepalaku ke atas dada Sam dan seketika aku dapat mendengar suara detak jantung tak beraturan itu memenuhi rongga telingaku.
Rasanya ... begitu menenangkan.
Aku mengunci tanganku di balik punggung dan pinggang Sam. Mendekap dan memeluknya dengan posisi nyaman.
Sam masih diam.
__ADS_1
Sama sekali tak membalas pelukanku. Aku semakin mengeratkan pelukanku dan mulai memejamkan mata menikmati kenyamanan saat memeluk tubuh Sam. Aku bergerak kecil mengganti posisi kepalaku, mencari posisi ternyaman.
Aku mendengar dengusan kecil yang di keluarkan Sam. Lalu perlahan aku merasakan tangan Sam mulai bergerak ke arah pinggangku dan melingkar di sana secara perlahan. Aku sedikit tersenyum dari balik pelukanku. Setelah itu sebuah kecupan mendarat di pundak kepalaku. Hembusan nafas Sam berhasil membuatku seluruh tubuhku merinding.
Aku semakin membenamkan wajahku ke dada Sam dan mengeratkan pelukanku. Detak jantung Sam terdengar semakin keras. Ia lalu mendekap ku erat dengan salah salah satu tangannya mengusap rambut belakangku dengan lembut. Setelah itu Sam membisikkan kata yang benar-benar mampu membuat seluruh tubuhku terasa kaku.
“Jangan pulang. Tidurlah di sini.”
Perlahan aku mulai mengangkat wajahku. Menatap Sam yang kini sudah tersenyum padaku. Dengan cepat ia mendaratkan sebuah kecupan di atas bibirku. Mataku terpejam menikmati bibir lembut yang menempel pada bibirku, mengecupnya secara perlahan dan membuat seluruh tubuhku bergetar bagai tersengat aliran listrik.
Aku membuka mataku dan menatap sorot mata teduh dari kelopak mata Sam. Aku mulai membuka bibirku dan membalas ciuman yang Sam berikan. Sam semakin menarik tubuhku masuk ke dalam kamarnya dan jantungku semakin bergetar hebat saat mendengar suara pintu tertutup.
Sam terus mendorong tubuhku ke belakang hingga aku merasakan kedua kakiku berhasil menatap sisi ranjang tempat tidur Sam. Ciuman itu menjalar ke rahang ku lalu ke leherku. Aku sedikit mendongak ke atas ketika Sam memberikan gigitan kecil di sana.
Secara perlahan namun pasti, Sam mulai merebahkan tubuhku ke atas ranjangnya. Nafasku semakin tersengal ketika Sam kembali mencium bibirku, mencecap nya seolah menuntut lebih. Mata sayu kami bertubrukan, dan terlihat ada sorot gairah dari balik mata Sam. Tangan Sam mulai membelai pinggangku kemudian naik ke leherku. Ia menyelipkan lidahnya masuk lalu membelitnya di dalam sana.
Tangan Sam mulai bergerak menuju dadaku dan perlahan jari tangannya mulai melepas satu persatu kancing kemeja yang aku gunakan saat ini. Rasa membakar itu terus menjalar ke sekujur tubuhku. Aku memejamkan kedua mataku sembari meremas kuat sprei tempatku terbaring. Aku harus berusaha mengembalikan kadar kewarasan ku.
“Sam, apa kita harus melakukannya sekarang?” Tangan Sam langsung berhenti tepat di kancing terakhir kemejaku.
Sam segera menghentikan aktivitasnya lalu menatapku. Sesaat hanya deru nafas berat yang terdengar mengisi di kamar ini.
“Maafkan aku, Adelia.” Mata itu menyorot ku penuh rasa bersalah. “Maaf, jika aku selalu tak bisa menahan diri jika berada di dekatmu.”
Sam segera bangkit dan duduk di tepi ranjang kasurnya. Aku tak tahu harus berkata apa, kesadaran ku benar-benar belum pulih sepenuhnya.
“Kamu boleh marah denganku, Del. Aku salah, maafkan aku.” Ucap Sam lagi.
Aku hanya bisa memejamkan mata lalu memiringkan tubuhku sembari menggenggam kemejaku yang kancingnya sudah berhasil terbuka.
Jujur aku mungkin memang sudah kehilangan kewarasan. Bohong jika aku tak menikmati moments yang terjadi beberapa saat yang lalu. Aku benar-benar menikmati setiap sentuhan yang Sam berikan.
Aku tidak bisa membiarkan suasana menjadi canggung seperti ini.
“Sam aku juga minta maaf.” Ucapku pelan masih dengan posisi membelakangi tubuh Sam.
“Bukan kamu, Del. Ini salahku, seharusnya aku bisa mengontrol diriku.” Aku merasakan Sam mulai menutupi tubuhku dengan selimutnya. “Tidurlah ... aku akan keluar.”
Aku diam sesaat. “Sam jangan keluar.” Cegah ku cepat. Ada hening sesaat, tapi setelah itu aku merasakan Sam kembali duduk ke atas kasur. “Jangan tinggalin aku sendiri. Dan lagian ini kamar kamu, aku pikir kamu juga harus tetap di sini.”
Jantungku masih berdegup kencang. Aku menunggu kalimat yang akan di keluarkan oleh Sam hingga perlahan jantungku mulai berdetak normal kembali. Masih menunggu, mungkin sudah hampir lima menit.
“Sam.” panggilku pelan dan tak ada jawaban.
Hening. Kemana Sam?
“Sam ...” Aku segera membalikkan tubuhku dan langsung mendapati Sam tengah berbaring tepat di belakangku.
DEG.
Ia segera membalikkan tubuhnya lalu menatapku dengan tatapan sayu. Tatapan itu benar-benar membuat sesuatu dalam sudut hatiku terasa ngilu. Aku hanya bisa menghembuskan nafas sembari menggigit bibir bawahku pelan.
Quote of the day:
"Peluk tak ada habis, semakin menjalar lalu liar. Di atas angin sesingkat hujan."
TO BE CONTINUED...
##
__ADS_1
Anggap saja mata di gambar tersebut berwarna biru ye... habisnya dari kemarin cari yang matanya biru gak ketemu. hehehe