
Selamat hari Minggu semua.
Maaf ya telat update nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku menghirup nafas panjang lalu membuangnya, aku melakukannya berulang kali sampai pintu lift terbuka. Aku berusaha mengontrol suasana hatiku sebiasa mungkin hari ini. Jiwa-jiwa teman ghibah pasti akan langsung curiga jika ada suasana berbeda yang aku bawa hari ini.
Secara sisa-sisa aura bahagiaku kemarin pasti masih melekat di wajahku.
“Selamat pagi!” Seru ku begitu kedatanganku di sadari oleh teman-temanku.
Semua sudah datang pagi ini, ya walaupun semua belum bersiap di tempatnya masing-masing. Maklum, rutinitas pagi kan yang penting gosip dulu.
“Pagi, Adelia ku sayang.” Rizal menyambutku dengan merentangkan kedua tangannya.
“Maksud gue, selamat pagi kecuali Rizal kampret!” ulangku dengan bibir manyun.
“Ih, jahat banget sih, Del.” Rizal memasang tampang melasnya.
Aku tak peduli, aku hanya menjulurkan lidah lalu duduk di tempatku.
“Selamat pagi semua!” Aku dan yang lainnya kompak menatap ke sumber suara. Di mana di depan kami sudah ada Sam yang dengan sejuta karismanya berdiri dan tersenyum ke arah kami.
“Pagi, Pak!” jawab kami kompak.
“Wah, Pak Bos makin ganteng aja ya kalo aura nya bahagia begitu.” Kata Rizal.
Sam hanya tersenyum lalu masuk ke ruangannya begitu saja tanpa membalas ucapan Rizal. Dan ketika pintu ruangan Sam tertutup, Rizal langsung berseru keras sekali.
Tidak takut apa ya kalo Sam yang di dalam bisa dengar.
“Lo kenapa sih, Zal?” sahut Mbak Sari kesal.
“Loh, kalian enggak lihat.” Rizal memasang wajah serius.
“Lihat apa? lihat lo kumat gilanya.” Celetuk Mas Angga yang membuat aku dan yang lainnya langsung tertawa.
Rizal mendengus, “kayaknya mata kalian pulang kerja nanti harus di periksain deh biar bisa lebih jeli lagi. Ini itu berita yang sangat menggemparkan loh!” serunya dengan nada menggebu-gebu.
“Ya elah, kunyuk berita apa sih.” Ucap Mbak Sari.
Rizal tersenyum. “Sini-sini ... Gue jamin berita ini hanya bisa di terima oleh orang yang mau berkumpul.”
“Modus!” seru Tiwi.
“Gak penting!” imbuhku.
“Rio, harap maklum ya kelakuan abang temuan lo ini memang sedikit gesrek kalo di kantor.” Mbak Sari menatap Rio sedangkan yang di tatap hanya tersenyum.
__ADS_1
“Dih nggak percaya.” Tapi melihat ekspresi Rizal kok sepertinya dia benar-benar serius ya. “Gue kasih tahu tapi kalian jangan pada heboh ya.” Rizal mulai memelankan suaranya lalu melirik ke pintu ruangan Sam.
Tunggu dulu, kok gelagatnya terlihat mencurigakan sekali ya. Dan berhasil banget membuatku penasaran.
“Apa?” mbak Sari sepertinya mulai terpancing omongan Rizal.
“Kalian enggak lihat ya, jari manis kirinya Pak Bos ...” jantungku langsung berdebar setelah mendengar perkataan tersebut. “Gue lihat Pak Bos pakai ... Cincin!”
Tentu saja ucapan Rizal langsung membuat Mbak Sari, Mas Angga, Tiwi dan Rio kaget. Kecuali aku tetapi berhubung aku tak ingin mereka curiga ya terpaksa aku juga pura-pura kaget. Lalu menyembunyikan tangan kiriku di balik meja.
“Ah yang bener lo!” seru Mbak Sari yang kini mulai sangat penasaran.
“Salah lihat kali, Mas. Gue aja gak pakai masa Pak Sam udah pakai cincin duluan.” Sahut Tiwi.
“Gue juga gak lihat tuh. Padahal gue lihatin Pak Sam dari atas sampai bawah lho.” Imbuh Rio.
“Wah jangan-jangan lo lihatnya ke arah yang lain kali, Ri.” Celetuk Mas Angga.
“Enak aja lo, Mas.” Sahut Rio yang membuat Mas Angga tertawa.
“Sssttt ...” Rizal menginstruksi agar kami diam. “Makanya gue suruh kalian periksa mata. Gue serius, cincin lho ini.” Dia menunjuk jari manisnya sendiri. “Dan itu berarti, Pak Bos sudah tunangan.”
“Hah, Ya Allah! Kok gue kaget banget ya dengernya. Duh, gue jadi pengen lihat deh cincinnya.” Sahut Mbak Sari lebay.
Tapi kalau di pikir-pikir mereka memang selalu lebay ya. Bahkan aku hampir tak ingat kapan terakhir kali mereka bersikap biasa.
“Loh kapan tunangannya kok kita nggak tahu?” kata Tiwi.
“Ish! Ya pasti kemarin lah secara dia pakai cincinnya hari ini.” Sahut Rizal.
Duh, kok aku makin deg-degan begini ya. Nasib punya teman yang jiwa keingintahuannya selangit kok begini amat ya. Di antara teman-temanku yang sudah saling penasaran, hanya aku lah yang masih diam tak memberi respon sama sekali.
“Del ...”
“Ya?” aku langsung tersentak dan menatap ke arah Mbak Sari.
“Lo kenapa? Kok diam aja sih, lo lihat nggak jari manisnya Sam tadi.” Kata Mbak Sari.
Jawab apa dong, ayo otakku yang cemerlang bantulah aku saat ini.
“Ah, enggak tuh. Gue nggak lihat nanti kita lihat sama-sama aja deh.” Aku berusaha membuat ekspresi seserius mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dan akhirnya semua kembali ke pekerjaan masing-masing.
Siaal, untung saja mereka tak menyadari kalau aku juga memakai cincin. Mungkin ini efek karena biasanya aku juga memakai cincin. Tetapi aku harus tetap waspada sebelum mereka menyadari kalau cincin yang di gunakan Sam sama dengan cincin yang melekat di jari manisku. Aku harus pandai-pandai menyembunyikan jariku mulai sekarang.
••
“Nanti tidak ada over time jadi kalian bisa pulang tepat waktu, ya.” Ucap Sam. Dia tengah berdiri sambil memegang ponselnya.
Alih-alih mendengar perintah Sam justru semua temanku malah sibuk memperhatikan jari Sam yang sangat terlihat jelas ada sebuah cincin melekat di sana.
“Baik, Sam.” Sahut Mas Angga kemudian.
Sam tersenyum tipis lalu masuk ke dalam lift.
“Gila, beneran woy!” Tiwi langsung histeris. “Kayaknya hari ini bakalan jadi hari patah hati sekantor. Duh, Pak Sam!” dia masih histeris.
__ADS_1
Dih, lebay!
“Wah, wah ... Gak nyangka lho gue, bahkan jantung gue sampai deg-degan lho ini saking kagetnya.” Imbuh Mbak Sari.
Kenapa mereka lebay sekali sih? Baru lihat Sam pakai cincin aja sudah heboh begini. Apalagi kalau besok lihat aku membagikan undangan pernikahan yang ada namaku dan nama Sam. Bisa-bisa jungkir balik mereka, ck!
“Tenang-tenang, kita simpan berita ini dulu. Besok kita sama-sama konfirmasi ke Sam, setuju!” usul Mas Angga.
“Setuju!” seru mereka kompak aku hanya ikut bergumam saja supaya tidak menimbulkan kecurigaan.
“Loh, bukanya kita harusnya senang ya kalau Bos kita mau nikah.” Mataku langsung membulat ke sumber suara, bukan hanya aku tetapi semuanya.
Rio memang belum tahu apa-apa yang terjadi di divisi ini, ya bagus deh. Semoga saja anak itu tidak akan terkontaminasi dengan keanehan penghuni divisi ini.
Rizal langsung merangkul pundak Rio. “Sini gue jelasin, lo belum tahu kan kalo Bos kita yang lebih ganteng dari gue itu selama bekerja di sini belum pernah ada kabar dekat dengan seorang cewek.”
“Ya mungkin dia backstreet, Mas.” Sahut Rio.
Wah, pikiran bocah satu ini berbahaya sekali. Dari banyaknya orang di sini hanya Rio yang mempunyai pikiran seperti itu. Bukan seperti teman-teman lucknut ini yang selalu menyimpulkan dan membuat pendapat sendiri tentang Sam.
Rizal menggeleng. “Gak mungkin! Denger ya, kemampuan senior-senior lo ini sangatlah di luar batas.” Mbak Sari terlihat senyum-senyum mendengar ucapan Rizal. “Kalau Cuma satu di banding lima itu adalah hal kecil bagi kami. Jadi ... Gak mungkin kita nggak tahu kalau Bos kita itu diam-diam punya pacar.”
“Loh, kalau Pak Sam tunangan berarti dia memang punya pacar dong.” Kata Rio.
“Loh, bener juga sih. Terus kok kita bisa sampai enggak tahu sih. Terus siapa dong calon istri Pak Bos?” Ya ampun Rizal bagaimana sih kok malah dia sendiri yang mulai heboh.
Ada kalanya aku merasa kalau di ruangan ini lebih mirip dengan Rumah Sakit Jiwa dari pada ruangan kerja. Ya, gara-gara sikap teman-temanku ini yang kadang memang kelewat di luar nalar.
“Terus-terus aja lo, sampai nabrak sekalian.” Seruku jengkel.
Heran aku, tak ada habisnya rasa penasaran mereka.
“Yang pasti calon istrinya Sam itu orang lah, gak mungkin kan kalau... Genderuwo.” Ucapan Mbak Sari berhasil mengundang tawa dari yang lainnya, kecuali aku.
‘Jelas lah calon istrinya orang, kalau ada yang berani bilang genderuwo gue langsung sumpel tuh mulut pakai undangan pernikahan gue nanti.’ Sulutku dalam hati.
Sabar Adelia.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
__ADS_1